Pernikahan Yang Tak Diinginkan

Pernikahan Yang Tak Diinginkan
adakah cinta untuk Dea?


__ADS_3

***


nona wanita yang baik, tidakkah nona ingin menjadi satu satunya bagi laki laki yang nona cintai?


" aku tidak mencintai siapa siapa, aku juga tidak mengenal lelaki manapun selain tuan, bagiku dia telah memberiku kehidupan kedua. jawab Dea dengan pandangan lurus.


" *lalu bagaimana jika tuan tidak akan menikahimu? tanya Leo.


" Dia adalah laki laki yang bisa di pegang ucapannya. ucap Dea tersenyum.


" nona yakin, siap menjalani istri kedua dari tuan Marfin?


Mampukah nona menanggung beban penderitaan nona yang mungkin akan bertambah setelah nona menjadi istri kedua tuan?


Dea tak menjawab pertanyaan Leo. ia hanya menunduk membisu sambil meneteskan air mata.


entah apa yang di fikirkan Leo.


disisi lain ia kasian pada wanita ini karna nasibnya yang begitu malang, namun disisi lain ia juga tidak ingin melihat Nona Alikanya menjadi terluka karna sebuah penghianatan suaminya bersama gadis itu kelak.


apa tidak ada cinta yang tulus untuk Dea*?


****


Alika dan Marfin berpamitan pulang .


Meski masih ada rindu di hati mereka karena sudah lama tidak bertemu.


" sayang , semoga cepat di beri momongan ya? ucap Bu Tety sambil memegang wajah Alika kemudian mencium keningnya.


mendengar ucapan bibinya Alika spontan melirik suaminya dan mengedipkan mata seolah menggoda.


" Doakan saja ya bibi. jawab Alika tersenyum.


" titip salam juga buat nyonya sekeluarga. ucap bibinya didepan pintu sambil melambaikan tangan saat mereka mulai memasuki mobil.


**


" Mengapa kau mengendarai mobil sendiri, Leo dimana?


Alika memulai pembicaraan saat Marfin perlahan memacu mobilnya.


" aku tidak akan menjawabnya sebelum ia mengubah kata kau menjadi Mas" gumam Marfin didalam hati.


ia terus memacu mobilnya dengan cepat ,mengangkat satu tangannya ke pangkal kepala dan sebelahnya fokus menyetir.


" Mass.....


Alika menyentuh tangan Marfin, aku bertanya?


hem....( Marfin berdehem)

__ADS_1


ya , itu aku memang tak ingin dia mengganggu perjalanan kita makanya aku ingin mengendarai mobil sendiri. Marfin memberi alasan.


" oh begitu ya, jawab Alika.


" oh iya sayang? kita baru akan pindah ke apartemen beberpa hari lagi. ucap Marfin tersenyum


" hah apartemen? Mas membeli apartemen?


kapan? kok engga cerita. Alika malah menampakan wajah masam.


" iya, tapi kau senang bukan? Marfin mengacak ngacak rambut istrinya .


" emmn... tidak juga. Alika bereaksi seolah olah tidak senang.


loh, harusnya senang dong? di apartemen hanya ada aku dan kamu saja.


tidak seperti rumah ibu yang besar.


banyak makhluk makhluk mengganggu kesenangan kita disana.


haha... Marfin tertawa lepas.


Alika tersenyum malu mendengar perkataan suaminya.


" memangnya kapan kita disana bisa bersenang senang seperti tadi siang dirumah paman . " gumam Alika didalam hati.


" aemmm... tapi bagaimana dengan ibu? alika kemudian menunduk.


Pak Anton masih di jerman bersama putrinya, mungkin butuh waktu lama mereka kembali.


"tentu saja ibu mengizinkan sayang, ada banyak pelayan di rumah besar. dan ada keponakan kesayangannya juga, ibu tidak akan begitu kesepian . Marfin mengusap halus pangkal kepala istrinya dengan satu tangan memegang stir mobil.


" jee maksudnya.


" ya siapa lagi.jawab Marfin menurunkan tangannya .


emmm...... kemudian Alika menatap Marfin berlama lama,


mengapa aku baru menyadari bahwa dia ternyata begitu baik, andai pernikahan kita seperti ini selalu. sorot Mata itu tajam menatap suaminya tanpa berkedip sedikitpun.


" hey sayang? ada apa? Marfin menggapai kening istrinya.


" wahh, bahaya ini? kau Demam ya, Demam cinta. Marfin tertawa meledek.


" hey? jika kau terus menatap Mas seperti itu, apa menurutmu mas mu ini bisa fokus menyetir? Mas bisa menabrakkan mobil ini loh, bukannya sampai dirumah tapi kita akan sampai di rumah sakit kata Marfin yang masih fokus menyetir.


" hah? apa?Apa separah itu?" tanya Alika.


" *yah mungkin saja jika kau terus menatapku seperti itu, jadi berhentilah.


jika kau rindu , kita lanjutkan dirumah saja. tawa Marfin menggoda, meledek.

__ADS_1


Alika kemudian tertunduk malu*.


setelah beberapa jam perjalanan akhirnya mereka sampai di rumah besar kediaman wijaya.


****


"


bagaimana kabar paman dan bibimu sayang? tanya bu risma saat mereka sedang berkumpul di ruang keluarga.


"baik bu,alhmdllh. beliau menitipkan salam kepada ibu. Ucap Alika tersenyum sambil melahap snak yang tersedia diatas meja.


sementara Marfin sudah lebih dulu di kamar


*****


" Halo? bagaimana keadaan dea? tanya Marfin kepada Leo melalui ponselnya saat berada di dalam kamar.


" baik tuan,di sudah lebih baik kok. tenang saja. ucap Leo disana.


" jika dia butuh sesuatu tolong turuti semua inginnya. perintah Marfin.


" tentu saja tuan. jawab Leo disana.


" nanti pagi aku akan meminta ivan untuk menjemputmu.


ivan adalah salah satu staff di perusahaan Marfin, ia memang begitu bisa di andalkan dalam hal apapun.


" Baik tuan. ucap Leo disana.


ceklek....


Alika masuk tentu saja tanpa mengetuk pintu.


" siapa yang telpon Mas? tanya Alika yang kemudian duduk di samping Marfin.


" Leo. jawabnya singkat. kemudian merebahkan tubuhnya.


" Mas sudah ngantuk. tanya Alika lagi.


" iya . jawabnya lagi singkat.


" heum. Alika berdenyit kesal.


" bagaimana tuhan tidak pusing melihat kelakuan hambanya seperti ini. kadang baik , kadang jahat, kadang manis , kadang pula menjadi sangat buruk.


gumam Alika di dalam hati kemudian menghela nafas.


Alika kemudian bergegas membersihkan dirinya kekamar, mandi beberapa menit kemudian setelah keluar ia sudah melihat suaminya sudah memejamkan Mata dengan selimut tebal yang menutupi tubuhnya.


wajahnya terlihat lucu dan imut ketika sedang tertidur nyenyak.

__ADS_1


" Heumm.... malah tidur. gerutu Alika yang kemudian menghampiri Marfin.


__ADS_2