
Happy reading ❤️
"Kedatangan Lo kesini buat Amanda dan anaknya. jangan lupa itu " ucap Gibran lagi dengan nada suaranya yang dingin.
"Siaallll," gumam Andre ketika ia sadar Gibran memergokinya memperhatikan cincin pernikahan milik Gibran.
"Jadinya mau gimana ?" tanya Gibran lagi. Ia mulai merasa kesal dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana.
"Lihat anaknya dulu" jawab Andre sedikit ragu.
Tanpa banyak bicara, Gibran pun berdiri dan berjalan menuju ruang rawat bayi berada, diikuti oleh Andre dibelakangnya.
Tak butuh waktu lama, mereka pun tiba. Gibran pun menunjukkan yang mana bayi Amanda dan tubuh Andre menggigil seketika.
Melihat bayi perempuan yang terbaring tak berdaya itu membuat hati Andre terasa begitu pilu. Padahal ia sendiri pun tak yakin bila bayi itu adalah darah dagingnya sendiri. Namun matanya mengembun dan lama-lama pipinya basah karena ia tak kuat lagi menahan air bening yang menggenang di pelupuk matanya.
"Kenapa dia gak berdaya seperti itu ?" tanya Andre pada Gibran.
Meskipun berat, akhirnya Gibran pun menjelaskan kondisi sebenarnya sang bayi membuat Andre merasakan sakit dalam dadanya.
"Dia juga tertular penyakit dari ibunya." ucap Gibran mengakhiri ceritanya.
Andre diam beberapa saat, tak berkata apapun namun matanya masih tertuju pada bayi itu.
"Bantu gue buat tes DNA." ucap Andre pada akhirnya dan Gibran pun mengiyakan permintaan mantan sahabatnya itu.
"Apa boleh gue berdua saja sama dia ?"
Gibran pun mengerti, ia berjalan keluar dari ruangan itu membiarkan Andre untuk menghabiskan waktu berdua dengan sang bayi.
"Maaf aku baru datang, tapi aku menepati janjiku untuk datang kesini ketika kamu lahir. Maafkan aku juga ibumu." ucap Andre seraya menitikkan air matanya.
Bayi mungil itu menggerakkan bibirnya yang terkatup dengan lemah, membuat dada Andre terasa semakin sesak karena rasa sakit dan bersalah yang ia rasakan saat ini.
"Ku mohon maafkan aku juga ibumu." ucap Andre berulang kali.
Bayi dalam kotak kaca itu menggerakkan jemarinya dengan pelan seolah memberi tahu Andre jika ia mendengarnya.
Andre kembali terisak, sungguh ia merasa sedih melihat keadaannya. Batin Andre berkata jika bayi tak berdaya itu adalah miliknya
***
Amanda terbaring kaku tak sadarkan diri, yang terdengar hanya bunyi alat-alat medis yang menjadi penopang hidupnya saat ini.
Wajahnya pucat, tulang pipinya menonjol karena bobot tubuhnya yang menurun. Bibirnya yang terkatup rapat terlihat kering. Hampir saja Andre tak mengenali mantan kekasihnya itu.
Tubuh Andre kembali menggigil bukan karena suhu ruangan yang terlalu dingin namun karena ia tak menyangka Amanda dalam kondisi seperti itu.
"Manda, aku datang." ucap Andre lirih. Tak ada siapapun disana. Hanya Andre dan Amanda yang kini tak berdaya.
"Aku datang menepati janjiku. Aku juga telah melihat bayi yang kamu lahirkan. Sangat cantik, kamu harus bangun untuk melihatnya." lanjutnya lagi.
"Manda, maafkan aku. Maafkan karena hubungan kita tak berhasil. Namun asal kamu tahu, aku mencintaimu... Mungkin bukan cinta yang sangat mendalam dan penuh perasaan seperti yang aku rasakan pada wanita lain ( Sabina ) tapi aku mencintaimu dengan caraku sendiri. Percayalah..." Bisik Andre lirih seraya meneteskan air matanya.
Ia pandangi wajah pucat itu, seketika bayangan masa lalunya bersama Amanda berputar dalam kepalanya bagaikan sebuah film.
__ADS_1
Ya, Andre pernah jatuh cinta pada Amanda yang enerjik dan penuh gair*h sehingga ia memutuskan untuk meninggalkan wanita yang telah lama menjadi kekasihnya hanya untuk bisa bersama Amanda. Meskipun itu tak berlangsung lama.
Seorang petugas meminta Andre untuk segera pergi karena di ruangan itu tak di perbolehkan untuk tinggal dalam waktu lama
Andre keluar dengan wajah sendu dan Gibran sadari itu. Keduanya kembali duduk bersama di lorong rumah sakit.
"Terimakasih," ucap Andre dengan jelasnya dan Gibran pun menganggukkan kepala.
"Terima kasih karena Lo masih mau nolongin Manda juga anaknya."
"Kali ini seharusnya Lo bilang terimakasih sama Sabina juga." potong Gibran.
"Yeah, kaya lo ngizinin aja gue ngomong ma dia." ucap Andre sembari tertawa dan tawa itu menular pada Gibran yang menyadari sikap posesifnya pada sang istri.
"Maafin gue juga Amanda." ucap Andre sungguh-sungguh.
"Maafin kita karena udah nyakitin lo ma Sabina Maafin juga karena kita bikin lo berdua susah." lanjut Andre.
Gibran hanya diam tak menanggapi, ia membiarkan Andre untuk terus berbicara.
" Gue nyesel dengan apa yang udah terjadi. Seandainya bisa, gue pengen balikin waktu dan memperbaiki semuanya. Tentu kita masih bisa temenan dengan baik dan hidup tenang."
Andre menarik nafas dalam sebelum ia melanjutkan bicaranya.
"Percayalah, gue nyesel banget nyakitin lo dengan merebut Amanda."
"Walaupun lo balikin waktu, gue yang akan rebut Sabina dari sisi lo. Gue gak mau sama yang lain." potong Gibran tanpa ragu.
"Lo tau ? satu tahun lalu gue masuk kamar hotel Sabina yang lagi didandanin pakai baju pengantin. Gue bilang sama dia jika lo adalah lelaki paling beruntung di dunia karena menikahi perempuan baik dan cantik seperti dia, tapi gue bersyukur ternyata gue lah lelaki yang beruntung itu." lanjut Gibran dan Andre diam mendengarkan.
Andre mengangguk paham, Gibran sudah jatuh cinta pada wanita yang ia sayangi itu. Meksipun Andre merasa sedih namun ia bersyukur karena Sabina mendapatkan lelaki yang baik sebagai teman hidupnya.
"Tapi please izinin gue ngomong sama Sabina untuk yang terakhir kali. Gue cuma mau minta maaf."
Gibran berpikir untuk beberapa saat, hingga ia memutuskan.
"Boleh jika Sabina nya mau, tapi waktu lo gak lama."
"Thanks, gue benar-benar hargai semua kebaikan Lo."
Waktu terus berlalu, keduanya terlibat obrolan panjang. Bahkan Andre menceritakan bagaimana kehidupan bebasnya dengan Amanda sehingga penyakit memalukan itu menghinggapi keduanya. Gibran membulatkan matanya tak percaya jika Andre dan juga mantan kekasihnya itu memiliki kehidupan yang liar dan kelam.
Tapi Gibran hanya mendengarkan tanpa menghakimi. Bagi Gibran, Andre dan Amanda adalah 2 manusia dewasa yang mempunyai pilihan sendiri dalam hidupnya.
Yang Gibran rasakan saat ini adalah rasa syukur luar biasa karena Tuhan memberikan jalan terbaik bagi hidupnya yaitu dengan menyatukan ia dan Sabina meskipun ia menderita ketika kekasih dan sahabatnya itu dulu mengkhianatinya.
Seorang perawat datang dengan langkah yang tergesa menghampiri keduanya.
"Ah, syukurlah anda berdua masih berada disini. Tolong perwakilan dari keluarga ibu Amanda jangan ada yang pergi karena keadaan bayi ibu Amanda kian memburuk."
Andre seketika berdiri dan berjalan menghampiri perawat itu.
"Bolehkah saya melihat keadaannya ?" tanya Andre dengan suara bergetar.
Perawat itu menganggukan kepalanya dan Andre pun mengikutinya.
__ADS_1
Dokter spesialis anak yang merawat bayi Amanda menjelaskan kondisi sang bayi dan Andre kembali menetaskan air matanya Karena mengetahui kondisinya yang kian memburuk dan ia akan menderita jika bertahan hidup.
"Pergilah sayang jika itu terbaik untukmu. Aku pun tak akan sanggup melihatmu hidup dalam penderitaan. Aku sudah datang menepati janjiku, maka kamu bisa pergi dengan damai." ucap Andre sembari terisak.
Bayi mungil itu menghembuskan nafas terakhirnya dengan mata terpejam tanpa pernah merasakan dekapan hangat ayah dan ibunya.
Andre kembali menumpahkan air matanya dan Gibran memberikan pelukan untuk menguatkan.
Masih dalam keadaan hancur Andre dikejutkan oleh keadaan Amanda yang juga memburuk. Membuatnya kembali ke ruangan ICU dimana Amanda berada.
Seorang dokter dan beberapa suster berada disana mengerubungi Amanda yang kian melemah. Andre yang masih dalam kondisi lemah mendekati Amanda dan menggenggam tangannya yang dingin.
"Manda sayang, anak mu... a... anak kita sudah tak merasakan sakit lagi." lirih Andre terbata.
"A..aku sudah datang, A..aku juga mengakui dia anakku. Sudah ku tepati janjiku... Kamu bisa pergi dengan damai." lirih Andre dengan air mata membasahi pipinya.
***
Sabina menunggu kedatangan Gibran di ruang tamu ditemani Mbok inah yang tadi datang bersama asisten ayahnya.
Semenjak tahu jika keluarga Mulia bertanggungjawab terhadap perawatan Amanda, ayahnya pun segera mengirimkan asistennya untuk mengurusi itu semua.
Ia tak mau Sabina kerepotan mengurus semua walaupun ia tahu Gibran akan membantu.
Ayah Sabina bertanya apakah putrinya yakin dengan apa yang dilakukannya, mengingat perlakuan Amanda yang buruk padanya
Sabina menjawab dengan yakinnya, jika memaafkan dan berdamai dengan masa lalu akan membuat hidupnya lebih mudah. Oleh karena itulah ayah Sabina mengirimkan utusannya untuk mengurus semua.
Pukul setengah 10 malam Gibran tiba di kliniknya dan Sabina berhambur menyambutnya.
"Bagaimana ? Bagaimana Amanda dan bayinya ?" tanya Sabina tak sabaran.
Gibran menatap mata istrinya dengan penuh perasaan sebelum ia menjawab.
"Amanda dan bayinya kini sudah bersama." jawab Gibran.
"Mak... maksudmu ?"
"Mereka telah pergi untuk selamanya." jawab Gibran dan Sabina pun menangis hebat di dada suaminya.
Gibran memeluk Sabina erat untuk menenangkan. Ia ingat perkataan Amanda waktu itu.
"Setelah bayiku lahir, aku dan anakku akan pergi selamanya dari hadapanmu. Aku tak akan mengganggumu lagi."
Apa yang Amanda ucapkan benar adanya, kali ini ia benar-benar menepati janji.
To be continued ❤️
Thanks for reading 😘❤️
Selamat Tahun Baru 2022
Semoga semua harapan, rencana, dan cita-cita di tahun baru ini dapat terkabul.
Semoga kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi ❤️
__ADS_1
Sampai ketemu hari Senin insyaallah 😚