Pernikahan Yang Tak Diinginkan

Pernikahan Yang Tak Diinginkan
Perasaan Hancur


__ADS_3

Happy reading ❤️


Gibran duduk di kursinya dan mengeluarkan sebuah amplop putih bertuliskan nama laboratorium ternama dan masih bersegel menandakan surat itu belum pernah di buka dari dalam tas kerjanya dan memberikannya langsung pada Andre.


Andre meraih amplop putih itu dengan tangan gemetar dan mulai membukanya.


Hanya membuka sebuah amplop pun begitu sulitnya bagi Andre saat ini. "Mau gue bantu ?" tanya Gibran, namun andre dengan tegas menolaknya.


2 lembar kertas yang menunjukkan hasil tes laboratorium telah dalam genggaman tangan Andre. Rahangnya mengeras, alisnya berkerut dan nafasnya memburu.


"Its not true ! tell me i've been lied to." ( ini tidak benar, katakan jika aku telah dibohongi) gusar Andre seraya menjatuhkan 2 lembar kertas itu ke atas meja praktek Gibran.


Andre menundukkan kepala dengan 2 tangan yang menopangnya. "Please, tell me its not true. Its not true..." ( Ku mohon katakan jika ini tidak benar) lirih Andre berulang kali dan terdengar begitu pilu.


"Ndre ?" tanya Gibran perlahan, ia sendiri kebingungan melihat Andre yang bicara meracau.


"Di... dia... a... anak gue, tapi bagaimana itu bisa terjadi ?? Gue selalu pakai pengaman." Tanya Andre dengan wajahnya yang terlihat linglung.


"Lo yakin selalu pakai pengaman ?" tanya Gibran dan Andre menganggukkan kepalanya dengan mantap.


"Lo yakin ?" tanya Gibran lagi.


Andre menyenderkan tubuhnya ke sandaran kursi dan meremas rambutnya dengan kedua tangan seraya bergumam lirih.


"Aaahhhh, shiitttt !!!" makinya frustasi.


Andre ingat ketika ia pulang dari Surabaya dan mengetahui jika Amanda tidur dengan lelaki lain membuatnya naik pitam. Beberapa kali ia memaksakan kehendaknya pada Amanda tanpa menggunakan pengaman dan menumpahkan cairan tubuhnya dalam diri Amanda yang menangis. Ia melakukan itu sebagai hukuman atas pengkhianatan yang wanita itu lakukan padanya.


Ia ingat amarah dan rasa cemburu membutakan hatinya hingga ia memperlakukan Amanda layaknya budak diatas ranjang. Tak cukup dengan itu, Andre juga membawa beberapa orang wanita untuk ditiduri ketika Amanda masih tinggal di apartemennya.


"Apa ini hasilnya valid ?" tanya Andre meyakinkan.


"Tentu saja, ini laboratorium yang kredibel." jawab Gibran dengan yakinnya.


"Di... Dia anak gue. Aarrrrgggghhhhh !!"


Terbayang dengan jelas di kepala Andre bagaimana bayi mungil tak berdaya dan tak berdosa itu berusaha bertahan hidup dengan susah payah dan tak lama setelah kedatangannya, bayi tak berdosa itu pergi untuk selamanya seolah menunggu dirinya datang untuk bertemu dan berpisah dalam satu kesempatan saja.


"Di.. Dia bertahan sebentar hanya untuk menunggu kedatangan gue." lirih Andre terbata.

__ADS_1


Gibran menarik nafas dalam, ia pun tak bisa membayangkan bagaimana perasaan Andre saat ini. Tak ada satu katapun yang mampu Gibran ucapkan untuk temannya itu.


"Gue manusia paling jahat." ucap Andre menyalahkan dirinya sendiri.


"Gue gak tahu harus ngomong apa, tapi semuanya telah terjadi. Lo harus bisa hadapi ini semua dan bersyukurlah karena Tuhan masih kasih lo kesempatan untuk berubah." ucap Gibran berusaha menenangkan.


"Lo udah tepatin janji, dia udah bahagia di surga." lanjut Gibran.


Apa yang Gibran ucapkan semakin membuat Andre merasa pilu.


"Lihat gue..." gumam Andre lirih.


"Gue ini pendosa, gak mungkin gue bisa ketemu dia lagi." Lanjut Andre dengan nada suara frustasi.


Gibran tak bicara lagi, ia membiarkan Andre untuk meluapkan emosinya.


Sebenarnya Andre bukanlah lelaki yang begitu menyukai anak-anak namun kehilangan buah hatinya sendiri dengan cara yang menyedihkan membuatnya merasakan sesuatu yang amat menyesakkan dada.


"Udah takdirnya begini, lo harus kuat. Tuhan lebih sayang anak Lo. Kita semua tahu kondisinya seperti apa, jika Tuhan memberikan umur yang panjang pun dia akan menderita karena penyakitnya."


Andre langsung teringat kenyataannya saat ini. Penyakit memalukan dan cukup berbahaya ini masih bersarang dalam tubuhnya. Entah dirinya atau Amanda yang menularkan tapi penyakit ini bagai kutukan baginya.


Andre mendengarkan ucapan Gibran dengan seksama. Apa yang diucapkan oleh Gibran memang benar adanya tapi wanita mana yang mau dengannya ? Dirinya pun merasa jijik dengan tubuhnya sendiri.


Seorang suster yang menjadi asisten Gibran hari ini memasuki ruangan dan mengatakan jika antrian pasien telah cukup panjang. Seketika Andre sadar jika ia telah terlalu lama berada dalam ruangan Gibran.


Masih dengan tangannya yang gemetar dan perasaannya yang hancur, Andre memasukkan kembali 2 lembar kertas itu ke dalam amplop putih dan ia pun bangkit dari tempat duduknya.


"Andre, yang bisa bikin lo sembuh adalah semangat dari diri Lo sendiri." ucap Gibran sebelum Andre pergi meninggalkan ruang prakteknya.


Andre menolehkan kepalanya dan mengangguk pada Gibran. Saat ini ia tak bisa memikirkan apapun selain rasa bersalah yang mulai menghantuinya.


***


Hari masih pagi, tapi Andre tak sanggup untuk melaluinya. Ia duduk di dalam mobil dan memikirkan semua.


"Andai saja waktu itu aku menyelesaikan masalah ini baik-baik dengan Amanda tentunya hal ini tak akan pernah terjadi. Seharusnya aku tak membalas perbuatan Amanda dengan melakukan hal yang sama gilanya tapi seharusnya aku membicarakannya secara baik tentunya hubungan kita tak akan berakhir dengan tragis." batin Andre dalam hatinya.


Andre sadar jika rasa cemburunya pada Amanda menandakan ia pernah mencintai wanita itu walaupun hanya sebentar saja karena rasa kecewa mengalahkan rasa cintanya.

__ADS_1


Amanda memang seorang pendosa, begitupun dirinya. Seandainya saja waktu itu ia mengajak Amanda untuk berubah dan memaafkan segala kesalahannya tentunya hari ini keduanya akan tetap bersama dan anak mereka mungkin akan terselamatkan.


"Aaarrggghhhhh." Geram Andre seraya memukuli setir mobilnya frustasi.


***


Malam harinya Andre tiba di rumah, sang ibu telah menunggunya di ruang tamu dengan wajah tak bersahabat


"Dari mana saja kamu seharian ini, huh ? Apa kamu bersenang-senang lagi dengan para wanita penghibur ? hingga tak masuk kantor." tanya ibunya dengan suara meninggi.


Andre yang masih dalam keadaan hancur tak terima dengan apa yang ibunya tuduhkan padanya. Tanpa banyak bicara, ia menyerahkan amplop putih itu pada sang ibu.


"Apa ini ?" tanya ibunya dengan raut wajah tak suka.


"Bukalah." jawab Andre.


Ibu Andre membuka amplop itu dan membacanya. hening beberapa saat hingga akhirnya ia berbicara.


"Syukurlah dia meninggal jadi kita tidak usah malu untuk mengakui dia sebagai seorang keluarga Tama."


"Mama !" teriak Andre penuh emosi.


"Apa yang mama ucapkan benar, Andre. Dia hanya anak harammu dengan seorang pelac*r. Apa kamu pikir kami akan mengakuinya ? tentu tidak. Jika dia hidup pun aku tak sudi menganggapnya sebagai cucu."


"Aku yang berdosa, Ma. Dia tidak." jawab Andre dengan menahan rasa sakit di dadanya.


"Aku tak peduli, Dia bukanlah anggota keluarga Tama dan kamu jangan berlebihan meratapi kepergiannya dan mulai saat ini mama larang kamu untuk membahasnya lagi. Ini adalah terakhir bagi kita membaca anak harammu."


"Mama !!!"


"Kamu akan menikah dengan perempuan baik dan memiliki anak lagi. Jadi jangan kamu pikirkan dia yang sudah pergi."


Apa yang Ibunya katakan memang benar namun Andre merasa tak terima.


Bayangan putri kecilnya ketika meregang nyawa selalu teringat jelas dalam kepalanya dan itu membuat perasaan Andre sangat hancur. Ia tahu setelah ini hidupnya tak akan mudah lagi untuk dilalui.


to be continued ❤️


thanks for reading 😘

__ADS_1


__ADS_2