Pernikahan Yang Tak Diinginkan

Pernikahan Yang Tak Diinginkan
64.....


__ADS_3

Dea berlari keluar rumah sakit dan duduk di taman di sekitarnya.


sementara tak jauh dari langkah Dea, yuda menelisik kesegala arah di sekitar.


"pergi kemana dia, gumam yuda seketika matanya tertuju pada wanita yang tengah duduk tak jauh dari tempatnya berdiri.


flash back end.


*******


gontai, Marfin kembali keluar dari ruangannya.


leo melongo menatap Marfin yang terlihat lemas berjalan melewatinya.


" hei... panggil Marfin kembali berjalan mundur kearah leo.


" i..iya tuan, jawab leo.


" cepat siapkan keberangkatanku ke surabaya sekarang juga, perintah Marfin sambil mengangkat telunjuknya kearah leo.


seperti mabuk minuman keras, Marfin kembali melanjutkan langkahnya berjalan sempoyongan sampai akhirnya dia nyaris terjatuh.


" tuan.. biar saya antar, kata Leo meletakkan tangan Marfin ke pundaknya.


" vi... Panggil leo,kepada asistennya.


" iya tuan, wah bos besar kenapa? tanya via.


" tolong,cepat kau urus keberangkatan kami kesurabaya, sekarang juga,pinta leo.


" baik tuan, jawa via.


semua orang menatap mereka penuh tanya, ingin membantu namun Leo menolaknya.


" lanjutkan saja pekerjaan kalian, tuan Marfin biar aku yang mengurusnya,ujar leo.


*****


" siapa yang kau telpon? tanya yuda yang berdiri di hadapan Dea.


Dea tersenyum senang,dan menggeser tubuhnya menyisakan tempat untuk yuda.


" Marfin, Jawab Dea singkat dengan senyum yang menggembang di pipinya.


" mengapa kau terlihat bahagia, apa yang dia katakan atau apa yang kalian bicarakan? tanya yuda tanpak penasaran.


" kau tahu, wanita yang ada disana,yang butuhin donor darah itu istri Marfin, ungkap Dea tersenyum getir.


"apa ! yuda menatap benar benar mata Dea.


" sungguh yud, itu Alika istrinya Marfin. pungkas Dea.


" lalu nenek dan kakek tadi, siapa? yuda


kembali bertanya.


" ini nenek sama kakek aku yud, jawab Dea kemudian menggigit bibir bawahnya.


" kenapa bisa mereka disini,yuda semakin penasaran.


" sudahlah,ceritanya panjang,kata Dea.


"apa kau tidak akan menceritakannya kepadaku? pungkas Yuda.


" nanti akan ku ceritakan, kata Dea.


*****


"apa kau bersedia mendonorkan darahmu,tanya Alfino.


" Tidak !


setengah berteriak seorang wanita parubaya berparas cantik nan modis muncul di depan pintu.


" aku tidak ingin darahnya mengalir ditubuh anakku, katanya dengan nada tinggi.


" nyonya.... sergah bu tety.


" honey, sergah pak anton pula.


" mas, kita bisa cari pendonor lain selain dari wanita ini, bu Risma masih meninggikan suaranya.


" tapi bu, nyonya Alika butuh donor secepatnya kalo tidak kami sangat terpaksa akan mencabut alat alat yang membantunya saat ini,ucap Dokter.


plak....


tamparan keras di terima dokter dari tangan yang masih terasa mulus.

__ADS_1


" beraninya kau bilang seperti itu, anakku sehat. dia baik baik saja, bu Risma semakin marah.


"honey,please... kata pak Anton menahan bu Risma.


"sudah.. ayo kita keluar, kata pak Anton memegang pundak bu Risma.


" lepaskan aku mas, aku belum selesai bicara, kata bu Risma sedikit memberontak.


" bu tety,pak Adi.... kalian jangan sampai melakukan semua ini, bu Risma menggenggam tangan bu tety sambil menatap kepada pak Adi.


" honey, ayo kita keluar,ajak pak Anton lagi.


bu Risma akhirnya mengikuti titah suaminya,keluar dari ruangan sambil terus menatap marah kepada Dea.


*****


" ayo kita pulang, ajak Yuda kepada Dea sambil mengenggam lembut tangannya.


Dea menatap yuda yang sudah berdiri di hadapannya, sebelum kemudian mengangguk.


" nek, kakek... ayo kita pergi, ajak Dea.


seketika Alfino mengangkat kepalanya,


" Tidak ! nenek sumiati,dan kakek Ramlan akan pulang, tapi kerumahku,sergah Alfino.


"mereka keluargaku, kata dea menghampiri alfino.


" nona, sebelum kau menunjukkan bukti kepadaku, aku tidak akan percaya, jawab Alfino.


Dea menghena nafas,kemudian menghembuskannya kasar.


" nek, kek. Dea pamit dulu ya, kata Dea mencium tangan kakek dan neneknya.


" hati hati ya ndok, kata mereka.


*****


bu Risma memghampiri kamar bayi, dengan mata yang berair ia berniat melihat cucunya.


" sayang , anakmu lucu lucu. jadi kamu harus kuat ya, gumam bu Risma sembari mengelus wajah si kembar yang tengah tertidur di ruang bayi.


" nyonya... bayinya akan kami mandikan ya, kata perawat.


" baik sus,saya akan membantu... setelah ini, saya akan membawanya kerumah,ungkap bu Risma.


" baik nyonya kami akan mempersiapkannya, kata suster.


****


"tidak ada honey, kita butuh cepat, tidak bisa menunggu ! pungkas pak anton bingung.


mereka mondar mandir di ruang tunggu,memikirkan apa rencana selanjutnya.


" om, tante... saya tidak bisa menunggu lagi, selain menerima donor dari wanita itu, kata Alfino setengah berteriak dari arah yang tidak terlalu dekat.


" tidak, aku tidak setuju ! memangnya siapa anda hah ! kata bu Risma.


" honey cukup ..sergah pak anton memotong perkataan bu Risma.


" nak, kita akan lakukan yang terbaik untuk Alika, kata pak anton menepuk pundak Alfino, Alfino melirik tangan yang berada di pundaknya kemudian ia tersenyum setelahnya.


*****


langit mulai gelap, Bu Risma dan pak Anton memutuskan pulang ke penginapan membawa si kembar.


sementara kakek Ramlan dan nenek sumiati diantar pulang oleh supir alfino kerumah Alfino.


berbeda dengan Alfino,ia rela tidur di sofa sepanjang menunggu keajaiban akan kesadaran Alika.


ia menunaikan solat di samping Alika yang tak sadarkan diri, berdoa untuk keselamatan Alika juga mengaji setelahnya.


" ya tuhan...dengan memberikan kesempatan hidup kepada Alika engkau telah mengasihani hamba ya lemah ini, curahannya dalam doa.


*****


jam masih menunjukkan jam 4.00 namun di jalanan sudah ramai orang baik yang berjualan di sepanjang jalan ataupun orang orang yang berkendara dan jalan kaki.


"tunggu tuan.... setengah berteriak leo mengejar langkah Marfin.


Marfin melebarkan langkahnya,tidak sabar ingin melihat keadaan wanita yang selama ini di rindukannya.


" atas nama Alika? tanya leo.


di jawab dengan lembut, keduanya segera menuju keruangan yang di maksud.


"jangan hukum aku dengan membawanya kembali padamu ya tuhan,

__ADS_1


aku telah lama tidak melihatnya tersenyum,


aku juga telah lama tidak melihatnya marah,


*tolong ya tuhan... jangan beri aku hukuman sebesar itu tuhan.


cekrek*....


marfin membuka pintu dengan pelan, menghela nafas panjang, mencoba mengembangkan senyum.


" tuan? apakah tuan baik baik saja? tanya Leo ketika melihat Marfin hampir terjatuh namun tangannya langsung menggapai ranjang.


" anda siapa ! Alfino yang terbangun kemudian dengan cepat menyingkirkan tangan Marfin yang akan menyentuh wajah Alika.


Marfin hanya tersenyum melihat kemarahan Alfino, ia mencoba bersikap tenang.


"apakah anda tuan alfino fernandes? tanya Marfin mengembangkan senyum.


"iya ... anda siapa? silahkan pergi, atau saya akan laporkan anda kepada polisi ! tegas Alfino.


"kau sudah menjaganya dengan baik, kau sudah membahagiakannya, kau sudah melihatnya tersenyum ?


aku sangat berterimakasih padamu tuan, selama ini engkau telah menjaga istriku, ungkap Marfin.


*seketika wajah Alfino berubah, geram, tangannya mengepal, ingin rasanya ia memukul orang yang telah menelantarkan Alika selama ini.


namun di fikirannya,ia tidak ingin membuat keadaan Alika menjadi semakin parah.


"bisa kita bicara di luar? kata Alfino menggerakkan kepalanya memberikan isyarat*.


*******


Mereka saling menatap, Diam tak berkata, namun dari mata, masing masing saling mengatakan sesuatu.


" kau ingin katakan sesuatu ? tanya Marfin.


"*kau tidak pantas menyebut dirimu sebagai suaminya ! kata Alfino.


"lakukan apa yang ingin kau lakukan, katakan apa yang ingin kau kataka , Marfin menawarkan.


Alfino menarik kerah baju Marfin menyenderkan tubuh Marfin di tembok, melihat majikannya di perlakukan seperti itu, leo ingin membantunya.


"apa ini tuan ! lepaskan, Leo setengah berteriak tegas.


"kau diam saja, ini bukan urusanmu,kata Marfin kepada leo.


kesal dengan ucapan majikannya,leo akhirnya meninggalkan keduanya.


satu tinjuan mendarat di tembok, tangan Alfino terluka, sementara Marfin masih menutup mata, pasrah menerima apapun perlakuan Alfino kepadanya.


" mengapa kau tidak memukulku, pukul disini.ia menujuk pipi kanan dan kiri, pukul disini, ia menunjuk perut, ayolah pukul aku dimana saja kau mau, kata Marfin tersenyum.


" ******** kau ! tepat tinjuan Alfino kali ini mengenai bibir bawah Marfin sehingga mengeluarkan sedikit darah.


" pukulan ini menyadarkan aku,akan banyaknya kesalahan yang telah aku perbuat, terimakasih Alfino, kata Marfin sambil menyentuh luka di bibirnya *kemudian pergi menuju ruangan Alika.


******


menyambut pagi, leo berjalan menelusuri trotoar bersama kumpulan orang yang sedang berlari pagi.


ia melirik disana ada makanan di tepi jalan, mungkin rasanya enak, perutnya lapar, sepanjang perjalanan Majikannya tidak memikirkan perut mereka,yang ada hanya fikiran ingin sampai ketempat.


" satu bu, kata leo.


"lengkap tuan? tanya seorang ibu penjual ber kerudung cokelat itu.


" memangnya kalo tidak lengkap,apa saja isinya? lengkapnya apa? tanya Leo polos.


" ini bakso tuan, ada sayur sama mie nya, jawab ibu ibu itu.


" oh yasudah, pake semuanya bu,kata Leo kemudian menoleh kanan kiri dan duduk di kursi kayu panjang yang di sediakan.


*****


pertemuan anak dan orang tua,akhirnya menyisakan haru.


Rasanya ingin sekali marah, kedua orang tuanya bahkan tau di mana isterinya, namun mereka berusaha menutupinya.


dan saat isterinya dalam keadaan kritis seperti ini, mereka terlebih dulu sudah ada di samping Alika,tanpa berusaha keras memberitahunya.


namun siapa yang patut di salahkan? selain dirinya sendiri, ingin berdamai dengan masalalu Marfin berusaha menurunkan egonya, tenang dan selalu berusaha tersenyum.


" nak, kita harus menemukan donor darah itu hari ini juga, kata bu Risma kepada Marfin.


mereka sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menemukan pendonor yang bergolongan sama dengan Alika, namun nihil, langka memang. Dokterpun hampir putus asa setelah tiga hari Alika tidak sadarkan diri, tidak pula ada yang bisa mendonorkan darah untuknya.


" Haruskah aku memohon pada wanita itu,untuk kesembuhan wanitaku.

__ADS_1


haruskah aku merendahkan diriku di hadapannya?


Marfin prustasi, disisi lain ia yakin bisa mendapatkan donor darah dari pendonor lain,namun kesembuhan Alika harus menjadi prioritas,ia membutuhkan darah secepatnya bukan menunggu hanya karena ego.


__ADS_2