Pernikahan Yang Tak Diinginkan

Pernikahan Yang Tak Diinginkan
Tanda Cinta


__ADS_3

Senin Semangat !


Jangan lupa vote untuk yang suka novelnya


terimakasih ❤️


Alya menelan salivanya yang terasa kelat, matanya mengembun menahan tangis dan dadanya berdebar lebih kencang dari biasanya.


Tenggorokannya terasa tercekat tak bisa bersuara. Alya sadar, ia tak bisa mengucapkan kata-kata yang ingin Andre dengar saat ini.


Andre menunggu dan menanti dengan cemas kata-kata yang akan ia dengarkan dari mulut wanita yang telah membuatnya jatuh cinta.


Kata-kata yang akan membuatnya mundur dan tak akan mengganggu kehidupan Alya lagi, namun setelah beberapa lama menanti wanita yang duduk si hadapannya ini tak juga bersuara.


"Alya ?" Andre mulai tak sabaran, ia hanya ingin tahu nasib dari perasaan cintanya.


Dapat terlihat dengan jelas jika Alya beberapa kali menelan salivanya karena rasa gugup yang belum juga mereda, hingga pada akhirnya ia berkata.


"A... aku tak bisa mengatakannya," jawab Alya terbata.


"Apa yang tak bisa kamu katakan ?" tanya Andre penuh tuntutan.


"Alya ?"


"A.. aku... aku tak bisa mengatakan jika aku tak mencintaimu." jawab Alya dengan menitikkan air bening yang tak bisa ia bendung lagi.


Wajah Andre yang berselimut cemas, berubah tak percaya.


"A... apa artinya kamu memiliki perasaan yang sama denganku ?" tanya Andre tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.


"Please Alya, katakan sesuatu."


"A... aku tak tahu, tapi aku tak bisa mengatakan jika aku tak cinta kamu," jawab Alya dengan dada yang berdegup kencang. Telapak tangannya terasa dingin ketika ia sadar tentang perasaannya sendiri.


Ini yang pertama kali bagi Alya memiliki perasaan yang berbeda pada lelaki selain suaminya sendiri yang telah meninggalkan dia dan raka untuk selamanya.


Tak pernah sekalipun ia berpikiran untuk mencintai lelaki lain hingga Andre datang ke dalam hidupnya. Selama ini yang ia pikirkan hanya bagaimana caranya untuk bertahan hidup dan membahagiakan Raka anaknya.


Hingga Andre dengan perlahan hadir dan memberikan warna baru dalam hidupnya. Meskipun Andre datang untuk sebuah pertolongan namun tanpa lelaki itu sadari, ia juga telah mengisi kekosongan dalam diri Alya dan terutama Raka.


Andre tak pernah tahu jika Raka selalu membicarakan tentang dirinya pada hampir semua temannya. Raka akan selalu bercerita jika Andre membelikannya mainan, mengajaknya makan bahkan Raka bercerita jika ia senang menemani Andre bekerja lembur karena dengan begitu ia bisa bermain game di ponsel lelaki itu sembari dipangku.


"Ma, Raka suka kalau om Andre pangku aku. Bolehkah Raka ikut mama kerja lembur lagi ?"


Alya menangis ketika ia ingat seringnya Raka bertanya seperti itu dan Andre selalu mengizinkan anaknya itu ikut serta.


Alya tahu Andre bukanlah lelaki dengan masa lalu yang baik, mengingat penyakit yang dia idap dan juga anak di luar nikah yang lelaki itu miliki.


Tapi Alya yakin, dalam hatinya yang dalam jika ada kebaikan dalam diri Andre yang bisa ia lihat. Terbukti bagaimana terpuruknya lelaki itu ketika anaknya meninggal. Padahal jika Andre benar lelaki bajingan tulen tentu saja kematian sang anak akan membuatnya merasa terbebas dari sebuah tanggung jawab. Namun pada kenyataannya tidak, lelaki itu hampir saja berputus asa jika Alya tak segera menemaninya dalam keterpurukan.


"Alya, aku bersungguh-sungguh dengan perasaanku dan akan merasa bahagia jika kamu merasakan hal yang sama."


"Bagaimana dengan orangtuamu ?" tanya Alya takut-takut.


"Mereka akan menyukaimu" jawab Andre tanpa ragu.


"Bagaimana tentang pandangan orang-orang nanti ?"

__ADS_1


"Biarkan orang berbicara apapun, aku tak peduli. Selama kamu bersedia menjadi pendampingku, maka aku tak peduli pada apapun lagi. Hanya kamu, aku dan Raka." jawab Andre dengan yakinnya.


Alya tak dapat lagi menahan tangisnya, Ia begitu tersentuh ketika Andre menyebutkan nama Raka.


Alya memeluk lelaki yang tengah berlutut di hadapannya dan menangis hebat disana.


"Aku akan menjaga kalian, aku berjanji." bisik Andre seraya membalas pelukan wanita yang dicintainya.


Cukup lama mereka berpelukan tanpa berkata-kata, seolah menyatakan perasaan cinta masing-masing hingga sebuah ketukan di pintu menyadarkan mereka berdua dan pelukan itu pun terlepas.


"Jangan menangis.. Aku jatuh cinta padamu, terimakasih sudah mau menerima aku dan segala kekurangan yang aku miliki." ucap Andre.


Alya hanya menganggukkan kepalanya.


Ketukan di pintu kembali terdengar, Andre pun berdiri sedangkan Alya menghapus air matanya dengan tisu. Setelah memastikan Alya dalam keadaan baik-baik saja, Andre pun membuka pintu ruang kerjanya dan terkejut ketika melihat seorang lelaki yang ia kenal dengan baik. Siapa lagi jika bukan Gibran.


Alya berdiri dan berpamitan sembari menundukkan kepalanya, Andre mempersilahkan tanpa banyak bicara.


Gibran tentu saja sadar jika ada sesuatu yang telah terjadi antara Andre dan wanita yang baru saja keluar dari ruang kerja temannya itu. Dalam hati Gibran kembali bersorak senang karena Andre kini telah menemukan wanita pengganti Sabina. Walau bagaimanapun Gibran masih saja merasa insecure jika sesuatu berhubungan dengan Andre juga Sabina istrinya.


"Tumben pagi-pagi udah datang kesini." ucap Andre pada Gibran. Ia berusaha mengalihkan Gibran dari pikirannya tentang Alya karena Gibran terlihat memperhatikan kehadiran Alya dengan begitu kentara.


"Gue cuma mau bilang terimakasih untuk hadiah yang lo kirimkan," jawab Gibran seraya mendudukkan tubuhnya tepat di hadapan Andre dan ia sengaja melonggarkan kerah kemejanya ketika mengatakan itu.


"Gue yang berterimakasih sama Lo. Terimakasih atas semua bantuannya, gue benar-benar menghargainya." ucap Andre.


Dapat Andre lihat dengan jelas 'tanda cinta' berwarna kemerahan di leher temannya itu. Ia tahu sekali apa arti dari tanda itu. Itu pasti jejak cinta yang ditinggalkan Sabina pada Gibran semalam. Ia pun tersenyum geli melihat apa yang Gibran lakukan, lelaki itu sengaja memamerkan 'tanda cinta' itu seolah mengatakan jika Sabina adalah miliknya seorang.


"Habis buka puasa ?" tanya Andre seraya tertawa geli.


"Hmm ? habis bikin adek baru buat Athalla." jawab Gibran membenarkan.


"Serius Gibran, gue benar-benar berterima kasih atas segala kebaikan Lo. Terimakasih atas pertolongan yang lo berikan untuk gue juga Amanda." ucap Andre bersungguh-sungguh.


"Sama-sama," jawab Gibran singkat.


"Tak terasa waktu begitu cepat berlalu," ucap Andre seraya menghela nafasnya.


"Hmm iya, semuanya begitu cepat dan yang terjadi di luar nalar kita." jawab Gibran seraya membayangkan apa yang telah terjadi selama setahun ini.


Andre menganggukkan kepala membenarkan apa yang Gibran ucapkan.


"Are we cool ?" ( Apa kita baik-baik saja sekarang ?) tanya Andre.


"Sure." jawab Gibran seraya tersenyum.


Andre tersenyum mendengar jawaban Gibran, dan ia pun merasa lega.


"Gue harus pergi ke rumah sakit sekarang," ucap Gibran seraya berdiri. Ia sengaja datang menemui Andre hanya untuk mengucapkan terimakasih atas hadiah mewah yang diberikan temannya itu.


Dan Andre kembali tersenyum ketika melihat jam yang diberikannya dikenakan oleh Gibran saat ini.


***


Malam harinya Andre tiba di sebuah rumah kontrakan sederhana milik Alya. Dengan sebuah mainan di tangannya dan buket bunga di tangan yang lain. Ia mengetuk pintu rumah itu untuk beberapa saat hingga pintu itu terbuka.


Mata Raka berbinar bahagia ketika melihat siapa yang datang ia pun memeluk Andre yang dengan sengaja merendahkan tubuhnya agar sejajar dengan tinggi Raka.

__ADS_1


Tanpa rasa ragu ia memangku tubuh Raka dengan satu tangan dan Raka membalasnya dengan sebuah pelukan.


"Siapa yang datang ?" tanya Alya yang berjalan dari dalam rumah.


"Aku," jawab Andre.


Alya tersenyum dengan perasaan haru melihat Raka tengah dipangku oleh lelaki yang kini mencuri hatinya.


"Ayo, kalian segera bersiap." ucap Andre seraya menurunkan Raka.


"Bersiap untuk apa ?" tanya Alya.


"Aku akan membawa kalian untuk bertemu keluarga aku." jawab Andre tanpa ragu.


"Hah ?" Alya menutup mulutnya tak percaya.


"Sudah ku katakan jika aku bersungguh-sungguh, Alya. Aku ingin hubungan ini jelas dan segera meresmikannya."


"Ta... tapi bagaimana jika orangtuamu tak setuju?"


"Kita akan hidup bahagia bertiga, aku akan meninggalkan semuanya demi bisa bersamamu." jawab Andre penuh keyakinan.


"Tapi tenanglah, aku yakin kedua orang tuaku akan setuju."


***


Di lain tempat..


Gibran, Sabina dan juga anak mereka baru saja tiba di sebuah rumah mewah yang dulu menjadi tempat tinggal Sabina.


"Sayang, seharusnya kamu mengenakan baju dengan potongan kerah tinggi. Tanda kemerahan ini kelihatan terus." ucap Sabina sembari membetulkan kerah kemeja suaminya.


"Gak apa-apa, biar mereka tahu jika mama kelinci sangat lihai di atas tempat tidur." jawab Gibran seraya mengedipkan sebelah matanya dan sukses membuat wajah Sabina merona.


"Aku takut jika orang-orang melihatnya." kata Sabina cemas.


"Tenang, hanya seorang saja yang melihat hasil karya mu " jawab Gibran seraya tertawa, dirinya membayangkan hal konyol yang ia lakukan tadi pagi yaitu memamerkannya pada Andre.


"Maafkan aku yang hilang kendali semalam." ucap. Sabina penuh sesal. Ia ingat bagaimana panasnya percinta*nnya semalam dengan Gibran.


"Tak apa, aku malah sangat menyukainya." bisik Gibran dengan suara beratnya yang menggoda.


Tak lama pintu rumah mewah itu terbuka, namun sebelum mereka memasuki rumah itu Sabina terlebih dahulu mengancingkan kerah kemeja Gibran agar 'tanda cinta' yang ia berikan tak terlihat.


"Kejutan yang menyenangkan." ucap ayah Sabina menyambut kedatangan mereka.


Ayah Sabina segera mengambil alih Athalla dari pangkuan Gibran dan memeluknya erat.


"Ayah, ada yang ingin kami katakan padamu." ucap Sabina memulai pembicaraan.


"Apa ada masalah ?" tanya ayah Sabina yang kini berubah cemas.


"Tidak, tapi sebaiknya kita duduk dulu." kata Gibran.


Dan merekapun duduk bersama saling berhadapan dengan Athalla dipangkuan kakeknya.


"Mmm, ayah... aku memutuskan akan melakukan operasi untuk menyembuhkan kakiku." ucap Sabina dan ayahnya terdiam tak percaya.

__ADS_1


To be continued ❤️


thanks for reading 😘❤️


__ADS_2