
" tok.. tok....
bi chei mengetuk pintu kamar Alika.
"masuk bi.... teriak Alika.
iya tengah beebaring di ranjang mengenakan kemeja panjang berwarna putih yang ia temukan di dalam lemari.
"nyonya, ini bajunya , kata bi chei menggantungkannya beberapa baju di dalam lemari.
"makasih bi, kata Alika menghampiri bi chei dan mengambil salah satu baju yang di gantung.
" banyak banget bi bajunya, kata Alika mengambil salah satunya lagi.
"iya tuan tidak tahu ukuran baju nyonya, atau style yang nyonya suka jadi dia membelikan beberapa untuk nyonya pilih.
"em...
bingung, Alika memilih baju.
"bajunya terlalu bagus bi, padahal aku hanya butuh baju tidur saja tapi mengapa baju dres seperti ini, udah kayak mau kepesta aja, Alika berdecak heran,sambil memilih.
" yasudah,bibi tinggal dulu ya nyonya, bi chei pamit keluar dari kamar.
*****
alfino duduk di kursi sambil sibuk memainkan ponselnya tanpa menyadari Alika sudah berdiri di hadapannya.
"selamat malam, sapa Alika.
Alfino melirik sejenak sebelum menjawab,
" malam, jawabnya.
" silahkan duduk, Alfino menawarkan kursi yang berada tepat di hadapannya.
meja bundar di tengahnya terdapat lilin dan hiasan,sebotol minuman berwarna dan makanan sudah tersaji disana, dengan baju dress yang Alfino berikan membuat Alika bertanya tanya, ada apakah?
alika menarik kursi dan duduk disana.
" ada apa? tanya Alika.
"apanya? ya makan malam, jawab Alfino tanpa menatap ia masih sibuk dengan ponselnya walaupun hanya bolak balik layar.
"owhh.... aku fikir ada apa, karna makan di tempat seperti ini, mengapa tidak makan di meja makan utama? tanya Alika.
"aku lebih suka makan di tempat seperti ini, jawabnya tetap tidak menatap.
Beberapa menit mereka hening tanpa suara, entah Alfino seperti salah tingkah hingga terus memainkan ponselnya walaupun hanya bolak balik beranda.
hem... Alika berdehem.
" besok pagi kita akan pergi, jadi ayolah aku ingin cepat makan kemudian tidur, celetuk Alika.
Alfino langsung melepaskan ponselnya dan meletakkannya diatas meja.
keduanya mulai memasukkan makanan kedalam piring yang tersedia.
"apa kau pernah mencintai seseorang? tanya Alika.
Ha????....
Alfino tersedat kemudian dengan sigap alika berdiri menuangkan air kedalam gelas Alfino.
" minumlah, kata Alika.
Alika kembali duduk setelah alfino menghabiskan air didalam gelas.
"ada apa? mengapa kau seperti kaget, tidak bolehkah aku bertanya? Alika kembali bertanya bingung.
" bukan seperti itu, maaf. jawab Alfino datar.
"ayo makanlah yang banyak, kalo kau suka aku akan meminta bibi chei memasak lebih banyak lagi, kata Alfino mengalihkan pembicaraan.
alfino memuji masakan bibi chei bukan pujian belaka, memang masakannya benar benar nikmat.
" tidak usah.... ini sudah cukup.
kata Alika mulai menyendoki makanan.
Alfino menatap Alika dann mengatupkan tangannya sebagai penopang dagunya.
" aku tidak pernah mengira aku akan menjadi sebodoh ini karena cinta, aku mengagumimu sedari dulu, ya... aku mengagumimu dan itu cukup.
bagiku kau adalah duniaku, dunia terindah yang ingin aku tinggali, tapi bagimu mungkin aku hanya parasit, aku ingin kau percaya bahwa parasit inilah yang mencintaimu lebih dari kata cinta,
nona...katakan padaku senyuman yang kulihat itu bukanlah senyum kebahagiaan, katakan juga padaku bahwa kau lelah dengan duniamu saat ini?
katakan semua keluh kesahmu, aku ingin menjadi pendengarmu.
kata kata itu hanya sampai tenggorokan dan lenyap dalam kesunyian, ingin rasanya ia menyampaikan kekhawatiran senyum yang sering Alika tunjukkan, senyum apakah itu?
" mengapa kau tidak makan? tanya Alika memecah lamunan alfino.
" ha... oh iya, kata alfino canggung menggaruk leher belakangnya yang tak gatal.
Alika hanya tersenyum sambil menggerakkan kepalanya saat melihat tingkah Alfino.
"bolehkah aku bertanya tentang kehidupanmu? tanya Alfino.
__ADS_1
" maksudmu? pertanyaan di jawab pertanyaan.
" apa kau masih mencintainya? tanya alfino ragu.
" siapa? suamiku? Alika balik bertanya.
" iya suamimu, jawab Alfino tersenyum getir.
" menurutmu bagaimana? seorang istri meninggalkan suaminya dalam keadaan hamil? tanya Alika.
" bukankah kau sudah mengirim surat gugatan cerai pada suami mu waktu itu, tanya Alfino.
" kau benar, aku akan mengurusnya setelah anakku lahir dan kami akan benar benar berpisah, Alika menatap lirih Alfino matanya seolah ingin mengatakan " apakah aku benar benar bisa" namun kata kata itu menguat dalam hatinya.
" are you oke? Alfino memiringkan kepalanya menyelidik wajah Alika.
" i'm oke, jawab Alika mencoba tersenyum.
" tak ada ungkapan kesedihan, dia selalu terlihat tegar,meski jauh di dalam lubuk hatinya, aku tahu saat ini kau benar benar rapuh.
******
ke esokan harinya,,
" jika saja Rindu ini ombak, mungkin aku sudah mati terbawa arusnya.
Marfin terdiam di sebuah cafe sambil menyeruput capucino sambil sibuk dengan ponselnya.
ia sedang berkirim pesan dengan Dea.
Dea mengirimkan photo anaknya yang terlihat sangat lucu dan menggemaskan.
" Mas, rachel lucu ya. kata Dea dengn di sertai gambar putrinya.
awalnya Marfin hanya membuat dua centang biru, namun berfikir lagi akhirnya iapun membalas pesan itu.
" dia tidak tidur? tanya Marfin.
Deapun membalasnya dengan cepat.
"sudah tidur mas, ini dia habis mandi, kapan pulang? tanya Dea tanpa di balas oleh Marfin.
Masih di tempat yang sama, marfin menerima panggilan dari seseorang, ia begitu sumringah mendengar berita yang ia inginkan.
dengan cepat ia melajukan langkah dan memacu mobilnya menuju suatu tempat.
****
" halo, tuan? jawab Leo disana saat menerima panggilan dari Marfin.
"besok kita akan pulang kejakarta, ucapnya penuh percaya diri dan terlihat senyum bahagianya.
"iya... hari ini kita akan membawa nyonya pulang kerumah, imbuhnya sembari menyetir mobil.
" sungguh, leo terdengar kaget disana.
" cepat siapkan semuanya, aku ingin menyambutnya dengan penuh kejutan yang serba mewah, perintah Marfin kemudian menutup ponselnya dan memacu mobilnya lebih cepat.
dalam hatinya, ia ingin segera sampai pada tujuan.
****
" dengan siapa ya ? seorang nenek tua membukakan pintu.
" mana Alika? tanya Marfin langsung melongokkan wajahnya kedalam rumah.
" siapa toh? aden ini siapa? tanya nenek sumiati lagi.
tanpa menjawab pertanyaan nenek itu, Marfin langsung memasuki rumah dan berteriak memanggil istrinya.
" sayang, di mana kau? teriak marfin berkeliling kesegala penjuru ruangan.
" dimana istriku? tanya Marfin kepada nenek sumiati yang mondar mandir panik mengikutinya dari tadi.
" tidak ada... tidak ada... jawab nenek sumiati terlihat takut dan kocar kacir.
" kakek... teriak nenek sumiati.
namun tak ada jawaban, sepertinya kakek sumiati tak mendengar teriakan nenek sumiati.
" dimana istriku, tanya Marfin dengan nada tinggi.
nenek sumiati semakin ketakutan di buatnya ia memanggil kakek ramlan tak juga mendapat jawaban.
" tidak ada nama Alika disini, jawab nenek sumiati.
Marfin terus berjalan kesemua ruangan yang ada, hanya salah satu kamar yang dalam keadaan terkunci sehingga ia tidak bisa masuk kedalamnya.
" tidak ada photo istriku disini, apa jangan jangan mereka salah, awas saja! beraninya mereka memberikan informasi yang salah kepadaku! sial!
pray.... Marfin sengaja menyenggol vas bunga yang ada di depan matanya.
nenek sumiati kaget dan semakin ketakutan, Marfin tak memperdulikannya, dengan ekspresi marah ia keluar dari rumah itu.
******
" halo ndok, kata nenek sumiati setelah tersambung dengan Alika.
" iya nek, ada apa? tanya Alika mendengar suara nenek sumiati yang ketakutan.
__ADS_1
"tadi ada pemuda ndok kemari, nenek takut dia jahatin kamu, dia nanyain kamu ndok, kata nenek sumiati.
sejenak nenek sumiati tak mendengar jawaban Alika seperti sedang melamun disana.
"ndok, kira kira siapa dia ya? tanya nenek sumiati.
" sudah nenek jangan takut ya, tenang Alika bentar lagi pulang ini udah selesai kok, jawab Alika sembari merapikan berkas berkas di meja.
tut... tut..... telpon terputus.
Alika segera keluar dari ruangannya, dan mencari keberadaan Alfino.
" All.. teriak Alika, sementara Alfino sedang meeting bersama klaen.
semua orang yang hadir menampakkan ekspresi bengongnya saat itu.
Alfino langsung berdiri dan mengakhiri pertemuannya,
" cukup untuk hari ini, ujar Alfino menggeser kursinya.
para klaen pun keluar dari ruangan menatap aneh Alika yang berdiri memucat di depan pintu.
" Alika, kenapa tanya Alfino menghampiri.
Alika sejenak melamun tanpa menjawab pertanyaan Alfino,namun tiba tiba ia memeluk Alfino.
"hikss... hikss... Alika menangis di bahu Alfino.
" hey tenang ya, ada apa? coba katakan? tanya Alfino lembut sembari melepaskan pelukan Alika dan menampung wajahnya dengan dua tangan dan mengusap air matanya.
" bantu aku dari semua ini al, isak Alika.
" kenapa? tanyanya lembut.
" suamiku sudah ada di surabaya al, aku belum sanggup jika harus menemuinya saat ini, masih dengan terisak isak.
Alfino menghela nafas dan mengeluarkannya dengan kasar.
"aku akan mengatur semuanya,tenanglah Al. aku akan membantumu, kata Alfino.
ketika setetes air mata berlabuh di wajah Alika,seperti ada belati yang menikam jantungnya.
aku adalah orang yang sangat mengharapkan mu bahagia tak masalah jika bahagiamu bukan denganku, asal kau bahagia.
tak menunggu lama, mereka langsung terbang kembali kesurabaya.
*****
Mobil yang membawa Alika dan alfino memasuki halaman rumah Alika.
pintu berdecit pelan di buka oleh nenek sumiati, ia langsung memeluk Alika yang di anggap cucunya dengan takut.
" nek, tenanglah. tidak ada apa apa.. ucap Alika menenangkan.
" nenek takut ndok, dia marah marah kemari, nyari ndok.tutur nenek sumiati.
" sudah buk.. kata kakek Ramlan ikut menenangkan karna pada saat itu ia tidak ada dirumah.
" dia suamiku nek, ucap Alika tersenyum.
nenek sumiati melepaskan pelukannya, dan menatap Alika.
"benar ndok, dia suamimu?
Alika mengangguk mengiyakan pernyataannya.
" jika begitu, nenek tidak perlu takut, nenek yakin dia orang baik. tutur nenek tersenyum lega.
kakek Ramlan, Alika dan Alfino saling menatap heran melihat senyum seketika di wajah nenek sumiati.
" mengapa begitu nek? tanya Alfino.
" iya tentu saja, cucuku anak baik, suaminyapun pasti sangat baik, karena suami atau jodoh adalah cerminan diri.
nenek benarkan ndok?
Alika hanya memaksakan senyum di bibirnya mendengar apa yang di ucapkan nenek sumiati.
" apa benar demikian? apa aku hanya perlu mengenalnya untuk dapat mengetahui sisi baiknya.
kemudian setelahnya aku menitipkan cintaku untuk engkau jaga selamanya.
batin Alfino.
*****
Alika menolak pulang menemui marfin meski Alfino menyarankan demikian.
" tidak ada masalah yang bisa di selesaikan dengan baik baik Al, pulanglah nanti masalahmu akan selesai.
terserah jika kau mau mengakhiri atau melanjutkannya, yang terpenting jangan menghindar Al, semua tidak akan pernah berakhir jika kau terus menghindar,tutur Alfino.
" di matanya yang dulu aku melihat keindahan cinta .
kini di matanya tak ada lagi keindahan itu, sebab matanya bukan lagi hanya menatapku seorang.
suatu saat mungkin aku akan di paksa takdir untuk menatap mata itu, namun semoga setelah luka itu sedikit kering, agar aku sanggup menatapnya dengan tersenyum kembali.
Alika diam tak menjawab perkataan Alfino, ia menolak menemui Marfin kemudian memutuskan untuk berpindah tempat tinggal jauh dari pusat kota.
__ADS_1