Pernikahan Yang Tak Diinginkan

Pernikahan Yang Tak Diinginkan
Rahasia Kecil


__ADS_3

Happy reading ❤️


"Bangun, Sayang. Sudah pukul 5." Ucap Sabina seraya memberikan usapan-usapan halus di atas kaki suaminya dan Gibran masih tak bergeming juga.


Sabina mengulang beberapa kali hingga akhirnya sang suami menggeliatkan tubuhnya seraya membuka mata dengan perlahan.


"Ah syukurlah, sudah pukul 5 lebih ayo bangun." Ujar Sabina sembari tersenyum dan kini Gibran pun membalas senyuman istrinya.


"Aku tunggu di bawah," sabina kembali berucap dengan lembutnya dan diangguki oleh Gibran sebagai jawaban.


Gibran meminum segelas air yang telah sabina siapkan dan mendudukkan tubuhnya untuk beberapa saat sebelum ia pergi memasuki kamar mandi.


Sudah melewati pukul setengah tujuh pagi namun Gibran belum juga menampakkan dirinya di ruang makan membuat Sabina mengkhawatirkan suaminya itu. Tak seperti biasanya Gibran seperti ini. Ia seorang yang sangat tepat waktu.


"Mbok, Gibran pulang jam berapa tadi malam?" Tanya Sabina pada mbok Inah yang sedang membantu dirinya menyiapkan sarapan.


"Kalau mbok gak salah, Pak dokter pulang pukul 1." Jawab mbok Inah seraya menghentikan pekerjaannya sesaat untuk mengingat kedatangan Gibran semalam.


"Oh pantas," gumam Sabina. Ia yakin Gibran kembali tertidur setelah melakukan ibadahnya dan membuat Sabina memutuskan untuk kembali ke kamar guna memeriksa keadaan Gibran.


Sabina meletakan sepiring nasi goreng dan segelas jus jeruk untuk Gibran di atas meja makan sebelum kembali ke kamarnya. 


Dengan perlahan Sabina membuka pintu dan tepat seperti dugaannya, Gibran kembali membaringkan  tubuhnya di atas ranjang dengan mata tertutup. Dapat Sabina dengar hembusan nafas teratur Gibran yang menandakan suaminya itu masih menyelami alam mimpi.


"Sayang, bangun. Nanti kamu telat loh." Ucap Sabina sembari kembali memberikan usapan halus dan seketika tubuh Gibran bereaksi.


"Nghhhh," erang Gibran sembari menggeliatkan tubuhnya.


"Jam berapa sekarang ? Tanya Gibran dengan suara serak.


"Sudah hampir jam 7 pagi. Ayo bangun, nanti kamu kesiangan." Kata sabina seraya membuka tirai jendela dan seketika kamarnya terlihat lebih terang dari sebelumnya.


Gibran melakukan peregangan tubuh sembari mengerang sebelum ia mendudukkan dirinya.


"Kamu cape ?" Tanya Sabina karena melihat Gibran kurang bersemangat pagi ini.


"Sedikit," jawab Gibran. Ia menarik lengan Sabina sehingga istrinya itu terduduk dalam pangkuannya.


"Eh, tapi aku gak cape kalau kamu menginginkannya sekarang." Ucap Gibran seraya menatap mata Sabina penuh maksud.


"Bukan itu maksudku," Sabina berusaha menyangkal namun ia terlambat karena jemari Gibran telah membuka kancing piyama Sabina satu persatu.

__ADS_1


Setelah selesai melepaskan segala kain yang menutupi tubuh istrinya, Gibran membaringkan tubuh Sabina di tengah ranjang dan ia pun sibuk melucuti pakaiannya sendiri dengan pandangan mata yang tak teralihkan dari istrinya itu.


Segera Gibran mencumbu sepanjang leher dan merambat turun menuju dada istrinya dengan tubuh bagian bawahnya yang telah menegang sempurna.


Sabina melenguh penuh des*h menikmati setiap sentuhan yang Gibran berikan. Dan keduanya mengerang bersamaan ketika Gibran menyatukan tubuh mereka dengan sempurna.


"Aahhh yaaaa," erang keduanya bersamaan. Gibran menghujam dengan penuh kerinduan dan Sabina menikmati setiap hujaman suaminya dengan mata terpejam.


Tak lama suara lenguhan yang saling bersahutan terdengar memenuhi kamar itu.


***


Sabina tengah menyiapkan bekal ketika Gibran muncul di belakangnya dan memberinya sebuah kecupan di pipi.


"Tadi sungguh luar biasa," bisik Gibran dan perkataannya membuat pipi Sabina merona seketika.


Sabina yang terlihat menggemaskan membuat Gibran ingin sekali membawanya kembali ke atas tempat tidur namun pekerjaan menuntutnya untuk segera pergi.


"Kita lanjutkan babak berikutnya nanti malam," bisik Gibran dan Sabina mencubit gemas pinggang suaminya itu sehingga membuat Gibran tertawa.


Meski berat untuk meninggalkan Sabina namun akhirnya Gibran pergi untuk bekerja di rumah sakit milik istrinya itu. Namun sebelum pergi ia memberikan ciuman panas menggelora sebagai tanda perpisahan.


Karena menunggu kedatangan Gibran yang terlambat, membuat jumlah pasiennya terlihat cukup banyak. Gibran pun segera memasuki ruangannya dan mulai melayani satu persatu pasiennya.


Sibuk dengan pekerjaannya membuat Gibran melupakan keadaan Amanda yang kini masih berada di rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.


Sebuah panggilan telepon dari rumah sakit membuat Gibran harus pergi kesana karena  ada beberapa berkas administrasi yang harus diselesaikan dan itu menyadarkannya jika kini Amanda menjadi bagian dari tanggung jawabnya.


Akhirnya pada sore hari Gibran memutuskan untuk singgah ke rumah sakit sebelum ia pulang ke rumah. Gibran menemui dokter yang menangani Amanda terlebih dahulu sebelum ia melihat keadaan Amanda di kamarnya.


Selama berada di rumah sakit yang ia pikirkan hanya Sabina. Semalam ia tak sempat bercerita dan di pagi harinya ia pun tak sempat berkata yang sebenarnya karena ia dan Sabina malah menghabiskan waktu dengan olahraga pagi bersama di atas ranjang. Seketika kepalanya terasa pening, ia merasa menjadi suami yang tengah berselingkuh karena menyembunyikan sesuatu dari istrinya.


Setelah Gibran membereskan segala persyaratan administrasi ia pun menyempatkan diri untuk melihat keadaan Amanda karena dokter yang merawat Amanda mengatakan jika ia harus menyuntikkan obat penenang padanya setelah serangan panik yang melanda Amanda semalam.


"Kamu datang ?" Tanya Amanda ketika ia melihat Gibran memasuki ruang rawatnya dan Gibran hanya berjalan mendekati tanpa menjawab pertanyaan Amanda.


Gibran berdiri di ujung ranjang dan menatap Amanda datar membuat Amanda menjadi salah tingkah. Ia tahu Gibran kini sudah tak lagi memujanya seperti dulu.


"Aku gak akan lama, Sabina sudah menungguku pulang."


"Sabina sudah menungguku pulang," itulah yang selalu Amanda dengar ketika Gibran bersamanya membuat hati Amanda kecut seketika.

__ADS_1


"Aku gak minta kamu datang kesini," ucap Amanda ketus.


"Aku datang hanya untuk menyelesaikan persyaratan administrasi," jawab Gibran.


"Biarkan aku pergi..."


"Jangan bertindak bodoh Amanda, jangan menyusahkan banyak orang karena ulahmu. Turuti semua yang dokter katakan agar kamu segera keluar dari rumah sakit ini dan menjalani pengobatanmu." Potong Gibran.


"Sudah ku katakan aku gak mau jika yang mengobati aku, bukan kamu. Bukannya kamu kamu selalu memberikan informasi mengenai penyakit seperti ini melalui laman sosial media mu ?" Ucap Amanda frustasi.


"Aku yang akan mengobatimu hingga sampai anakmu lahir dan setelah itu pergilah dari hidupku, Manda."


"Apa karena Sabina ? Apa ia mengikatmu seperti ini hingga kamu selalu harus segera kembali padanya ? Apa karena Sabina melarangmu untuk berdekatan dengan wanita terutama aku ? Apa karena Sabina....."


"Cukup !!" Potong Gibran penuh emosi.


"Sabina tak ada kaitannya dengan ini. Asal kamu tahu Sabina tak pernah melarangku untuk melakukan apapun. Bahkan ia tak marah ketika ia tahu aku membantumu ! Sabina tahu semuanya dan dia percaya sama aku. Harusnya kamu yang merasa malu, Manda. Karena selalu berpikiran buruk tentangnya. Jadi siapa disini yang sebenarnya berhati busuk ?" Ucap Gibran dengan mengecilkan suara namun ia menekan setiap perkataannya agar Amanda dapat mengerti juga paham apa yang ia ucapkan.


Amanda menumpahkan air matanya ketika ia mendengar itu semua.


"Apa Sabina juga tahu kamu yang akan mengobati aku ?" Tanya Amanda lirih.


"Ya, tentu saja. Aku akan menceritakan semua agar tidak terjadi kesalahpahaman di antara kami. Tak ada satu pun yang aku tutupi darinya." Jawab Gibran.


"Gibran... Bisakah ini jadi rahasia kecil antara kita berdua ?" Tanya Amanda.


Gibran berkerut alis tak paham.


"Aku tak keberatan jika kamu menceritakan tentang pengobatan aku. Tapi aku mohon jangan kamu beri tahu Sabina tentang penyakit yang aku idap. Aku malu dan merasa hina karena penyakit ini." Ucap Amanda sembari terisak.


"Sebagai pasien mu aku memohon padamu untuk menjaga kerahasian penyakitku, ini adalah aibku. Rahasiakan dari siapapun terutama dari Sabina. Dan aku tahu sebagai dokter kamu harus menjalani sumpahmu untuk menjaga rahasia keadaan pasienmu apalagi ini aku yang meminta secara langsung. Setelah aku menjalani pengobatan dan melahirkan aku berjanji akan pergi dari hidup kalian selamanya."


Ucap Amanda sungguh-sungguh.


"Andre sudah tahu karena ia berpotensi menularkan," potong Gibran.


"Aku tak peduli, aku hanya meminta kamu merahasiakannya dari Sabina."


To be continued ❤️


Thank you for reading 😘

__ADS_1


Terima kasih yang sudah memberikan vote juga hadiah 😘


__ADS_2