
Janji untuk saling setia kini telah mereka ikrarkan dengan simbol sepasang cincin emas bermata putih yang sangat indah, seindah suasana hati mereka berdua. Restu ibu telah mereka dapatkan, tinggal meminta restu kedua orang tua Angga kelak jika Angga kembali.
Keduanya kini terlihat asyiik dengan obrolan mereka, saling bercerita tentang kenangan saat mereka kecil, saat mereka baru kenalan dan saat mereka jadian. Kini mereka merasa seakan dunia ini hanya milik berdua.
Waktu terus berlalu, tak ada rasa kantuk sedikitpun dimata mereka walau jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Angga meminta Zia agar segera tidur untuk beristirahat. Zia menolak, ia takut ketika terbangun Angga sudah pergi meninggalkannya.
"Tidur lah Sayang, kamu harus istirahat. Aku janji selama kamu tidur aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan duduk disini menjagamu hingga terbangun esok pagi."
"Benar yang kamu janji, tidak akan berangkat sebelum aku terbangun?"
"Iya, aku janji yang."
Zia pun berusaha memejamkan matanya, akhirnya ia tertidur dengan tangan yang masih menggenggam jemari Angga.
Angga juga terus menggenggam erat jemari kekasihnya seakan tidak rela untuk meninggalkannya. Di pandangi terus wajah polos kekasihnya yang nampak gurat kesedihan disana. Ia akan terus terjaga sepanjang malam ini, ia tidak ingin melewatkan kesempatan memandang kekasihnya yang tidak tau kapan lagi ia bisa bertemu.
Zia terjaga saat genggamannya perlahan terlepas. Ia melihat Angga yang hendak berdiri, Angga pun menyadari hal itu kemudian ia berkata,
"Tidurlah lagi, aku akan ke toilet untuk berwudhu, aku ingin menjalankan sholat tahajud."
Zia hanya mengangguk sambil melihat arlojinya ternyata sudah jam 4 pagi. Kemudian ia pun segera tayamum dan mengerjakan tahajud dengan tetap berbaring.
Setelah mengerjakan sholat, keduanya melanjutkan dengan mengaji, membaca ayat suci Alqur'anul qarim sambil menunggu datangnya waktu sholat subuh.
Adzan Subuh pun berkumandang, Angga berpamitan kepada Zia untuk melaksanakan sholat subuh di mesjid yang berada dilingkungan rumah sakit. Karena sebaik baiknya sholat untuk seorang laki-laki adalah sholat di mesjid berjama'ah.
Berdasarkan sabda Rasulullah SAW :
..." Sholat berjama'ah itu lebih utama 27 derajat daripada sholat sendirian ".(HR. Al-Bukhari no. 645 dan Muslim no. 650)...
Dan bagi orang-orang yang melaksanakan sholat subuh akan mendapatkan keutamaan/keistimewaan antara lain:
Mendapatkan rezeki
...Allah membagi-bagikan rezeki para hamba, antara sholat subuh dan terbitnya matahari (HR. Baihaqi)...
Sebagai kunci kemenangan
...Rasulullah apabila hendak menyerbu suatu kaum beliau menundanya hingga tiba waktu subuh. (HR. Bukhari)...
__ADS_1
Mendekatkan pada pintu surga
...Barang siapa yang mengerjakan sholat bardain (yaitu sholat Subuh dan Ashar) maka dia akan masuk surga. (HR. Bukhari no.574 dan Muslim no.635)...
Menjadi penghalang masuk neraka
...Tidaklah akan masuk neraka orang yang melaksanakan sholat sebelum terbitnya matahari(sholat subuh) dan sholat sebelum tenggelamnya matahari (sholat Ashar). (HR. Muslim no.63)...
Sebagai sumber cahaya saat kiamat
Sholat subuh akan menjadi salah satu sumber cahaya yang akan menerangi ummatnya ketika seluruh sumber cahaya di dunia telah padam.
...Barang siapa yang menunaikan sholat subuh maka ia berada dalam jaminan Allah. Maka jangan coba-coba membuat Allah membuktikan janji-Nya. Barang siapa yang membunuh orang yang menunaikan sholat subuh Allah akan menuntutnya, sehingga Dia akan membenamkan mukanya ke dalam neraka. (HR. Muslim, At-Tirmizi dan Ibnu Majah)...
Mendapat keberkahan dari Allah.
Angga dan Zia yakin dengan janji Allah, walau dalam kondisi apapun mereka tetap menjalankan sholat.
Setelah Angga berangkat ke mesjid, Zia pun segera melaksanakan sholat subuh diruangan rawatnya dengan tetap posisi berbaring.
Sekembalinya dari mesjid Angga menghabiskan sisa waktu sebelum keberangkatannya untuk berbincang kembali dengan Zia, saling memberi pesan agar jangan sampai meninggalkan sholat. Saat susah dan senang tetaplah ingat kepada Allah, insha Allah jalan keluar untuk semua masalah dan keberkahan akan selalu datang kepada mereka.
Sementara Rania dan ibu sedang dalam perjalanan ke rumah sakit, mereka singgah di warung yang menjual sarapan. Rania membeli beberapa bungkus nasi uduk agar ibu, Zia dan Angga juga bisa ikut sarapan.
Sesampainya mereka dirumah sakit, Rania segera mengeluarkan nasi uduk yang dibelinya tadi dan meminta semua untuk sarapan bersama.
Kini tiba saatnya Angga harus berangkat. Angga akan pulang ke apartement dahulu untuk berganti pakaian dan mengambil tas nya baru kemudian pergi ke bandara.
__ADS_1
Angga berpamitan kepada ibu, Rania dan terakhir kepada Zia. Dia memegang erat tangan kekasihnya, mencium keningnya, dan meminta Zia untuk tetap tersenyum.
Zia hanya bisa berkata " Hati-hati sayang", sambil tersenyum tapi air mata mengalir dari kedua sudut matanya.
Berat dirasa Angga untuk meninggalkan kekasihnya tapi apalah daya tanggung jawab yang besar harus segera diselesaikannya.
Ia mengucap salam dan melangkahkan kakinya tanpa menoleh kebelakang lagi. Dalam hati ia berkata " Selamat tinggal kekasihku, tunggu aku,
aku pasti kembali untukmu".
Setiap pertemuan pasti ada perpisahan, entah itu untuk sementara atau untuk selamanya. Sedih memang jika kita harus berpisah dengan orang yang kita sayangi, entah itu orang tua, sahabat, keluarga maupun kekasih.
Menangislah jika ingin menangis tapi jangan terlalu larut dengan kesedihan. Hidup harus terus dijalani, waktu tidak akan mau menunggu kita untuk berdiri. Angkat pundak, kuatkan langkah dan tegarkan hati untuk menyongsong masa depan, dengan terus berharap akan ada kebahagiaan menanti.
Kini tinggal mereka bertiga diruang rawat ini, Rania memeluk sahabatnya yang masih menangis. Ibu juga berusaha menenangkan Zia.
"Jangan cemas nak, jika nak Angga memang jodohmu dia pasti kembali. Mintalah selalu kepada Allah nak, karena hanya Dia lah penentu semuanya, sekarang kita fokus dengan kesembuhanmu dulu, lalu kalian berdua segera urus masalah pendaftaran kuliah. Jadi kalian kan nak ikut tes SBMPTN di USU?"
"Insha Allah jadi bu", jawab keduanya.
"Besok Rania akan mulai mencari info Bu, kapan pendaftaran dibuka."
"Baguslah nak, semakin cepat kalian mengurusnya semakin baik. Lagian dengan adanya kesibukan akan membuat Zia lupa akan kesedihannya."
"Iya, benar juga ya bu", jawab Rania.
"Oh ya nak, mengenai biayanya bagaimana? kamu kan belum aktif bekerja, sedangkan biaya rumah sakit aja nak Angga yang tanggung, apa mungkin uang untuk masuk kuliah juga kamu minta ke nak Angga."
"Ibu jangan khawatir, Angga sudah mentransfer uang untuk kebutuhan Zia masuk universitas Bu. Ini kartu ATM nya sudah diserahkan ke Zia.
Ini janjinya bu sejak lama. Dia mulai bekerja diperusahaan Papa nya saat kami belum ujian, dia ingin memberi Zia dengan hasil jerih payahnya sendiri. Sebelum pergi dia sudah tunaikan janjinya Bu."
"Baik sekali nak Angga, kita tak akan bisa membalasnya."
"Ibu jangan khawatir ya bu", timpal Rania.
"Rania juga sudah bicara dengan Papa bu, setelah Zia sembuh kami boleh bekerja di perusahaan Papa. Papa berjanji akan mencarikan posisi yang pas untuk kami. Jadi Zia bisa membiayai kuliahnya sendiri sekaligus membiayai kebutuhan hidup ibu sekeluarga."
"Alhamdulillah", jawab ibu dan Zia bersamaan.
"Benarkah itu Nia?", tanya Zia.
Rania pun mengangguk.
"Terima kasih Rania kami banyak berhutang budi sama kamu dan Papamu. Jika aku sudah bekerja kembali, aku punya penghasilan, jadi kami tidak menambah beban di pundak Angga."
"Dalam persahabatan tidak ada kata hutang budi Zia. Kebahagiaan kalian adalah bahagiaku dan kesulitan kalian juga menjadi masalahku. Jadi harus bisa kita cari sama-sama jalan keluar dari setiap kesulitan itu. Itulah gunanya sahabat."
__ADS_1