Pernikahan Yang Tak Diinginkan

Pernikahan Yang Tak Diinginkan
Selamat Datang Athalla


__ADS_3

Happy reading ❤️


"Bayangan putri kecilnya ketika meregang nyawa selalu teringat jelas dalam kepalanya dan itu membuat perasaan Andre sangat hancur. Ia tahu setelah ini hidupnya tak akan mudah lagi untuk dilalui.


"Kamu dengar Andre ? Mama tak mau membicarakan hal ini lagi dan kalau kamu masih menginginkan tetap menjadi bagian dari keluarga Tama jangan sampai Papamu tahu. Cukup banyak masalah yang kamu berikan untuk kami. Apa kamu sadar setelah keluarga Mulia memutuskan kerjasama mereka, perusahaan kita langsung jatuh walaupun kamu telah berusaha keras membangunnya lagi tapi keadaan kita belum stabil. Bayangkan jika skandal ini diketahui orang, habislah kita semua.". geram Ibunya seraya menghempaskan amplop putih itu tepat di dada Andre dan ia pun menangkapnya.


Andre berdiri terpaku, apa yang ibunya katakan benar adanya. Namun tetap dalam dirinya yang paling dalam Andre merasakan rasa bersalah yang luar biasa. Tak ingin mendebat sang ibu, Andre pun tak lagi menjawab atau menyanggah apa yang ibunya telah katakan.


"Baik, aku mengerti. Aku gak akan membicarakan hal ini lagi." ucap Andre dengan hati yang ngilu menahan rasa sakit.


***


Pagi telah menyapa, lantunan ayat suci mulai terdengar dan Sabina pun membuka matanya. Saat ini belitan tangan Gibran begitu membuatnya nyaman.


Sabina pandangi wajah suaminya yang tertidur, ia tersenyum karena tak menyangka jika dirinya kini bersanding dengan Gibran dan jatuh cinta pada lelaki yang dulu menjadi temannya itu dengan dalam.


Pernah sama-sama dikhianati hingga terpaksa terikat dalam tali pernikahan tapi seiring berjalannya waktu keduanya saling menemani dan saling menguatkan hingga rasa cinta pun tumbuh dengan perlahan.


Namun ketika rasa cinta itu tengah bermekaran, datanglah terpaan angin yang berusaha untuk menggoyahkannya.


Rasa cemburu, curiga dan selisih paham tak lantas membuat cinta keduanya melemah. Mereka memilih untuk bertahan, dan apa yang telah terjadi membuat cinta Gibran dan Sabina lebih kuat dari sebelumnya.


"We did it," ( kita berhasil ) gumam Sabina seraya tertawa pelan.


Dengan perlahan ia pindahkan tangan Gibran agar tak mengganggu tidurnya dan seperti yang biasa Sabina lakukan, ia pun bangkit dan dengan tertatih berjalan menuju meja kecil dalam kamarnya dan menuangkan air ke dalam gelas dan menyimpannya di atas nakas.


"Sayang, bangun sudah hampir Subuh." Sabina mengguncang tubuh suaminya dengan perlahan dan tak lama Gibran pun membuka matanya.


"Selamat pagi," Sapa Sabina dan Gibran tersenyum dibuatnya. Wajah cantik istrinya yang berbalut senyum adalah hal yang paling Gibran inginkan di setiap paginya.


"Ayo bangun, kita sholat subuh bersama."


"Tunggu sebentar." jawab Gibran dan ia pun meminum air putih yang telah disediakan istrinya itu. Hal sederhana yang selalu Sabina lakukan tapi mampu membuat Gibran merasa bahagia.


***


Gibran bersiap untuk pergi ke rumah sakit, sedangkan Sabina sibuk menyiapkan sarapan bersama ibu mertuanya.


Sudah 3 hari ini ibu Gibran datang dari kampung halamannya, ia datang untuk menyambut kelahiran cucunya yang tinggal menghitung hari saja.


Tak hanya ibu mertuanya, namun kakak Sabina beserta keluarganya telah tiba di Jakarta untuk menyambut keponakan baru mereka. Bahkan bibi Maya yang dulu menemani Sabina ketika malam pernikahannya pun akan datang ke Jakarta untuk menemani Sabina melahirkan.


Rasa syukur Sabina ucapkan berulang kali dalam hati. Ia sungguh merasa bahagia dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya dengan tulus.


"Sayang," Sapa Gibran seraya mencuri sebuah kecupan dari bibir istrinya yang tengah membawa piring berisikan sarapan untuk dirinya.


Mata Sabina melotot karena tindakan Gibran yang tiba-tiba menciumnya padahal ibunya berada tak jauh dari mereka.

__ADS_1


"Apa ?" tanya Gibran dengan wajah polosnya.


Sabina menunjuk sang ibu mertua dengan matanya dan Gibran pun tertawa pelan karena ia tak sadar ada ibunya di sana.


"Maaf sayang, tapi bawaannya gemes aja tiap lihat kamu." bisik Gibran.


Mereka telah menikah selama satu tahun, tapi Sabina masih saja merona ketika suaminya mengucapkan kata-kata manis untuknya.


"Hadeh kalian serasa masih pengantin baru aja." ucap ibu Gibran yang ternyata tahu dengan apa yang dilakukan anaknya.


" Aku gemes banget ma istriku, Bu." ucap Gibran beralasan.


"Ibu senang hubungan kalian baik, semoga seterusnya seperti ini."


" Iya bu, aku dan Bina memiliki kesepakatan tak tertulis untuk rumah tangga kami."


"Kesepakatan apa ?" tanya ibu Gibran dengan berkerut alis.


"Kita akan saling bertahan dalam keadaan apapun dan tak akan saling meninggalkan dalam keadaan marah." jawab Sabina seraya menatap mata Gibran dengan penuh cinta dan Gibran pun melakukan hal yang sama.


Ibu mertuanya tersenyum lega, ia merasa senang melihat anaknya hidup bahagia dan menikahi wanita yang tepat.


"Jangan lupa perjanjian kita yang lain, kita akan terus berci*ta seperti kelinci." bisik Gibran dan Sabina pun mencubit gemas pinggang suaminya.


Gibran mengaduh karena cubitan tangan Sabina yang terasa sedikit sakit. Sehingga membuat ibunya melihat ke arah mereka.


"Ayo makan dulu, jangan bercanda terus. ucap ibu Gibran dan keduanya pun menurutinya.


***


Tadi pagi mereka masih bercanda ria dan Sabina tak mengeluhkan apapun namun sore ini ia dikejutkan dengan berita Sabina yang mengatakan beberapa hal yang Gibran yakini sebagai tanda jika istrinya itu akan melahirkan.


"hah... hah... Bina... Sabina.. istri aku." ucap Gibran dengan nafas terengah karena lelah.


"Tarik nafas dulu dan tenanglah, Bina sedang diperiksa oleh dokter kandungannya." ibu Gibran menepuk-nepuk pundak anaknya itu untuk menenangkannya.


Tak lama seorang wanita dengan jas putih keluar dari ruangan dimana Sabina di periksa.


"Nyonya Sabina sudah mengalami pembukaan, sepertinya ia akan melahirkan beberapa hari lebih cepat dari tanggal perkiraan. Jangan khawatir hal ini normal dan sering terjadi." Ucap dokter Dewi yang merupakan dokter kandungan Sabina.


"Apa saya boleh melihat keadaannya ?" tanya Gibran dengan wajahnya yang terlihat cemas.


"Tentu saja boleh," jawab dokter itu.


Gibran memasuki ruang rawat dimana istrinya terbaring dan keluarga yang lain masih menunggu di luar karena hanya Gibran yang diizinkan untuk masuk saat ini. Terlihat Sabina yang sedang meringis menahan sakit.


"Sayang," sapa Gibran dan Sabina pun mengangkat wajahnya.

__ADS_1


"Perutku terasa sakit.. nghhh." keluh Sabina dan Gibran pun berjalan semakin mendekatinya.


Gibran mengecup dahi Sabina dengan penuh rasa kasih sayang, Sabina memejamkan matanya ketika Gibran melakukan itu. Sungguh kedatangan suaminya membuat Sabina merasa lega.


Tepat di sebelah Sabina terbaring ada sebuah kursi dan Gibran pun mendudukkan tubuhnya disana. Dengan lembut ia memberikan usapan-usapan halus di pinggang istrinya. Dan apa yang Gibran lakukan membuat Sabina lebih tenang.


"Jangan lupa banyak berdoa ya Bina." bisik Gibran dan Sabina menganggukkan kepala mengiyakan apa yang Gibran sarankan padanya.


Waktu terus berlalu dan Gibran dengan setia menemani, tak sekalipun ia meninggalkan Sabina yang masih merasakan rasa sakit yang kini lebih sering mendatanginya.


Pukul 10 malam akhirnya terdengar suara tangis bayi yang memecahkan keheningan. Gibran memberikan banyak ciuman di puncak kepala istrinya itu yang telah melahirkan putra pertama mereka.


Gibran merasa bahagia luar biasa dan ia pun merasa salut pada Sabina yang tak banyak mengeluh, istrinya itu hanya meringis menahan sakit tanpa berteriak ataupun mencakar tangannya seperti yang biasanya para wanita lakukan ketika mereka tengah melahirkan.


Dengan mata mengembun menahan tangis Gibran ikut memeriksa bayinya yang baru saja lahir dan ditemani oleh seorang dokter spesialis anak.


Yang Gibran takutkan tak terjadi. Anaknya terlahir dengan berat badan dan usia kandungan yang cukup padahal sebelumnya Sabina pernah mengalami kemunduran dalam kehamilannya yang diakibatkan oleh perseteruan panjang dengan dirinya.


Bayi laki-laki yang Sabina lahirkan sehat dan tak kekurangan apapun. Gibran mengucapkan rasa syukur dalam hatinya berulang kali.


Di ruang rawat inap yang telah disediakan secara khusus untuk Sabina. telah berkumpul beberapa orang terdekat yang menanti kelahiran sang bayi.


Gibran datang dengan bayi yang berada dalam pangkuannya dan berbalut selimut warna biru.


Semua yang hadir di sana menyambutnya dengan antusias dan penuh rasa haru bahagia. Mata Sabrina mengembun ketika Gibran berjalan kian mendekatinya.


"Halo semua perkenalkan Athalla Fahreza, yang artinya karunia tuhan yang setia." Ucap Gibran penuh rasa bangga.


"Athalla Fahreza Mulia." Timpal Ayah Sabina.


"Kalau kamu tak keberatan, ayah ingin Athalla membawa nama Mulia." lanjut ayah Sabina.


"Tentu saja Ayah, saya dan Sabina akan senang sekali." ucap Gibran dengan senyum bahagia yang menghiasi wajahnya.


Dengan perlahan Gibran menyerahkan Athalla pada pangkuan Sabina yang sudah tak sabar ingin melihat putranya.


"Halo Athalla, akhirnya kita berjumpa. Mama, Papa dan semuanya akan memberikanmu banyak cinta."


To be continued ❤️


thanks for reading 😘


Genks tadinya aku mau bikin ending tapi batal karena mau bikin kisah Andre, gak banyak kok. Ada yang masih mau baca gak ya ?


Makasih banyak buat Mak Suswati sayang ❤️ yang udah bantuin cari nama. Love u mak 🤩


Jangan lupa like dan komen yaaa

__ADS_1


terimakasih yang sudah memberikan hadiah juga vote


Tons of love for you guys ❤️❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2