
Happy reading ❤️
"Kelahiran anggota baru keluarga Mulia menjadi bahan berita yang hangat dimana-mana," Ucap salah satu host acara gossip di televisi.
"Ya, satu lagi bayi Sultan lahir di negeri ini." timpal yang lainnya dengan antusias.
Pagi ini, hampir semua karyawati dilantai Andre tengah menyaksikan acara gosip di televisi yang memberitakan kelahiran bayi Sabina tadi malam.
Banyak sekali ucapan dan juga hadiah-hadiah yang dikirimkan untuk sang bayi yang baru berusia satu hari itu.
Saat ini di layar televisi tengah menayangkan gambar Gibran yang sedang keluar dari pintu rumah sakit dengan senyuman terkembang di wajah tampannya. Binar mata bahagia tak bisa ia sembunyikan, wajahnya yang biasa berekspresi dingin kini tidak lagi. Bahkan Gibran melambaikan tangannya pada beberapa wartawan yang sedang meliput, ini adalah hal yang amat sangat jarang ia lakukan.
Tak lama ayah Sabina yang merupakan seorang yang sangat disegani juga keluar dari pintu rumah sakit dan berjalan beriringan dengan menantunya disusul oleh kakak Sabina yang berjalan di belakang mereka.
"Lo inget gak dulu, pas Sabina sama dokter itu menikah semuanya kelihatan tegang tapi sekarang kayanya kompak banget." Ucap salah satu karyawati yang mengomentari tayangan di televisi.
"Bukannya mereka menikah karena terpaksa ya ? tapi kok bisa punya anak sih ? bukannya gak saling cinta ya ?" tanya yang lainnya.
"Padahal gue suka banget ma dokter Gibran, sampai gue ikuti laman Instagramnya cuma biar bisa lihat dia doang" Ucap salah satunya lagi dengan suara yang terdengar kecewa.
"Beruntung banget dia langsung dapat istri dari keluarga Mulia."
"Lagian pak Andre nekad banget ya ninggalin acara pernikahannya sendiri, sekarang dia gak dapat apa-apa. Cewek yang lari ma dia aja entah kemana."
"Ya gitu lah kalau cinta karena naf*u."
Beberapa karyawati yang masih berkumpul itu mengobrol saling bersahutan membicarakan mantan bos mereka, Alya pun ada disana namun seperti bisa ia diam tak menanggapi.
Sejak Andre melarikan diri di hari pernikahannya dengan wanita lain membuat semua orang di kantornya tahu bagaimana ia sebenarnya.
Kini sudah menjadi rahasia umum jika Andre mempunyai bakat alam sebagai lelaki brengs*k. Hingga ia sering menjadi bahan pembicaraan seperti sekarang ini.
Beruntung bagi Andre karena tak ada seorangpun yang tahu kenyataan jika Amanda dan bayi yang ternyata darah dagingnya sendiri telah meninggal. Jika saja mereka tahu, pasti sudah habis Andre menjadi bahan cacian.
"Ehem !" Andre berdehem untuk menyadarkan para pegawainya jika ia telah hadir disana. Tentu saja kehadiran Andre sangat mengejutkan mereka bahkan yang tadi membicarakan Andre menutup mulutnya dengan kedua tangan karena merasa bersalah dengan apa yang telah ia ucapkan.
"Oke, waktunya mulai bekerja." ucap Andre dengan nada suara dingin dan mereka yang tengah berkumpul di hadapan televisi langsung membubarkan diri.
Andre sadar jika dirinya menjadi bahan pembicaraan, namun keberuntungan masih berpihak pada para pegawainya karena Andre tidak tahu persis dengan apa yang mereka bicarakan.
__ADS_1
"Alya, saya minta laporan yang kemarin." ucap Andre sambil lalu dan tanpa banyak bicara Alya pun mengiyakan.
Sudah berlalu 6 minggu sejak kepergian anaknya, sudah selama itu juga Andre menyimpan rapat rahasianya. Di mata orang lain ia terlihat baik-baik saja namun tak ada seorang pun yang tahu jika ia sering terbangun di tengah malam dengan matanya yang merah dan basah. Rasa bersalah masih menggerogotinya dari dalam.
Sudah berbulan-bulan juga ia tak melakukan hubungan terlarang, walaupun sebagai lelaki normal yang sangat aktif dalam kegiatan panas ia sangat menginginkannya.
Para wanita yang dulu menghangatkan ranjangnya masih saja mencoba menghubungi, tapi Andre sadar dengan penyakit yang bersarang di tubuhnya belum juga hilang sehingga ia takut untuk melakukan itu.
Dan kepergian anaknya merupakan pukulan terberat dalam hidupnya saat ini, entah mengapa itu sangat menghantui pikirannya. Mungkin karena Andre melihat secara langsung bagaimana bayi tak berdosa itu meregang nyawa.
Alya datang dengan setumpuk kertas dan meletakkannya di atas meja. Andre mengangkat wajahnya dan tatapan mata mereka bertemu.
"Ini sudah semuanya," ucap Alya singkat.
"Beli kado untuk bayi yang baru dilahirkan dimana ya ?" alih-alih membicarakan pekerjaan, Andre lebih memilih bertanya perihal lain.
"Di mall banyak," jawab Alya singkat.
"Yang kualitasnya sangat bagus." timpal Andre.
"Hmmm, banyak pilihan disana. Selain itu aku gak tahu karena tak pernah membeli kebutuhan bayi dengan harga yang mahal."
Alya menatap Andre dengan pandangan yang tak bisa diartikan, ia tahu lelaki yang kini menjadi atasannya itu berniat memberikan hadiah untuk Sabina mantan kekasihnya yang baru saja melahirkan.
"Maaf, aku beneran gak tahu. Semuanya sudah aku kerjakan jika ada kekurangan katakan saja." ucap Alya sebelum ia pergi meninggalkan ruangan Andre yang sangat sederhana itu.
Kini Andre menempati ruangan khusus untuk dirinya sendiri walaupun itu sangat sederhana. Karena kerja kerasnya selama beberapa bulan terakhir ini, kini ia menjadi grup head bagian marketing dan Alya berada di bawahnya.
"Seperti yang telah kamu sarankan dulu, aku udah minta maaf sama Sabina dan relakan dia untuk hidup bahagia. Dan iya ternyata dia sudah hidup bahagia dengan Gibran. Oh iya, aku juga udah minta maaf sama Gibran." ucap Andre sebelum Alya menghilang dari balik pintu.
Alya menghentikan langkahnya, dan menolehkan kepala. Seperti biasa ia tak banyak bicara, yang dirinya lakukan hanya tersenyum penuh arti pada Andre.
"Semoga yang kamu lakukan dapat meringankan beban hidupmu. Kurasa kamu telah melakukan hal yang benar." ucap Alya pada akhirnya.
"Terimakasih," ucap Andre sungguh-sungguh dan Alya menganggukkan kepalanya kemudian pergi meninggalkan ruangan.
Yang Alya ucapkan benar adanya. Kini Andre merasa. beban dalam hatinya telah berkurang banyak. Ia telah rela melepaskan masa lalunya yaitu Sabina dan bisa kembali berhubungan dengan Gibran sahabatnya walaupun tak sedekat dulu.
Kini hanya penyakit dan kepergian anaknya yang masih menghantui. Andre menyenderkan tubuhnya, menarik nafas dalam dan mulai menepis segala pikiran buruk. Ia mulai berkonsentrasi untuk bekerja.
__ADS_1
***
Menjelang hari seorang Andreas Tama telah mengijakkan kakinya di mall ternama di kota Jakarta. Ia hendak membeli kado untuk bayi laki-laki anak Gibran dan Sabina.
Ia mengikuti saran Alya, karena ia sendiri pun tak memiliki pengalaman untuk membeli keperluan bayi. Ingin rasanya Andre meminta tolong pada Alya untuk menemani tapi ia tahu jika wanita itu ditunggu anaknya di rumah sehingga Andre mengurungkan niatnya.
"Baby's World." Andre membaca nama toko perlengkapan bayi yang cukup besar itu dan mulai memasukinya.
'Deg !' ada rasa lain yang memasuki hatinya, tiba-tiba saja ia merasa lebih tegang dari sebelumnya. Membuat Andre diam terpaku tepat di depan pintu masuk hingga seorang pelayan datang menghampirinya.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak ?"
Pertanyaan pelayan itu membuyarkan Andre dari lamunannya.
"Mmm....saya mencari kado untuk bayi laki-laki yang baru saja lahir." ucap Andre dan pelayan itu pun menunjukkan tempat di mana Andre dapat memilih kado yang ia suka.
Andre berjalan menelusuri setiap rak yang menyajikan keperluan bayi. Ia memilih beberapa potong baju berwarna biru dan diantaranya ada yang bermodelkan baju pelaut. Selimut bayi berwarna biru dan beberapa benda lainnya yang berwarna senanda.
Setelah selesai dengan semua pilihannya Andre pun membayarnya di kasir, bahkan ia membeli sebuah balon yang bertuliskan 'welcome baby boy'.
"Terimakasih," ucap Andre setelah pihak toko menyelesaikan kado miliknya dan ia pun ingin segera pergi meninggalkan tempat itu.
Langkah Andre berhenti begitu saja ketika ia melihat sebuah boneka beruang berwarna merah muda. Meksipun ukurannya kecil namun entah kenapa boneka itu menyita perhatiannya. Tanpa banyak berpikir Andre mengambil boneka beruang itu dan membayarnya.
***
Hari hampir gelap ketika Andre tiba di suatu tempat yang tak pernah ia bayangkan untuk didatangi. Tapi hatinya yang membawa ia kemari.
Dengan boneka beruang merah muda ditangannya Andre keluar dari mobil dan berjalan menuju tempat yang baru ia datangi 1 kali beberapa Minggu yang lalu.
Matanya berkaca-kaca menahan tangis, hatinya kembali terasa ngilu mengingat kejadian kelam beberapa waktu lalu.
Andre berjongkok di hadapan gundukan tanah kecil dan menyimpan boneka beruang itu disana.
"Maaf, Papa baru datang lagi." ucap Andre dengan menatap nanar batu nisan anaknya.
to be continued ❤️
thanks for reading 😘
__ADS_1
Jum'at berkah.. semoga semua para reader mendapatkan keberkahan di hari ini. aamiin.