
Happy reading ❤️
Tak lama setelah Andre berdiri, ponselnya bergetar kembali dan terdapat sebuah pesan pada layar pop up yang dapat Alya baca dengan jelas.
"Kak, kamu bisa kembali ke sini kapanpun dan menjabat bagian apapun yang kakak mau. Asalkan kakak datang seorang diri."
Tanpa disengaja Alya membaca pesan itu, seketika saja hatinya terasa ngilu. Bukan inginnya jatuh cinta dan dicintai oleh seorang lelaki seperti Andreas Tama.
Alya menengadahkan kepalanya untuk menahan air bening yang telah bersiap turun dari pelupuk mata. Ia tak ingin Andre melihatnya menangis seperti ini.
"Kamu kenapa ?" tanya Andre terheran.
"Mmm, mataku kemasukkan debu kayanya." Jawab Alya tenang walaupun ia sedang berbohong saat ini.
"Sini aku lihat," Andre pun segera berdiri dan memperhatikan mata Alya yang mengembun. Ia meniup dengan pelan kedua mata istrinya dan Alya tertawa karenanya. Ia tertawa karena Andre yang percaya ucapannya.
"Kamu ngerjain aku ya ?" Tanya Andre dengan wajahnya yang sengaja dibuat kesal.
"Nggak," jawab Alya seraya mengusap pipinya yang sedikit basah.
Andre sadar jika Alya tengah bersusah payah menahan tangis namun ia tak tahu apa yang sedang istrinya risaukan saat ini.
"Kenapa ?" tanya Andre seraya mengapit dengan lembut wajah Alya dengan kedua telapak tangannya.
"Nothing, Tak ada apa-apa," jawab Alya seraya tersenyum. Ia tak mau membebani suaminya dengan perasaan sedih yang sedang dirinya rasakan.
Andre sudah sangat tertekan, dan Alya tak mau menambahkan beban perasaan pada suaminya itu.
"Ah baiklah, aku akan tunggu sampai kamu mau bercerita sendiri. Sayang, aku tak tahu dengan apa yang kamu risaukan saat ini. Tapi satu yang pasti yaitu aku sangat mencintaimu. Kita akan lewati ini berdua. Semua akan baik-baik saja selama kita selalu bersama, hanya aku dan kamu." ucap Andre seraya menatap mata Alya dengan penuh perasaan cinta.
"Iya, kita akan lalui ini bersama. Aku percaya padamu." timpal Alya. Hatinya kini merasa lega karena mendengar kata cinta yang baru saja Andre ucapkan.
"Aku beruntung banget ketemu kamu. Setelah banyak hal yang aku lalui, hanya kamu yang masih membuatku tetap waras." ungkap Andre sungguh-sungguh.
__ADS_1
"Aku juga beruntung ketemu kamu, hingga bisa merasakan kembali bagaimana rasanya jatuh cinta padahal hal itu tak pernah sekalipun terlintas dalam benakku." Timpal Alya mengungkapkan perasaannya.
"Aku harus pergi untuk coba cari kerja lagi, walaupun sebenarnya sih pengen di rumah aja sama kamu."
"Ayo semangat, aku akan masakin makanan kesukaan kamu waktu pulang nanti."
Tak lama ponsel yang Andre letakan di atas meja kembali berbunyi dan itu membuat Andre juga Alya menolehkan kepala ke arah yang sama.
Dada keduanya sama-sama berdebar lebih kencang ketika ponsel itu berbunyi.
"Ah, aku pergi sekarang." ucap Andre seraya memasukkan ponselnya kedalam saku dengan terlebih dahulu menolak panggilan masuk di layarnya.
Alya mengantarkan kepergian Andre hingga pintu dan suaminya itu memberikan kecupan di dahi dengan mesra.
Andre masih memiliki kendaraan dan uang tabungan hasil dari penjualan beberapa barang mewah miliknya termasuk mobil Mercedes Benz yang dulu ia belikan untuk Amanda. Dari uang itulah ia bisa pindah ke kota yang lain dan bertahan hidup sejauh ini.
Ponselnya kembali berbunyi dan ia tahu jika adiknya yang menghubungi. Dengan berdecak kesal Andre pun akhirnya menerima panggilan itu.
"Halo, jangan ditutup dulu." ucap adiknya di ujung telepon.
"Kak, perusahaan membutuhkanmu. Semua menjadi tak terkendali semenjak mereka tahu kamu meninggalkan perusahaan. Rasa percaya para investor menurun bahkan beberapa dari mereka berniat untuk membatalkan kerjasama." ucap sang adik panik.
Ya meskipun untuk beberapa waktu terakhir Andre tak menjabat sebagai pimpinan namun ia lah yang yang menjadi pengendali di belakang layar. Ia yang mencari investor dan meyakinkan mereka untuk melakukan kerja sama.
Nama Andreas Tama cukup terkenal dalam bidang usaha dan dialah yang membawa nama Tama dalam puncak keberhasilan.
Andre berpikir cukup lama hingga ia akhirnya menjawab pernyataan adiknya itu, "maaf, aku gak bisa. Aku udah punya kehidupan sendiri dengan wanita yang tak bisa kalian terima kehadirannya." jawab Andre gusar.
Hanya ayahnya yang bisa menerima kehadiran Alya namun hasutan adik juga ibunya membuat ayah Andre kalah.
Bagaimanapun bagi ibunya Andre, Sabina adalah wanita yang menjadi tolak ukur sebagai menantu keluarga Tama.
"Kak, aku tahu kalian hidup menderita. Tapi jika kamu kembali ke Jakarta tanpanya, kamu bisa menduduki kembali kursi pimpinan."
__ADS_1
"Kenapa kalian begitu sulit menerima Alya ?" tanya Andre. Emosinya tak tertahankan lagi.
"Karena kita tak mau citra keluarga Tama semakin terpuruk." jawab adiknya di seberang sana.
Andre yang mendengar itu merasakan kesal yang teramat sangat. Ia segera mematikan ponselnya dan tak mau lagi menjawab panggilan sang adik yang berbunyi berkali -kali. Dirinya telah memutuskan jika Alya adalah segala-galanya.
***
"Gibran, makan dulu." ucap ibunya pada Gibran yang saat ini sedang mengusap halus rambut anaknya yang tertidur di atas pangkuannya.
"Aku belum lapar, Bu." jawab Gibran.
Sudah berlalu 5 jam semenjak Sabina memasuki ruang operasi dan selama itu juga hati Gibran merasa tak karuan membayangkan istrinya terbaring tak berdaya di atas meja operasi. Yang ia lakukan hanya melantunkan banyak do'a. Sungguh ini adalah hal yang menguras rasa emosionalnya.
Ayah Sabina terlihat lebih tenang walaupun dalam hatinya ia juga merasakan resah yang sama. Ini bukanlah operasi Sabina yang pertama kali hingga ia memiliki pengalaman bagaimana menyikapinya sedangkan bagi Gibran ini adalah yang pertama hingga rasa cemas dalam wajahnya terlihat begitu kentara.
"Dia akan baik-baik saja, Sabina adalah wanita yang kuat. Sebaiknya kamu makan, jaga kesehatan. karena kamu nanti yang akan menjaga Sabina setelah ia selesai di operasi." bujuk ayah mertuanya.
Dalam benaknya Gibran berpikir, bagaimana bisa ia makan jika hati dan pikirannya hanya tertuju pada Sabina seorang.
"Baik ayah," jawab Gibran terpaksa mengiyakan. Dengan berat hati ia pun meninggalkan ruang tunggu operasi untuk mencari sesuatu yang bisa ia makan.
Tepat seperti dugaannya, makanan apapun yang ia makan tak terasa nikmat karena rasa cemas yang terus menyelimuti dirinya.
Yang Gibran inginkan saat ini adalah segera menemui istrinya dan memberikannya ciuman yang bertubi-tubi, mengatakan pada Sabina jika ia sangat mencintainya.
***
Waktu berjalan terasa begitu lambat bagi Gibran, saat ini jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Walaupun lelah ia tetap menunggu sang istri tepat di depan pintu ruang operasi.
Setelah lama menunggu akhirnya Dokter Go membuka pintu ruang operasi itu dengan senyuman di wajahnya yang lelah.
Gibran sontak berdiri dan berjalan menuju ke arahnya diikuti oleh ayah Sabina. "Bagaimana istri saya ?" tanya Gibran yang masih diliputi rasa cemas.
__ADS_1
"Semua berjalan baik dan lebih cepat dari waktu yang ditentukan. Operasinya berhasil." jawab dokter Go tanpa ragu.
thanks for reading ❤️