Persahabatan Telah Mengubah Takdir

Persahabatan Telah Mengubah Takdir
Episode 65. Kembali ke tanah kelahiran


__ADS_3

Rania segera menelephone Frans dan Frans ikut senang karena kabar tersebut, lalu dia segera menelephone orang kepercayaannya untuk mengurus surat nikah calon mertuanya dan menghubungi penghulu pernikahan.


Semua sudah aman, hanya tinggal pelaksanaan saja, sesuai janjinya, Arya malam ini datang ke rumah Zia, Ibu dan Zia pun sudah menunggu kedatangannya.


Arya mengenakan pakaian casual hingga dia terlihat lebih muda dan lebih santai malam ini. Ibu mempersilakan Arya masuk saat mendengar ucapan salam, mereka pun duduk di ruang tamu untuk membahas rencana pernikahan yang di majukan.


"Begini Bu, Arya cuma mau tanya apa tidak merepotkan jika acara di adakan disini? Apa sebaiknya kita adakan di gedung saja?"


"Tidak apa-apa kak di sini saja, lagipula biar tetangga tahu dan menyaksikan jadi tidak timbul fitnah nantinya."


"Oh gitu, ya sudah, ini gunakanlah jika perlu membeli perlengkapan yang kurang," ucap Arya sambil menyodorkan kartu black card ke arah Zia."


"Tidak usah Kak, aku masih ada uang kok lagipula perlengkapan yang kita beli sudah cukup."


"Peganglah kartu itu Zia? Terserah kamu mau gunakan untuk belanja apapun yang di perlukan, jumlahnya tidak terbatas, mengenai makanan, saya sudah minta tolong Frans untuk menghubungi catering, jadi tidak usah repot-repot memasak lagi di sini."


"Perias pengantin akan datang lusa pagi, karena akad nikah akan kita laksanakan tepat jam 9. Mengenai saksi pernikahan kita minta tetangga saja ya Zia dan pihak dari kantor urusan agama."


"Terserah kakak saja deh."


"Gara kemana Zia? Apa sudah tidur?"


"Gara ada di kamar adik Kak?"


"Papa..."


Ketika sedang membicarakan Gara, tiba-tiba dia datang berlari ke pangkuan Arya.


"Gara belum tidur?"


"Belum Pa, Gara baru selesai main dengan Oom," ucap Gara.


"Gara...main lagi sana Nak dengan Oom."


"Biarkan Gara di sini dulu Zia," pinta Arya.

__ADS_1


Gara pun senang, dia duduk di pangkuan Arya lalu bertanya, "Katanya Papa mau temani Gara dan Mama setiap hari dan bacain dongeng buat Gara, tapi kenapa Papa baru datang?"


"Papa masih ada urusan Gara, Papa janji deh mulai minggu depan akan selalu menemani kalian dan setiap malam akan membacakan dongeng untuk Gara."


"Janji ya Pa? Awas jika Papa bohong, Gara nggak mau ketemu Papa lagi."


"Inshaallah Papa janji," jawab Arya sambil mengulurkan jari kelingkingnya.


Gara pun menautkan jari kelingkingnya ke jari Arya tanda janji mereka. Sementara Zia hanya memperhatikan putranya yang terus bermanja kepada Arya.


Ibu yang melihat Gara semakin dekat dengan Arya pun merasa senang. Gara akhirnya mendapatkan kasih sayang Papa seperti harapannya.


Setelah puas bermanja dengan Arya, Gara pun pamit ingin tidur karena sejak tadi dia menguap, adik pun membawa Gara ke kamarnya untuk membacakan dongeng sambil menunggu sang kakak memindahkan Gara ke kamarnya.


Arya pamit pulang, semua rencana sudah di bicarakan dengan matang, lusa tinggal pelaksanaan saja.


Pagi ini Edward, Mike dan Sonya berangkat ke bandara untuk terbang ke Indonesia. Edward duduk tapi pikirannya melayang, sebentar lagi dia akan tiba di tanah kelahiran yang menurut Mike mungkin akan mengingatkan Edward akan masa lalunya.


Mereka tiba di bandara Soekarno-Hatta, lalu Mike mengajak anak-anaknya ke hotel terdekat dengan perusahaan tempat biasa Mike menginap saat datang ke sana.


"Ah Kakak! mata kan untuk melihat yang bening-bening, daripada Kakak hanya pekerjaan saja yang di lihat, kapan Kakak mau dapat cewek cantik jika waktu kakak habis mikirin kerja dan hanya kerja."


"Tenang! akan ada masanya nanti, cewek yang akan mengejar Kakak. Yang terpenting sekarang karir dulu baru mikirin cewek," jawab Edward dengan santai.


Saat mereka sudah memasuki halaman hotel, telephone Mike pun berdering, terlihat di sana nama Frans memanggil.


"Hallo Frans, kami baru saja tiba di Indonesia, ini sedang perjalanan menuju hotel. Apa ada pertemuan mendesak Frans?" tanya Mike.


"Tidak Tuan Mike, hanya butuh tanda tangan putra Anda saja, jika bisa hari ini juga saya akan menemui kalian karena besok saya tidak bisa hadir, ada acara penting yang tidak bisa saya tinggalkan," jawab Frans.


"Baiklah Frans! temui kami di resto hotel Cambridge, sekaligus kami mengundang kalian untuk makan malam."


"Oke Tuan Mike, Saya akan datang bersama Tuan Wiguna. Terimakasih Tuan, selamat datang kembali di Indonesia, mudah-mudahan kerjasama kita kali ini akan membuat perusahaan semakin maju."


"Aku yakin Frans dan kalian bisa mengandalkan kemampuan putraku."

__ADS_1


Setelah Frans menutup telephonenya, dia segera memberitahu Tuan Wiguna bahwa nanti malam Mike mengundang mereka makan malam sekaligus penandatanganan berkas oleh putra Mike.


Tuan Wiguna pun setuju dan meminta Frans agar menjemputnya lebih awal karena dia tidak ingin mengecewakan Mike. Kerjasama ini sangat berarti bagi perusahaan Wiguna, jika mereka berhasil maka nama perusahaan Wiguna akan di akui di jajaran perusahaan luar negeri.


Frans janji akan datang sebelum maghrib untuk menjemput Tuan Wiguna. Saat ini dia akan ke kantor dulu untuk menyiapkan berkas-berkasnya.


Zia dan Gara ditemani Rania kini sedang menuju ke rumah kediaman Wiguna, dia ingin mengundang secara langsung mertuanya untuk menghadiri acara pernikahannya besok. Walau Angga sudah tidak ada tapi Zia tetap menghargai kedua orangtuanya.


Setibanya mereka di sana, Pak Wiguna beserta istri menyambut kedatangan menantunya dengan gembira. Mama langsung menggendong Gara dan membawanya masuk ke dalam rumah untuk memberinya permen.


"Silahkan masuk Nak!" pinta Tuan Wiguna.


"Terimakasih Pa," jawab Zia sambil mengajak Rania masuk.


"Bagaimana kabar Ibu kamu?" tanya Tuan Wiguna.


"Alhamdulillah, Ibu sehat Pa."


"Bagaimana rencana pernikahan kamu Nak? kapan jadinya di selenggarakan? tanya Mama yang baru saja muncul dari dapur."


"Besok jam 9 Ma acaranya, Kak Arya dan Nia minta acara di majukan."


"Iya Bu, biar saat acara Nia nanti, kami sudah memiliki orang tua lengkap, rasanya akan lebih bahagia."


"Syukurlah Nak, akhirnya kamu setuju. Hidup harus terus berjalan, putra kami sudah tiada, kamu harus menata masa depanmu kembali demi Gara," ucap Pak Wiguna.


Walau Pak Wiguna dan Mama ikhlas, tetap saja ada kesedihan di balik senyum keduanya. Mereka teringat saat Angga menyampaikan akan menikahi Zia, Sang Mama waktu itu menentang tapi dia tetap bersikukuh bahwa Zia adalah calon istri terbaik baginya.


Ada penyesalan di hati Mama Angga, kenapa dulu dia tidak menyukai gadis baik seperti Zia hingga dirinya sempat melukai hati putranya.


Melihat kedua mertuanya terdiam, Zia kemudian mencoba memecah keheningan, "Ma, Pa...Zia mohon restu kalian, hadirlah besok, dampingi Zia dalam akad nikah."


"Inshaallah, kami bertiga akan hadir. Berbahagialah Nak dengan rumah tanggamu yang baru nantinya."


Setelah mengundang dan mendapatkan restu dari keluarga Wiguna, Zia dan Rania mohon pamit karena masih ada yang harus mereka kerjakan untuk mempersiapkan acara besok pagi.

__ADS_1


BERSAMBUNG......


__ADS_2