
Selamat Membaca ❤️
Masih dengan tangannya yang gemetar ia memungut benda pipih itu dari atas lantai dan segera menekan tombol panggilan pada Gibran.
"Katakan di mana, karena aku akan datang sekarang juga." ucap Andre ketika panggilan itu terhubung.
Di ujung telepon Gibran menjawab pertanyaannya dengan singkat dan jelas. Andre segera mengakhiri panggilan itu dan bergegas memasuki kamarnya.
"Apa gelisah yang kurasakan karena ini ?" Tanya Andre di hadapan cermin yang memantulkan bayangannya sendiri.
Ingin segera mendapatkan jawaban dari pertanyaanya sendiri, Andre pun bersiap untuk pergi.
"Mau kemana kamu, Ndre ?" tanya ibunya
"Aku keluar dulu sebentar, Ma."
"Ingat kamu jangan macam-macam di luar sana !" hardik sang mama dengan suara meninggi.
"Iya, Ma. Cuma mau ketemu teman." jawab Andre beralasan.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Sudah hampir 2 jam dari kelahiran sang bayi namun ia dan ibunya masih tak kunjung membaik.
Hujan mulai turun dan suara petir yang menggelegar membuat suasana semakin suram saja. Sabina masih terpaku melihat keadaan bayi Amanda dari luar kaca. Perutnya bergerak lemah menandakan jika bayi mungil itu memerlukan perjuangan berat hanya untuk sekedar bernafas.
"Sayang, sebaiknya kamu beristirahat. Bagaimana jika kita pulang ke rumah klinik ?" tanya Gibran.
Sabina menggelengkan kepalanya pelan, ia tak mau menuruti perkataan sang suami.
"Bina, kamu harus memikirkan dia juga." lanjut Gibran seraya menunjuk perut besar Sabina.
"Apa dia akan baik-baik saja ?" tanya Sabina sembari menunjuk bayi Amanda dengan matanya.
"Jujur, aku gak tau Sayang. Semua di luar batas kemampuan kita. Berdoalah semoga Tuhan memberikan jalan yang terbaik untuk Amanda juga bayinya." jawab Gibran, bahkan ia tak berani untuk mengatakan kondisi sebenarnya bayi Amanda. Gibran takut itu akan membebani pikiran istrinya.
"Aku memang sangat tak menyukai ibunya karena ia begitu banyak menyakiti hati tapi melihat kondisi bayinya seperti itu, aku berharap Amanda segera sadar dan mengurusinya."
Gibran merangkul bahu Sabina agar lebih dekat dengannya, ia mencoba menenangkan istrinya. Sabina yang sedang hamil tentu mempunyai perasaan yang lebih peka terhadap bayi.
"Ayo kita cari makanan dulu. Kamu dan dia pasti sudah lapar." Gibran kembali membujuk dan kali ini Sabina menurut.
Jemari tangan keduanya saling bertautan ketika mereka berjalan bersama. Sabina masih dengan pikirannya tentang bayi Amanda. Hingga ia tak fokus ketika 2 anak berlarian ke arahnya dan menabraknya hingga tas Sabina terjatuh ke atas lantai.
Sang ibu segera menghampiri Sabina dan meminta maaf seraya membantu Sabina mengambil tasnya dari atas lantai.
__ADS_1
"Maafkan anak-anak saya. Mereka senang sekali berlarian di lorong sampai saya saja kerepotan mengejarnya." ucap ibu itu seraya menunjuk 2 orang anak lelaki yang masih berusia balita itu.
"Tak apa, tapi sebaiknya lebih berhati-hati." timpal Gibran yang terlihat mencemaskan Sabina.
"Saya gak pa-pa kok." jawab Sabina dan ia pun melihat ke arah Gibran untuk tak khawatir berlebihan.
kedua anak lelaki kakak beradik itu menghampiri sang ibu dan bergelayut manja seolah tak terjadi apa-apa.
"Ayo minta maaf sama Tantenya karena tadi tidak sengaja menabrak." bujuk sang ibu dan keduanya meminta maaf dengan suara cadel khas anak balita membuat Sabina gemas seketika.
Setelah meminta maaf, kedua anak itu kembali berlari dan sang ibu sebisa mungkin mengejarnya. Sabina tersenyum melihatnya.
"Aku sangat menyukai anak-anak," ucap Sabina dengan jelasnya.
"Aku juga, ayo kita buat yang banyak !" ucap Gibran berusaha menghibur Sabina yang terlihat sendu.
"Aku ingin bisa bermain seperti mereka." Ucap Sabina sembari terus memperhatikan.
"Pasti bisa, anak kita tumbuh sehat di dalam sana. Kamu jangan terlalu banyak pikiran. Makan yang banyak biar kamu dan dia sehat." Gibran mengusap lembut perut istrinya itu dengan penuh kasih sayang dan Sabina tersenyum karenanya.
Tapi bukan itu yang ada dalam pikiran Sabina saat ini. Sabina berpikir untuk menjadi ibu yang kuat bagi anak-anaknya nanti.
"Ayo Sayang, sepertinya hujan telah reda. Kita bisa mencari makanan." ajak Gibran pada Sabina yang masih sibuk memperhatikan kedua anak yang tadi menabraknya.
Gibran kembali menggandeng Sabina untuk keluar dari gedung rumah sakit.
***
Saat ini keduanya berdiri di teras dan saling berbicara. Entah apa yang tengah mereka bicarakan namun bisa Andre lihat dengan jelas jika Gibran banyak melengkungkan senyum di wajahnya.
"Sabina adalah wanita yang baik dan menyenangkan, tentu saja Gibran akan merasa senang di dekatnya." batin Andre dalam hatinya.
Angin yang berhembus sedikit kencang menerpa rambut panjang Sabina hingga menjadi tak beraturan. Dengan cekatan Gibran merapikan rambut sang istri, bahkan ia sendiri yang mengikatkan rambutnya. Setelah itu, Gibran melepaskan sweater yang ia kenakan dan memakaikan nya pada Sabina. Bisa Andre lihat dengan jelas Sabina mengucapkan kata terimakasih dan Gibran malah mencium gemas puncak kepala istrinya.
"Ternyata kemesraan mereka tak hanya di TV." gumam Andre yang kini terus memandangi keduanya dari jauh.
Andre tak menyangka jika 2 orang yang ia tinggalkan tepat 1 tahun yang lalu itu, kini menjadi pasangan yang saling mencintai dan terlihat bahagia.
Tepat 1 tahun lalu ia dan Amanda melarikan diri bersama dan mengkhianati pasangannya masing-masing. Tak hanya pasangan namun mereka juga mengkhianati para sahabatnya.
Tapi lihatlah kini, tepat satu tahun kemudian dirinya dan juga Amanda kembali dalam keadaan hancur pada 2 orang yang telah mereka khianati dulu.
Andre dan Amanda tak mendapatkan apapun dari pengkhianatan yang mereka lakukan selain penyakit yang kini bersarang dalam tubuhnya dan tak juga hilang.
Merasa cukup puas memperhatikan Andre pun turun dari mobilnya dan berjalan menuju Sabina dan Gibran berada.
__ADS_1
Pandangan mata Gibran yang teduh berubah dingin ketika ia melihat Andre berjalan menghampiri. Refleks saja ia meraih tangan Sabina dalam genggamannya seolah memberikan peringatan pada lelaki itu jika Sabina adalah miliknya.
"Sayang, tenanglah..." bisik Sabina lirih. Ia rasakan genggaman tangan Gibran kian erat meremas jemarinya.
Gibran menolehkan kepalanya pada sang istri dan melihat bibir sabina berucap dengan jelasnya. "Yang aku cinta hanya kamu." Hatinya yang dipenuhi rasa cemas kini berubah lega. Ia pun menganggukkan kepala dan membalas senyuman istrinya.
Sorry , Gue telat." ucap Andre ketika ia tiba diantara Gibran juga Sabina.
"Lo bisa masuk ruangan ICU, Amanda terbaring di sana." ucap Gibran dengan nada suara yang dingin sedangkan Sabina hanya diam saja.
Gibran pun menarik tangan Sabina agar mengikuti langkahnya namun perkataan Andre menghentikannya.
"Lo, mau kemana ? Jangan tinggalin gue sendiri." ucap Andre dengan wajahnya yang kini berubah cemas bercampur takut.
Gibran dan Sabina pun beradu pandang karena apa yang baru saja Andre ucapkan.
"Lo duduk aja di kursi tunggu, Gue nemenin istri makan dulu." jawab Gibran sembari menekankan kata istri dan wajah Andre berubah datar seketika.
"Kamu temani dia aja, takutnya ntar dia kabur karena takut." bisik Sabina dan Gibran pun membenarkan apa yang istrinya ucapkan itu.
"Kamu sama Rani ya, Sayang. Pulanglah ke klinik nanti aku menyusul kesana."
Sabina mengangguk patuh dan Gibran senang melihatnya.
***
Disinilah mereka berdua, Gibran dan Andre yang kini tengah duduk bersebelahan di lorong rumah sakit karena Andre belum bisa memutuskan untuk melihat keadaan siapa lebih dulu.
Keduanya duduk dalam sunyi, dengan pikirannya masing-masing. Gibran meraih ponselnya dari dalam saku dan memainkannya.
Andre perhatikan lekat-lekat cincin pernikahan yang melingkar sempurna di jari manis temannya itu. Tahun lalu cincin itu seharusnya melingkar di jarinya sendiri.
Namun ia teringat jika cincin pernikahan yang ia dan Sabina pesan itu datang dengan nomor lingkaran setingkat lebih besar dari yang di pesan.
Andre tersenyum masam, sepertinya memang sudah takdir jika kini cincin itu begitu pas di jari manis sahabatnya.
"Sampai kapan lo mau merhatinn cincin kawin Gue ?" tanya Gibran tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya.
"Kedatangan Lo kesini buat Amanda dan anaknya. jangan lupa itu " ucap Gibran lagi dengan nada suaranya yang dingin.
To be continued ❤️
Thank you for reading ❤️
maaf telat update 🙏
__ADS_1
satu lagi nanti malam ya 😚