
***
Dea tengah duduk sambil menonton siaran televisi dengan setoples makanan di pangkuannya, kemudian yuda datang mengambil makanannya.
" liat apa sih? tanya yuda sambil mengunyah makanan.
" semua siaran televisi menyiarkan acara yang sama,ketus Dea.
" acara apa memang? kau jenuh, mari kita jalan_jalan,ajak yuda.
" aku kangen Rachel, sergah Dea.
" apa kita harus merebutnya kembali? tanya Yuda sambil terus mengambil makanan di toples yang di pegang Dea.
" pengusaha kaya bernama Alfino fernandes kini tengah membutuhkan golongan darah Ab negatif, bantuan anda sangat bermanfaat bagi yang benar benar membutuhkan, pasalnya Alfino fernandes akan membayar berapapun bagi yang bersedia mendonorkan darahnya, kami butuh info secepatnya,silahkan hubungi nomor yang ada di bawah layar kaca anda,ungkap Reporter di layar televisi.
Dea melotot dan meletakkan toples ke meja, di benaknya seperti terfikir sesuatu.
" ada apa? apa kau mempunyai golongan darah itu? tanya yuda.
" ya... darahku Ab negatif, ungkap Dea melirikkan matanya kepada yuda.
yuda terheran, apa yang sebenarnya yang dea fikirkan? apa mungkin terfikir rencana di balik ekspresinya.
" lalu apa rencanamu? tanya yuda.
Dea tersenyum senang ke arah yuda, menepukkan kedua telapak tangannya seolah mendapat kemenangan.
" apa kau bisa membantuku? tanya Dea sumringah.
Yuda mengangguk namun tak mengerti.
" selidiki siapa sebenarnya Alfino itu.
jika dia orang yang berpengaruh ,dia akan menjadi jembatan untukku mengambil kembali anakku, terang Dea.
yuda menggerakkan kepalanya setelah mendengar permintaan Dea.
"aku bisa membantumu jika kau mau? mengapa harus menunggu orang lain, sergah Yuda.
" kau tidak tau siapa itu Marfin,kita butuh orang lain yang membantu kita agar bisa mengalahkan dia, kata dea menekankan.
******
Marfin tengah duduk di kursi, sesekali ia memutar kursinya ,memainkan pena di jemarinya.
ponselnya berdering beberapa kali, ia hanya meliriknya kemudian setelah tau nama yang tertera di layar ponselnya ia kembali meletakkan ponselnya, meletakkan kedua tangan untuk menopang dagunya.
" mengapa dia menghubungiku, desis Marfin.
Marfin tak menghiraukan beberapa panggilan dengan nama yang sama,ia mencoba mengacuhkan panggilan tersebut.
setelah dering ponsel tak terdengar,pesan masukpun ia terima.
ia melirik kembali ponselnya, pesan masuk dari ibunya,pun ia mengabaikannya.
ia keluar dari ruangan meninggalkan ponselnya di dalam.
" tuan ,sapa leo yang sedang sibuk dengan berkasnya kemudian setengah berdiri.
Marfin menghampiri leo, memasang wajah bingung yang membuat leo tak berani menatap.
" apa jadwalku selanjutnya,tanya Marfin.
" hari ini sudah cukup tuan, jawab Leo.
" baiklah,jika tidak ada pertemuan lagi aku akan segera pulang, kata Marfin.
" baiklah tuan, kata leo menggeser kursinya dan akan bergegas.
seolah tau rencana leo, Marfin langsung mengangkat satu tangannya memberi isyarat kepada leo.
" kau tidak perlu mengantarku, aku akan menyetir sendiri, kata Marfin.
Marfin kembali keruangannya, sesaat untuk hanya mengambil ponsel yang sengaja ia tinggal kemudian ia memeriksa isi ponselnya.
pesan baru.
__ADS_1
" lihat baik baik,siapa ini?
Matanya terbelalak melihat gambar yang di kirimkan Dea.
dengan lincah jemarinya membalas pesan tersebut, tak sabar ia melakukan panggilan kepada Dea.
*****
Dea tersenyum senang mendengar ponselnya berbunyi apalagi setelah melihat nama di layar ponselny.
" sudah ku duga, gumam Dea.
sedikit lama ia membiarkan ponselnya sebelum menerima panggilan.
" halo, ucapnya lembut.
" apa maksudmu, dengan mengirim gambar istriku,apa kau ingin bermain_main dengan ku ! tegas Marfin dengan nada tinggi.
" Mas... kau tidak ingin bertanya aku dimana sekarang? ancaman di balas lembut dengan pertanyaan.
" aku sekarang di surabaya, menemui istrimu yang sekarat,ungkap Dea.
Marfin terdiam sejenak,mengingat ibunya pernah mengatakan keberadaan istrinya.
" coba nyalakan televisi, kata Dea.
Marfin masih diam,namun ia mengikuti kata Dea,ia mengambil remote kemudian menekan tombol on kearah televisi yang ada di ruangannya.
" seorang laki laki kaya raya bernama Alfino, sedang membutuhkan golongan darah untuk membantu seseorang, kata Dea memancing rasa penasaran Marfin.
" kau lihat? tanya Dea dengan lembut.
" siapa yang ingin ia bantu, itu adalah istrimu, Alika.
saat ini, dia benar benar butuh donor darah setelah ia berjuang melahirkan anakmu, dia sekarat, desis Dea disana.
Marfin masih Diam memperhatikan dan mendengar jelas apa yang di katakan reporter di layar televisi.
" aku memberimu pilihan, mengembalikan anakku kepadaku atau kau akan mengembalikan istrimu kepada sang pencipta, kau tahu benar golongan darah istrimu sangat langka dan golongan darahku sama dengan istrimu, jadi bagaimana? Dea masih memanaskan suasana.
tut...tut...
ia kembali mengecek ponselnya, memeriksa aplikasi whatsapnya.
" nak, angkat telpon ibu, kemarin ibu datang kepadamu untuk membicarakan sesuatu yang penting, tapi ego membuatmu pergi meninggalkan ibu pada saat itu, temuilah istrimu nak dirumah sakit x surabaya, ia benar benar sangat membutuhkanmu, pesan bu Risma.
Marfin menarik rambutnya sendiri,setelah membaca pesan tersebut kemudian ia duduk di kursi dengan tubuhnya yang mendadak menjadi lemas.
" apa kau berjuang melahirkan anak kita sayang? gumamnya dengan getir.
bayangan Alika melintasi mata dan fikirannya,semua kenangan yang mereka lalui sepanjang bersama,seketika melintas di fikirannya, membuat Marfin ingin berteriak keras, mengapa baru aku rasakan sesakit ini?
flash back
yuda mengikuti kata Dea, mengubungi seseorang di surabaya untuk membantunya
hanya beberapa menit,ia mendapatkan informasi yang ingin ia dengar.
" informasi pribadi yang aku dengar, ia menolong wanita bernama Alika usai Alika melahirkan bayi kembarnya, ungkap yuda santai.
" Alika... Alika...mendengar nama itu Dea teringat seseorang, ah mungkin bukan orang yang ia maksud fikirnya.
untuk memenuhi rasa penasarannya ia meminta yuda untuk mengantarkan ke surabaya tepatnya kerumah sakit yang akan di tuju. yudapun mengikuti kata Dea, entah mengapa yuda menjadi seperti pesuruh yang rela melakukan apapun untuk Dea.
ya, semenjak yuda mempekerjakan Dea di restaurantnya pada waktu itu, itu menjadi jatuh cinta pandangan pertama baginya.
namun Marfin membuat dea tak lagi bekerja disana, karena itu yuda kehilangan Dea.
ia berharap dapat bertemu kembali dengan wanita idamannya,sampai takdir yang akhirnya mempertemukan keduanya kembali seperti saat ini,saat itu mereka di pertemukan kembali di restaurant yang sama, namun dengan kondisi dea yang sudah berbeda.
******
yuda dan Dea sampai di bandara, Dea menarik koper kecil yang di bawanya sementara Yuda berjalan di belakangnya.
mereka langsung menuju ke rumah sakit dengan taxi online yang Dea pesan.
"permisi sus, mungkin anda tau nyonya Alika? di mana dia? tanya Dea.
__ADS_1
"mohon maaf, siapa anda? ada keperluan apa? tanya resepsionis lagi.
" saya keluarganya sus, jawab Dea.
" baiklah, saya akan menghubungi dokter Amri terlebih dahulu, jawabnya kemudian menekan mengambil telpon genggam dan menekan beberapa tombol.
" oh sus, saya pendonor darah untuk nyonya Alika,kata Dea mencegah resepsionis itu.
" tolong antarkan kami kepada tuan Alfino,kata Yuda yang berada tepat di belakang De.
" Dok, panggilnya setengah berteriak.
" ada apa mel? tanya Dokter Diana menghampiri.
"ini dok, tamunya tuan Alfino,ungkapnya.
" owhh... Mari saya antarkan, kata dokter Diana mengarahkan dan memboyong keduanya.
mereka berjalan menuju ke ruangan yang di maksud, sesaat langkah Dea terhenti saat melihat dari kaca siapa saja yang ada dalam ruangan tersebut.
" hey, ada apa? tanya yuda.
"nenek, kakek,gumam Dea, kemudian ia mengeluarkan ponsel dari tas kecilnya.
yuda melihat kedalam sana, kemudian ia mengikuti langkah Dokter yang memasuki ruangan.
" tuan alfino, ada yang ingin menemui anda, kata Dokter.
" siapa dok? tanya Alfino Yang duduk di samping Alika.
" lelaki ini, Kata dokter mengarah kepada yuda.
Alfino mengangkat kepalanya dan menelisir laki laki yang di samping dokter Diana.
" ada keperluan apa dok, tanya Alfino.
" nenek sama kake keluar dulu ya, kata nenek sumiati dan kakek Ramlan,memotong pembicaraan mereka.
alfino mengangguk pelan dan tersenyum,
" bisa kita bicara di luar, kata Alfino seraya berdiri menggeser kursi.
*****
" nenek, kakek , ucap Dea yang berdiri di dekat pintu.
" iya nak, siapa ya? tanya nenek sumiati.
" Nek, kau tak ingat? ini Dea nek, cucu nenek. kata Dea menggenggam tangan keriput nenek sumiati tak terasa air matanyanya jatuh.
nenek sumiati terkejut mendengar pengakuan wanita cantik di hadapannya, ia langsung memeluk cucunya tersebut,menumpahkan kerinduannya.
" ya ampun cucu nenek, kemana aja ? kata nenek sumiati di pelukan Dea,mengusap lembut punggung belakang dea.
" apa Nenek baik baik saja, tidak ada yang melukai nenek, kata Dea melepas pelukan dan mengusap kasar sisa air matanya.
" tidak ada ndok, tidak ada yang melukai kakek dan nenek,ungakap nenek sumiati.
Deapun memberi salam kepada kakeknya, memeluknya.
" mari tuan, ajak Alfino mengajak yuda yang terpaku.
" tunggu tuan, aku tidak ada keperluan denganmu, wanita inilah yang mempunyai keperluan denganmu, kata yuda berkata sambil melirik kearah Dea.
" baiklah, kata alfino mengerti.
****
" jangan buru buru mah, pinta pak anton kepada bu Risma yang berjalan di depannya.
" kau ! kata bu Risma, menunjuk Dea setelah melihat Dea dan yang lainnya di depan ruangan Alika.
Dea mundur perlahan dengan mulut terbuka melihat wanita yang berada di hadapannya.
" kenapa ndok, kenal sama nyonya? dia mertua Alika, kata nenek sumiati mengehentikan langkah mundur Dea.
semua yang berada di sana tercengang melihat drama yang kedua wanita itu, dalam waktu bersamaan wanita itu bertemu dengan seseorang yang mungkin ia kenal sebelumnya,itulah yang di fikirkan yuda, Alfino,dan dokter yang ada disana.
__ADS_1
Dea berlari meninggalkan kumpulan orang_orang itu, sementara Yuda menyusulnya.
" sebentar ya tuan, ucap yuda kepada Alfino.