
Happy reading ❤️
Ditempat lain, Andre masih membereskan beberapa berkas ke dalam binder sebelum ia pulang. Volume pekerjaannya tiap hari makin bertambah. Entah orang tuanya sengaja melakukan itu atau memanglah bebannya semakin banyak.
Beruntunglah ada seorang Alya yang banyak membantunya. Wanita itu meskipun tidak banyak bicara namun cukup handal dalam bekerja. Sehingga Andre sangat terbantu dalam hal pekerjaan.
Namun ada beban lain yang harus Andre pikul sendiri yaitu tentang penyakitnya. Sungguh ia merasa takut juga cemas. Pasalnya penyakit yang di deritanya tidak menimbulkan gejala seperti pada Amanda.
Ia tidak tahu sejak kapan penyakit itu bersarang dan ketika dokter memaparkan akibat dari penyakit tersebut membuat Andre takut bukan kepalang.
Sudah hampir 2 bulan ini ia tak pernah menyentuh wanita manapun. Walaupun amat sangat sulit Andre lakukan karena sebelumnya ia aktif dalam kegiatan seksu*l.
Sadar diri, ia tak mau menularkan pada wanita manapun karena penyakit yang ia idap tak bisa di katakan sepele.
"Ngapain ?"
Andre langsung mengangkat kepala ke arah suara dan melihat Alya berdiri diambang pintu ruangannya.
"Kamu sakit ?"
Tanya Alya lagi ketika ia melihat Andre tengah membuka beberapa obat dari kemasannya untuk ia minum.
Alih-alih menjawab pertanyaan Alya, Andre memilih membereskan obatnya dengan cepat dan panik. Takut rekan kerjanya itu mengetahui rahasia terbesar yang sedang ia tutupi.
"Kamu bisa ketuk pintu dulu kan sebelum masuk ?" Tanya Andre geram.
"Sudah, aku mengetuk pintu ruanganmu berkali-kali tapi tak ada jawaban. Maaf telah berani membuka pintumu tanpa di persilahkan." Jawab Alya tenang.
"Ini, aku cuma mau menyerahkan berkas yang kamu minta tadi." Alya menyerahkan setumpuk berkas yang baru saja selesai ia kerjakan dan Andre menerimanya segera.
"Jika sudah tak ada tugas lagi aku izin untuk pulang duluan,"
"Anakmu gak ada yang jaga ?" Tanya Andre tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas yang tengah ia baca.
"Mmm, ada...,"
"Kalau begitu temani aku kerjakan tugas yang lain." Potongnya dan Alya pun mengurungkan niatnya untuk pulang.
Andre merasa lega melihat Alya mendudukkan dirinya di atas kursi yang berada tak jauh darinya.
"Nanti pulangnya aku anterin tenang aja. Cuma sebentar, tolong temani aku sebentar saja." Alya pun menganggukan kepala tanpa bersuara.
Saat ini Andre sedang tak ingin sendirian, walaupun ia tahu kehadiran rekan kerjanya itu tak akan banyak membantu karena Alya seorang wanita yang tak banyak bicara. Bahkan ia tak lagi menanyakan perihal sakitnya Andre.
"Jadi apa lagi yang bisa aku bantu?" Tanya Alya dan Andre pun memberikan berkas yang lainnya.
Cukup lama mereka duduk bersama dalam hening, hingga Andre pun mau tak mau harus meminum obatnya namun kali ini terlihat Alya seperti tak peduli.
"Alya, apa kamu pernah punya masalah berat ?"
"Aku hidup seorang diri dengan anak balita. Apa Bapak pikir tidak berat ?" Alya balik bertanya.
__ADS_1
Andre tertawa hambar karena telah merasa telah menanyakan sesuatu yang konyol.
"Setiap orang pasti mempunyai masalah dalam hidup mereka, namun setiap masalah yang di milikinya pasti berbeda-beda. Jadi jangan merasa diri paling menderita." Alya berkata dan membuat Andre diam seketika.
"Jika bebanmu terlalu berat juga bisa cerita dengan orang yang paling kamu percaya." Lanjut Alya lagi.
"Orang yang aku percaya sudah tak ada lagi, ia pergi karena ulahku juga." Seketika bayangan wajah Gibran sebagai sahabatnya dahulu terlintas di benaknya.
Alya menatap wajah Andre dengan dalam dan penuh tanda tanya.
"Banyak hal buruk yang telah aku lakukan, Alya. Banyak orang yang telah aku sakiti." Ucap Andre seraya menarik nafas dalam.
"Jika ingin bebanmu berkurang, minta maaflah pada mereka dengan tulus."
"Aku juga sakit," potong Andre.
"Masih bisa diobati ?" Tanya Alya.
Andre menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Lalu apa yang kamu khawatirkan ? Tuhan masih memberikanmu kesempatan maka gunakan sebaik-baiknya."
Andre mendengarkan dengan seksama dan menyelami apa yang Alya ucapkan. Meskipun tak berbelit namun maknanya begitu dalam. Ia merasa lega bisa berbagi sedikit beban hatinya.
***
Gibran telah sampai di pelataran parkir rumahnya. Kepalanya tertunduk, memikirkan apa yang telah terjadi beberapa jam lalu. Ia tak menyangka Amanda mengungkapkan perasaannya.
Dengan tersenyum masam Gibran mengingat kejadian waktu lalu ketika Andre mendatangi rumahnya untuk mendekati Sabina. Ia begitu cemburu dan marah besar hingga dirinya mendatangi Andre ke apartemen dan menghajarnya.
Lalu kini, Amanda terus mendekatinya hingga menyatakan perasaan. Tak terbayang apa yang dilakukan Sabina padanya.
Gibran ingat dengan jelas bagaimana Sabina mengancam akan meninggalkannya. Jangankan ditinggalkan, didiamkan seperti ini pun dirinya sudah sangat menderita. Namun lidahnya terasa kelu setiap akan bercerita.
"Ya Tuhan..." Lirih Gibran dan ia pun keluar dari mobilnya.
"Mana Sabina ?" Tanya Gibran ketika yang membukakan pintu untuknya adalah mbok Inah bukanlah istrinya.
"Non Bina sedang memasak sama Ibu di dapur,"
"Ooh," Gibran bergumam. Terlalu banyak memikirkan Sabina hingga ia lupa jika ibunya sedang berada di rumahnya.
Gibran berjalan menuju dapur dan menyenderkan tubuhnya di pintu. Memandangi Sabina yang sibuk memasak dengan sang ibu.
Sabina terlihat cantik dengan dress hamil bercorak bunga yang dijahitkan ibunya di kampung. Rambutnya yang panjang dikepang asal namun terlihat begitu menawan bagi Gibran. Tak henti-hentinya mata Gibran memperhatikan. Sungguh ia begitu rindu pada Sabina istrinya.
"Bina," ucap Gibran pada akhirnya. Membuat sang istri menolehkan kepala.
"Loh kamu udah pulang ? Maaf aku gak tau saking asiknya masak sama ibu."
"Gak pa-pa," jawab Gibran dengan wajahnya yang sendu membuat Sabina dan ibu mertuanya saling beradu pandang seolah saling bertanya ada apa dengan Gibran sekarang ini.
__ADS_1
Gibran berjalan menuju ibunya dan meraih tangannya untuk ia cium. Sedangkan Sabina segera mencuci tangannya dan melapnya dengan tisu lalu ia pun menyalami suaminya.
Namun Gibran tak jua pergi setelah Sabina menyalaminya. Ia berdiri di hadapan Sabina tanpa peduli ibunya memperhatikan.
"Bina, urusi dulu suamimu, biar ibu lanjutkan sendiri tak apa." Ucap ibu mertuanya karena suasana menjadi canggung seketika.
"Ka... Kamu mau kopi ?" Tanya Sabina. Gibran menggelengkan kepala tanpa bersuara.
"Mau ganti baju dulu ?" Tanya sabina lagi.
"Iya," jawab Gibran tapi lelaki itu tak juga pergi ke kamarnya padahal biasanya Gibran akan langsung menuju kamar di lantai 2 untuk membersihkan diri dan turun kembali ke lantai bawah setelah selesai berganti baju.
"Aku siapin dulu baju ganti Gibran ya Bu," ucap Sabina dan sang ibu mertua mengiyakan.
Gibran berjalan mengekori di belakang Sabina. Ia mengikuti kemanapun istrinya melangkah hingga tiba di dalam kamar mereka.
"Kamu kenapa ?" Tanya Sabina terheran.
"Aku kangen banget sama kamu, Bina." Jawab Gibran dan segera ia membawa Sabina dalam dekapannya. Ia menundukkan kepalanya dan meraih bibir Sabina dengan bibirnya. Mengulumnya penuh tuntutan dan rasa rindu yang membuncah.
"Gibran.. tunggu.. mmm,"
Gibran kembali menyatukan bibirnya ketika terpisah meski hanya sebentar saja. Dan dengan tak sabaran menggiring Sabina ke atas ranjang mereka.
Tak hanya itu, tangannya telah sibuk melucuti kain yang menutupi tubuh istrinya juga kain yang menutupi tubuhnya sendiri.
"Gibran... Nghhhh...," Lenguh Sabina karena Gibran menyentuh tiap inchi tubuhnya dengan kelembutan dan tatapan mata penuh puja Gibran terus layangkan pada istrinya yang tergolek indah tanpa sehelai benangpun.
"Sudah aku katakan padamu, Bina. Aku kangen banget." Ucap Gibran dan ia pun menyatukan tubuhnya dengan sempurna.
***
Terdengar nafas Sabina yang teratur dalam dekapannya. Beberapa kali Gibran memberikan ciuman di puncak kepala istrinya itu dengan gemas.
Waktu menunjukkan pukul 1 malam, entah berapa kali Gibran menggeluti tubuh istrinya malam ini. Rasa rindu yang ia rasakan membuatnya menginginkan Sabina lagi dan lagi.
"Aku kangen kamu, Bina." Bisiknya lagi. Gibran mengeratkan pelukannya seolah takut kehilangan istrinya.
"Aku selalu disini menunggumu pulang, aku tak pernah pergi kemanapun." Jawab Sabina lirih.
Perkataan Sabina membuat Gibran sadar, bukan jarak yang membuat mereka 'terpisah' tapi 'keheningan' dan rahasia kecil yang Gibran sembunyikan yang menjadikan mereka seperti itu.
To be continued ❤️
Maaf masih slow update, anak2ku masih UAS dan setor hapalan selama 2 minggu ini. Karena keduanya masih SD jadi masih aku bimbing dalam belajar.
Mohon pengertiannya 😘❤️
Makasih.....
Sampai ketemu Senin ya... Insyaallah...
__ADS_1