Pernikahan Yang Tak Diinginkan

Pernikahan Yang Tak Diinginkan
Pengakuan


__ADS_3

Happy reading ❤️


"Aku datang bukan karena ingin bertemu dengan Gibran, aku datang kemari untuk bertemu denganmu." Jawab Amanda tanpa ragu.


Setelah mendengarkan apa yang Amanda ucapkan, Sabina pun mendudukkan tubuhnya di atas sofa tepat berhadapan dengan wanita yang dulu pernah jadi sahabatnya.


"Ada perlu apa kepadaku ? Apa yang ingin kamu bicarakan? Waktumu tak banyak untuk bertamu di rumah ini." Tanya Sabina beruntun dengan nada suara yang dingin.


Amanda tersenyum masam, ia sadar kehadirannya sangat tak diharapkan. Terlihat dari raut wajah dan nada bicara Sabina yang tak seperti biasanya, wanita lemah lembut itu kini berubah ketus. Bukan salah Sabina tapi salah dirinya sendiri yang telah menorehkan luka yang teramat dalam.


Amanda menarik nafas dalam sebelum ia mulai berbicara.


"Aku datang untuk meminta maaf," ucap Amanda memulai cerita.


"untuk ?"


"Untuk semua perbuatan buruk yang aku lakukan padamu." lanjutnya lagi. Amanda mengulum senyum , sedangkan Sabina masih dengan wajahnya yang memperlihatkan rasa tak suka.


"Bina, pertama maafkan aku yang telah berkhianat padamu karena lari dengan Andre tepat di hari pernikahan kalian." Ucap Amanda penuh sesal.


Sabina terdiam tak menanggapi, ia membiarkan Amanda untuk terus berbicara.


"Lalu aku juga meminta maaf karena selalu menghina kekuranganmu dan yang terakhir maafkan aku yang telah membebani Gibran dengan penyakitku" lanjut Amanda seraya menundukkan kepala.


"Gibran tak bersalah, percayalah.... Aku yang mendatanginya, karena aku malu dengan penyakitku ini dan juga tak punya uang untuk bertemu dokter yang lain."


Amanda mengangkat wajahnya dan menatap Sabina yang masih tak mau berbicara.


"Sejak aku melarikan diri dengan Andre, aku tinggal bersama dengannya dalam satu atap tanpa ikatan pernikahan. Namun setelah aku hamil, Andre mengusirku karena ia tak percaya jika anak yang aku kandung ini adalah miliknya. Aku pun tak bisa menyalahkan dia karena aku sendiri pun tak tahu siapa ayahnya meksipun hati kecilku berkata Andre lah orangnya dan setelah aku sakit aku kembali pada Andre namun ia mengusirku lagi."


"Lalu kenapa kamu mendatangi suamiku ? kenapa kamu datangi Gibran ? Apa kamu tak punya sedikit saja saja rasa malu ?" Tanya Sabina pada akhirnya.


"Karena aku sakit, aku tak punya uang dan tak memiliki siapapun lagi dalam hidupku karena ibuku telah meninggal ketika aku pulang ke rumah." jawab Amanda seraya menatap mata Sabina.


"Aku tahu bagaimana sifat seorang Gibran. Ia tak akan tega melihat orang lain kesusahan karena dulu Gibran pun pernah merasakan hal yang sama. Ia juga tak akan pernah mengabaikan wanita yang sedang mengandung karena dulu sang ayah meninggalkannya sehingga ia pasti tak ingin anak lain merasakan penderitaannya. Bagi Gibran seorang anak sangat berharga meskipun itu bukan miliknya dan aku yang tak tahu diri ini memanfaatkan kebaikannya bahkan sampai mengancam untuk bun*h diri jika Gibran tak mau membantu dan beruntungnya aku karena Gibran bersedia membantu hingga anak ini lahir." lanjut Amanda diantara isakkan tangisnya.


"Aku juga tahu Gibran sangat mencintai pekerjaannya sebagai seorang dokter dan menjunjung tinggi profesionalismenya, oleh karena itu aku meminta Gibran untuk merahasiakan soal penyakit yang aku idap ini terutama darimu, Bina."


"Kenapa ?" tanya Sabina.


"Karena aku malu padamu, karena aku selalu merasa kalah darimu."

__ADS_1


"Hah ?" Sabina berkerut alis tak paham.


"Selama ini aku selalu menganggap kamu sebagai saingan." Jawab Amanda seraya kembali menundukkan kepalanya.


"Bagaimana bisa semua orang lebih menyukaimu dibandingkan aku ? Bagaimana Andre yang kaya raya dan bisa mendapatkan wanita manapun bisa jatuh cinta padamu yang cacat ini dengan tulus? sedangkan aku, para lelaki yang mendekati aku hanya menginginkan tubuhku. Kenapa kamu bisa terlahir di keluarga Mulia padahal aku lah yang lebih pantas berada disana. Aku menginginkan semua yang kamu miliki." ucap Amanda diantara isakkan tangisnya.


Sabina mendengarkan dengan seksama dan merasa tak percaya dengan apa yang Amanda ucapkan.


"Waktu itu hanya Gibran yang menyukai dan menerima aku apa adanya, tapi itu tak cukup karena seperti yang aku katakan tadi, aku ingin semua yang jadi milikmu, hingga aku nekad mendekati Andre dan merayunya. Namun semua tak berjalan baik, Andre masih mencintai kamu dan dia sangat cemburu ketika tahu Gibran menikahimu dan aku pun merasakan hal yang sama, pada akhirnya aku sadar jika aku pun mencintai Gibran yang dulu dengan tulus mencintai aku. Namun semua telah terlambat."


"Jadi kamu masih mencintai Gibran ?" tanya Sabina tak suka.


"Jangan khawatir, Bina. Gibran sudah tak mempunyai perasaan apapun padaku meskipun aku pernah merayunya." Amanda ingat bagaimana ia mencoba merayu Gibran dengan menciumnya namun lelaki itu mengabaikannya.


"Gibran tak mungkin jatuh cinta lagi padaku yang menjijikkan ini," ungkap Amanda seraya menyerahkan beberapa lembar kertas pada Sabina.


Sabina membaca kertas itu dengan seksama dan menutup mulutnya tak percaya.


"Aku menderita sifilis dan kini kehamilanku juga bermasalah," ucap Amanda seraya kembali menumpahkan air matanya.


"Aku mengalami pendarahan dan tak sadarkan diri, aku dibawa ke rumah sakit dan mengaku jika Gibran adalah dokterku dan satu-satunya keluarga yang aku miliki. Mau tak mau Gibran harus bertanggung jawab padaku." Jelas Amanda lagi


Kini Sabina lah yang menumpahkan air matanya, ia merasa bersalah karena telah merasa cemburu berlebihan pada suaminya.


"Kenapa kamu mengatakan ini semua ?" tanya Sabina.


"Karena kamu perlu tahu yang sebenarnya, aku tahu Gibran menutup tempat prakteknya karena kesehatanmu memburuk. dan jika itu karena aku, kini kamu tak usah khawatir karena mulai sekarang aku tak akan mengganggu Gibran lagi." jawab Amanda.


"Ya, ku harap kamu tak mendatangi suamiku lagi, karena kali ini aku tak akan tinggal diam jika kamu masih berulah." Ucap Sabina dengan jelas dan tegas.


"Masalah dengan Andre, aku sudah memaafkannya dari dulu malah aku harusnya berterima kasih padamu karena berkat kejadian itu akhirnya aku menikahi lelaki yang tepat." lanjut Sabina lagi.


"Dan satu lagi, jangan merasa bersaing denganku. Seharusnya kamu bersyukur karena dengan keadaanmu yang sempurna, kamu lebih bisa mengeksplor dunia dengan bebas tanpa rasa rendah diri. Dengan keadaanku yang begini aku tak bisa bersekolah layaknya kamu, aku tak bisa banyak bergaul dan berteman. Ruang gerakku benar-benar terbatas. Jadi sebenarnya kamu itu jauh lebih beruntung dariku."


Amanda mendengarkan apa yang Sabina ucapkan dan ia pun menangis menyesali semua perbuatannya


" Yang lalu biarlah berlalu. Saling memaafkan akan lebih baik walaupun hubungan kita tak mungkin lagi seperti dulu."


Amanda mengangguk setuju dengan apa yang baru saja Sabina utarakan. "Maafkan semua kesalahanku, Bina. Aku benar-benar menyesalinya. Semoga kamu dan Gibran selalu bahagia."


Banyak lagi yang Amanda jelaskan dan Sabina dengan setia mendengarkan. Pada akhirnya Sabina pun memaafkan mantan sahabatnya itu meskipun kini mereka tak bisa berteman seperti dahulu lagi.

__ADS_1


"Bina, aku harus pulang. Hari sudah gelap." ucap Amanda berpamitan. Cukup lama keduanya saling bicara.


"Hmm iya,"


Amanda pun berdiri dan berjalan dengan perlahan menuju pintu keluar.


"Manda, terimakasih... terimakasih sudah mau menjelaskan semua." ucap Sabina ketika Amanda melangkahkan kakinya keluar dari rumah.


"Sama-sama... semoga kamu dan Gibran selalu bahagia selamanya. Ingat Bina, Gibran sangat mencintaimu." tutur Amanda seraya tersenyum dan ia pun pergi meninggalkan rumah Sabina.


***


Gibran mengetuk-ngetuk setir mobilnya karena kesal oleh kemacetan jalan. Ia lupa jika malam ini adalah malam Minggu sehingga jalanan ibu kota begitu padat oleh para pengendara.


Yang ia lakukan hanya memandangi cincin cantik yang berukir kan namanya.


Gibran tersenyum membayangkan wajah cantik wanita yang ia cintai, dan dalam hati ia bersyukur karena hubungannya kembali membaik namun ada hal yang masih mengganjal yaitu permasalahan mereka yang belum juga usai.


Gibran mengusap dagu seraya berpikir, dan ia memutuskan malam ini ia akan menyelesaikan masalahnya yang menggantung.


Di tempat lain, Sabina duduk termenung mengingat kembali apa yang Amanda ucapkan. Kali ini sungguh ia merasa bersalah pada suaminya.


"Pantas saja Gibran marah besar waktu itu, ia banyak sekali tekanan dan aku tak mau mengerti." gumam Sabina dalam kesendiriannya.


Sabina masih sibuk dengan pikirannya ketika bel pintu berbunyi. Dengan tertatih, ia berjalan menuju pintu dan membukanya.


Berdirilah seorang lelaki yang memenuhi pikirannya saat ini. Sabina mengangkat wajahnya menatap laki-laki itu dengan lekat, sedangkan Gibran pun menundukkan kepala dan memandangi wajah istrinya dengan penuh perasaan.


Untuk beberapa saat tatapan mata mereka beradu dan saling terkunci dalam hening.


"Maafkan aku," lirih keduanya dalam waktu yang bersamaan.


To be continued ❤️


Thanks for reading 😘❤️


Mumpung Senin, kalau suka ceritanya Vote yaa...


buat yang ikhlas aja yaaa.... aku gak maksa 😘


Terimakasih ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2