Pernikahan Yang Tak Diinginkan

Pernikahan Yang Tak Diinginkan
Sudah Memaafkan


__ADS_3

Happy Reading ❤️


Hujan rintik-rintik dan awan mendung mengantarkan Amanda dan juga bayinya ke peristirahatan terakhir mereka.


Seperti yang Amanda inginkan, ia kembali kepada keluarga Mulia. Tak banyak yang mengantarkan kepergiannya, tak satu pun dari teman dekatnya yang datang kecuali Sabina dan Gibran. Juga beberapa orang utusan ayah Sabina termasuk pemuka agama yang diminta hadir untuk membantu proses pemakamannya.


Andre pun hadir di sana, wajahnya masih terlihat sendu. Ia sendiri tak menyangka kepergian Amanda begitu mempengaruhinya.


Payung hitam melindungi Sabina dari rintikan hujan, ia memeluk erat pinggang suaminya dan Gibran membalas dengan merangkul bahunya. Isakkan tangis masih terdengar walau jarang-jarang.


Disinilah Amanda terbaring di samping ibu dan anaknya. Pada akhirnya yang mengantarkan kepergiannya adalah orang-orang yang benar-benar peduli padanya bukan teman bersenang-senangnya.


"Putri Amandana," Gumam Andre membaca batu nisan di atas gundukan tanah yang kecil. Ia tak menambahkan namanya di sana karena Andre merasa belum seratus persen yakin jika itu adalah darah dagingnya sendiri.


Lantunan ayat suci pun di panjatkan sebagai doa untuk Amanda dan bayinya. Sabina kembali terisak dan Gibran semakin mengeratkan pelukannya.


"Sayang, ayo kita pergi." bisik Gibran ketika semua prosesi pemakaman telah selesai. Sabina menganggukan kepalanya sebagai jawaban dan mereka pun mulai berjalan meninggalkan.


Gibran menolehkan kepala dan melihat Andre masih berdiri terpaku dalam diam, menatapi 2 gundukan tanah yang masih basah dengan wajahnya yang sendu.


Walau bagaimanapun lelaki yang Gibran tak sukai itu pernah menjadi sahabatnya. Sebagai manusia biasa tentu Gibran merasa iba.


"Sayang, bagaimana kalau kita tunggu dia dulu sebentar." ucap Gibran seraya menunjuk Andre dengan matanya.


"Tapi bukannya hari ini kamu harus pergi ke klinik ? kamu udah terlalu lama meninggalkannya." jawab Sabina balik bertanya.


"Hari ini aku akan menemanimu, aku tak akan pergi dulu kerja." Gibran tahu Sabina sedang merasa rapuh saat ini. Kematian Amanda yang mendadak, tepat satu hari setelah ia datang untuk meminta maaf membuat perasaan Sabina tak menentu.


"Terimakasih," gumam Sabina seraya memandang wajah suaminya dengan penuh rasa cinta dan begitu pun sebaliknya.


Andre menatap pasangan suami istri itu dengan seksama, ada rasa iri yang merambat memasuki hatinya. Ia iri karena dirinya pun ingin merasakan hidup dengan wanita yang tulus mencintainya.


"Seandainya... seandainya kita tak saling menyakiti, tentunya aku dan kamu (Amanda) bisa seperti mereka." pikir Andre.


"Udah selesai ?" tanya Gibran dan membuat Andre tersadar dari lamunannya.


"Eh.. iya udah. Lo nungguin gue ?"


"Iya, ayo cepetan balik jangan lama-lama disini." jawab Gibran.


Andre tersenyum samar, meskipun mereka kini tak bersahabat lagi namun Andre tahu jika Gibran masih memiliki rasa peduli padanya walaupun hanya sedikit saja.


"Gibran kapan hasil tes DNA nya keluar ?" tanya Andre.


Kini ketiganya berjalan bersamaan dengan Gibran yang berada di tengah-tengah mereka tentu saja dan ia menggenggam jemari Sabina dengan eratnya.


"2 atau 3 Minggu lagi, gue kabarin begitu hasilnya ada."


"huuffft," Andre menarik nafasnya dalam. Tiga Minggu ke depan akan terasa berat baginya.

__ADS_1


"Sekarang kalian mau kemana ?" Tanya Andre ketika akhirnya mereka sampai di pelataran parkir.


"Gue ma istri gue mau pulang lah." jawab Gibran.


Andre memutar bola matanya malas, tanpa Gibran sebutkan pun ia tahu jika Sabina adalah istrinya.


"Mmm, bolehkah gue ngomong sebentar sama Bina ?" tanya Andre.


Gibran dan Sabina langsung beradu pandang, sebenarnya dalam hati Gibran ia tak mengizinkan namun ia telah berjanji pada Andre jika akan memberikannya kesempatan.


"Please..., gak akan lama." mohon Andre.


Sabina masih menatap Gibran yang terlihat menegang, ia tahu jika suaminya itu tak suka.


"Kita pulang aja, ayo." ajak Sabina seraya mengusap lembut lengan Gibran untuk menenangkan.


Setelah berpikir untuk beberapa saat, akhirnya Gibran pun memutuskan.


"Oke, tapi waktu Lo gak lama dan setelah ini urusan lo ma istri gue benar-benar selesai." ucap Gibran tegas.


"Oke, hanya satu kesempatan ini. Gak akan lama, gue cuma mau minta maaf." jawab Andre


***


Disinilah Andre dan Sabina duduk berdua saling berhadapan di sebuah cafe yang berada di pusat perbelanjaan ternama, sedangkan Gibran berada di toko buku yang terletak tepat di seberangnya. Ini adalah kesempatan pertama bagi keduanya untuk bisa berbicara dengan tenang setelah Andre meninggalkan Sabina satu tahun lalu.


"Lihatlah suamimu, Bina. Katanya dia mengizinkan kita untuk berbicara tapi di seberang sana matanya terus memperhatikan." ucap Andre sembari tertawa.


"Terimakasih," ucap Andre pada pelayan yang baru saja mengantarkan 2 cangkir minuman. Teh untuk Sabina dan kopi untuk dirinya sendiri. Apa yang Andre ucapkan membuat Sabina kembali fokus pada lawan bicaranya.


Andre menatap mata Sabina dalam sebelum ia berbicara. Ada rasa rindu, penyesalan dan juga rasa lega.


Lega karena Sabina terlihat bahagia meskipun tak hidup dengannya.


"Bina, apa kamu bahagia ?" Tanya Andre memulai pembicaraan mereka.


"Sangat, aku sangat bahagia." Jawab Sabina tanpa ragu dan ia pun tak berbohong karena itu memang yang sebenarnya Sabina rasakan.


"Syukurlah, karena kamu paling berhak untuk itu." lanjut Andre dan Sabina tersenyum membenarkan.


"Maafin aku atas semua perbuatan buruk yang aku lakukan sama kamu, aku benar-benar menyesal." Andre menundukkan kepala dan menarik nafas dalam ketika ia mengatakan itu. Dadanya terasa sesak karena perasaan bersalah yang menyelimutinya.


"Aku udah maafin kamu sejak lama," jawab Sabina dan Andre pun mengangkat wajahnya karena tak percaya.


"Bohong jika aku tak merasakan sakit hati dan kecewa. Tentu saja aku merasakan itu semua tapi semua sudah berlalu, aku telah melanjutkan hidupku dan aku kini merasa lebih bahagia walaupun tanpamu." lanjut Sabina dan Andre masih menatapnya tak percaya.


"Yang aku lakukan padamu sangatlah jahat, Bina. Aku mengkhianati hubungan kita yang terjalin selama 10 tahun lamanya dengan sahabatmu sendiri."


"Lalu apa yang seharusnya aku lakukan ? memohon padamu untuk kembali ? aku tak akan lakukan itu." ucap Sabina sembari menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Aku tak akan mempertahankan lelaki yang tak mencintaiku. Walaupun tidak mudah namun aku memilih untuk memaafkanmu dan merelakan kamu pergi hingga aku bisa lupa dengan semua yang terjadi diantara kita, karena jika aku tak rela maka aku akan terus memikirkanmu dan terjebak dalam kisah masa lalu. No, aku tak akan lakukan itu. Aku juga tak akan membiarkan cinta yang sesungguhnya melewatiku begitu saja." lanjut Sabina lagi.


"Dan cinta yang sesungguhnya itu adalah Gibran ?" tanya Andre seraya tersenyum.


"Iya, tak menyangka bukan ?" jawab Sabina dengan wajah bahagia nya.


Andre menatap dalam mata Sabina, tak ada kebohongan di sana. Wanita yang ia sayangi itu kini telah hidup bahagia.


"Sabina berhak untuk bahagia" ucapan Alya waktu lalu terngiang di telinganya dengan jelas. Sekarang waktunya ia melepaskan masa lalu seperti yang Sabina lakukan.


"Aku senang karena kamu hidup bahagia. Sungguh... Sekali lagi, maafkan semua salahku dan terima kasih atas semua kebaikanmu, Bina." ucap Andre sungguh-sungguh.


"Kamu juga Andre, semoga bahagia." Ucap Sabina tulus dan mata Andre mengembun ketika mendengar itu.


"Aku sebaiknya pergi, Gibran telah menungguku." ucap Sabina seraya berdiri.


Andre pun ikut berdiri, berniat untuk mengantarkan namun Sabina menolaknya. Gibran yang melihat itu langsung keluar dari toko buku dan berjalan menuju istrinya yang keluar dari cafe.


Gibran meraih jemari Sabina dalam genggamannya, dan Sabina berjalan beriringan dengannya. Tak ada kata yang terucap dari keduanya, namun pandangan mata mereka seolah mengatakan banyak kata cinta.


Andre menatap kepergian mereka dengan perasaan lebih ringan karena kini ia telah pasrah menerima takdirnya. Dan satu hal yang membuatnya merasa lega yaitu Sabina mendapatkan pendamping hidup seorang lelaki yang baik.


Andre kembali duduk di bangkunya, menghabiskan sisa kopi di cangkir sembari memandangi rintik hujan yang turun melalui jendela. Pikirannya melayang entah kemana.


***


2 Minggu telah berlalu sejak kematian Amanda juga anaknya. Kehidupan kembali seperti semula. Gibran telah kembali membuka praktek di kliniknya bahkan Sabina menawarkan untuk memperbesar klinik suaminya itu. Tentu saja Gibran merasa senang karena sang istri begitu mendukung karir dan passion nya.


Pukul 8 pagi Andre telah menunggu kedatangan Gibran di ruang prakteknya. Semalam Gibran mengirimkan pesan padanya jika hasil tes DNA yang Andre minta telah ada.


Gibran yang baru saja tiba di ruangannya terkejut melihat Andre yang telah duduk menunggunya.


" Lo udah lama nunggu ?" Tanya Gibran.


"Enggak lama juga," jawab Andre yang terlihat gugup.


Gibran duduk di kursinya dan mengeluarkan sebuah amplop putih bertuliskan nama laboratorium ternama dan masih bersegel menandakan surat itu belum pernah di buka dari dalam tas kerjanya dan memberikannya langsung pada Andre.


Andre meraih amplop putih itu dengan tangan gemetar dan mulai membukanya.


To be continued ❤️


Thanks for reading 😘


Mumpung Senin, yang suka ceritanya yuk vote biar aku makin semangat nulisnya 😂


Buat yang ikhlas aja yaaa 😘😘


oh iyaaa yang suka ceritanya... tolong kasih tau teman, kakak, adek, pacar, suami, tetangga, selingkuhan juga boleh wkkwkwkw

__ADS_1


Intip juga cerita aku yg lain yaa... ada Terikat Dusta yang udah tamat bisa klik di profil aku...


Thank you ❤️


__ADS_2