
Happy reading ❤️
"Cukup Bina !!!" Hardik Gibran seraya berdiri membuat Sabina terdiam seketika karena terkejut. Baru kali ini Gibran membentaknya dengan suara keras, sontak saja hatinya kembali terasa sakit.
"Aku tidak memiliki perasaan apapun padanya ! Apa kamu gak sadar ? Aku sudah jatuh cinta padamu, Bina. Bahkan aku yang lebih dahulu mengakui perasaanku sama kamu dan kamu membutuhkan waktu lama untuk membalasnya tapi aku sabar menunggu. Tahukah kamu Bina ? selama ini aku tersiksa menyembunyikan hal ini dari kamu, karena demi Tuhan aku sangat takut kamu tinggalkan. Aku sangat mencintaimu, Bina. Hiingga sangat takut kehilanganmu." Jelas Gibran masih dengan suara meninggi.
"Katakan alasanmu yang sebenarnya kenapa ingin menolong Amanda ? Pasti bukan hanya sekedar karena bayinya." Ucap Sabina lirih sembari terus mengusap air matanya.
"Karena dia berusaha bunuh diri dengan menabrakkan diri tepat di depan klinikku jika aku tak menolongnya. Semua orang panik waktu itu karena aksi nekad yang dilakukannya. Aku kira dia benar-benar meninggal di tempat waktu itu, dan beberapa orang melihat dengan jelas bagaimana Amanda mencoba mengakhiri hidupnya." Jawab Gibran lirih.
"Kapan ?"
"Sekitar satu bulan yang lalu." Jawab Gibran penuh sesal.
"Apalagi yang kamu sembunyikan ?" Tanya Sabina lagi, dia cukup terkejut karena Gibran telah lama membohonginya.
"Aku yang mengurusnya secara finansial selama dia di rawat karena kecelakaan itu dan kembali merawat sakitnya setelah ia keluar dari rumah sakit." Jawab Gibran seraya kembali duduk di atas Ranjang dan berhadapan dengan istrinya.
"Lalu apalagi ?"
"Aku masih memberinya uang untuk bertahan hidup, dan Amanda ingin bekerja di klinik ku sebagai balasannya tapi aku menolak."
"Lalu ?"
"Tak ada Bina, tak ada lagi." Jawab Gibran.
"Soal buah mangga, siapa wanita hamil yang kamu berikan mangga waktu itu ? Wanita yang membantumu menyapukan daun."
"Amanda," jawab Gibran sembari menundukkan kepala.
"Ternyata sudah cukup lama kamu membohongi aku," gumam Sabina lirih namun masih bisa terdengar jelas oleh Gibran.
"Bukan bohong, Bina. Aku hanya belum sempat bercerita." Bela Gibran.
"Berminggu-minggu kamu menyimpan ini, dan kita bertemu setiap hari dirumah ini. Bahkan kamu meniduri aku hampir setiap malam, tapi tak sempat untuk bercerita ??" Tanya Sabina penuh sindiran.
"Maaf...," Lirih Gibran sembari kembali menundukkan kepala.
"Kamu ingat ketika Andre datang kesini ? dan aku hanya menyembunyikan kenyataan itu darimu dalam beberapa malam saja tapi kamu begitu marah besar padaku dan langsung mendatangi Andre ke apartemennya."
"Ya aku ingat, maafkan aku, Bina..."
"Apa kamu tahu Gibran ? Waktu itu aku sangat merasa bersalah dan menyesal sekali karena telah melakukan hal itu padamu. Aku merasa telah berkhianat meskipun tak melakukan apapun dengan Andre di belakangmu."
Gibran mengangkat wajahnya dan menatap Sabina yang berbicara penuh emosi.
"Setelah itu kamu meminta aku untuk berkomitmen agar selalu terbuka padamu, kamu meminta agar kita saling bicara jujur meski menyakitkan. Apa kamu ingat juga ?"
__ADS_1
"Ya, Bina. Aku ingat semua." Jawab Gibran penuh sesal.
"Tapi sekarang kamu sendiri yang mengingkarinya," ucap Sabina penuh rasa kecewa.
"Maaf..., Ku mohon maafkan aku..." Ucap Gibran lagi.
Hening untuk beberapa saat, tak ada kata yang terucap dari keduanya. Hingga Sabina akhirnya membuka mulutnya.
"Aku... Aku ingin waktuku untuk sendirian saat ini." Ucap Sabina lirih.
"Apa maksudmu Bina ?" Tanya Gibran. Ia segera bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Sabina dengan duduk bersimpuh di hadapannya.
"Aku ingin waktuku untuk menyendiri. Dan kurasa kamu pun memerlukannya untuk sama-sama berpikir." Ucap sabina yang kini lebih tenang dari sebelumnya.
"Tak mau Bina, aku tak mau sendirian." Mohon Gibran seraya meraih tangan Sabina dalam genggamannya.
"Kamu juga pernah bilang jika kita marah, boleh diam boleh bersikap dingin asal jangan saling meninggalkan dalam keadaan marah. Betul bukan ?
"Ya betul, aku pernah berkata seperti itu." Jawab Gibran seraya menciumi punggung tangan istrinya itu.
"Kurasa, aku ingin sendiri dulu saat ini, sampai kita siap untuk saling bicara lagi tentang masalah ini dengan kepala dingin. Kamu boleh tinggal di klinikmu atau di sini, dimana pun kamu mau tapi tolong biarkan aku sendiri." Lirih Sabina diantara isakkan tangisnya.
"Gak mau, aku gak mau jauh darimu. Aku tak akan sanggup. Aku tak akan pergi dari rumah ini. Ku mohon Bina, aku cinta kamu. Cinta banget sama kamu," mohon Gibran sembari menciumi punggung tangan Sabina.
"Ku mohon Gibran, beri aku waktu sampai kita membuat keputusan..."
"Tak akan ada keputusan apapun, aku tak akan pernah mau berpisah darimu. Percayalah padaku Bina, aku tak pernah dan tak akan pernah mengkhianati kamu. Beri aku waktu sampai anak Amanda lahir dan setelah itu aku tak akan lagi berhubungan lagi dengannya. Itu perjanjian yang aku buat dengannya. Jadi kumohon padamu Bina, berikan aku sedikit lagi waktu."
"Karena penyakit yang dia idap, sehingga ia tak mau menemui dokter lain. Dan asal kamu tahu dia tak penting lagi bagiku."
"Gibran... Aku...,"
"Kamu boleh marah, boleh bersikap dingin padaku tapi please jangan memintaku untuk pergi dari rumah ini. Aku tak akan sanggup jauh darimu, dari dia." Mohon Gibran seraya membelai lembut perut Sabina.
"Aku sangat mencintai kalian berdua. Jangankan pergi dari rumah ini, pisah kamar pun aku tak mau." Gibran pun menidurkan kepalanya diatas pangkuan Sabina dengan kedua tangan memeluk istrinya .
Dapat Sabina rasakan air mata Gibran membasahi bajunya dan menembus kulit pahanya. Ia tak menyangka jika suaminya itu menangis.
"Aku menyesal Sayang.. sungguh... Jika ingin marah tak apa, aku mengerti."
"Aku tidak tahu harus bagaimana, yang pasti apa yang telah kamu lakukan sangat membuatku kecewa." Ucap Sabina lirih.
"Aku tahu... Maafkan aku, Sayang. Aku sangat menyesal." Ucap Gibran dan Sabina hanya diam tak lagi bicara.
Cukup lama mereka berdiam diri dalam sunyi dan Gibran masih duduk bersimpuh di hadapan istrinya.
"Sudah malam sebaiknya kita tidur, kamu besok harus kerja bukan ?" Tanya Sabina. Dan ia pun bangkit dari tempat duduknya dan Gibran pun ikut berdiri.
__ADS_1
"Iya," jawab Gibran.
Sabina naik ke atas ranjang dan mulai membaringkan tubuhnya. Ia meraih bed cover untuk menyelimutinya.
"Aku masih boleh tidur di sini kan ?" Tanya Gibran tapi Sabina tak memberikan jawaban.
Gibran berjalan memutari ranjang dan merebahkan tubuhnya di bagian yang kosong. Ia tatap punggung Sabina yang tidur memunggunginya. Ingin Gibran meraih Sabina dalam pelukannya namun ia ingat jika istrinya itu ingin waktu untuk 'sendiri' hingga Gibran pun pasrah menerima konsekuensi dari perbuatannya.
"Maafkan aku, Sayang." Lirih Gibran dan Sabina dapat mendengarnya.
Hatinya masih terasa sakit karena pengakuan Gibran yang sangat mengejutkannya. Sabina pun kembali mengusap pipinya yang basah.
***
Gibran terbangun ketika pagi hampir terang, dengan tergesa ia memasuki kamar mandi dan bersuci. Sabina tak membangunkannya pagi ini.
Ah ya, istrinya itu sedang merajuk dan Gibran tak bisa protes karena memang kesalahan ada padanya.
Setelah selesai bersiap Gibran pun turun dari kamarnya menuju ruang makan dimana biasanya Sabina telah menunggunya untuk sarapan bersama. Namun pagi ini berbeda, Sabina tak ada disana meskipun sarapannya telah tersedia di atas meja.
Gibran pun menarik nafas dalam dan berusaha menerima perlakuan Sabina padanya.
"Bina mana?" Tanya Gibran pada mbok Inah yang baru saja memasuki ruang makan.
"Non Bina sedang menyiram bunga."
"Oooh," Gibran hanya ber-oh ria menanggapi ucapan mbok Inah dan mulai memakan sarapannya.
Hanya sedikit sarapan yang Gibran makan, ia tak berselera pagi ini. Ia pun berdiri dan mengintip istrinya dari balik tirai jendela. Terlihat Sabina tengah memegang selang air dan menyirami tanamannya.
"Aku pergi ya," ucap Gibran yang kini berdiri tepat di belakang Sabina.
"Hu'um," gumam Sabina sebagai jawaban tanpa menolehkan kepalanya untuk melihat sang suami.
Cukup lama Gibran berdiam diri memperhatikan sehingga ia putuskan untuk meninggalkan Sabina seorang diri.
Tak ada Sabina yang mengantarkan kepergiannya hingga pintu, kini tak ada lagi bayangan Sabina dalam spion mobil dan melambaikan tangan padanya. Bahkan pagi ini Gibran tak bisa mencium istri dan anak yang masih berada dalam kandungan. Sungguh Gibran sangat merasa kehilangan.
Sabina benar-benar bersikap dingin hari ini dan baru permulaan pun Gibran sudah merasa tersiksa luar biasa.
To be continued ❤️
Thanks for reading 😘
Mumpung Senin vote yuuu
Buat yang ikhlas aja.
__ADS_1
Makasih banyak yaaa 😘
Oh iya jangan lupa like bab sebelumnya 😁