
Happy reading ❤️
"Aku hanya ingin Andre bahagia dengan caranya sendiri, tak peduli apapun itu yang penting dia bisa hidup di jalan yang benar. Maka bebanku akan berkurang." ucap sang ayah dengan menghela nafasnya yang terdengar berat.
"Meksipun dia harus menikahi wanita yang sudah mempunyai anak itu ?" tanya istrinya memastikan.
"Jika itu perlu." jawab Ayah Andre.
"Tapi kita belum tahu siapa dia sebenarnya, apa benar dia menolong anak kita dengan tulus ?" tanya ibunya lagi.
"Enthalah, kita bisa mencari tahu tentangnya nanti. Semoga apa yang Andre katakan pada kita kemarin benar adanya. Aku hanya ingin Andre merasakan damai dalam hidupnya, walaupun dia telah banyak berbuat salah namun kita bisa merasakan hidup enak pun karenanya." jawab ayah Andre seraya membayangkan kehidupannya yang dulu.
Keluarga Tama sebenarnya hanya pengusaha biasa hingga Andre berhubungan dengan Sabina 10 tahun lamanya dan kemudian Keluarga Mulia yang notabene adalah keluarga konglomerat mengangkat derajat mereka melalui banyaknya kerja sama bisnis yang dilakukan kedua perusahaan itu sehingga membuat perusahaan yang dimiliki Andre menduduki puncak keberhasilan.
Sang istri terdiam sembari membenarkan dalam hatinya. Ia bisa hidup bagai sosialita papan atas karena campur tangan Andre tentu saja. Sehingga ia hidup dalam kemewahan dan terlena di dalamnya.
Setelah Andre meninggalkan Sabina tepat di hari pernikahan mereka, detik itu juga perusahaan keluarga Tama yang di bangun dengan susah payah langsung jatuh tersungkur. Walaupun begitu, Andre masih bertanggungjawab dengan membangun kembali perusahaan yang hancur itu dengan kerja keras dan kini perusahaan keluarga Tama mulai merangkak naik meskipun masih jauh dari pencapaiannya yang dulu.
Terlalu fokus pada keberhasilan perusahaan hingga mengesampingkan keadaan anaknya sendiri. Andre memang bersalah, namun kini ia sudah berubah. Tak lagi berpesta dan tak lagi bermain wanita.
Ada sedikit rasa tak rela jika anaknya itu harus jatuh cinta pada wanita biasa-biasa saja, bukan seorang wanita yang berasal dari kalangan atas seperti Sabina Mulia. Bagaimanapun, seorang ibu pastilah menginginkan anaknya mendapatkan seorang yang sepadan sebagai pendamping hidupnya. Tapi pada kenyataannya, wanita sederhana itulah yang menyelamatkan sang anak dari segala penderitaan yang melandanya.
Ibu Andre menarik nafas dalam sembari memejamkan matanya. Meskipun berat akhirnya ia harus merelakan.
Rela jika Andre harus berdampingan dengan Alya jika memang itu yang membuat hidup anaknya bahagia.
"Apa Andre benar akan hidup bahagia dengannya ?" tanya ibu Andre memastikan.
"Anak kita telah dewasa lebih dari yang kita kira. Dia sudah bisa bertanggung jawab atas segala kesalahannya dan juga mencari jalan keluar sendiri dari segala masalahnya, jadi pastilah pilihannya juga atas dasar pemikiran yang matang."
"Baiklah, aku akan memberikan restu jika wanita itu memang sebaik yang Andre ceritakan." ucap ibunya walaupun dengan sangat berat hati.
***
"Pagi," sapa Andre pada beberapa orang yang melewatinya di lorong kantor. Ia melirik dengan ujung matanya, melihat ke arah Alya yang sedang duduk di bilik kerjanya.
__ADS_1
Semenjak pernyataan cintanya beberapa hari lalu, Alya mulai menjaga jarak dari Andre. Wanita itu semakin irit bicara dan selalu menghindari pandangan mata bosnya.
Andre sendiripun tak bisa memaksakan perasaannya, meksipun kian hari perasaan itu makin dalam saja.
Ini adalah kali kedua ia merasakan jatuh cinta dengan dalam selain pada Sabina dan ternyata untuk mendapatkan wanita yang benar-benar kita cintai tak semudah membalikkan telapak tangan.
Jika dulu Andre bisa mendapatkan wanita manapun dengan mudahnya, bahkan para wanita dengan paras dan tubuh yang lebih menggoda daripada Alya. Namun kini untuk menaklukkan hati seorang wanita yang sangat sederhana begitu sulitnya.
"Alya, tolong datang ke ruanganku." itulah pesan singkat yang Andre kirimkan pada wanita yang tengah asik berjibaku dengan banyak tumpukan kertas di hadapannya.
Alya membaca pesan itu seraya mengigit bibir bawahnya, ia sedikit ragu untuk menuruti karena seingat dirinya semua tugas yang di berikan atasannya itu telah Alya selesaikan tepat waktu dan sebelum menyerahkannya pada Andre, ia telah memeriksa laporan itu sebanyak 2 kali untuk memastikan tak ada kesalahan di dalamnya.
"Sekarang." Andre mengirimkan pesan singkat lagi. Ia tahu apa yang dilakukan Alya saat ini. Wanita itu menatap layar ponselnya dengan wajah cemas yang tak dapat di sembunyikan.
Andre menarik nafas lega ketika melihat Alya berdiri dari kursinya dan berjalan menuju kearahnya. Dengan secepat kilat, Andre kembali ke kursinya dan berpura-pura membaca semua laporan yang Alya simpan di mejanya tadi pagi.
"Masuk," ucap Andre ketika ia mendengar ketukan di pintu dan muncullah wajah wanita yang beberapa waktu terakhir ini selalu mengisi kepalanya.
"Bapak memanggil saya ?" tanya Alya dengan kata-kata lebih formal dari biasanya.
"Bapak ?" Andre tersentak mendengar pertanyaan yang Alya layangkan karena biasanya mereka berbicara dengan sebutan aku-kamu.
"Bapak ?" tanya Andre mengerutkan alisnya.
"Hu'um, apa ada yang salah ?" Alya balik bertanya.
"Kamu marah ?" tanya Andre lagi sembari menyenderkan tubuhnya di kursi dan menatap Alya yang tegak berdiri di hadapannya.
Alya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Meksipun begitu, raut wajahnya memperlihatkan jika ia sedang merasa tak nyaman.
"Duduk," titah Andre tak terbantahkan dan dengan terpaksa ia duduk di hadapan bosnya.
"Apa laporannya ada yang salah ?" tanya Alya.
"Alya, kamu menghindari aku." kata Andre, ia menjawab tak sesuai dengan apa yang lawan bicaranya tanyakan.
__ADS_1
" Itu tak ada kaitannya dengan laporan yang saya berikan."
" Apa karena pernyataan cintaku kemarin malam ?" tanya Andre lagi.
"Andre, tolong jangan buat semuanya menjadi sulit." jawab Alya frustasi.
"Sulit ?" Andre berkerut alis tak paham.
"Look at us, tak mungkin kita bersama. Jadi mari kita bekerja secara profesional. Dan aku juga tak mau jika harus kehilangan pekerjaanku ini karena aku sangat membutuhkannya. Tentunya kamu tahu jika aku harus menghidupi Raka. Dia hanya bergantung padaku." jawab Alya.
"Aku sangat mampu menghidupi kalian berdua." ucap Andre bersikukuh.
"Apa yang akan orang-orang pikirkan jika aku yang janda ini menjadi pendampingmu, mereka pasti berpikir buruk tentangku bukan kamu. Masih banyak gadis yang lebih cantik di kantor ini yang bisa kamu jadikan kekasih."
"Tapi ini masalah hati, apa salah jika aku jatuh cinta sama kamu. ?" tanya Andre.
"Bukan jatuh hati, kamu hanya merasa nyaman berteman denganku."
" Aku jatuh cinta pada segala yang ada padamu Alya. Aku terpesona dengan cara berpikirmu, segala kebaikanmu."
"Aku tak sebaik yang kamu kira, aku menolongmu juga karena mendapatkan imbalan. Jangan lupa itu Andre." jawab Alya yang terus memberikan penolakan pada perasaan atasannya itu.
Andre berdiri dari tempatnya duduk, ia berjalan memutari meja dan berlutut di hadapan Alya dengan tatapan mata yang dalam pada lawan bicaranya.
"Katakan padaku jika kamu tak memiliki perasaan yang sama, maka aku akan mundur detik ini juga."
"Hah?" gumam Alya hampir tak terdengar. Wajahnya memucat dan kedua telapak tangannya saling meremas karena rasa gugup yang menghampiri dirinya.
"Katakan padaku, Alya. Katakan kalau kamu nggak cinta aku." ucap Andre seraya semakin dalam menatap mata Alya yang mulai mengembun.
Alya menelan salivanya yang terasa kelat, matanya mengembun menahan tangis dan dadanya berdebar lebih kencang dari biasanya.
Tenggorokannya terasa tercekat tak bisa bersuara. Alya sadar, ia tak bisa mengucapkan kata-kata yang ingin Andre dengar saat ini.
To be continued ❤️
__ADS_1
thanks for reading
sampai ketemu Senin 😚