
Semua murid sudah berkemas untuk pulang,
Zia masih terpaku duduk dibangkunya. Zia tidak menyangka jika ulah pengrusakan pot bunga dilakukan oleh Angga.
Keyakinannya mengatakan bukan Angga pelakunya, tapi ia tidak mempunyai bukti untuk membelanya.
"Kenapa Angga harus mengakui apa yang tidak ia perbuat, seharusnya biarlah aku yang menerima hukuman itu", Lirih Zia dalam hati.
"Angga hanya menolongku tadi pagi kenapa dia yang harus dihukum", ucapnya lagi.
"Deeerr", tiba tiba Rania mengejutkan Zia. Rania tau kejadian barusan pasti masih mengganggu pikiran sahabatnya.
"Ayo kita pulang, kamu mau disini terus ya sampai besok."
"Ah kamu Nia, kamu mengejutkan ku saja, kalau jantungku copot bagaimana?"
"Hahaha, kamu sih melamun terus, tuh lihat kelas kita sudah kosong hanya tinggal kita berdua disini."
"Oh ya, hari ini aku sudah terlambat."
"Memangnya kamu mau kemana, ayo pulang bareng aku saja."
"Nggak usahlah Nia, merepotkan kamu saja."
"Katanya sudah terlambat ayo cepat."
Keduanya bergegas keluar kelas. Kali ini Zia tidak bisa menolak tawaran Rania, lagian dia memang sudah terlambat untuk pergi bekerja.
Mereka langsung menuju parkiran, ternyata Mang Asep supir pribadi Rania sudah menunggu disana.
"Maaf ya mang sudah menunggu lama", sapa Raniah kepada mang Asep.
"Nggak apa-apa kok Non, saya juga barusan sampai."
"Oh ya mang, kita kerumah sahabat Nia dulu ya sebelum pulang kerumah, kasihan dia sudah terlambat lagian angkutan umum kearah rumahnya tidak jalan hari ini, sedang ada demo mang.
"Iya Non, tadi teman saya juga bilang, supir supir angkutan umum pada mogok narik. Kabarnya mereka menuntut kenaikan tarif ongkos atau meminta pemerintah menurunkan kembali harga BBM."
"Iya mang, sahut Zia. Maaf ya mang sudah merepotkan."
"Nggak kok Non, kan memang sudah tugas saya mengantarkan Non Rania kemanapun Non Rania mau pergi. Non Rania punya teman baru saya juga ikutan senang Non, Non Nia kan baru pindah jadi belum ada teman disini."
Mang Asep kemudian menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang keluar dari sekolah menuju jalan kerumah Zia sesuai petunjuk Zia.
__ADS_1
Selama diperjalanan pulang, Zia masih terus kepikiran Angga. Dia lebih banyak diam dan merenung di dalam mobil.
"Eh, jangan melamun terus dong, si tampan
nggak bakalan kenapa-kenapa lho, dia pasti bisa menyelesaikan semuanya dengan baik besok. Kamu jangan terlalu khawatir, pihak sekolah nggak akan mungkin memberikan hukuman yang berat untuknya. Kamu kan tau, sekolah ini muridnya sebagian besar adalah anak-anak pejabat atau anak-anak yang orang tuanya terpandang di kota ini. Sebagian orang tua mereka adalah penyandang dana atau donatur pada sekolah ini. Kamu lihat saja mobil yang dikendarain Angga, mobil sport keluaran terbaru."
"Apa hubungannya dengan masalah ini", tanya Zia dengan polosnya.
"Ya adalah, orang yang mempunyai mobil sport terbaru itu bukan anak dari pengusaha biasa, harga mobil itu dua kali lipat dari harga mobilku ini. Jadi sudah pasti papanya juga salah satu penyandang dana disekolah kita. Mana mungkin pihak sekolah memberikan hukuman yang bisa membuat reputasi sekolah buruk di mata para donatur kan.
Hukuman pasti tetap akan dijalankan, tapi yakinlah hukuman besok pasti tidak akan memberatkannya", ucap Rania.
"Tenang saja sahabatku yang cantik, pangeranmu tidak akan kenapa kenapa besok", canda Rania sambil menarik kedua pipi Zia dengan gemesnya.
"Aduh sakit, kamu ada aja, siapa yang bilang dia pangeranku ?", jawab Zia sambil tersipu malu.
"Habisnya sih, kamu melamunkan dan mengkhawatirkan dia terus. Akunya kan jadi curiga nih, jangan-jangan sahabatku yang cantik ini ada hati sama pangeran tampan itu."
Belum sempat membalas kejahilan Rania, tiba-tiba Zia memalingkan wajahnya ke jendela mobil.
"Mang-mang, saya berhenti disini saja ya."
Mang Asep segera menghentikan mobilnya.
"Aku kerja disini Rania, setiap sepulang sekolah aku kerja menyeterika pakaian disini."
"Oh ya Nia, terima kasih ya, sudah mengantarkanku pulang. Kapan-kapan akan aku jelaskan, hari ini aku buru-buru karena sudah telat. Maaf ya saat ini belum bisa membawa kamu untuk bertemu ibuku."
"Nggak apa-apa kok Zia, lain kali aku pasti mengunjungi ibu kamu, ya sudah hati-hati ya, selamat bekerja."
"Sekali lagi, terimakasih Rania. Terimakasih mang", sambil berlari Zia meninggalkan sahabatnya.
Sementara Rania di dalam mobil tertegun sambil terus memandangi kepergian sahabatnya, banyak yang belum ia ketahui tentang kehidupan sahabatnya itu.
"Aku kagum dengan kamu Zia", gumamnya.
"Mau kemana lagi kita Non?", ucapan Mang Asep membuyarkan lamunannya.
"Kita langsung pulang saja ya mang."
"Baik Non."
Kemudian mang Asep memutar balik mobil ke arah jalan semula menuju ke rumah majikannya.
__ADS_1
Sesampainya dirumah, Rania langsung masuk ke dalam rumah, dilihatnya papanya sedang duduk nonton TV sambil minum kopi.
"Assalamu'alaikum Pa", sapa Rania
"Wa'alaikumsalam sayang", jawab Papanya.
" Darimana saja sayang, kok baru pulang hari gini?"
Nia langsung duduk disamping papanya.
"Tadi ada masalah sedikit pa di sekolah dan Nia antar teman Nia dulu pulang, kasihan dia pa telat masuk kerja."
"Lho, kok kerja tapi masih sekolah."
"Nah itu yang Nia belum dapat penjelasannya pa, karena tadi teman Nia terburu-buru."
"Memangnya teman kamu itu kerja dimana?"
"Kerja di loundry pa, katanya sih sebagai tukang seterika baju disana, teman Nia itu baik dech pa, pintar, cantik, rajin dan asik orangnya diajak ngobrol. Nia senang dech pa bisa punya temen seperti dia."
"Syukurlah jika begitu, siapa nama teman kamu itu?"
"Namanya Zia Ayunda Putri, dia masuk disekolah itu karena mendapatkan program bea siswa Pa."
"Oh, hebat ya berprestasi sambil bekerja, Papa senang kamu bisa segera mendapat teman yang baik walau masih baru disekolah itu. Anak papa kan juga paling baik, makanya Allah ngasih temen yang baik pula", kata Pak Arya Pratama sambil mengelus rambut putri kesayangannya.
"Sudah mandi dulu sana sayang, ntar kita ngobrol lagi, bau asem nih."
"Iiiih papa, putrinya bau wangi gini dibilang asem",
jawab Rania sambil mencium ketiak kanan kirinya untuk meyakinkan papanya.
"Iya iya, anak papa kan selalu wangi, pasti belum makan kan?, ayo buruan makan tuh Bik Asih masak enak buat kamu."
"Asyiiik, pasti Bik Asih masak kesukaan Nia ya Pa, gulai ikan sale, asyiiiik."
"Ayo cepat sana makan dulu, nanti kamu sakit, telat makan terus."
Sebelum pergi Rania mencium papanya.
"Emmmuah, Nia makan dulu ya Pa. Emmmuah, Papa ganteng dan Papa yang paling baik sedunia."
Pak Arya hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku putrinya, dia sangat menyayangi putri semata wayangnya itu dan apapun akan ia lakukan demi kebahagiaan putrinya.
__ADS_1
Rania segera berlari pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri baru kemudian menuju meja makan untuk menyantap makanan kesukaannya.