Pernikahan Yang Tak Diinginkan

Pernikahan Yang Tak Diinginkan
Tiara berpura pura sebagai istri tuan Marfin


__ADS_3

jam menunjukan pukul 4.30 jam Alarm berbunyi.


trtrtrt.........


Alika terperanjak dan segera mematikan Alarm.


lalu setelah terdengar adzan shubuh berkumandang.


kemudian ia bergegas dari tempat tidurnya , pergi ke kamar mandi membersihkan diri kemudian menunaikan 2 raka'at sebagai suatu kewajiban.


setelah selesai shalat beberapa menit,


Alika kembali memeriksa ponselnya berharap ada pesan yang mungkin di kirim oleh suaminya semalam ketika dia sudah tertidur atau sebelum ia bangun subuh tadi.


namun tidak ada satupun pesan yang diterima dari suaminya.


" *Arghh... Alika membanting pelan ponselnya di kasur.


ia kemudian membantingkan tubuhnya ke kasur.


" apakah ia sudah bangun, tidur dimana dia, aku lupa bertanya, apakah ia pulang kerumah atau tidur di kantor. Alika menatap layar ponselny dengan kegelisahan.


" biar ku telpon. ucap Alika.


nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, atau berada di luar jangkauan silahkan coba beberapa saat lagi.


Ahhh...


Alika nampak kesal dan gelisah membanting pelan kembali ponselnya.


" mengapa aku jadi memikirkan perkataan tiara? ucap Alika.


Tok...tok.tokk...


terdengar suara pintu di ketuk, kemudian Alika beranjak dari tempat tidurnya dan melangkah kedepan pintu.


ceklakk....


bibi ?


sudah bangun Al? tanya bu Risma.


iya, bi.Jawab Alika.


sudah shalat? tanya Bu risma kembali.


sudah bi, jawab Alika tersenyum.


Mau sarapan apa Al, biar bibi siapkan? tanya bibinya.


ah tidak usah bi, biar AL saja yang menyiapkan . jawab Alika kemudian ia keluar kamarnya dan menutup pintu kamar tersebut kemudian mengikuti bibinya ke dapur.


kita masak apa bi? tanya Alika.


nasi goreng saja, kau kan sangat suka nasi goreng buatan bibi. jawab bibinya tersenyum.


" aL, rumah tanggamu baik baik saja bukan?tanya bibinya membuat Alika kaget.


Ah, tentu saja bi😊 suamiku sangat memanjakan aku?


bibi taulah, semua yang aku minta selalu ia turuti. jawab Alika tersenyum berpura pura seakan saat ini hatinya sedang baik baik saja.


sementara itu di tempat lain.


Dea membuka matanya, menatap lurus langit langit kamar, mengerjapkan mata berkali kali, perlahan memutarkan kepalanya,


Dea kaget melihat Marfin yang tengah tidur diatas kursi sembari menyilangkan kakinya dan mendekapkan kedua tangannya.


Dea perlahan lahan menggeserkan tubuhnya,


badannya masih terasa lemah.

__ADS_1


ia menghampiri Marfin, matanya menatap tajam.


tangannya ingin menggapai rambut Marfin namun seketika Marfin bangun lalu meluruskan badannya.


" kau sudah bangun? sudah jam berapa ini? tanya Marfin.


sudah pukul 6.30 tuan, jawab Dea dengan senyuman.


" hey, apa kau sudah baikan sekarang? tanya Marfin.


ia , saya sudah baikan, terimakasih tuan sudah ada untuk saya , sampai tuan rela tidur dalam kondisi seperti itu.ucap Dea.


kau ingin sarapan apa ? tanya Marfin.


bagaimana jika kita ke mini market? ajak Dea.


memangnya kau sudah kuat hah? tanya Marfin kepada Dea sambil mengerutkan dahinya.


sudah tuan, lagipula aku ingin keluar mencari angin segar, agar badanku sehat bugar. jawab Dea.


baiklah, segeralah mandi.


Marfin bangkit dari kursi yang semalam di tempatinya untuk tidur, ia kemudian meninggalkan kamar Dea.


Dea buru buru membersihkan diri.


beberapa menit ia sudah keluar dari kamar mandi.


ia tampak berdiri di depan cermin,"


aku harus terlihat segar di hadapan tuan, dia tidak boleh selalu bersedih karna aku. Batin Dea.


sementara itu Marfin di ruang tamu bersama Leo sedang berbincang bincang.


" bagaimana dengan nona Alika, kapan kita kerumahnya. Tanya Leo.


ya ampun aku hampir lupa menghubunginya, Marfin menepuk keningnya .


" *arghh... kenapa dia tidak mau angkat . Marfin mondar mandir menggenggam ponselnya di tangan dan meletakkanya di telinga.


ceklak...terdengar suara pintu.


Dea keluar dari kamarnya,


Marfin memutarkan kepala dengan ponsel yang masih ia letakkan di telinganya kemudian ia menurunkan ponselnya dan menghentikan panggilan telponnya.


ia membalikkan badannya dan tersenyum kepada Dea.


" sudah siapa? tanya Marfin tersenyum.


sudah tuan, jawab Dea yang masih berdiri di pintu.


" Leo, cepat kau siapkan mobil kita akan pergi ke minimarket pinta Marfin.


sekretaris leo hanya mengangguk pelan tanpa sedikitpun tersenyum.


leo berjalan menuju garasi mobil, membukakan gerbang garasi dan memanaskan mesin mobil sebentar .


Marfin berjalan di ikuti oleh Dea.


sekretaris leo kemudian membukakan pintu untuk Dea.


" silahkan ...


ucapnya dengan wajah datar .


bebapa menit telah sampai di tujuan.


sekretaris leo kembali membukakan pintu .


********

__ADS_1


Dea kemudian masuk dan membawa troli memilih barang barang yang akan ia beli.


" *saya kesana dulu sebentar, ucap Marfin kepada Dea sambil menunjukkan arah seberang jalan.


Dea mengangguk mengerti, Marfin pergi di ikuti oleh sekretaris Leo, sementara Dea berbelanja sendirian.


" aku harus memasak untuk tuan, Batin Dea.


tapi apa kesukaannya. ia terus mencari cari sambil berfikir masakan apa yang akan dia buat untuk Marfin .


tiba tiba saja Dea tak menyadari troli yang ia dorong menabrak tiara.


ya suatu kebetulan tiara ada disana.


tiara tampak marah kepada Dea karna telah menabrak dirinya dengan troli yang ia dorong .


" apa kau buta hah?


tidak bisakah kau hati hatii. Tiara memperingatkan.


tinggg .... Otak tiara mulai berfikir.


ia teringat seorang wanita yang di bawa oleh Marfin kerumah sakit.


" aku seprti pernah melihatnya, Tiara memiringkan kepalanya memastikan siapa yang dilihatnya .


" *kau....tiara mengangkat telunjuknya.


Matanya membulat sempurna.


ia seperti hewan yang siap memangsa korbannya.


" hey, apaa kita pernah bertemu sebelumnya? tanya Dea ekspresi heran.


Tiara menurunkan telunjuknya kemudian memaksa senyum di bibirnya.


" owh ya aku lupa, pada saat itu dia tidak melihatku karna sedang tidak sadarkan diri. Batin Tiara.


" owhh... itu aku istri tuan Marfin.


ia mengangkat wajahnya dan menyodorkan tangannya.


dia berpura pura sebagai istri Marfin kepada Dea. Dea kaget dengan pelan ia


menjabat tangan Tiara dengan senyum kecut di bibirnya.


" apa kau mengenalnya, tanya Tiara.


aa....a tentu saja, siapa yang tidak mengenalnya. jawab Dea dengan gugup.


" apa jangan jangan kau bersamanya kemari.


mana dia ,Tiara menelisir kesegala arah.


" mana mungkin aku bersamanya, dia orang besar mana sudi dia bersamaku, aku hanya tau dia di media.


ucap Dea memaksa bibirnya tertawa.


" tapi aku tadi melihatnya di seberang sana. Dea menunjukkan arah.


" wahh, gawat jika dia kemari. dan wanita ini mengatakan bahwa aku istrinya. dia bisa menerkamku dengan tanduknya. Batin Tiara dengan menelan ludah.


Tiara kemudian menatap tajam Dea.


dengan langkah cepat ia keluar dari minimarket dan memasuki mobilnya.


" anehh.... mengapa dia pergi, padahal aku memberi tahu keberadaan tuan muda disana, aku fikir dia akan menyusulnya . ah sudahlah. ucap Dea dengan wajah heran.


Dea kemudian melanjutkan berbelanja


***

__ADS_1


__ADS_2