
Happy reading ❤️
"Aku selalu disini menunggumu pulang, aku tak pernah pergi kemanapun." Jawab Sabina lirih.
Perkataan Sabina membuat Gibran sadar, bukan jarak yang membuat mereka 'terpisah' tapi 'keheningan' dan rahasia kecil yang Gibran sembunyikan yang menjadikan mereka seperti itu.
Gibran terdiam untuk beberapa saat, yang ia lakukan hanya membelai rambut panjang Sabina dengan lembut. Matanya menatap kosong langit-langit di atasnya.
"Maafkan aku, Sayang. Dan kurasa kita harus bicara." Bisik Gibran lirih namun tak ada tanggapan dari Sabina. Ternyata istrinya itu telah jatuh tertidur dalam pelukannya. Gibran memejamkan mata, seraya mengeratkan pelukan pada tubuh Sabina. Sungguh ia merasa takut kehilangan wanita yang sedang berada dalam dekapannya ini.
***
Pagi harinya Sabina membangunkan suaminya seperti biasa. Dan seperti semalam, Gibran masih berusaha mendekatkan diri pada Sabina. Entah berapa kali Gibran mencuri kecupan dari bibir istrinya dan itu membuat Sabina terheran juga membuat perasaannya tak menentu.
Rasa geli menggelitik perut dan dada berdebar-debar Sabina rasakan setiap Gibran melakukan itu. Ia merasa begitu dicintai namun di sisi lain juga merasa cemas karena Gibran tak biasa berlaku seperti itu membuat Sabina semakin menaruh rasa curiga padanya.
Sudah 3 hari berlalu dan Gibran masih melakukan hal yang sama, ia begitu menempel pada Sabina bahkan setiap malam selalu meminta haknya sebagai suami dan Sabina tak pernah sekalipun menolaknya.
"Kamu ini kenapa ?" Tanya Sabina ketika keduanya terbaring di atas ranjang karena kelelahan setelah kegiatan panas yang baru saja selesai dilaksanakan.
"Hmm ?" Gibran balik bertanya.
"Kamu selalu mengatakan merindukan aku, padahal kita selalu bertemu setiap hari dan aku tak pergi kemanapun." Jawab Sabina tenang dan Gibran hanya menatap Sabina tanpa berbicara. Ia kembali ingat akan rahasia kecil dan kebohongan yang beberapa kali ia lakukan karena Amanda.
Alih-alih menjawab pertanyaan Sabina, Gibran lebih memilih untuk bangkit dan mengais pakaiannya yang berserakan di atas lantai. Dengan langkah gontai dan tubuhnya yang polos tanpa sehelai benangpun Gibran berjalan menuju kamar mandi dan membersihkan diri.
Meninggalkan Sabina yang terbaring diatas ranjang dengan pikiran buruk yang terus menghampirinya. Setetes air bening turun di sudut matanya karena pikirannya tentang Gibran.
__ADS_1
"Ayo aku bantu untuk membersihkan dirimu, setelah itu kita harus bicara." Ucap Gibran lembut yang tanpa Sabina sadari telah duduk di sebelahnya.
Secara refleks Sabina menepis tangan Gibran dari lengannya. Dengan susah payah ia berusaha bangkit karena perutnya yang membesar membuatnya sedikit sulit bergerak.
"Bina !" Protes Gibran, yang tak suka akan penolakan istrinya itu.
"Aku bisa sendiri." Kesal Sabina seraya memunguti pakaiannya yang tadi Gibran lucuti.
"Binaa," lirih Gibran dan kembali menahan lengan Sabina untuk pergi namun seperti sebelumnya Sabina pun menepisnya lagi.
"Kita harus bicara," ucap Gibran mengehentikan langkah istrinya itu.
"Ya sepertinya begitu, kita memang harus bicara" jawab Sabina seraya mengusap pipinya yang basah tanpa menolehkan kepala.
Cukup lama Sabina membersihkan diri dan dengan sabar Gibran menunggunya duduk di atas ranjang. kepalanya tertunduk memikirkan cara terbaik bagaimana mengatakan pada istrinya itu perihal Amanda yang masih menemuinya.
"Duduklah," Gibran menepuk tempat kosong di sebelahnya agar Sabina duduk di sana. Tapi Sabina lebih memilih sebuah kursi yang tak jauh letaknya dari Gibran berada.
"Maaf..." Sebuah kata yang pertama kali Gibran ucapkan dan Sabina hanya diam menatap suaminya dengan raut wajah penuh tanda tanya.
Sebisa mungkin Sabina bersikap tenang padahal dadanya telah bergemuruh hebat, dan matanya sudah siap untuk menjatuhkan air bening. Perasaannya mengatakan jika Gibran telah melakukan sesuatu yang sangat tak disukainya.
"Untuk ?" Tanya Sabina pelan namun Gibran masih bisa mendengarnya dengan jelas.
"Untuk menyembunyikan beberapa hal darimu," jawab Gibran seraya menarik nafas dengan berat.
"Sudah kuduga," Sabina tersenyum muak ketika mengucapkannya.
__ADS_1
"Tidak seperti dugaanmu, Bina." Sangkah Gibran membela diri.
"Memangnya aku menduga tentang apa ?" Sabina balik bertanya dan Gibran merasa terjebak seketika.
"Entahlah, kamu pasti berpikiran buruk tentang aku. Karena aku tahu dari sikapmu yang dingin belakangan ini. Dan itu sangat menyiksaku, Bina. Karena itulah aku selalu mengatakan jika aku merindukan kamu ! Aku rindu kamu yang hangat seperti dulu bukan yang bersikap dingin seperti sekarang ini." Ledak Gibran, Ia tak bisa lagi menahan perasaan yang selama ini ia pendam dalam dadanya.
"Tanyakan pada dirimu sendiri, Gibran ! Tanyakan kenapa aku bersikap seperti ini !" Balas Sabina tak ingin kalah, bahkan air matanya telah jatuh membasahi pipi tanpa ia minta.
"Aku yakin kamu telah menyembunyikan sesuatu yang bersangkutan dengan Amanda !" Ucap Sabina lagi dengan suara meninggi dan wajah Gibran yang terkejut cukup sebagai jawaban baginya. Sabina pun tersenyum muak sembari mengusap air mata.
"Benar bukan dugaanku ?" Tanya Sabina lirih.
"Tapi tidak seperti itu, Bina."
"Aku tanya, benar bukan dugaanku ?" Sabina mengulang pertanyaannya.
"I... iya, Bina. Maaf..." jawab Gibran penuh sesal.
"Tapi sumpah demi Tuhan, aku tak melakukan hal gila di belakangmu. Aku tak berkhianat, Bina. Seperti yang sudah aku bilang sebelumnya aku hanya membantu Amanda yang sedang sakit. Dan selama ini aku masih berhubungan dengannya sebatas hubungan antara dokter dan pasien. Maaf karena aku masih bertemu dengannya" sesal Gibran lagi.
"Kenapa kamu begitu peduli padanya ? Aku gak ngerti sama kamu Gibran... Amanda telah menyakiti kamu, menyakiti kita berdua." Tanya Sabina lagi dengan air mata yang sudah berhamburan.
"Hanya karena dia hamil, aku langsung ingat anak kita Bina. Sebagai manusia aku hanya ingin menolong bayi tak berdosa dalam kandungannya. Hanya karena itu, aku berani bersumpah." Gibran beralasan.
"Kenapa kamu begitu peduli ? Lelaki yang seharusnya menjadi ayahnya saja tak peduli. Apa karena kamu masih mempunyai perasaan cinta pada Amanda ? Jika iya kamu bisa pergi dengannya kapan saja. Aku sadar kok, dari awal kamu tidak menginginkan pernikahan ini. Mungkin ini saatnya bagi kita untuk saling melepaskan seperti komitmen awal pernikahan dulu." Lirih Sabina dan membuat Gibran terkejut luar biasa.
To be continued ❤️
__ADS_1