
Happy Reading ❤️
Masalah diantara Gibran dan Sabina memang belumlah usai. Namun keduanya sadar jika rasa cinta yang mereka rasakan tak pernah hilang.
Wangi musk yang begitu lembut namun juga sensu*l memanjakan indra penciuman Gibran saat ini. Gibran memejamkan mata sembari menghirup dalam dan menikmati aroma khas istrinya itu dengan penuh rasa rindu.
Sedangkan Sabina sebenarnya belum siap untuk sedekat ini dengan suaminya namun tubuhnya berkata lain. Begitu tangan Gibran melingkar di tubuhnya, ia merasakan seperti pulang ke tempat yang yang seharusnya. Tempat dimana ia merasa aman dan nyaman.
Tak ada hasrat berlebih, saat ini Keduanya hanya ingin saling melepaskan rasa rindu yang sebenarnya telah lama membuncah dan tak terucapkan.
***
Sabina terbangun ketika pagi masih gelap, namun suara lantunan ayat suci telah lamat-lamat terdengar.
Tangan Gibran yang kokoh masih melingkar di atas perutnya yang membuncit. Sabina pun mengangkat wajahnya dan memperhatikan lekat-lekat wajah suaminya itu. Alisnya yang tegas, hidung mancung dan bibir berisi itu terkatup rapat. Nafasnya yang teratur menandakan bahwa Gibran masih menyelami alam mimpinya. Ingin Sabina membelai lembut wajah yang kini berjarak dekat dengannya itu namun ia tak mempunyai keberanian untuk melakukannya. "Siapa yang sedang kamu impikan sekarang ini ?" tanya Sabina dalam hatinya tanpa mampu terucap.
"Bangun Gibran, sudah hampir subuh." Sabina membangunkan suaminya itu dengan mengusap halus kakinya. Hal yang biasa ia lakukan dulu namun sempat menghilang ketika keduanya berseteru beberapa waktu lalu.
Butuh 2 kali bagi Sabina melakukan itu sebelum akhirnya Gibran membuka mata dengan perlahan.
"Selamat Pagi." ucap Gibran dengan suara serak khas orang bangun tidur. Senyuman terukir di bibirnya ketika ia mengucapkan itu. Akhirnya hal yang selalu ia impikan untuk kembali menatap wajah cantik istrinya ketika terbangun terlaksana juga.
"Pa... pagi." jawab Sabina terbata. Biasanya ia yang melakukan sapaan itu namun hari ini Gibran lah yang lebih dulu mengucapkannya.
"Akhirnya aku bisa tidur nyenyak setelah satu minggu ini selalu merasa gelisah." Ungkap Gibran tanpa ragu, dan sejujurnya Sabina pun merasakan hal yang sama.
"Sekarang kamu udah bangun, sebaiknya aku segera pergi ke bawah untuk membantu menyiapkan sarapan karena kita harus pulang cepat. Kamu harus bekerja bukan ?"
"Hmm, Iya." jawab Gibran dan Sabina pun mulai bergerak menuruni tempat tidurnya.
Ingin Gibran menarik tubuh Sabina agar tak menjauh dan kemudian mendekapnya erat dengan penuh rasa posesif namun ia sadar ada sedikit jarak yang masih memisahkan mereka.
***
Gibran keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri dan tercengang ketika satu stel pakaian kerjanya telah tersedia di atas ranjang. Rupanya Sabina meminta pak Anwar untuk pulang ke rumah dan membawakannya pakaian karena tak mungkin bagi Gibran untuk meminjam baju kakak ipar atau ayah mertuanya karena tinggi tubuh Gibran yang berada diatas keduanya.
Setelah selesai bersiap Gibran pun berjalan keluar menuju ruang makan, ia yakin Sabina berada disana.
"Bina, apa suamimu tahu tentang bunga yang dikirimkan Andre padamu ?" Tanya ayah Sabina dan itu membuat Gibran menghentikan langkahnya dan mencuri dengar dari balik pintu.
__ADS_1
"Tentu tahu," jawab Sabina tanpa rasa takut atau ragu.
"Sayang, apa kamu tahu ? itu pasti sangat menyakiti hati suamimu."
"Aku tak bermaksud untuk menyakiti hati Gibran. Tak ada sedikitpun niat untuk melakukan itu, hanya saja aku tak ingin menyembunyikan apapun darinya agar ia tahu jika Andre sudah tak berarti lagi untukku. Jadi tak ada yang harus aku tutupi sedikit pun perihal Andre." jelas Sabina dan bagaikan tamparan bagi Gibran.
" Memang itu yang harus dilakukan, jangan membawa orang dari masa lalu ke dalam kehidupan pernikahan kalian. Kehadiran mereka hanya akan menjadi duri meskipun hanya berhubungan sebagai teman." ayah Sabina mengingatkan.
"Tenanglah ayah, aku bisa menjaga harga diriku. Aku sudah menjadi istri Gibran, aku tak mungkin melakukan hal buruk dibelakangnya. Ayah jangan khawatir." ucap Sabina dan ayahnya merasa lega ketika mendengar itu.
"Kamu harus bisa menjaga hati juga kepercayaan suamimu."
Sabina pun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Ayah sempat khawatir ketika Gibran meminta izin pada ayah untuk menjadikanmu istri yang sebenarnya. Bukan karena ayah tak menyukainya tapi karena kalian hanya dekat sebagai teman tanpa ada rasa saling tertarik sebelumnya. Pasti tak mudah untuk saling beradaptasi dengan sifat maupun pemikiran yang dipaksa untuk bersatu. Tapi melihat kemesraan kalian semalam ayah menjadi lega."
Sabina hanya tersenyum menanggapi ucapan ayahnya itu.
"Apa Gibran memperlakukanmu dengan baik ?"
"Tentu saja... ayah jangan khawatir." jawab Sabina. Ia mengatakan hal yang sebenarnya. Meskipun dirinya dan Gibran sedang kondisi yang kurang baik tapi suaminya itu tak pernah main tangan atau memaki dengan kata kasar. Ketika masalah besar meledak pun yang dilakukannya hanya saling berdiam diri untuk mendinginkan kepala.
Setelah suasana berubah hening tak ada lagi pembicaraan antara Sabina dan ayahnya, Gibran pun memberanikan diri untuk menampakkan diri dengan perasaan yang tak menentu.
"Selamat pagi," ucap Gibran dengan nada suara sedikit bergetar.
"Pagi Gibran. ayo duduk sarapan dulu." ajak ayah Sabina dan Gibran pun menurutinya.
Sabina menolehkan kepala dan pandangan mereka pun bertemu.
Pandangannya terhadap Sabina kian berbeda, ia semakin kagum akan sikap istrinya itu. Tak mengumbar keburukannya pada sang ayah. Bahkan ia begitu setia di belakangnya.
Sabina mengakhiri pandangannya lebih dahulu karena ia merasa gugup seketika. Sedangkan Gibran ingin sekali membawa istrinya itu ke dalam pelukan dan memberinya banyak ciuman. Lalu ia akan mengungkapkan rasa cintanya yang membuncah.
"Putri ayah cantik ya ?" tanya ayah Sabina pada Gibran. Ia menanyakan itu karena merasa geli melihat bagaimana menantunya itu terus memandangi putri kesayangannya.
"Eh, mmm ten..tentu. Wanita paling cantik yang pernah saya temui." jawab Gibran terbata dan semburat merah menghiasi wajah Sabina saat ini.
Ayah Sabina tertawa samar mendengarnya.
__ADS_1
"Semoga pernikahan kalian selalu baik-baik saja. Memang jalannya tak akan mulus, tapi ayah harap kalian bisa melewatinya dengan bijak. Saling menghargai, saling percaya dan saling memaafkan adalah kuncinya." ayah Sabina mengingatkan.
Gibran dan Sabina pun kembali beradu pandang sebelum menganggukkan kepala mengiyakan.
Tak lama anggota keluarga Sabina yang lain muncul di ruang makan untuk menikmati sarapan yang disiapkan oleh para pelayan.
***
Mata Gibran tertuju pada jalanan tapi pikirannya kembali pada obrolan Sabina dan ayahnya juga nasihat yang di berikan ayah mertuanya itu.
Ia melirik Sabina yang duduk di sebelahnya. Istrinya itu sedang asik memperhatikan jalanan dari jendela.
"hanya saja aku tak ingin menyembunyikan apapun darinya agar ia tahu jika Andre sudah tak berarti lagi untukku. Jadi tak ada yang harus aku tutupi sedikit pun perihal Andre."
"Kamu harus bisa menjaga hati juga kepercayaan suamimu."
"jangan membawa orang dari masa lalu ke dalam kehidupan pernikahan kalian. Kehadiran mereka hanya akan menjadi duri meskipun hanya berhubungan sebagai teman."
Kata-kata itu terus terngiang di telinga Gibran bagaikan putaran lagu yang tak ada habisnya.
"Ya Tuhan, akulah yang telah berbuat tak adil pada Sabina. Aku yang cemburu pada Andre tanpa mau mengerti rasa cemburu Sabina pada Amanda. Sabina bisa menjaga dirinya dengan baik, tapi aku malah membiarkan Amanda mencuri sebuah kecupan di pipiku. Akulah yang bersalah, Bina." Sesal Gibran sembari meraup wajahnya frustasi.
"Aku telah banyak menyakitinya." batin Gibran dalam hati.
"Gibran, aku turun di depan saja. Mobilnya gak usah kamu masukkan ke halaman jadi kamu bisa langsung pergi ke rumah sakit." ucap Sabina sembari menunjuk jalan. Saat ini Gibran mengantarkan Sabina pulang ke rumah mereka sebelum ia pergi ke rumah sakit.
Namun Gibran tak melakukan itu, ia tetap membelokkan mobilnya memasuki pekarangan rumah mereka. Sabina pun tak protes, ia tak mau mempermasalahkan hal kecil seperti ini.
"Terimakasih," ucap Sabina ketika mobil Gibran telah berhenti dengan sempurna. Ia hendak keluar dari mobil suaminya namun tertahan karena Gibran yang tiba-tiba memeluknya dengan erat.
Tak ada kata terucap dari bibir suaminya itu namun pundak Gibran yang bergerak naik turun menandakan lelaki itu tengah terisak karena menangis.
"Gib... Gibran ? Kamu kenapa ?" tanya Sabina terheran
"Biarkan aku seperti ini, Bina. Biarkan aku memelukmu." jawabnya lirih
To be continued ❤️
Thank you for reading 😘
__ADS_1