
Kedekatan Angga dengan kehidupan Zia semakin membawa pengaruh yang positif, kini ia mulai menyadari betapa tidak bergunanya kehidupan yang selama ini telah ia jalani.
Ia telah menghabiskan banyak waktu yang sia sia tanpa mau bersusah payah untuk memikirkan masa depannya dengan mengesampingkan keinginan dan perasaan orang tuanya.
Selama dalam perjalanan pulang dari rumah Zia, ia merenung dan mengkoreksi hidupnya, dalam hati Angga berkata,"Selama ini, ternyata aku sangat beruntung. Apa yang aku mau selalu aku dapatkan dengan mudah, sementara Zia harus berjuang keras untuk mendapatkannya. Aku bebas memilih masuk kesekolah manapun yang aku mau, aku tidak perlu bekerja keras untuk sekedar mendapatkan uang saku, aku tidak perlu membantu keuangan keluargaku, aku bisa makan enak tidur nyenyak dirumah yang mewah, memakai kenderaan sesuka hatiku dan masih banyak lagi."
Kemudian Angga melanjutkan monolognya,
"Bagaimana dengan kehidupan sulit yang selama ini dijalani Zia, dengan tetap semangat dan tersenyum dia sanggup menyembunyikan kepahitan hidupnya dari orang lain. Zia harus belajar giat untuk mendapatkan bea siswa demi memilih sekolah yang ia mau, harus bekerja siang malam untuk membantu ekonomi keluarganya, hidup dirumah kontrakan yang kecil, harus bayar kontrakan yang seringkali menunggak hingga harus menerima kemarahan yang empunya kontrakan bahkan mungkin hanya bisa makan ala kadarnya demi mengumpulkan uang untuk membantu biaya pengobatan ibunya. Betapa manja dan bodohnya aku selama ini, menyia-nyiakan waktu dan semua yang telah orang tua ku berikan. Aku buta, tidak bisa menghargai, tidak melihat sekeliling ku betapa berharganya waktu dan uang yang seharusnya bisa kumanfaatkan untuk masa depan ku dan untuk menolong orang lain."
Kini Angga bertekad, ia harus bangkit, harus mulai menata ulang hidupnya demi masa depannya, demi orang tuanya dan demi Zia wanita pujaannya yang ingin dia bahagiakan.
Kemudian ia mengeluarkan handphone dari saku celananya dan segera mengklik nomor hp Papanya dan segera melakukan video call dengan Papa nya.
" Assalamualaikum Pa."
Dengan rasa heran Papanya menjawab
" Waalaikumsalam."
"Kok tumben nih ada angin apa kamu duluan yang Video Call Papa. Apa kamu minta tambah uang saku atau telah berubah fikiran mengenai tawaran Papa?"
"Iya Pa, Angga sudah fikirkan semuanya,
Angga bersedia membantu Papa untuk belajar mengelola perusahaan Papa asalkan Papa penuhi permintaan Angga."
"Apa memangnya syarat kamu, beli mobil keluaran terbaru, beli handphone tercanggih, gaji bulanan untuk tambahan uang saku kamu atau ada permintaan kamu yang lain. Papa akan kabulkan semuanya asal kamu mau belajar mengelola perusahaan papa karena kamu penerus satu-satunya yang papa harapkan."
"Bukan itu yang Angga mau Pa."
"Lantas apa yang kamu inginkan, ayo cepat katakan kepada Papa."
"Ada tiga permintaan Angga Pa,
Yang pertama :
"Setelah kelulusan, Angga tidak mau kuliah diluar negeri. Angga mau kuliah disini."
yang kedua :
"Angga mau coba belajar kelola perusahaan Papa yang ada di kota ini bukan di kota lain."
Yang ketiga :
"Angga akan menyumbangkan sebagian gaji Angga yang nantinya Papa berikan dari hasil kerja Angga. Dan Papa jangan melarang kepada siapapun nanti Angga akan memberikannya.
Jika Papa setuju dengan syarat Angga, Angga janji akan membuat perusahaan Papa maju terutama yang ada dikota ini."
__ADS_1
" Haahaahaaa", terdengar tawa bahagia diseberang. "Hanya itu syarat kamu nak, apa tidak ada yang lain?"
"Iya Pa, itu saja syarat dari Angga."
"Papa sangat bahagia, akhirnya kamu mau bergabung di perusahaan Papa."
"Baiklah, Papa setuju, mulai kapan kamu akan bergabung di perusahaan?"
"Nanti Pa, setelah ujian kelulusan selesai. Sekarang Angga mau fokus dulu untuk persiapan mengikuti ujian akhir. Ujian akan dimulai sekitar 3 minggu lagi Pa."
"Jadi rencana kamu akan kuliah di Universitas mana?"
"Insha Allah di Universitas Muhammadiyah saja Pa. Tapi nanti Angga pastikan lagi ya Pa, bila ujian telah selesai."
"Kamu tidak mau mencari pengalaman kuliah keluar negeri nak, misal di Universitas Oxford Inggris. Universitas yang menghasilkan lulusan lulusan berkualitas. Jika kamu mau kuliah disana, kamu bisa fokus kuliah dan Papa tidak akan membebanimu dengan urusan perusahaan, Papa ingin yang terbaik buatmu."
"Maaf pa, menurut Angga akan lebih baik jika kuliah disini saja. Kita harus bangga Pa dengan negara sendiri, kan ada pepatah yang mengatakan,
"Daripada hujan emas dinegeri orang, lebih baik hujan batu di negeri sendiri, lagian Angga ingin dekat dan menjaga Papa mama dan menjaga keluarga Wiguna. Bolehkan Pa?"
"Papa ikut saja keputusan kamu nak, terimakasih kamu telah bersedia menjaga keluarga besar kita. Papa bangga sama kamu nak, kamu sudah bisa berfikiran lebih dewasa sekarang. Maafkan Papa ya nak, yang selama ini telah memaksakan pemikiran dan kehendak Papa. Papa telah salah menilaimu, ternyata papa memiliki seorang putra yang bisa papa andalkan dan banggakan di penghujung usia Papa."
"Angga sekarang belum berbuat sesuatu Pa yang bisa membuat Papa bangga tapi kedepannya Angga akan berusaha terus untuk membuat Papa dan Mama bangga terhadap Angga."
"Niat kamu untuk maju sudah membuat kami bangga Nak."
"Ya sudah, kamu belajar sungguh sungguh dulu ya untuk menghadapi ujian nanti, semoga hasilnya memuaskan sesuai dengan keinginanmu. Papa tunggu kabar dan kedatanganmu diperusahaan setelah ujian selesai."
"Terima kasih Pa atas doanya, titip salam buat Mama dan Aira ya Pa, Assalamu'alaikum", Angga menyudahi Video Call dengan papanya.
"Wa'alaikumsalam", terdengar jawaban papanya sambil menutup handphonenya.
Keduanya tersenyum ditempatnya masing masing. Hubungan antara orang tua dan anak yang selama ini kurang harmonis akhirnya berakhir dengan bahagia.
Kini Angga telah sampai di apartemennya, setelah memarkirkan mobilnya ia segera naik ke lantai 5, bergegas masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri, menjalankan ibadah menyembah rob nya kemudian beristirahat sejenak.
Berselang beberapa waktu ia mendapat telephone dari pihak apartement ada kurir yang datang mengantar paketan barang untuknya.
Kemudian Angga turun kembali ke lantai dasar untuk mengambilnya, ternyata isinya adalah modul atau bahan-bahan tentang materi pelajaran yang harus dia pelajari dirumah selama ia menjalani hukuman sandiwara skorsing. Bu Tati menepati janjinya lebih cepat dari yang Angga perkirakan.
Angga kembali kekamarnya untuk segera mempelajari modul yang dikirim bu Tati.
Tapi sebelumnya ia ingin menelephone pujaan hatinya terlebih dahulu hanya sekedar ingin menanyakan kabar, ingin melihat wajah dan mendengar suaranya sebagai pengobat rindu dan penyemangat baginya sebelum ia mulai belajar.
Dengan bersemangat dia mengambil handphonenya yang terletak di atas nakas dan segera menggulirkan tombolnya untuk mencari nomor kontak Calon istriku yang tersimpan disana. Tak sabar lagi ia langsung memencet tombolnya
Handphone Zia berdering, terdengar nada ringtone Assalamualaikum ya akhi ya ukhti, Zia pun melihat siapa yang memanggil ternyata tertera nama calon suamiku disana.
__ADS_1
Ia tidak langsung mengangkatnya, ia menstabilkan perasaannya sambil mengenakan hijab instannya terlebih dahulu sebelum menerima panggilan tersebut.
Kemudian ia mengangkatnya sambil mengucap
"Assalamualaikum calon suamiku",
dan Anggapun menjawab waalaikumsalam calon istriku.
Angga tertegun melihat betapa cantik wanitanya disana dengan memakai balutan hijab berwarna hijau muda dan baju berwarna hampir senada, tersenyum kepadanya dengan pipinya yang putih dan terdapat rona kemerahan karena malu.
Zia melambaikan tangannya untuk menyadarkan Angga dari rasa ketertegunannya, Angga tersenyum,
"Maaf yang, habisnya calon istriku saat ini cantik sekali."
Zia semakin tersipu malu.
"Ada apa yang telephone, apa ada masalah yang penting?"
" Kangeeeennnn", jawab Angga spontan.
"Ah, pandai sekali ngegombal, kita kan baru ketemuan masak sudah kangen."
"Belum puas yang ketemuannya, tak kan pernah puas memandang wajahmu", lanjutnya.
"Oh ya yang, malam nanti ngajar?", tanya Angga.
"Iya, ntar malam masih ngajar, libur mengajar hanya sabtu malam dan minggu malam, memangnya ada apa?"
"Oh, ingin tahu aja kapan calon istriku ini bisa istirahat dan melupakan rutinitas pekerjaannya sejenak dan hanya memikirkan calon suaminya ini saja."
"Heeemmmm, sekarang juga lagi mikirin nih, nggak usah nunggu libur."
"Heeheehee, iya ya", Anggapun tertawa.
"Ya udah yang, lanjut dech aktivitasnya, calon suami ayang nih juga mau lanjut belajar biar jadi calon suami yang sukses. Jangan lupa belajar ya yang dan ntar malam semoga mimpi yang indah."
Sebelum Angga menutup telephonenya ia berkata,
"I love you. "
"I love you to " balas Zia.
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
Setelah diakhiri dengan ucapan salam keduanya pun melanjutkan aktivitasnya masing-masing.
__ADS_1