Persahabatan Telah Mengubah Takdir

Persahabatan Telah Mengubah Takdir
Bab 10. Mendapat kesempatan


__ADS_3

Dua orang bersahabat mencintai pria yang sama pasti akan dihadapkan pada situasi yang sulit dan rumit. Jika tidak pandai menjaga hati, mengendalikan ego, persahabatan bisa hancur karenanya dan yang ada hanya tinggal persaingan dan perselisihan.


Apalagi jika sang pria yang dicintai ternyata mencintai salah satu dari keduanya, perang antar kedua sahabat pasti tidak akan bisa dihindari.


Dalam masalah ini Lusy masih bisa menjaga hatinya mengesampingkan ego demi menjaga persahabatannya.


Angga pun tidak pernah menanggapi cinta kedua gadis itu. Walaupun mereka dari kalangan status sosial ekonomi yang sama, keduanya juga sangat cantik tapi hatinya telah terpaut dan akan dijaganya hanya untuk gadis miskin yang bernama Zia Ayunda Putri yang berhasil menggetarkan hatinya.


Bella saat ini masih uring-uringan, marah terhadap Lusy, ia terus mendesak Lusy agar mencari cara supaya dewan guru menarik kembali hukumannya terhadap Angga. Bila perlu Lusy harus mengakui perbuatannya karena itu memang kesalahannya.


Bella takut jika hal ini sampai ketelinga kedua orang tua Angga, pasti orang tuanya tidak akan terima, mereka pasti akan mengusut kejadian ini atau bahkan memindahkan anaknya kesekolah lain bahkan ke kota lain. Jika hal itu benar terjadi dia akan semakin sulit untuk mendekati dan mendapatkan cinta Angga.


Zia bersama Rania mencari alamat apartemen Angga yang sebelumnya sudah Rania tanyakan alamatnya kepada Bima teman sebangku Angga.


Mang Asep segera mengantarkan mereka ke alamat yang dituju. Sementara di dalam mobil, Zia merasa gelisah, dia bingung apa nanti yang akan dikatakannya dihadapan Angga.


"Tenang saja sahabatku yang cantiik, sebentar lagi kita sampai", hibur Rania.


"Aku bingung ntar jika berhadapan dengan Angga, harus bicara apa."


"Haahaahaaaa, gitu aja repot, bilang cinta aja kali."


"Husss, kamu nih apaan sih", sambil pasang muka cemberut Zia memalingkan wajahnya.


Akhirnya mereka sampai ketempat yang di tuju. Apartemen Angga terletak di lantai 5. Saat mereka ada dilantai dasar, Angga kebetulan ada disana.


"Hai, kalian kok ada disini, memangnya kalian dari mana, apa ada keluarga kalian yang tinggal disini."


"Assalamu'alaikum Ngga", sapa Zia.


"Wa'alaikumsalam", Jawab Angga.


"Begini lho Ngga, kami memang sengaja datang kesini untuk menemuimu. Tuan putri kita yang satu ini gelisah terus sejak tadi, dia merasa bersalah kenapa kamu yang harus dihukum sementara kamu kan tidak bersalah."


Rania yang menjelaskan maksud kedatangan mereka kesini, sementara Zia hanya menunduk saja.


"Sebentar, sebentar, tidak enak kita ngobrol disini kan, jika masuk ke kamarku juga tidak etis."


"Ya iyalah, kami juga tidak mau, ntar datang pula security nah kita di grebek dan dinikahkan, hahahaaaa", keduanya pun tertawa sementara Zia hanya tersenyum.


"Lu mah ntar yang enak punya dua istri yang cantik dan pintar pula tuh, lah kami yang rugi, pacar kami bisa-bisa mati berdiri."


"Hahahaaa", Rania kembali tertawa.


Angga pun ikut tertawa, tapi kali ini tertawanya tidak bisa lepas seperti tadi. Mendengar kata kata Rania tentang pacar mereka yang bisa mati berdiri, hati Angga seperti tertusuk jarum.


"Benarkah Zia sudah punya pacar", tanyanya dalam hati.


Apakah dia masih punya kesempatan untuk mendapatkan cinta Zia atau itu hanya gurauan Rania saja, namun rasa kecewa dan sedih nampak jelas diraut wajah Angga.


Rania melihat perubahan wajah Angga, dia tau Angga pasti cemburu. Kemudian ia mengalihkan pembicaraan.


"Dilingkungan apartemen semewah ini memangnya tidak ada ya Ngga tempat yang nyaman gitu lho, untuk para tamu nongkrong?", tanya Zia.

__ADS_1


"Sudah capek nih berdiri terus Ngga, apalagi Zia, ya kan Zia?, dia juga pasti haus."


"Bilang aja kamu yang haus Niah, nggak usah bawa-bawa nama Zia."


"Kamu tau aja Ngga."


"Kamu sih asyiik bercanda terus jadi lupa kan aku menawarkan kalian minum dan pastinya kalian laparkan?, kebetulan aku juga belum makan siang.


Oh ya mari ikut aku, dibelakang apartemen ini ada sebuah taman luas yang sangat indah dan terdapat pondok-pondok kecil tempat para penghuni apartemen ini nongkrong bersama keluarganya di sore hari. Makanya orang tuaku memilih membeli apartement ini karena suasananya yang sangat nyaman untuk mereka beristirahat ketika kembali ke kota ini", ucap Angga.


"Akupun jika jenuh belajar dikamar memilih datang ke taman membawa buku dan belajar disana sambil menikmati keindahan taman dan semilirnya angin."


Sambil terus berjalan kearah taman, Anggapun mengambil handphone dari sakunya dan segera menelephone pihak pengelola taman untuk segera mengantarkan sajian makan siang dan aneka buah serta makanan penutup ke pondok yang terletak disudut utara taman.


Ternyata benar yang dikatakan Angga, taman itu sangat indah terdapat aneka jenis bunga yang sedang bermekaran, pepohonan rindang disekelilingnya, burung burung berkicau melompat ksana kemari disekitaran pepohonan, air pancur dan kolam ikan terdapat ditengah taman serta pondok-pondok kecil tertata rapi dibawah rindangnya pepohonan.


Setibanya mereka disana, Angga mempersilakan mereka duduk. Tak lama kemudian muncul dua orang anggota pengelola taman membawa dua nampan besar makanan dan minuman pesanan Angga.


Setelah hidangan tertata, mereka pun mempersilahkan Angga, Zia dan Rania untuk menikmati hidangannya.


Anggapun mempersilahkan kedua sahabatnya,


"Ayo silahkan Zia, Rania pasti kalian sudah lapar dan cacing diperutku juga sudah kelaparan nih."


Ketiganya menikmati hidangan yang tersedia dengan tenang, satupun tidak ada yang bersuara hanya suara dentingan sendok yang terdengar.


Setelah mereka selesai makan, Angga menelephone pihak pengelola taman untuk membereskan piring-piring bekas makanan mereka.


Kedua pelayan yang membawa makanan tadipun segera datang kembali dan membereskannya. Mereka hanya menyisakan makanan penutup, air mineral dan jus saja disana.


"Cie, cie, kompak ni ye, ada yang bakalan jodoh nih nampaknya."


Zia refleks mencubit lengan Rania sambil cemberut dan sedikit malu. Angga hanya tersenyum, mengalir perasaan bahagia di dalam hatinya.


"Serius dong Nia, mana yang sakit, kami kan jadi panik", lanjut Zia.


"Biasa penyakit sehabis makan", Rania kemudian menguap sambil menutup mulut dengan kedua tangannya.


"Dasar kamu ya, satu spesies dengan..., Angga tidak melanjutkan omongannya dia hanya memperagakan gerakan kepala ular dengan tangannya.


"Enak saja lu, cantik-cantik gini kamu bilang aku satu spesies dengan ular, ratu ular kale."


" Hahahahaaaa", ketiganya pun tertawa.


"Begini Ngga", ketika Zia hendak berbicara tiba-tiba handphone Rania berbunyi. Terdengarlah suara nada sambung, reff dari lagu yang berjudul Ayah yang dinyanyikan oleh group musik Seventeen.


...Disaat ku kehilangan arah...


...aku hanya mengingatmu Ayah...


...jika aku tlah jauh darimu...


...Kau tak pernah lelah...

__ADS_1


...Sebagai penopang dalam hidupku...


...Kau berikan aku semua yang terindah...


...Aku hanya memanggilmu Ayah...


...Disaat ku kehilangan arah...


...Aku hanya mengingatmu Ayah...


...Jika aku tlah jauh darimu...


...Aku hanya memanggilmu Ayah...


Suara ringtone pun berhenti ketika Rania menerima panggilan tersebut.


"Maaf ya sobat, sebentar aku angkat telephone dari Papaku dulu", Rania segera menerima telphone dari Papanya.


"Assalamu'alaikum Pa."


"Wa'alaikumsalam", jawab Papanya diseberang telephone.


"Kamu kok telat pulang sayang, lagi dimana sekarang?"


"Oh iya Pa, maaf ya Pa. Nia lupa kasi kabar jika Nia lagi dirumah teman bersama Zia."


"Baiklah sayang, papa hanya mau kasi tau sore ini papa mau berangkat ke Bali, ada urusan perusahaan mendadak yang harus segera papa selesaikan disana. Sebelum berangkat papa ingin ketemu kamu dulu dan juga mau minta tolong mang Asep antar Papa ke Bandara", ucap Papa Rania.


"Baik Pa, ini Nia segera pulang."


"Papa tunggu ya sayang, hati hati dijalan ya dan bilang sama mang Asep jangan ngebut bawa mobilnya."


"Oke Pa", jawab Rania sambil menutup telephonenya.


Kemudian Rania menghampiri Zia dan Angga.


"Bagaimana nih Zia kita belum sempat membicarakan tujuan kita kesini, eh Papaku telephone minta aku pulang. Papa mau berangkat sore ini ke Bali, beliau ingin bertemu aku dulu sebelum berangkat."


"Oh nggak apa Nia, kita pulang aja sekarang besok jika sempat kita kembali lagi kesini untuk menemui Angga, biar cepat kamu langsung pulang saja bersama mang Asep karena arah kita kan berbeda, aku biar pulang naik ojek online aja."


Mendengar pembicaraan kedua sahabatnya itu Anggapun segera menimpali.


"Begini saja, biar aku dan Zia membicarakan dulu apa sebenarnya maksud kalian datang mencariku, nanti biar aku yang mengantarkan Zia pulang ke rumahnya."


"Bagaimana Zia?, apa kamu tidak keberatan."


Kini malah Rania dan Angga yang berucap bersamaan.


"Baiklah aku tidak keberatan", jawab Zia.


Sebenarnya Zia merasa malu kalau hanya berbicara berdua saja dengan Angga, tapi apa boleh buat, keadaan yang membuatnya harus mengesampingkan rasa malunya. Dia tidak mau merepotkan sahabatnya untuk kembali lagi besok menemui Angga.


Ada rasa bahagia dihati Angga mendengar jawaban Zia. Mungkin inilah saatnya ia bisa berbicara berdua dengan Zia. Ini mungkin kesempatan yang diberikan Allah agar ia bisa mengungkapkan perasaannya dan menyatakan cintanya yang selama ini telah lama dipendamnya hingga menyiksa hatinya.

__ADS_1


Walaupun ia tidak yakin apakah Zia nanti akan menerima atau bahkan menolaknya. Yang terpenting dia harus berusaha tidak menyia nyiakan kesempatan yang ada untuk berjuang mendapatkan cintanya.


__ADS_2