Persahabatan Telah Mengubah Takdir

Persahabatan Telah Mengubah Takdir
Episode 57. Sepakat untuk menjodohkan


__ADS_3

Zia tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia tidak membantah tapi sulit untuk mengiyakan, yang di katakan mertuanya memang benar bahkan Ibunya juga pernah mengatakan hal ini.


Ibu mengatakan tidak tahu berapa lama lagi bisa mendampingi Zia dan Gara, setidaknya beliau ingin Zia memiliki pendamping lagi yang bisa Beliau andalkan untuk menjaga mereka.


Di tengah keheningan, Pak Wiguna kembali membuka suara, "Oh ya Frans bagaimana keputusan kerjasama kita dengan perusahaan Australia tersebut?"


"Alhamdulillah Pak, semua proses negosiasi berjalan lancar, Tuan Mike setuju, tapi beliau mengatakan untuk kelanjutan pengerjaannya kita akan berhubungan dengan putranya yang bernama Edward."


"Kapan rencana proyek kerjasama kita akan di mulai Frans?"


"Seminggu setelah pernikahan Saya Tuan!? Saya sudah coba cari info siapa itu Edward dan bagaimana perangainya di dunia bisnis, ternyata dia seorang pengusaha muda terkenal di Australia, tapi sayang kita belum mendapatkan fotonya. Menurut info, Edward adalah putra tunggal Mike dan dia yang akan memegang semua kendali bisnis Mike untuk di luar negara mereka."


"Bagus Frans, aku percayakan semuanya kepadamu tapi jangan lupa kamu harus pikirkan dulu pernikahan kalian."


"Iya Pak, Siap! Aku akan berusaha melakukan yang terbaik untuk perusahaan kita."


"Pa, Ma, Zia permisi dulu ya? Ada pelanggan yang ingin bertemu," ucap Zia setelah dirinya tadi menerima telephone.


Setelah kepergian Zia, Mama mendekati Rania, lalu beliau bertanya, "Nia, apa tidak ada teman pria kalian yang bisa kita dekatkan ke Zia? Mama mohon bantuan kamu sebagai sahabatnya," ucap Mama Angga.


"Sebelumnya Nia mohon maaf Bu, Nia ingin menjodohkan Zia dengan Papa tapi bingung bagaimana cara menyampaikan kepada Zia."


"Kamu serius! Apa Papa kamu mau?" tanya Mama yang merasa terkejut.


"Kalau masalah Papa, Nia bisa yakinkan Bu, tapi dengan Zia apakah Ibu bisa membantu meyakinkannya?"


"Baiklah kita akan coba meyakinkannya bersama-sama."


"Terimakasih Bu, seminggu lagi Papa akan datang kesini dan itulah kesempatan kita. Nia yakin Bu, Zia bisa membahagiakan Papa dan sebaliknya. Kasihan Papa, beliau selalu mementingkan urusan Nia ketimbang memikirkan dirinya sendiri dan Zia juga tidak mungkin selamanya seperti ini."


"Iya Nak, terimakasih. Ibu juga ingin Zia dan Gara hidup bahagia dengan memiliki keluarga baru. Baiklah kita akan atur semua dan minta bantuan Papa serta Frans."


Sementara di Australia Edward merasa gelisah, tapi dia sendiri tidak tahu apa yang menyebabkan dirinya gelisah. Tidur salah, duduk salah, akhirnya dia putuskan untuk menonton televisi.

__ADS_1


Mike yang melihat kegelisahan putranya segera menghampiri dan menepuk pundaknya sembari bertanya, "Ada apa Nak, Dady lihat sedari tadi kamu terlihat gelisah?" tanya Mike.


"Ntahlah Dad, Edward juga bingung. Perasaanku tidak tenang, seperti kehilangan tapi Edward tidak tahu akan kehilangan apa?"


"Ya sudah, mari kita ngobrol tentang bisnis saja. Oh ya, dua minggu lagi kamu harus terbang ke Indonesia, karena kerjasama kita akan segera di mulai dengan perusahaan Wiguna."


"Perusahaan Wiguna?" tanya Angga, sepertinya dia merasa tidak asing mendengar nama perusahaan yang baru di sebutkan oleh Mike.


"Iya, memangnya ada apa Edward? apakah kamu sudah tahu perusahaan itu?"


"Belum sih Dad, tapi rasanya aku tidak asing dengan namanya."


Angga mencoba mengingat nama Wiguna, tiba-tiba terlintas diingatannya seorang laki-laki setengah baya yang sedang duduk di atas kursi roda sedang memanggil dirinya, "Anakku Angga..."


"Papa...," spontan keluar ucapan dari mulut Angga sambil ia memegangi kepalanya yang mulai sakit.


"Kenapa Nak, kepalamu sakit lagi?"


"Iya Dad, aku melihat ada seorang laki-laki paruh baya sedang duduk di atas kursi roda memanggilku Angga dan aku memanggil dia Papa, kepalaku sakit Dad?"


"Kamu harus sabar, pelan-pelan kamu pasti akan mengingat semuanya. Dady sayang sama kamu, Dady ingin kamu bahagia saat nanti ingat identitas aslimu."


"Terimakasih Dad, aku sayang Dady."


Mike memeluk Edward, dia berjanji akan menyelidiki pemilik perusahaan Wiguna demi putranya.


"Sonya kemana Dad? tumben hari gini belum pulang?"


"Dia ada pertemuan dengan komunitas bisnis wanita, katanya sih malam ini pulang rada telat. Sonya mau ikut, jika minggu depan kita jadi berangkat ke Indonesia. Dulu dia pernah Dady ajak kesana dan Sonya ingin kesana lagi, berharap mendapatkan jodohnya di sana."


"Serius Sonya mau ikut Dad?"


Mike pun mengangguk, Edward senang adiknya ikut. Dia akan memiliki teman di sana, Sonya memang kepinginnya dekat terus dengan sang Kakak.

__ADS_1


Ketika Mike dan Edward sedang asyik ngobrol eh Sonya datang mengageti mereka, dia mengendap-endap masuk agar Dady dan Kakaknya tidak tahu jika dirinya sudah pulang. Sonya memeluk keduanya dari belakang, lalu duduk di tengah-tengah mereka.


Edward mengacak asal rambut adiknya sambil berkata, "Kamu sudah pantas nikah tingkahnya masih saja kekanak-kanakan."


"Biarin dong Kak, oh ya kapan kita berangkat Dad? Pokoknya Sonya ikut!"


"Siapa juga yang mau ngajak gadis manja seperti kamu, ntar di sana kamu malah nyusahin Kakak."


"Janji deh Kak, aku tidak akan menyusahkan Kakak," ucap Sonya sambil menautkan jari kelingkingnya ke jari Edward.


"Beneran, kalau kamu manja di sana langsung Kakak nikahkan dengan pemuda sana."


"Nah ini, memang tujuan aku Kak, mau cari jodoh orang Indonesia, biar bisa dekat terus dengan Kakak," ucap Sonya sambil menggelayut manja di lengan Edward.


Mike senang melihat keakraban keduanya, walaupun mereka bukan sekandung tapi keduanya tidak pernah mempermasalahkan hal itu.


"Ayo kita makan, Dady sudah lapar," ajak Mike.


"Tapi Mami belum pulang Dad?" ucap Sonya.


"Mami sudah bilang tadi akan pulang telat, kita diminta makan duluan dan Mami kalian sudah siapkan makanan di meja makan."


"Ayo manja kita makan!" ajak Edward sembari menarik lengan adiknya.


Ketiganya pun menikmati makanan yang sudah tersedia di meja makan. Setelah selesai masing-masing kembali ke kamarnya untuk beristirahat.


Di dalam kamar, Edward kembali mencoba untuk mengingat kejadian-kejadian yang sering terlintas di kepalanya tapi akhirnya diapun tertidur setelah merasakan rasa sakit di kepalanya.


Pagi hari dia terbangun, yang dia ingat tetap menjalankan ibadah sholat, walaupun Mike bukan seorang muslim tapi dia menyediakan perlengkapan ibadah untuk Edward.


Setelah beribadah, Edward membuka laptopnya, dia mulai mengotak atik pekerjaannya di sana. Dia melihat kontrak perjanjian dengan perusahaan Wiguna dan di sana tertera yang mewakili bernama Frans.


Frans, aku sepertinya mengingat baik namamu, aku sudah tidak sabar ingin bertemu kalian. Apa mungkin aku memang memiliki hubungan dengan orang-orang dari perusahaan Wiguna ini.

__ADS_1


BERSAMBUNG.......


🌻 Jangan lupa tinggalkan jejak ya guys..., pavorit, vote, like, coment dan rate bintang limanya. Terimakasih 🙏😉


__ADS_2