
Happy reading ❤️
"Aku tak peduli, aku hanya meminta kamu merahasiakannya dari Sabina."
Ucap Amanda dengan suara meninggi dan Gibran menatapnya tak suka.
"Jangan berlebihan Amanda, kamu kira aku melakukan ini karena peduli sama kamu ? Tidak !"
"Lalu kenapa kamu gak biarin aku mati saja kemarin ?" Potong Amanda.
"Karena aku gak mau terseret kematianmu, mereka yang melihatmu kemarin tahu jika kamu berencana melukai dirimu sendiri." Desis Gibran dengan geram.
Seketika hati Amanda terasa begitu nyeri dan perih ketika mendengar apa yang Gibran ucapkan.
Lelaki yang berdiri diujung kakinya telah berubah telak, tak lagi lembut seperti dahulu.
Senyum dan tutur kata lembut yang keluar dari mulut Gibran bukan lagi miliknya.
"Kamu bodoh banget, Manda. Menganggap Gibran masih memiliki rasa padamu." Batin Amanda dalam hatinya.
Padahal rasa malu akan penyakitnya ini Amanda tekan hanya untuk bisa dekat dengan Gibran lagi. Berharap lelaki itu masih memiliki sedikit rasa iba yang berubah menjadi cinta. Tapi sepertinya semua hanya tinggal harapan.
Melihat Amanda yang hanya terdiam dengan kepala tertunduk membuat Gibran enggan untuk terus berada disana lebih lama lagi. Ia pun membalikkan tubuhnya hendak pergi.
Langkahnya terhenti ketika Gibran hampir mencapai pintu keluar.
"Aku serius dengan apa yang tadi ku ucapkan, rahasiakan penyakit ini dan aku akan pergi selamanya dengan bayi ini setelah ia lahir. Aku tak akan mengganggu hidupmu lagi. Anggaplah sebagai pertolongan terakhir untuk seorang teman lama." Ucap Amanda dan Gibran dapat mendengarnya dengan jelas.
Gibran menghentikan langkahnya tanpa menolehkan wajah. Tanpa berkata apapun lagi ia keluar dari ruang rawat inap Amanda.
***
Gibran melajukan mobilnya secepat yang ia bisa. Dirinya ingin segera menemui Sabina dan menceritakan semua.
Sungguh ia sangat mencintai Sabina dan tak ingin sebuah kesalahpahaman menghancurkan pernikahannya.
Lampu lalu lintas yang berwarna merah terasa begitu menghambat perjalanannya kali ini. Padahal setiap hari pun ia melalui jalan yang sama.
"Rahasiakan dari siapapun terutama Sabina. Dan aku tahu sebagai dokter kamu harus menjalani sumpahmu," perkataan Amanda terus terngiang di telinganya bagai putaran lagu yang tak ada ujungnya.
"Sialaannn Manda !" Maki Gibran seraya memukuli setir mobilnya.
Bunyi klakson yang saling bersahutan dari mobil yang berada di belakangnya menyadarkan Gibran jika lampu lalu lintas telah berubah hijau.
Gibran pun kembali memacu mobilnya dan tak lama ia pun sampai di rumahnya. Ia terdiam dalam mobil, tak segera keluar padahal mobil yang ia kendarai telah berhenti dan terparkir dengan sempurna.
__ADS_1
Kepalanya penuh dengan beban pikiran yang berkaitan dengan Amanda.
'Tok tok tok,' terdengar bunyi ketukan di kaca jendela mobilnya dan membuat Gibran menolehkan wajahnya ke arah suara.
Terlihat Sabina yang tersenyum sembari sedikit membungkukkan badan. Pipinya yang membulat karena kehamilannya terlihat begitu menggemaskan. Bagaimana mungkin Gibran bisa menyembunyikan rahasia dari wanita yang sangat ia cintai itu.
"Kenapa diem dulu di dalam mobil ?" Tanya Sabina ketika Gibran keluar dari mobilnya.
"Apa ada yang ketinggalan ?" Tanya Sabina lagi.
Tak segera menjawab, Gibran lebih memilih menatapi wajah cantik di hadapannya. Perutnya terlihat membuncit karena kini ia tengah mengandung buah cinta mereka.
"Kangen kamu, Sayang." Ucap Gibran seraya mencium gemas kedua pipi Sabina dan kini beralih ke perutnya.
Gibran membungkukkan tubuhnya dan mengusap halus perut Sabina yang besar dan mengecupnya.
"Papa juga kangen kamu," ucap Gibran lagi dan Sabina tersenyum melihatnya.
"Aku mandi dulu ya, setelah itu kita makan malam dan ada yang harus aku bicarakan sama kamu." Lanjutnya lagi seraya memeluk pinggang Sabina dengan posesif.
"Bicara tentang apa ?" Tanya Sabina sedikit cemas dan Gibran dapat melihat dengan jelas perubahan air muka istrinya.
"Nanti, aku mandi dulu." Jawab Gibran dan ia pun membawa Sabina untuk kembali memasuki rumah mereka.
***
Sabina terkekeh melihatnya, ia sungguh merasa senang dengan apa yang dilakukan Gibran saat ini. Ia merasa dirinya dan bayi yang dikandungnya begitu di cintai oleh Gibran.
"Besok jadwal kontrol ya, Yank?" Tanya Gibran dan Sabina mengiyakan.
"Sudah memasuki bulan ke 6 ya ?" Tanya Gibran lagi.
"Iya kalau menurut perhitungan dokter begitu," jawab Sabina.
"Berarti tak jauh beda dengan Amanda. Hanya 3 bulan saja aku perlu merawatnya setelah itu ia akan pergi. Semoga Amanda melahirkan lebih cepat dari Sabina." Batin Gibran dalam hatinya. Ia pun segara bangkit dan mendudukkan tubuhnya tepat di sebelah sang istri.
"Sayang," ucap Gibran mulai berbicara.
"Hu'um ? Oh iya bukannya tadi kamu ingin ngomong sama aku ?" Tanya Sabina seraya memasukkan potongan buah mangga ke dalam mulutnya.
"Eh Yank, aku mau buah mangga yang waktu itu berada di rumah siapa ya ? Aku lupa, itu loh yang rumahnya dekat tempat praktek kamu. Tapi aku pengen yang matang di pohon." Ucap Sabina lagi dan Gibran tertawa mendengar permintaan istrinya. Ia tahu Sabina tengah 'ngidam' layak ibu hamil pada umumnya.
"Boleh, nanti aku mintain." Ucap Gibran dan Sabina tersenyum senang mendengarnya.
"Bina..." Ucap Gibran sedikit ragu dan Sabina segera saja menghentikan kegiatan makannya untuk mendengarkan apa yang akan Gibran ceritakan dengan lebih seksama.
__ADS_1
"Bina, tolong dengarkan aku tanpa memotong pembicaraan aku ini ya ? Hanya sebentar. Dan pahamilah apa yang aku katakan." Gibran menatap dalam mata istrinya dan membawa telapak tangan Sabina pada genggamannya. Menarik nafas dalam sebelum ia mulai berbicara.
"Amanda datang ke klinik aku lagi," ujar Gibran. Sontak saja Sabina menarik tangannya dari genggaman Gibran namun lelaki itu tak melepaskannya.
"Dengerin dulu," mohon Gibran pada Sabina.
"Seperti yang aku bilang sebelumnya, ia sakit berat. Ia datang dengan membawa hasil labnya. Kondisi Amanda yang sedang hamil dan tak memiliki uang membuatnya mendatangi aku." Jelas Gibran dengan perlahan.
"Bagaimana jika itu hanya alasan dia saja ? Bagaimana jika dia sebenarnya ingin mendekati kamu lagi." Tanya Sabina dengan mata mengembun menahan tangis.
"Hasil laboratoriumnya resmi dan sudah aku konfirmasi ke petugas disana dan memang itu benar hasilnya." Jelas Gibran lagi.
"Bina.... Aku mencintaimu, sungguh. Demi Tuhan aku tak akan berpaling darimu, dari anak kita." Ucap Gibran seraya membelai lembut wajah istrinya.
"Dia sakit apa ?"
Seketika Gibran terdiam, dan menarik nafas pelan.
"Penyakit menular yang cukup berbahaya bagi ibu hamil. Maaf Sayang, ada kode etik yang harus aku patuhi mengenai kondisi pasien. Aku tak bisa menjelaskannya secara gamblang padamu. Tapi percayalah padaku, Bina. Aku tak akan berbuat bodoh yang bisa merusak pernikahan kita. Aku sungguh mencintaimu, dan tak akan mengkhianati rasa percayamu." Ucap Gibran penuh kesungguhan.
"Apa Amanda akan tinggal disana ?" Tanya Sabina cemas.
"Tentu tidak, dia hanya akan datang untuk berobat seperti pasien lainnya hingga antibiotik yang dia konsumsi habis dan kembali melakukan cek laboratorium. Mungkin sekitar 3 bulan, setelah itu ia akan pergi." Jawab Gibran.
"Memangnya gak bisa kamu rujuk ke dokter lain ?" Tanya Sabina lagi.
"Sudah tapi ia tak mau karena dia tak punya uang dan seperti janjiku sama kamu dulu, aku gak mau memberikannya lagi sejumlah uang." Gibran beralasan tak mungkin ia bercerita bahwa Amanda hendak bunuh diri di dekat kliniknya karena itu akan membuat Sabina semakin curiga.
Cukup lama Sabina terdiam, memikirkan apa yang Gibran jelaskan padanya. Suaminya telah berterus-terang saja suatu yang sangat Sabina hargai.
"Kamu bisa percaya padaku, Bina. Aku tak akan mengkhianati kamu." Ucap Gibran lagi. Ia mencoba meraih kepercayaan Sabina.
"Baiklah," ucap Sabina pada akhirnya. Meskipun berat namun akhirnya ia menyetujui.
"Hanya 3 bulan, setelah itu usai sudah. Apapun hasil labnya nanti, kamu sudah tidak boleh berurusan lagi dengannya." Lanjut Sabina.
"Iya Sayang, aku janji."
"Tapi Gibran... Jika kamu sekali saja menyakiti aku karena Amanda, aku pastikan kamu tak akan pernah bisa lagi melihat aku dan anakmu." Ancam Sabina.
Gibran pun menganggukkan kepala tanda setuju.
"Untuk selamanya... Dan aku tidak bercanda soal ini. Aku sangat mampu melakukannya." Lanjut Sabina lagi dan Gibran pun dengan susah payah menelan salivanya sendiri.
To be continued.
__ADS_1
nuhun yang udah baca ❤️