Pernikahan Yang Tak Diinginkan

Pernikahan Yang Tak Diinginkan
Tak Habis Pikir


__ADS_3

Happy reading ❤️


"Maaf aku terlambat, aku harus antar Raka dulu tadi."Ucap Alya yang kini mendudukkan tubuhnya tepat di sebelah Andre.


Gibran menatap wajah di hadapannya itu satu persatu secara bergantian dengan rasa terkejut. Ia menarik nafas dalam ketika ingat dulu Amanda yang mendatanginya dan kini Andre.


"Kenapa lo gak ke dokter lain aja sih ?" tanya Gibran masih dengan malasnya.


"Udah, dan gue cocoknya sama lo." jawab Andre singkat dan senyuman jahil terbit di wajahnya sedangkan Gibran menatapnya kesal.


Alya mengeluarkan sebuah map dan paper bag berisikan obat-obatan yang telah Andre konsumsi sebelumnya. Ia menyerahkan keduanya pada Gibran.


Gibran membuka amplop yang bertuliskan nama sebuah laboratorium ternama, didalamnya terdapat hasil pemeriksaan darah Andre yang menyatakan jika lelaki itu positif mengidap sifilis.


Ia pun membuka sebuah paper bag dan memeriksa satu persatu obat yang tak Andre habiskan itu. Gibran pun menatap malas pada Andre yang kini tersenyum ke arahnya.


"Kalau lo bener konsumsi obatnya, seharusnya lo udah sembuh sekarang ini." ucap Gibran.


"Seharusnya sih begitu ya, Dok ?" tanya Alya.


"Iya, seharusnya begitu. Tapi sepertinya dia emang gak mau sembuh." jawab Gibran.


"Sembarangan ! makanya gue datang kesini karena pengen sembuh." protes Andre.


Alya menahan lengan Andre agar lelaki itu tenang. Andre menolehkan kepala dan menatap tangan Alya yang tengah menyentuh lengannya. Ini adalah pertama kalinya mereka berinteraksi menggunakan sentuhan fisik dan entah mengapa Andre merasakan dadanya berdebar lebih kencang saat ini.


"Kalau begitu lo harus disiplin, dan Nona ini bisa bantu kontrol pengobatan lo." ucap Gibran.


"Saya Alya, anak buah Pak Andre di kantor," jelas Alya sembari melepaskan cekalan tangannya. Andre kembali menolehkan kepala melihat tangan Alya tak lagi menyentuh lengannya.


Gibran membaca ulang kertas hasil laboratorium milik Andre, sebelum akhirnya ia memberikan solusi pada penyakit yang Andre idap.


"Sepertinya susah buat minum obat, kita ganti dengan cara disuntikan yang harus dilakukan selama 14 hari. Apa lo sanggup ?" tanya Gibran.


"Hanya 14 hari ?" tanya Andre.


"Iya tapi lo gak boleh lewatin hari sekali pun, setelah itu lakukan lagi tes laboratorium untuk memastikan jika penyakit lo udah hilang." jawab Gibran.


"Ayo, kamu pasti bisa." bisik Alya.


"Oke gue sanggup." jawab Andre tanpa ragu. Apa yang Alya katakan sebelumnya membuat ia semangat.


"Tapi selama itu kamu harus nemenin aku, Alya." Andre balik berbisik pada temannya itu dan Alya pun menganggukan kepalanya.

__ADS_1


"Oke, bagus kalau begitu. Kita bisa mulai dari hari ini agar semuanya cepat selesai." ucap Gibran seraya meminta asistennya menyiapkan obat yang dibutuhkan untuk pengobatan Andre.


Gibran menarik nafas lega, ia merasa senang karena Andre telah memiliki teman wanita lagi walaupun ia tidak tahu status yang sebenarnya diantara mereka berdua. Namun dirinya meyakini jika hubungan keduanya pastilah dekat karena Andre pun berani terbuka mengenai penyakitnya pada wanita itu.


Gibran tersenyum lebar ketika ingat Sabina tak kan diganggu lagi oleh lelaki yang berada di hadapannya, sedangkan Andre menatap bingung karena Gibran yang tiba-tiba tersenyum tanpa sebab.


***


Telah 2 Minggu berlalu dan ini pengobatan Andre yang terakhir, seperti yang Alya janjikan wanita itu selalu menemani setiap kali Andre melakukan pengobatan.


Tak ada perasaan lebih dalam diri Alya pada lelaki yang jadi atasannya itu, ia murni menemani karena hal itu menjadi bagian dari tugasnya. Sedangkan Andre mulai merasa nyaman dengan kedekatannya dengan Alya, bahkan ia pun semakin dekat dengan Raka. Pernah beberapa kali Andre membelikan Raka banyak hadiah walaupun pada awalnya Alya menolak.


"Besok lo bisa cek laboratorium lagi." ucap Gibran setelah memberikan suntikan antibiotik terakhir.


"Oke, gue minta surat rekomendasinya." jawab Andre.


"Gue harap hasilnya bagus dan kalau hasilnya memang telah berubah negatif, Lo harus jaga diri jangan sampai kena 2 kali." Gibran mengingatkan dan Andre menganggukkan kepalanya berkali-kali sebagai tanda mengerti.


"Anda juga bisa mengingatkan Andre untuk tidak melakukan hal bodoh lagi." ucap Gibran pada Alya yang duduk terdiam di atas kursi.


"Tugas saya sudah selesai, Dok. Selebihnya itu urusan pribadi pak Andre sendiri." jawab Alya.


Andre menolehkan wajahnya pada Alya dan menyadari jika yang dikatakan wanita itu benar adanya. Meski tak terucapkan namun ia merasa ada sesuatu yang hilang.


"Oh ok, thanks." jawab Andre dan meraihnya.


Setelah berbasa-basi sedikit Andre dan Alya pun undur diri dari hadapan Gibran.


***


Suara deru mesin mobil terdengar ketika Gibran memasuki halaman rumahnya. Hari masih sore, ia pulang lebih dari biasanya.


"Papa pulang, ayo kita sambut." ucap Ria dengan antusias. Saat ini ia tengah menemani bayi Athalla yang telah berusia 5 minggu dan Ria telah bekerja selama hampir 1 bulan lamanya dengan peraturan ketat yang Sabina berikan padanya.


Sabina menatap Ria dengan perasaan jengah, Ia segera bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Ria yang bersiap untuk memangku Athalla.


"Biar saya saja, tugas kamu sudah selesai." ucap Sabina seraya meraih dengan lembut tubuh anaknya yang terbaring.


Ria mengangguk patuh meskipun ia sedikit kesal, karena setelah ini ia hanya berdiam diri di area belakang rumah dan hanya Mbok inah atau pak Anwar yang diizinkan masuk ke rumah utama setelah Gibran pulang tentunya. Ia sadar jika Sabina tak pernah mau untuk membuatnya bertemu dengan Gibran. Lelaki yang mencuri perhatian Ria akhir-akhir ini.


Gelak tawa terdengar dari ruang tamu ketika Sabina membukakan pintu untuk suaminya. Ria belum juga meninggalkan tempat itu seperti yang Sabina perintahkan. Ia lebih memilih untuk mengintip apa yang Sabina dan Gibran lakukan saat ini.


Terlihat Gibran mencium pipi anaknya dan mengambil alih Athalla dari pangkuan sang istri dengan satu tangan. Setelah itu lelaki jangkung itu menundukkan wajahnya, meraih bibir sang istri dan mengulumnya mesra. Bahkan tangannya yang lain meremas gemas bokong Sabina agar wanita itu menjinjitkan kakinya sehingga ciuman mereka semakin dalam dan tak terlepas. Cukup lama mereka melakukan itu hingga Gibran membisikkan sesuatu di telinga istrinya.

__ADS_1


Sabina mencubit pinggang Gibran dan suaminya itu tertawa geli. Entah apa yang Gibran bisikkan padanya hingga ia melakukan itu.


Ini bukan kali pertama Ria melihat kemesraan keduanya, dalam hatinya ia berpikir bagaimana Gibran bisa begitu tergila-gila pada Sabina yang memiliki kekurangan pada fisiknya. Padahal menurut Ria, Gibran bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih sempurna walaupun ia akui jika Sabina memang berparas cantik.


Asik dengan lamunannya sendiri membuat Ria tak sadar jika kedua majikannya berjalan menuju ke arahnya.


"Saya udah bilang tugas kamu udah selesai," ucap Sabina terheran melihat Ria masih berada di ruang tengah dan 'belum juga pergi ke area belakang rumah.


"oh saya sedang membereskan ini dulu, Bu." Ria menunjukkan beberapa keperluan Athalla yang masih berada di sana.


Sedangkan Gibran terus berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai 2 tanpa sekalipun menolehkan wajahnya pada suster itu. Dan itu tak terjadi sekali ini saja, pernah Ria pun kebetulan berada dalam satu ruangan dengan Gibran tapi lelaki itu seolah tak menganggapnya ada.


"Sayang...," terdengar suara Gibran memangil Sabina dari lantai 2, membuat Sabina menengadahkan kepalanya ke atas dan sadar jika Gibran sudah meninggalkannya.


"Tunggu," jawab Sabina.


"Baiklah Ria, Terimakasih atas bantuanmu hari ini. Sampai juma lagi besok." ucap Sabina dan Ria sadar jika majikannya itu tengah memintanya pergi dari ruangan itu.


***


Pukul 5 sore terlihat Gibran dan Sabina juga bayi mereka memasuki mobil mewah Range Rover biru milik Sabina dan merupakan hadiah dari suaminya itu. Tak seperti biasanya, Pak Anwar sang supir ikut serta bersama mereka.


Gibran membukakan pintu mobil untuk Sabina yang memangku anak mereka dan kemudian ia memasuki mobil itu di bagian yang sama dengan istrinya.


Ria pun keluar dari kamarnya, ketika mobil itu mulai bergerak pergi.


"Mau kemana Athalla, Mbok ?" tanya Ria yang kini mendekati mbok Inah untuk mencari tahu.


"Oh Den Athalla mau imunisasi,"


"Oh apa karena itu pak dokter pulang lebih cepat ?" tanya Ria.


"Sepertinya begitu, ia tak akan membiarkan istri dan anaknya pergi sendiri walaupun diantarkan supir. Pak dokter hampir tak pernah mengizinkan non Sabina keluar rumah tanpa ditemani olehnya." jelas Mbok Inah.


Ria mengangguk paham, namun dalam hatinya ia masih merasa tak habis pikir bagaimana bisa seorang Gibran Fahreza begitu cintanya pada Sabina.


To be continued ❤️


makasih banyak yang sudah baca, like, komen, memberikan hadiah juga vote...


love genks ❤️


hepi wiken 😘

__ADS_1


__ADS_2