
pagi hari , Dea berjalan menyelusuri jalanan kota yang sudah tampak ramai dengan amplop coklat yang ada di tangannya.
" permisi mba? apakah disini masih tersedia lowongan pekerjaan. ucapnya kepada salah satu toko yang di temuinya.
ia terus menelisir kesegala arah, melihat lihat mana tau ia temukan seseorang yang bisa memberinya pekerjaan.
" Maaf mba? apakah disini menerima lowongan pekerjaan? tanyanya kepada seorang wanita yang duduk di meja resepsionis dan tengah sibuk dengan komputer di hadapannya " jakarta culinare"
berapa umur mba?
" 19 tahun mba. jawab Dea
mba bawa berkas lamarannya? tanya resepsionis.
" oh ini mba. Dea menyerahkan amplop berwarna cokelat kepada resepsionis tersebut.
resepsionis itu membuka berkas yang diberikan Dea kemudian dengan cepat dia menutupnya kembali dan menatap Dea.
" bagaimana mba? tanya Dea.
" tinggalkan saja berkas mba disini, jika kami butuh. kami akan segera menghubungi mba kembali. tutur wanita itu tersenyum ramah.
Dea mengangguk mengerti kemudian ia dengan langkah pelan menunduk meninggalkan restaurant tersebut.
" hey nona. liat liat kalo jalan ! kata seorang pemuda yang ia tabrak ketika berjalan tampak melihat kedepan.
" ahhh... maaf maaf. aku sangat tidak sengaja. maafkan aku. Dea menengadahkan kepalanya terlihat di matanya tulus meminta maaf pada pemuda itu.
" subhanallah, cantik sekali wanita ini.
pandangan pemuda itu sangat tajam, ia tampak sangat tertarik dengan wajah cantik sederhana yang dimiliki Dea.
bola mata bulat,rambut panjang,tinggi sekitar 165 cm , kulitnya yang putih.
pemuda itu mengerjapkan matanya saat di kagetkan oleh suara Dea.
" tuan, apa baik baik saja? tanyanya dengan memiringkan kepalanya.
" oh tidak apa apa, lain kali hati hati. tutur pemuda itu dengan senyuman di bibirnya.
" ada keperluan apa nona kemari?tanya pemuda itu dengan terus memandang Dea.
" Maaf... mungkin aku terlihat tidak punya uang untuk datang ke restaurant ini. ujar Dea dengan tertawa kecilnya.
" sebenarnya aku sedang mencari pekerjaan tuan, rasanya sulit mendapat pekerjaan di kota sebesar ini. keluh Dea.
" kamu di terima disini. tegas pemuda itu.
Dea ternganga mendengar perkataan pemuda itu.
semua karyawan yang mendengar perkataan pemuda itu tampak terheran heran.
" perkenalkan , aku yuda pratama panggil saja aku yuda. aku anak dari pemilik restaurant ini.ucapnya mengulurkan tangan.
A...a..aku Dea. jawab Dea gugup sembari membalas uluran tangan pemuda itu.
" Mana manager restaurant ini? tanya yuda kepada karyawan.
ada pak, di ruangannya.jawab salah satu karyawan.
" *Nona mari ikut saya. ucap yuda memboyong Dea keruangan kim Manager restaurant.
" eh tuan, ada apa kemari? silahkan duduk ucap Kim mempersilahkan.
" bagaimana perkembangan restaurant ini, ayahku memintaku untuk memeriksa keadaan disini. tutur yuda.
__ADS_1
" baik tuan, saya akan tunjukkan berkas berkas pengelolaan restaurant selama beberpa bulan ini. ucapnya.
" ya nanti saja. tegas yuda.
" ini Dea, aku minta kau mempekerjakannya dengan baik disini. pinta Yuda.
apa dia?...tanya Kim mengarah kepada Dea yang duduk dihadapannya.
" Dia temanku. jawab Yuda tersenyum kepada Dea*.
"*hah, teman? bagaimana dia menganggap aku ini temannya, baru saja aku mengenalnya beberapa menit yang lalu. gumam Dea di dalam hati.
" baiklah tuan. ucap kim.
" nona, bekerjalah dengan baik disini, selamat bergabung dengan kami. kim mengulurkan tangan sebagai tanda selamat kepada Dea.
" terimakasih pak... terimakasih. ucap Dea tersenyum dan sedikit membungkukan badannya.
" nona boleh bekerja mulai besok. ucap kim.
" Dia tampak sangat bahagia, siapa wanita ini mengapa sorot matanya sangat meneduhkan. Batin Yuda*.
Dea terpaksa harus bekerja karna tidak ingin menjadi beban untuk Marfin setelah keadaannya kini mulai membaik, dia tidak ingin lagi mengakhiri hidupnya.ia mulai semangat menjalani hari demi buah hatinya yang sudah menginjak minggu ke 8.
semua kebutuhannya memang selalu di penuhi oleh Marfin, kartu Debit tanpa limit ia berikan namun tidak Dea gunakan karena demikian ia tidak ingin selalu bergantung pada Marfin.
memangnya siapa Marfin? mengapa dia harus bertanggung jawab atas hidup Dea?
yang di kandung Dea bukanlah anaknya, haruskah Marfin bertanggung jawab dan menikahi Dea?
Beberapa hari kemudian.
*****
Marfin tampak menggandeng tangan istrinya dan membawanya kesebuah apartemen , mereka kemudian memasuki lift menuju lantai 3 tempat dimana mereka akan tinggal.
tek... terbuka.
paswordnya adalah namamu kata Marfin kepada Alika sembari berjalan dan meletakkan jaketnya di kursi.
" wahh mas, ini mas beli? tanya Alika.
" iyya, ucap Marfin datar.
" ayo sini, Marfin menarik tangan istrinya menunjukkan kamar, dapur, kamar mandi, ruang ganti , tempat olah raga.
" wahh Mas, aku bisa lihat pemandangan kota dari sini. teriak senang Alika saat berada di balkon.
Marfin mengangguk tersenyum melihat kesenangan istrinya.
" kau Mau beli rumah apa apartemen? tanya Marfin.
" apa?....
Alika membalikkan badannya saat mendengar kata yang keluar dari mulut suaminya, ia tampak sedang melihat kebawah pemandangan kota.
" ini juga bagus, tapi kalo Mas pengen rumah aku ikut saja. kata Alika.
Marfin tersenyum dan mengusap lembut kepala istrinya kemudian meninggakan istrinya menikmati keindahan kota.
" sudah berapa hari aku tidak bertanya kabar Dea. gumam marfin didalam hati ketika ia merebahkan tubuhnya di kasur.
ia kemudian mengangkat tubuhnya perlahan merogoh saku celananya dan berusaha menghubungi Leo.
" Dimana sekarang? Tanya Marfin setelah panggilannya di terima.
__ADS_1
" ini tuan, aku sedang mengurus mobil baru yang tuan pesan. kata Leo disana.
" bagaimana security untuk dirumah dea? apakah sudah ada.
" sudah tuan, aku sudah bertanya kepada nona Dea , katanya sudah sampai. jawab Leo disana
" oh baiklah, segera kemari jika mobilnya sudah siap. pinta Marfin datar.
" dan ya, hari ini kau harus mengantar Dea chek up ya, aku akan menemani Alika disini. pinta Marfin kembali.
" Mas , telpon siapa? tanya Alika yang berdiri dipintu.
" aa... ini Leo. ucap Marfin.
Marfin kemudian mengakhiri panggilannya.
" duduk sini sayang. pinta Marfin sambil menepuk kasur busa tempat tidur mereka dan meminta Alika duduk di sebelahnya.
" Ada apa mas? tanya Alika yang kemudian duduk.
" *Apa kau bahagia menikah denganku? tanya Marfin.
" hah? apa ini, pertanyaan apa ini, ada apa dengannya? mengapa dia aneh. gumam Alika di dalam hati.
Alika melebarkan senyumnya,
" Mas? aku ingin memilik anak. ucap Alika membuat Marfin kaget.
" aa.... anak? Marfin tertawa kemudian berdiri.
tampak wajah kecewa Alika terlihat ketika melihat ekspresi suaminya itu.
" jangan sekarang sayang? aku belum siap. Marfin duduk di lantai di hadapan istrinya yang tengah duduk di kasur .
" apa mas tidak mencintaiku? tanya Alika dengan menghela nafas.
" cinta. jawab Mafin singkat tanpa ekspresi senyum dibibirnya.
" lalu?
" lalu apa? tanya Marfin lagi.
" Mengapa Mas selalu dingin, datar padaku? apa aku tidak cukup menarik,aku tidak menggairahkan ya? tanya Alika.
" bukan begitu, aku hanya capek, makannya aku jarang menyentuhmu. ucap Marfin yang kemudian berdiri dan duduk di samping Alika.
" bukan jarang, tapi hampir tidak pernah, cuma dua kali lohh. Alika manyun dengan mengangkat 2 jarinya.
" yasudah yasudah..... cup cup. Marfin memeluk tubuh istrinya dan kemudian menenangkannya di pangkuannya.
" Mas ingat tidak? dulu banget pas kita masih duduk di sekolah? Mas sempat menyukaiku, sampai terus menggangguku. lalu aku selalu marah dan menamparmu. Alika bercerita di pangkuan suaminya.
Marfin tertawa kecil mendengar apa yang di ceritakan Alika.
tentu saja dia ingat akan hal itu, makanya dia begitu ingin menikah dengan Alika karna sikap cueknya yang membuat penasaran.
" iya , saat itu kau sok cantik, sombong pula. ledek Marfin yang di sambut tawa oleh Alika.
" sebelum aku menikah denganmu, aku belum jatuh cinta padamu, ya mana mungkin aku jatuh cinta kepada seorang tuan muda yang sok tampan, sombong dingin. ah sama sekali bukan tipeku.
tapi saat kau menolongku waktu itu aku mulai tersentuh. ini adalah sisa hidup mas, dan ingin ku habiskan bersamamu. Alika mengungkapkan.
" memangnya siapa yang menolongmu? aku tidak menolongmu? mana mau aku menolong gadis sombong sepertimu. Marfin memencet hidung istrinya.
" aww... sakitt. rengek Alika manja.
__ADS_1
kemudian mereka mulai membaringkan tubuhnya masing masing, dari bercerita, sampai akhirnya malam penuh gairah cinta itu menyelimuti keduanya sampai mereka lelah dan akhirnya tertidur*.