
Happy reading ❤️
Gibran masih berdiri terpaku melihat Sabina yang kini telah memejamkan mata.
Sungguh sikap diam Sabina membuat Gibran merana dan sangat tersiksa.
Ranjang terasa bergelombang ketika Gibran menaikinya. Ia pandangi tubuh Sabina yang terbaring membelakanginya. Ceruk leher Sabina yang tertutup sedikit rambut terlihat sangat menggoda. Ingin Gibran melabuhkan bibirnya di sana dan menyesap aroma tubuh Sabina yang memabukkan dengan rakus dan memeluknya erat.
Gibran menggigit bibir bawahnya karena cemas, ia menggeserkan tubuhnya dengan perlahan untuk mendekati sang istri. Kemudian ia menjulurkan tangannya yang sedikit gemetar agar dapat meraih Sabina dalam pelukan. Namun baru saja tangan Gibran menyentuh pinggang, Sabina segera menurunkannya dengan pelan.
"Gerah," ucap Sabina, dan Gibran pun segera menariknya kembali.
Penolakan Sabina bagai sebuah tamparan bagi Gibran. Ia pun berdecak sebal karenanya.
"Gerah?" Batin Gibran dalam hatinya.
"Mana mungkin dia gerah tapi seluruh badannya tertutup bedcover." Kesal Gibran seraya membalikkan badan.
Kini mereka tertidur dengan saling membelakangi dengan pikiran masing-masing.
Pundak Sabina naik turun secara teratur, wajah cantiknya tertutup sedikit rambut namun Gibran tak berani untuk merapihkannya. Yang ia lakukan hanya memandangi wajah Sabina yang tertidur pulas dan kini mengarah ke hadapannya.
Sedangkan Gibran menopang kepalanya dengan satu tangan dan tangan yang lain berusaha menyentuh perut Sabina namun ia mengurungkannya karena teringat beberapa waktu lalu Sabina menolak untuk ia peluk.
Sedari tadi Gibran tak bisa untuk hanya sekedar memejamkan mata. Perseteruannya dengan Sabina membuat hati dan kepalanya tak merasa tenang.
"Mama kamu lagi ngambek aja cantik banget," ucap Gibran gemas. Bibir Sabina terlihat penuh dan mengundang, pipinya yang sedikit membulat membuat Gibran ingin mencubitnya. Belum lagi dadanya yang semakin berisi karena kehamilan membuat tubuh Gibran meremang juga menegang.
"Damn, Bina.." gumam Gibran menahan hasrat primitif dalam dirinya.
Sabina menggeliatkan tubuhnya dan tanpa ia sadari tangannya melingkar di atas perut Gibran dan memeluknya. Bagai memenangkan sebuah lotere, hati Gibran bersorak dengan bahagia.
Sebisa mungkin ia menahan diri untuk tak membalas pelukan Sabina juga berusaha untuk tak menggerakkan tubuhnya karena Gibran takut Sabina akan terbangun dan melepaskan pelukannya.
Gibran tak ingin cepat tertidur, ia ingin menikmati pelukan itu dengan penuh penghayatan, meski tubuhnya mulai terasa pegal namun ia tahan.
"Akan kulakukan apapun agar bisa dekatmu, Sayang." Lirih Gibran seraya menatap wajah Sabina lekat-lekat dari jarak yang begitu dekat.
"Ngambeknya jangan lama-lama, aku tuh gak sanggup jauh dari kamu." Lirih Gibran lagi dan ia mencium puncak kepala Sabina dengan perlahan
"I adore you, Sabina Mulia (aku memujamu, Sabina Mulia) aku tuh sayang banget sama kamu." bisik Gibran seraya memejamkan mata.
***
__ADS_1
Belitan tangan yang begitu posesif Sabina rasakan melingkar di atas pinggangnya membuat dirinya sedikit sulit untuk bergerak hingga ia pun terbangun karenanya.
Hembusan nafas hangat menerpa wajahnya, Sabina mendongakkan kepala dan memandang wajah Gibran yang kini berada begitu dekat dengannya.
Bulu alis yang tegas, hidung mancung, bibirnya yang tak tipis namun juga tidak tebal itu begitu mahir membuat Sabina mabuk kepayang. Dan mata itu, jika terbuka pandangannya seolah sinis dan dingin namun sebenarnya ia begitu hangat.
"Tahukah kamu, Sayang ? hanya kamu lelaki yang aku lihat. Tak ada yang lainnya lagi bagiku." Batin Sabina dalam hatinya.
"Tahukah kamu jika selama ini aku tahu kebohongan kecil yang kamu sembunyikan dariku adalah dari cara matamu melihat aku dengan penuh rasa bersalah tapi kamu tak sadari itu." Masih Sabina bicara dalam hatinya sembari menatapi wajah Gibran yang tertidur.
"Aku berpura-pura bodoh tapi sebenarnya aku selalu tahu. Aku tahu kamu bicara dengannya ( Amanda ) atau mungkin kalian berbuat lebih dari itu di belakang aku. Dan itu tidak lucu, itu sangat menyakitkan karena aku cinta kamu." mata Sabina mengembun ketika ia berkata itu dalam hatinya.
"Ku mohon... jangan katakan jika kamu berkhianat dibelakang aku. Karena tak hanya rasa percaya yang telah aku serahkan dalam genggaman mu tapi juga hatiku. Aku sudah memberikan seluruh hati dan cintaku hanya untukmu." Masih Sabina berucap dalam batinnya.
"Ya hanya untukmu," gumam Sabina lirih menahan tangis. Sungguh hatinya terasa gundah saat ini. Dirinya begitu paranoid (takut dan cemas berlebihan) terhadap sebuah penghianatan.
Sayup-sayup terdengar suara lantunan doa pertanda fajar mulai menyapa. Dengan perlahan Sabina melepaskan diri dari pelukan Gibran dan mendudukkan dirinya untuk sesaat sebelum ia pergi ke kamar mandi.
"Jangan tinggalin aku, Bina." Ucap Gibran dengan begitu jelas sehingga Sabina menolehkan kepala.
Sabina mengira Gibran telah ikut terbangun namun matanya yang terpejam dan hembusan nafasnya yang teratur menandakan jika suaminya itu masih menyelami alam mimpi. Rupanya Gibran hanya mengigau dan Sabina pun tersenyum.
"Bagaimana mungkin aku ninggalin kamu... Hatiku sudah menjadi milikmu seluruhnya." Lirih Sabina hampir tak terdengar.
***
Tangan Gibran bergerak seolah mencari seorang wanita yang semalam memeluknya erat. Sadar tak ada di sana, Gibran pun membuka matanya.
Lagi... Ini adalah pagi ke dua bagi Gibran terbangun sendirian tanpa ada Sabina disisinya dan itu membuat suasana hatinya menjadi begitu kacau.
Tanpa rasa semangat Gibran bangkit dan dengan malasnya ia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersuci sebelum menjalankan ibadahnya.
Pukul setengah 7 Gibran bersiap, ia mengancingkan kemejanya satu persatu di hadapan cermin. Bibirnya terkatup rapat dan tatapan matanya begitu dingin. Inilah ekspresi wajah yang ia tampilkan 2 hari terakhir ini.
Setelah selesai bersiap, Gibran berjalan menuruni tangga menuju ruang makan di mana sepiring nasi goreng dan secangkir kopi panas menantinya.
Tak ada siapapun disana, tak ada Sabina yang biasanya menanti kedatangan dirinya dengan sebuah senyuman.
Gibran menarik nafas dalam dan ia pun meraih cangkir kopi itu dan menyesapnya perlahan.
Hanya butuh satu sesapan dan Gibran tahu bukan tangan Sabina yang membuat kopi untuknya. Ia pun segera meletakkan kembali cangkir kopi itu diatas meja. Menatap sepiring nasi goreng itu dengan malas dan berdiri untuk pergi tanpa menyentuhnya sama sekali.
Sabina tertawa ceria dengan bermandikan sinar matahari pagi, pipinya yang merona merah terlihat begitu menggemaskan hingga menambah kecantikannya di mata Gibran yang kini sedang memperhatikan istrinya itu dari balik tirai.
__ADS_1
Senyum Sabina surut ketika Gibran datang menghampirinya dan segera ia membalikkan tubuhnya untuk menyirami tanaman yang lain di temani mbok Inah.
"Aku pergi," Ucap Gibran.
"Iya," jawab Sabina tanpa menolehkan kepala.
Gibran memilih untuk berdiri di belakang istrinya lebih lama tanpa bicara sebelum ia benar-benar pergi. Sabina yang sadar tengah diperhatikan tak bergeming sama sekali, ia seolah tak peduli dengan kehadiran Gibran di sana sedangkan mbok Inah terlihat salah tingkah melihat perang dingin antara majikannya.
"Baik-baik di rumah," ucap Gibran lagi namun Sabina tak menjawabnya.
Pada akhirnya Gibran pun memilih untuk pergi. Dan seperti hari sebelumnya ia pergi tanpa Sabina yang mengantarnya hingga pintu.
"Pak dokter gak makan makanannya lagi," ucap mbok Inah pada Sabina ketika mereka sedang berada di dapur.
"Kenapa ?" Tanya Sabina.
"Sepertinya pak dokter ingin makanan yang dibuat oleh non Bina atau ingin non Bina menemaninya makan,"
Sabina terdiam ketika mbok Inah mengucapkan itu dan melihat dengan mata kepalanya sendiri makanan yang tak tersentuh suaminya itu.
***
Sudah memasuki hari ketiga, dan ketegangan masih saja terjadi di antara keduanya.
Gibran masih terbangun sendiri tanpa Sabina di sisinya. Hatinya makin merana juga tersiksa. Tak ada lagi perhatian yang Sabina berikan padanya dan sumpah demi apapun dirinya sangat merindukan itu semua.
Namun ada yang berbeda pagi ini, Sabina berdiri di dapurnya dan sedang memasak membuat Gibran terkejut luar biasa.
"Makan dulu, kata mbok Inah kamu gak makan beberapa hari ini. Apa kamu makan diluar ?" Tanya Sabina.
Gibran langsung menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Ia pun duduk di kursi menantikan sang istri menyiapkan sarapannya.
Hanya sepiring nasi putih dan sebuah telur mata sapi sebagai temannya tapi membuat Gibran begitu berselera pagi ini.
Kopi yang Gibran minum pun kini terasa nikmat di lidahnya karena ia tahu Sabina lah yang membuatnya.
"Ku mohon temani aku makan," ucap Gibran seraya menahan lengan Sabina agar tidak pergi.
Sabina terdiam sesaat hingga akhirnya ia memutuskan untuk duduk di samping Gibran dan menemani suaminya itu untuk menikmati sarapannya meskipun sunyi masih menyelimuti keduanya.
To be continued ❤️
Thank you for reading ❤️
__ADS_1