Pernikahan Yang Tak Diinginkan

Pernikahan Yang Tak Diinginkan
Batinku merintih


__ADS_3

****


"terimakasih pak, ucap alika lalu menutup kembali kaca jendela mobilnya.


Alika tertegun sejenak kemudian meletakkan kepalanya ke setir mobil dengan bulir bulir bening yang akhirnya jatuh di pipinya.


"astagfiruwloh hal'adzim, astagfiruwloh hal'adzim,astagfiruwloh hal'adzim.Alika menghela nafas berusaha menguatkan hatinya.


sejenak Alika merebahkan tubuhnya disandaran kursi,membiarkan bulir bulir air mata itu mengalir begitu saja di pipinya.


" benarkah ini ya allah?


aku tau mas,aku ini jauh dari kata sempurna, tapi kenapa mas? kenapa tega padaku, aku tidak menginginkan pernikahan seperti ini mas, pernikahan sampai menuju syurga yang aku inginkan . jerit batin Alika sambil mengatupkan kedua bibirnya menahan suara tangis agar tak keluar dari mulutnya, biarkan saja air mata yang bicara.


"haruskah aku keluar dan memergoki mereka berdua. dengan ragu ragu Alika membuka pintu mobil hendak keluar menemui mereka,kemudian dengan ragu ragu pula ia menutup pintu mobilnya kembali.


" tidak ! aku harus keluar dan menemui mereka,dengan begitu aku bisa membuktikan sendiri kebenarannya. tegas Alika.


******


Marfin dan Dea sedang berbincang bincang di ruang tamu.


"bagaimana keadaanmu hari ini, tanya Marfin kepada Dea.


" sudah baikan,jawab Dea mengembangkan senyum.


" kenapa tuan kemari? tanya Dea.


" ingin melepas penat. jawab Marfin,mungkin sampai esok pagi,sambungnya lagi.


" lohh kenapa? nanti istrimu marah loh tuan, kata Dea.


" tidak tenanglah, jawab Marfin kemudian mendekati dea.


" bagaimana jika kita keluar saja, ya perbanyak jalan jalan agar kamu tidak stres. kata Marfin.


" iya mas, jadi kita kemana?tanya Dea.


"emmm..terserah aku ikut saja , jawab Marfin pasrah.


ting ting .... bel pintu rumah berbunyi.


" sebentar ya tuan, kata Dea kemudian bangkit dari duduknya dan melenggang ke arah pintu dan membukanya.


" nona, ini ada yang ingin bertemu. kata penjaga kemudian bergegas pergi


" siapa ya tanya Dea, yang kemudian menghampiri sosok seorang wanita yang berdiri membelakanginya.


Alika membalikkan badannya dan berhadapan dengan Dea.


Alika berusaha mengembangkan senyum yang mungkin paling manis,


Alika memperhatikan jelas wanita itu, gadis yang terlihat masih polos, cantik, lugu, bagaimana mungkin berfikir menghancurkan rumah tangga orang lain. Batin Alika.


" aku Alika, Alika memperkenalkan diri.


untuk beberapa saat Dea tertegun, menelisir Alika dari ujung rambut hingga ujung kaki.


" mengapa wajahnya berbeda dengan Alika yang pertama kali ia jumpai. Alika yang satu ini matanya menenangkan, terlihat begitu sangat lembut.gumam Dea di dalam hati.


" Alika siapa ya? tanya Dea kembali memastikan.


" Alika, istri pemilik rumah ini,tegas Alika.


wah jantungan dong Dea !!


" *maksudnya? tanya Dea.


"mana suamiku? tanya Alika seraya tersenyum.


"su_suami? jawab dea gugup.


" ya....


suamiku ada di dalam kan? tanya Alika kembali.

__ADS_1


tanpa berfikir panjang Alika langsung melewati Dea dan masuk kedalam rumah yang disebut milik suaminya itu.


" Mass.... Alika memanggil lembut suaminya.


Alika menelisir segala ruang namun Marfin tak di temukan.


" mana suamiku nona ? tanya Alika kepada Dea yang sedari tadi mengikutinya.


" tidak ada suamimu disini? jawab Dea datar.


" lalu apa kau fikir ada Marfin yang lain selain suamiku? Tanya Alika menyelidik.


" ya bisa jadi nona salah lihat orang kata Dea.


" owhhh....Alika menganggukkan pelan kepalanya dengan senyum yang terus saja mengembang di bibirnya.


" baiklah, aku rasa. gadis cantik,dan muda sepertimu tidak akan mungkin menghinakan dirinya sebagai simpanan suami orang, sindir Alika.


" lagi pula, dilihat dari penampilanmu, kau bukan wanita murahan yang tertarik pada kekayaan suami orang lain, sindir Alika lagi.


" Dan, kau tahu pasti wanita baik baik tidak akan merebut milik orang lain bukan? lagi lagi Alika menyindir sembari mengembangkan senyumnya.


Dea hanya mematung menerima sindiran yang di lontarkan,


ingin rasanya Alika menampar, menjambak wanita yang kini tepat di hadapannya,


jika benar wanita ini adalah selingkuhan suaminya.


namun ia berusaha terlihat kuat, tegar dan tenang menghadapinya.


"baiklah jika begitu, aku akan pergi,Maaf sudah mengganggu istirahat anda,ucap Alika.


Alika dengan langkah cepat melenggangkan kakinya meninggalkan rumah itu,


ia kembali memacu mobilnya.


di tengah menyetir Alika memasang headset dan berusaha menelpon Leo,sekretaris suaminya.


" beberapa menit lagi kita ketemu, ujar Alika.


kemudian tanpa mendengar persetujuan dari leo Alika mengakhiri obrolannya.


****


"ada apa nona? tanya Leo penasaran.


" apa ada yang ingin kau ceritakan padaku.tanya Alika santai sambil minum minuman dingin yang ia pesan.


" soal apa non? tanya Leo.


" soal hidupku, Alika menjawab singkat.


"apa yang saya tahu tentang hidup nona, tanya leo.


" kau yakin tidak tahu apa apa? tanya Alika menelisir wajah leo.


"mengapa nona melihatku seperti itu, kata Leo.


" kenapa? kau tidak suka?, kata Alika.


" aku melihat matamu penuh dengan kebohongan,sambung Alika.


" aku tahu ,kau tau banyak tentang suamiku, tentang dia yang menolongku dahulu, namun dia berpura pura tidak mengakuinya, entahlah apa yang ia rencanakan?


pernikahanku dan suamiku masih seumuran jagung, tapi dia mempunya wanita lain diluar sana, dan aku tahu kamu mengenal wanita itu bukan? Tegas Alika dengan suara tingginya.


" cukup nona, apa nona tidak malu, orang memperhatikan kita. kata Leo seraya panik.


"malu? harusnya kaulah yang malu, karna kau membiarkan bosmu berlarut dengan dosa.


bukankah sesama muslim harusnya saling mengingatkan dalam kebaikan, mengapa kau malah menutupi bahkan mendukung seseorang berbuat dosa? ujar Alika.


" nona, tenanglah. aku bisa jelaskan,kata Leo.


Alika terpancing emosi hingga kehabisan kata kata untuk menumpahkan rasa sedih,kesal,kecewa pada orang orang yang sangat ia percaya terutama suaminya sendiri,

__ADS_1


alika melenggang meninggalkan Leo yang belum sempat menjelaskan apapun, kemudian Alika kembali keapartemennya dengan kecepatan mobil maksimal.


******


pembicaraan lewat telpon.


" tuan? bagaimana kau tau jika istrimu yang datang. tanya Dea heran.


" aku tadi berniat menyusulmu melihat siapa yang datang karna kau sangat lama, namun saat aku melihat dari jauh itu adalah istriku,aku langsung bergegas pergi,Marfin menjelaskan.


" tuan, yang waktu itu mengaku sebagai istrimu,dia bukan istrimu. aku melihatnya dengan jelas wajah itu sangat berbeda. terang Dea.


"sekarang kau dimana tuan?tanya Dea.


" aku akan langsung pulang ke apartemen. kata Marfin.


"loh? tuan bilang akan ada meeting di luar kota,apa istri tuan tidak akan curiga jika mendadak membatalkan,kata Dea.


" tidak, dia tidak akan curiga jika aku meyakinkannya.


******


" leo? bagaimana villanya? tanya Marfin.


" leo mengirim gambar"


"nice, aku suka,cepat urus nanti malam aku ingin kaubawakan kuncinya kepadaku,pinta Marfin.


*******


leo membawakan kunci villa megah yang Marfin beli untuk istrinya.


waktu pukul 19.00 Marfin bergegas kembali keapartemennya,


Alika menyambutnya dengan senyuman hangat,dibawakannya tas kantor yang di bawa oleh Marfin, Alika membukakan sepatunya manakala Marfin duduk di sofa merebahkan tubuhnya.


" bagaimana meeting hari ini? tanya Alika sembari melepaskan dasi dari kerah suaminya.


"lancar,jawab Marfin datar.


"kenapa tidak jadi menginap tanya Alika.


"di percepat,jawab Marfin.


Marfin tampak bersikap biasa biasa saja,seolah tidak terjadi apa apa,seolah tidak ada yang ia sembunyikan.


berbeda dengan alika,meski ia menyiapkan segala kebutuhan Marfin namun urusan ranjang ia tak lagi bergairah.


" jangan sentuh aku mas, aku capek. ucap Alika sembari memalingkan badannya membelakangi Marfin.


" sayang? aku sudah membelikan vila untuk keluarga kecil kita, rayu Marfin.


Alika tak menggubris yang di lontarkan Marfin ia berusaha memejamkan matanya.


Marfin tak kehabisan akal,ia mendekati istrinya kemudian menciumi punggung yang membelakanginya, Marfin memasukkan tangannya kedalam baju yang Alika kenakan, di bukanya kaitan Bra yang terpasang disana.


"sayang? dosa loh tidur membelakangi suami. ujar Marfin sembari meremas bukit kembar Alika dari belakang.


Alika mematung,menahan perih di hatinya,ingin rasanya ia melempar jauh tangan yang kini sedang menyentuh dirinya, tangan yang menurutnya sudah kotor, mata Alika berkaca kaca menatap dinding kamar ia membayangkan bagaimana ketika suaminya menyentuh gadis lain, bagaimana cara mereka melakukannya? semesra apa? apakah Marfin memperlakukan gadis itu sama seperti Marfin memperlakukannya.


"Menjijikkan !!


ia bahkan memberitahuku tentang dosa,apa berselingkuh itu tidak dosa baginya?


aku sengaja diam, aku hanya wanita biasa sementara dia laki laki yang sangat mapan,keluarga terpandang jika aku menuduhnya tanpa bukti, mungkin saja aku akan di tuntut karena mencemarkan nama baiknya, yahh aku tidak tau mungkin saja dia bisa setega itu menuntutku.


tapi jika aku sudah mendapatkan bukti perselingkuhannya,akan ku buat reputasinya hancur, mungkin juga hidupnya, yah tapi itu perlahan.


Marfin terus meremas bukit kembar yang membulat penuh disana, Alika masih membelakangi Marfin, tubuhnya seperti tidak merasakan apa apa, tidak lagi ada erangan kenikmatan yang ada hanya kebencian yang di pendam,entahlah seperti secarik kertas yang sudah di remas tidak akan kembali rapi seperti semula.


"sayang? ada apa denganmu?tanya Marfin,seolah tidak melakukan kesalahan apapun.


Alika berusaha memejamkan matanya, sesekali ia berusaha menghempaskan tangan yang berada disana.


"aku ngantuk mas,gerutu Alika.

__ADS_1


__ADS_2