Persahabatan Telah Mengubah Takdir

Persahabatan Telah Mengubah Takdir
Episode 58. Menjadi Mak Comblang


__ADS_3

Rania dan Frans sudah bersiap untuk menjemput kedatangan Papanya, kali ini dia harus berhasil membujuk sang Papa untuk menikah lagi. Dia ingin sebelum akad nikahnya berlangsung, Papanya sudah memberikan keputusan tentang hal itu.


"Ayo Frans kita berangkat, pesawat yang di tumpangi Papa, pasti sebentar lagi mendarat. Aku tidak mau telat, hingga Papa naik taksi kesini," ajak Rania.


"Siap Sayang, ayo silahkan naik Tuan putri," ucap Frans sembari mengulurkan tangannya.


Frans melajukan mobilnya ke arah bandara, suasana tampak lengang karena hari ini adalah hari libur. Merekapun tiba tepat waktu, Tuan Arya baru saja keluar di tempat kedatangan.


Frans langsung menyapa calon mertuanya, "Selamat datang Pa, maaf kami terlambat."


"Enggak kok Frans, Papa baru saja sampai. Kalian sehat semua kan?"


"Alhamdulillah sehat Pa," jawab Rania sembari memeluk Sang Papa.


"Anak Papa sebentar lagi akan jadi istri, semakin tua jadinya Papa ini dan tahun depan sudah di panggil eyang," ucap Tuan Arya sembari mengelus puncak kepala putrinya.


"Papa kapan lagi? Siapa coba yang akan mengurus Papa nanti, Nia pasti sibuk mengurus rumah tangga kami."


"Itu nanti deh Papa pikirin, yang terpenting sekarang acara kalian bisa berjalan dengan lancar."


"Pa..., setuju ya? Nia sudah ada nih calon buat Papa."


"Siapa memangnya calon Mama yang kamu rekomendasikan kepada Papa?"


"Zia Pa," jawab Rania tanpa ragu.


"Apa! Kamu jangan bercanda Sayang, Papa-kamu minta menikah dengan sahabatmu yang sudah Papa anggap sebagai anak?" tanya Tuan Arya yang mengira putrinya bercanda.


"Nia serius Pa, Zia wanita yang baik lagipula dari dulu Nia ingin dia menjadi bagian dari keluarga kita tapi sayang keburu dia mencintai Angga. Tapi itulah jodoh dan sekarang Zia sudah sendiri lagi, apa salahnya jika Nia kembali berharap dia bisa menjadi pendamping Papa."


"Tapi 'kan dia masih sangat muda, rasanya tidak pantas dengan Papa yang usianya jauh di atasnya."


"Pa, usia tidak menjadi masalah yang terpenting keduanya bisa saling menerima dan memahami serta bisa saling menyayangi nantinya. Nia ingin Papa ada yang mengurus, Nia tidak mungkin bisa terus di sisi Papa kan?"


Tuan Arya terdiam mendengar perkataan Rania, memang benar semua yang di katakan putrinya. Dia juga tidak mungkin sampai renta hanya memikirkan bisnis saja tanpa ada pendamping yang bisa menemani dirinya di masa tua.

__ADS_1


Melihat Papanya terdiam, Rania merasa mendapatkan angin segar, lalu dia berkata, "Papa tidak perlu khawatir, Rania yang akan menyampaikan hal ini kepada Zia, yang terpenting. sekarang Papa sudah oke, Nia pun bisa tenang melangsungkan pernikahan."


"Ya sudah, Papa terserah kamu saja. Jika menurut mu, Zia baik untuk Papa, Papa setuju."


"Alhamdulillah, terimakasih Papa Sayang," ucap Rania sambil mencium Papanya.


Frans yang melihat tingkah calon istrinya dari kaca spion pun tersenyum, dia bersyukur Nia telah berhasil meyakinkan Papanya, kini tinggal tugas mereka untuk meyakinkan Zia.


"Lho Frans kita mau kemana? ini bukan jalan menuju ke rumah Zia kan?" tanya Rania yang baru menyadari ketika melihat jalan yang mereka lewati.


"Tenang, sebentar lagi kita sampai," jawab Frans.


Frans pun melajukan mobilnya masuk ke dalam kompleks perumahan yang tidak jauh dari rumah Zia, di halaman sebuah rumah yang lumayan megah dia menghentikan mobil dan mengajak Nia beserta papanya untuk turun dan masuk ke dalam rumah.


Rania merasa heran lalu menarik lengan Frans, "Rumah siapa ini Frans? Kenapa kamu ajak kami kesini?"


Frans pun tersenyum sembari berkata, "Ini rumah kita, aku sengaja membeli rumah ini secara diam-diam untuk hadiah pernikahan kita," ucap Frans.


"Frans, terimakasih!? Aku tidak percaya jika ternyata kamu sudah merencanakan semua ini jauh-jauh hari," ucap Rania sembari menggandeng Frans.


''Ini sudah lebih dari cukup Frans, aku bahagia walaupun tinggal di rumah kontrakan asal tetap bersamamu aku ikhlas."


Tuan Arya yang melihat kesungguhan calon menantunya merasa bersyukur, putrinya jatuh ke tangan orang yang tepat, dia hanya ingin melihat Rania bahagia walau tidak bergelimang harta.


Baginya, kasih sayang yang Frans berikan sudah lebih dari cukup. Masalah harta, dia masih bisa memberikan kepada Rania karena cuma Rania lah pewaris tunggalnya.


"Ayo Pa, silahkan masuk," ajak Frans setelah membuka pintunya.


Rania pun menggandeng lengan Papanya, mengajak masuk, ternyata isi perabot di dalamnya juga sudah lengkap dan tertata rapi.


Rania berkeliling, melihat setiap bagian rumah tersebut di ikuti oleh Frans, kemudian Frans berkata, "Bagaimana Nia, apakah ada yang tidak kamu sukai? jika ada tolong bilang biar bisa segera kita tukar."


"Tidak Frans, aku suka semuanya, kamu sepertinya sudah hapal dengan seleraku," ucap Rania sembari tertawa.


Setelah puas berkeliling, Raniapun mengantarkan Papanya ke kamar agar bisa beristirahat.

__ADS_1


"Ini kamar Papa, selamat istirahat ya Pa, kami akan ke rumah Zia dulu, nanti sore kami kembali untuk mengajak Papa makan malam di luar."


Tuan Arya pun mengangguk setuju, lalu beliau masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. Sementara Rania mengajak Frans pergi ke rumah Zia. Dia sudah tidak sabar ingin segera mengatakan maksudnya kepada sahabatnya itu.


Setibanya di rumah Zia, Rania tidak melihat Zia juga Gara, lalu Rania mencoba menanyakannya kepada ibu, "Bu...pada kemana semua, tumben sepi."


"Eh, Nak Nia sudah kembali. Zia pergi bersama Gara dan adik, sebentar lagi pasti kembali. Kalian tunggu saja disini ya, ibu mau melayani pembeli."


Ibu pun berlalu meninggalkan keduanya, lalu Rania mengajak Frans duduk sembari menyiapkan minum untuknya.


Tidak lama mereka duduk, Zia pun kembali dengan menggendong Gara, sementara adik membawa tas belanjaan mereka.


"Wah, habis ngeborong ya Dik?" tanya Rania.


"Pakaian Gara Kak, kasihan bajunya sudah banyak yang sempit. Tubuh Gara kan mulai tinggi dan besar jadi bajunya banyak yang nggak muat lagi."


"Iya ya, sini Sayang, sama Mami."


Gara pun turun dari gendongan Zia dan berlari ke dalam pelukan Rania, lalu Rania menciumi bocah lucu itu sampai puas. Setelah itu barulah Rania memberikannya kepada Frans.


Setelah puas bermain, lalu Zia meminta agar Gara beristirahat dengan Adik di kamarnya. Adikpun pergi dengan menggandeng tangan Gara.


Sekarang kesempatan untuk Rania untuk berbicara dengan Zia perihal Papanya yang ingin melamar Zia.


"Zia, sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan, tapi aku minta maaf jika hal ini nantinya membuat kamu terkejut."


"Hal apa Nia? ayo katakan, sejak kapan kamu punya rahasia yang tidak aku ketahui."


"Papaku ingin melamarmu untuk menjadi istrinya, menjadi mamaku."


Zia terpaku, sembari menatap aneh kepada sahabatnya, dia tidak yakin atas apa yang di dengarnya barusan.


BERSAMBUNG.......


🌻 Jangan lupa tinggalkan jejak ya guys... pavorit, vote, like, coment dan rate bintang limanya. Terimakasih 🙏😉

__ADS_1


__ADS_2