Persahabatan Telah Mengubah Takdir

Persahabatan Telah Mengubah Takdir
Bab 31. Janji sebelum berangkat


__ADS_3

Angga meyakinkan Zia, walaupun ia pergi jauh tapi cintanya tak kan pernah berubah.


"Aku janji yang, setelah semua urusan selesai aku akan segera kembali. Nanti aku akan transfer uang untuk kebutuhan kalian, kamu harus terus berobat agar sembuh total, jaga dirimu demi aku yang,


Aku tidak ingin kamu bersedih, aku ingin melihat Zia ku tersenyum. Ayo yang berikan aku senyum yang indah yang akan aku kenang setiap aku merindukanmu."


Angga menghapus air mata mereka. Zia pun memberikan senyum terindahnya kepada sang kekasih.


"Kamu fokus aja ya disana dengan kesembuhan Papa dan fokus menyelesaikan masalah perusahaan, Insha Allah aku janji akan merawat diriku dengan baik hingga sembuh dan aku akan selalu menunggu kepulanganmu."


Kali ini Angga mencium kening kekasihnya, rasanya waktu berjalan semakin cepat hingga semakin berat rasa hendak berpisah.Tanpa mereka sadari Rania sudah berdiri diambang pintu. Tak sengaja ia mendengar percakapan antara Angga dan Zia, Nia pun ikut menangis.


"Jadi mimpi Zia benar nyata, kamu akan pergi jauh Ngga?", Rania berkata sambil berjalan mendekati kedua sahabatnya.


"Iya", jawab keduanya.


"Ternyata ikatan batin kalian sangat kuat, jika terjadi sesuatu diantara kalian, kalian bisa saling merasakan. Berapa lama rencananya kamu disana Ngga?"


"Akupun belum tau Rania."


"Sebulan, dua bulan, setahun bahkan bisa jadi lebih akupun belum tau. Semuanya tergantung kesehatan Papaku. Jika tidak ada perkembangan dengan kesehatan papa, aku harus mengurus kantor pusat perusahaan papa yang ada di Jakarta dan aku harus berangkat ke Papua untuk menyelesaikan masalah yang sedang terjadi di sana. Cuma aku yang bisa mereka harapkan."


"Seandainya itu terjadi bagaimana dengan rencana kuliah kamu Ngga?"


"Kalau Allah berkehendak itu terjadi aku mungkin kuliah di Jakarta."


"Jadi bagaimana dengan nasib sahabatku, aku tidak mau kamu menggantung dia dengan penantian yang tidak pasti."


Zia memandang wajah Rania, kenapa dia sampai ngomong seperti itu. Beban fikiran Angga sudah berat kenapa Rania harus membebaninya dengan masalah itu.


"Maaf Ngga, aku hanya tidak ingin sahabatku yang paling aku sayangi menyia-nyiakan hidupnya dengan penantian yang tak pasti."


Sebelum menjawab pertanyaan Rania, Angga menarik napas dalam-dalam, " Aku tau Nia, aku lebih tersiksa memikirkan ini. Tidak bisa melihat Zia dalam hitungan jam aja sudah menyiksaku apalagi sekarang kami akan berpisah dalam waktu yang akupun belum tau sampai kapan.


Tapi aku janji, kamu sebagai saksinya Nia jika nanti aku dalam satu tahun kedepan memang harus menetap di Jakarta, aku akan datang melamar Zia. Aku akan membawa Zia ke Jakarta, kami akan menikah dan tetap akan melanjutkan kuliah setelah menikah."


"Baiklah, kami pegang janjimu Ngga", lanjut Rania.


"Akan tetapi jika lewat setahun kamu tidak kembali dan tidak meminang Zia apa konsekuensinya buat hubungan kalian?"


"Zia bebas menerima siapapun laki-laki yang menyukainya atau yang berniat menikahinya."


"Tetapi jika Zia yang ingkar janji menerima laki-laki lain sebelum sampai waktu yang kalian sepakati gimana? apa yang akan kamu lakukan terhadapnya?"


"Aku tidak akan melakukan apapun terhadapnya, cintaku kepada Zia tulus, aku akan bahagia jika melihat Zia bahagia. Jika Zia bisa bahagia bersama laki-laki lain aku ikhlas, walau yang pasti sangat menyakitkan bagiku."


"Aku jadi sedih nih, mudah-mudahan kalian bisa melewati ujian cinta kalian dan mudah-mudahan Papa kamu cepat pulih Ngga, aku berdoa kita bisa kuliah bareng disini. Aku pasti sedih jika harus berpisah dengan kalian, kalian adalah teman-teman terbaikku."


"Kamu juga teman terbaik kami Rania. Mumpung kita lagi kumpul disini, aku juga ingin minta tolong sama kamu Nia, tolong jagakan Rania, ibu dan adik karena mereka adalah sebagian hatiku, hatiku yang tertinggal disini."

__ADS_1


"Siiiaaap Pak Boss, aku pasti akan menjaga mereka walau tanpa kamu minta sekalipun karena mereka adalah bagian dari kebahagiaanku. Bersama mereka aku tau gimana rasanya bahagia memiliki seorang ibu, gimana rasanya memiliki saudara dan gimana bahagianya punya seorang adik. Seperti yang kalian tahu kan aku anak tunggal, ibuku sudah meninggal sejak aku kecil, Papaku sering keluar kota, hidupku kesepian sebelum mengenal kalian."


"Terimakasih", ucap Zia lirih.


"Kasih sayang yang kalian berikan kepada kami lebih berharga dari apapun."


"Oh ya Zia, jika Angga kuliah di Jakarta kita juga bisa ikutan kuliah disana. Ntar kita cari tempat kost disana, jika bersamamu pasti Papaku kasi izin."


"Aku sepertinya yang tidak bisa Rania."


"Kenapa?"


"Bagaimana dengan ibu dan adik? Ibu sering sakit dan adik masih terlalu kecil untuk bisa mengurus dirinya sendiri dan juga menjaga ibu, Itu tidak mungkin Nia."


"Jadi jika kamu nanti di lamar Angga dan menikah lalu kamu dibawa ke Jakarta gimana, kan sama juga harus pergi meninggalkan mereka disini."


"Bedalah Nia, jika Zia sudah menjadi istriku, dimanapun kami tinggal ibu dan adik insha Allah akan kami bawa", jawab Angga.


"Rania, besok pagi aku akan berangkat pada penerbangan pertama, biarlah aku yang menjaga Zia untuk malam ini. Bisakah besok aku minta tolong jam 6 pagi kamu sudah sampai sini lagi untuk menggantikan aku menjaga Zia?"


"Insha Allah bisa Ngga, aku akan minta antar mang Asep setelah sholat subuh."


"Kalau begitu aku akan memanggil ibu ya, biar kamu bisa pamit juga dengan ibu, tadi ibu pamit keluar mau pergi kemana Zia?, biar aku susul."


"Katanya tadi mau kekantin Nia, ada sesuatu yang ingin dibeli oleh Ibu."


"Baiklah aku akan mencari ibu dulu ya."


"Aku ingin menghabiskan malam ini berdua saja dengan kamu yang. Kita ngobrol, mendengarkan musik dan lagu-lagu kesukaan kita yang sudah lama tidak bisa kita dengarkan bersama karena sibuk dengan pekerjaan di kantor yang telah menyita waktuku, jika saat ini kamu sudah sembuh, mungkin saat ini juga aku pasti akan langsung mengajak kamu menikmati suasana pantai."


"Keinginan kita ingin berjalan-jalan di pantai, bermain pasir, mencari kerang dan siput siput kecil, bermain ombak belum sempat terlaksana.


Mudah-mudahan suatu saat nanti kita mempunyai kesempatan untuk menikmati datangnya senja di pantai dan menikmati matahari terbit di bukit indah Simarjarunjung. Keindahan Danau toba dan pulau Samosir nya pasti akan membuatmu bahagia Zia. Disana kita akan melihat keindahan alam yang menunjukkan salah satu kebesaran sang pencipta."


"Iya yang, pasti sangat seru ya bisa bermain ombak dipantai dan bisa menyaksikan keindahan danau toba dari dekat. Selama ini aku hanya mendengarnya dari cerita orang dan melihatnya di dalam acara yang ditayangkan di televisi. Pastinya banyak juga bule mancanegara yang berkunjung kesana ya yang."


"Iya yang, karena tempat-tempat itu merupakan salah satu tempat rekreasi terkenal Di Sumatera Utara ini selain Berastagi."


"Tapi Nggak apa lho yang, aku nggak menyesal belum dapat kesempatan kesana. Bisa mengenalmu, bisa masuk ke dalam hidupmu, memiliki kesempatan mendapatkan hati dan cintamu sudah merupakan anugerah yang terindah bagiku. Asal bisa terus bersamamu dimanapun aku pasti akan senang."


Angga kembali mencium puncak kepala Zia.


"Terimakasih yang, kamu juga anugerah terindah yang diberikan Allah untuk hidupku. Mengenalmu membuatku bisa lebih dekat dengan Allah, lebih bisa menghargai hidup dan lebih bisa menyayangi orang tua dan keluarga. Sekali lagi terimakasih yang telah singgah dan menetap dihatiku."


Zia membalas ucapan Angga dengan senyum yang sangat manis.


Kini ibu dan Rania telah kembali.


"Oh ya nak, tadi kata nak Rania ada yang mau kamu bicarakan dengan ibu."

__ADS_1


"Iya bu", Anggapun menceritakan semuanya dan tentang keberangkatannya yang mendadak harus terbang ke Jakarta besok pagi.


"Angga mau pamit sama ibu, sebelum berangkat Angga ingin meminta Zia dari ibu untuk menjadi pendamping Angga kelak. Angga berharap Zia dan ibu sabar menunggu sampai Angga kembali.


Saat ini disaksikan ibu dan Rania Angga ingin memberikan tanda bahwa Angga serius berhubungan dengan Zia."


Tanpa basa-basi Angga mengutarakan niatnya yang membuat semua terkejut sekaligus senang.


Anggapun mengeluarkan sesuatu dari kantongnya, ternyata sepasang cincin emas putih.


"Apakah ibu bersedia menjaga Zia buat Angga sampai suatu saat nanti Angga secara resmi membawa kedua orang tua Angga untuk melamar Zia?"


Ibu menangis saat menyaksikan kesungguhan Angga.


"Apakah ibu mengizinkan Angga untuk memasangkan cincin ini ke jari manis Zia?"


Ibu hanya mengangguk sambil terus menangis.


Ziapun terkejut, dia tidak menyangka akan mendapatkan kejutan seperti ini. Kemudian Angga memasangkan cincin itu di jari manis Zia dan Zia pun memasangkan cincin ke jari manis Angga.


Rania yang menyaksikan itu pun terharu kemudian ia memberi selamat dan memeluk sahabatnya sembari menangis. Ibu juga memeluk Zia erat dan keduanya kembali menangis.


"Terima kasih nak, mudah-mudahan suatu saat kalian berjodoh dan dipersatukan Allah dalam ikatan suci pernikahan."


"Aamiin", jawab mereka serempak.


"Oh ya bu, ini malam terakhir Angga disini. Malam ini biarlah Angga yang akan menjaga Zia. Ibu dan Rania bisa beristirahat. Besok pagi Angga akan berangkat jam 6 pagi dari sini."


"Iya bu, sekarang kita pulang saja dan besok lepas subuh Nia jemput ibu ya untuk kembali kesini".


"Baiklah Nak."


"Ibu jangan memasak lagi dirumah untuk bekal besok kesini, nanti ibu kecapekan, Zia nggak mau ibu nanti sakit. Besok beli saja semua kebutuhan dikantin bu", lanjut Zia.


"Iya nak, kamu jangan terlalu mengkhawatirkan ibu. Insha Allah ibu baik baik saja nak, yang penting sekarang fikirkan kesembuhan kamu ya dan istirahat yang cukup."


"Mari bu kita bersiap untuk pulang, Rania sudah telephone mang Asep tadi untuk jemput kita."


"Iya Nak."


Ibu dan Rania bergegas untuk membereskan pakaian kotor dan barang lain yang akan dibawa pulang, selanjutnya mereka berpamitan kepada Angga dan Zia.


"Nak kami permisi dulu ya, tolong titip dan jagakan Zia ya nak."


"Insha Allah bu", jawab Angga.


"Assalamu'alaikum", pamit Ibu dan Nia.


"Wa'alaikumsalam", jawab Zia dan Angga.

__ADS_1


"Hati-hati ya bu, Rania", balas Zia.


"Oke", sambil berlalu keluar menenteng tas ibu Rania pun mengacungkan jempolnya.


__ADS_2