
Happy reading ❤️
"Ayo, kita selesaikan masalah kita." Gibran meraih jemari Sabina dalam genggamannya dan mengajak istrinya itu untuk menaiki setiap undakan tangga yang menuju ke kamarnya di lantai dua.
Gibran berjalan lebih dulu sedangkan Sabina mengekori di belakangnya. Jemari mereka saling bertautan dan tanpa Gibran sadari Sabina masih melihatnya dengan tatapan mata sendu seolah tak ada semangat di sana.
Mereka memasuki kamar dan setelah itu segera Gibran putar kuncinya. Sabina meletakkan sekotak coklat dan buket bunga yang gibran berikan di atas nakas.
Setelah melonggarkan kemejanya sendiri, Gibran berjalan mendekati Sabina dan memeluk istrinya itu dari arah belakang.
"Seharian ini aku selalu memikirkan kamu, Bina." Bisik Gibran lirih. Ia pun segera menundukkan kepala dan menyingkirkan rambut yang menutupi leher Sabina dan melabuhkan bibirnya di sana, kemudian ia menghirup aroma tubuh istrinya itu dengan begitu rakus.
Sabina menarik nafas dengan dalam dan begitu terkesiap ketika bibir Gibran yang basah dan kenyal mulai menelusuri pipi, telinga, dan merambat sepanjang leher.
Gibran meluruhkan kerah blouse Sabina hingga sebelah pundaknya terekspos dan Gibran pun mengecupi dengan bibirnya yang basah kulit pundak Sabina yang polos itu. Sabina memiringkan kepalanya agar Gibran lebih leluasa melakukan cumbuaannya. Darahnya berdesir dan tubuhnya meremang seketika.
Bunyi decapan yang diciptakan oleh ciuman bibir Gibran terdengar begitu nyata oleh Sabina. Meskipun ia menikmatinya, tapi pikiran Sabina melayang pada Gibran juga Amanda. Membayangkan apa yang dilakukan suaminya itu ketika bertemu dengan mantan kekasih tercintanya dahulu. Pandangan mata Sabina kosong menatap tirai jendela di depannya.
"Kamu memang tak berselingkuh tapi kamu tetap berkhianat," batin Sabina dalam hatinya. Ia memejamkan mata membayangkan Gibran dan Amanda saling bicara. Hatinya semakin sakit ketika membayangkan suaminya itu membicarakan masa lalu mereka yang penuh bunga-bunga cinta.
Sabina memang sudah memaafkan namun bukan berarti ia telah melupakan apa yang Gibran lakukan padanya.
Meskipun sakit, tapi Sabina memilih untuk memaafkan dan mencoba menerima meskipun ia yakin Gibran masih menyembunyikan sesuatu darinya.
Sabina berusaha tak lagi menuntut Gibran untuk menjelaskan lebih jauh hanya agar Gibran tak pergi dari sisinya.
Sadar jika Sabina begitu sunyi, tak seperti biasanya. Tak sekalipun Sabina mengeluarkan suara des*h, padahal Gibran telah mencumbunya dengan panas. Dan tangan yang tadinya memeluk erat telah bergerilya menuju bagian tubuh Sabina yang menjadi pavoritnya dan beberapa kali meremasnya dengan gemas namun Sabina masih juga tak bersuara.
"Sayang ?" Bisik Gibran parau.
"Hu'um" gumam Sabina pelan sebagai jawaban.
__ADS_1
Gibran kembali menciumi pundak, merambat naik ke leher. Bahkan memberikan sesapan kecil sehingga menimbulkan tanda kemerahan namun reaksi Sabina tak sepanas biasanya.
Gibran terdiam, dan menghentikan ciumannya. Walaupun sangat menginginkan untuk melepaskan hasratnya namun ia berusaha untuk menahan diri. Ia sadar Sabina sedang tak ingin disentuh.
"Sebaiknya malam ini kita selesaikan masalah kita di atas sofa saja sambil nonton film. Bagaimana ?" Tanya Gibran sembari menaikkan kembali kerah baju Sabina ya kini terbuka di sebagian pundaknya.
"Apa ?" Tanya Sabina tak paham.
"Kita akan menonton film saja, bagaimana ?" Tanya Gibran seraya memutar tubuh Sabina agar menghadap padanya.
"Aku...," Ucap Sabina ragu, bola matanya bergerak ke kanan dan ke kiri karena ia merasa gugup dan Gibran dapat melihatnya dengan jelas.
"Ayo siapkan cemilannya, aku akan berganti baju dulu." Ucap Gibran seraya menahan rasa kecewa karena rindunya yang membuncah untuk menyentuh tubuh Sabina tak terlaksanakan. Sebisa mungkin Gibran menutupinya dengan raut wajah yang di paksakan ceria.
"Aku juga mau secangkir kopi buatanmu ya, Sayang," ucap Gibran lagi seraya mencium pipi Sabina gemas.
"Ba... baiklah...," Jawab Sabina terbata. Ia meremas kerah blousenya sendiri seolah melindungi diri dan hati Gibran terasa ngilu melihatnya.
"Kebohongan yang Lo simpan kemarin itu cukup lama, dan lo berharap bisa dapatkan lagi kepercayaan Sabina dalam waktu sekejap saja ? Sabina pasti kecewa banget sama lo !" Tanya Gibran lagi pada dirinya sendiri. Tentu saja tidak semudah itu, Sabina mau memaafkannya saja sudah suatu hal yang luar biasa. Gibran duduk dengan kepala tertunduk memikirkan langkah apa yang harus ia tempuh untuk memenangkan kembali hati istrinya.
Sabina hanya berhenti dari berdiam diri, bukan berarti ia menerima lagi seperti dulu. Butuh lebih banyak waktu baginya untuk melihat kesungguhan Gibran dalam berkomitmen.
Cukup lama Gibran diam di dalam kamarnya, merenungkan kembali apa yang telah ia lakukan hingga Sabina 'menolaknya' seperti itu.
Suara ketukan di pintu membuyarkan lamunan Gibran, sehingga membuatnya mengangkat wajah dan beradu pandang dengan Sabina yang muncul dari balik pintu.
"Semuanya sudah siap," ucap Sabina.
"Oke, tunggu sebentar." Gibran pun berdiri dan berjalan keluar dengan ponsel di saku celananya.
"Mau nonton film apa ?"
__ADS_1
"Kamu maunya apa Sayang?" Gibran balik bertanya.
"Eh tapi apa sebaiknya kamu gak makan dulu?"
"Mmm, boleh." Jawab Gibran singkat.
"Aku masakin kamu rendang daging hari ini."
"Terimakasih, tapi temani aku makan ya Sayang." Ajak Gibran dan Sabina mengiyakannya.
Sabina tahu jika Gibran merasa kecewa karena kegiatan panas yang suaminya itu inginkan tak terlaksana. Terlihat dari cara Gibran berbicara, juga dari raut wajahnya yang terlihat sendu.
"Tapi tadi Gibran sendiri yang menghentikannya. Bukan karena aku yang meminta," batin Sabina dalam hati.
Kini keduanya duduk bersama namun dengan pikirannya masing-masing.
***
"Jadi begitu lah cerita hidupku, memalukan bukan ?" Tanya Andre dengan tersenyum miring. Ia pun merasa muak dengan kisah hidupnya sendiri.
Tak tahan dengan masalahnya yang ia lalui sendiri, pada akhirnya Andre bercerita pada Alya rekan kerjanya beberapa bulan terakhir ini.
"Setiap orang memiliki kisahnya sendiri, begitu pun kamu. Tapi masalah itu harus kita hadapi dan dicari jalan keluarnya. Bukan hanya menyalahkan diri sendiri apalagi menyalahkan Tuhan karena kamulah yang memilih jalan hidupmu sendiri seperti itu." Ucap Alya dengan tenang.
"Apa kamu gak merasa jijik denganku ?" Tanya Andre dengan wajahnya yang sendu.
To be continued ❤️
jangan lupa like dan komen yaaa
makasih
__ADS_1