
Jam pelajaran berakhir, murid-murid satu persatu telah keluar dari kelasnya untuk pulang kerumah masing masing. Zia dan Rania juga ikutan keluar, Rania bermaksud mengajak Zia pulang bersamanya, tapi karena Angga sudah berjanji akan menjemput Zia, akhirnya ia menolak secara halus tawaran sahabatnya itu.
Rania tau Angga pasti sudah menunggu Zia untuk mengantarkannya pulang.
"Baiklah Zia, aku pulang duluan ya, pangeranmu pasti sudah menunggu. Benarkan kataku itu mobilnya, ayo sana sambil perlahan mendorong sahabatnya. Cepetan, ntar dia kelamaan menunggu dan akhirnya diambil peri cantik. Ntar nangis dech kamu."
"Hahahahaa, kamu ini bisa aja Nia, ngga apa-apalah jika peri cantiknya itu kamu, aku ikhlas kok."
"Ah, aku yang nggak ikhlas. Masak pagar makan tanaman, kambing kali. Lagian Angga juga kan bukan tipeku, aku tuh sukanya dengan cowok yang lebih dewasa bukan yang sebaya karena pria dewasa itu lebih asyik, lebih penyayang, kami tidak akan sama-sama egois, lebih berpengalaman dan tentu saja harus yang sudah mapan, Hehehehee", Raniapun tertawa.
"Dasar kamu, bule matre."
"Biarin, yang penting hatiku senang, hidupku nyaman, masa depanku akan lebih terjamin. Jika aku bahagia kamu juga pasti senang, lah ntar jika aku susah kamu juga kan yang bakalan susah mikirin aku."
"Iya dech, susah berdebat dengan bule matre", jawab Zia. Udah sana, Mang Asep pun udah tertidur tuh nungguin kamu."
"Oke, oke, sampai jumpa besok ya, salam buat Angga jangan balap-balap bawa mobilnya, jika sampai sahabatku lecet kupecat dia jadi calon iparku."
Keduanya tertawa sambil berjalan menuju mobil masing-masing yang telah menjemput mereka.
"Assalamu'alaikum calon suamiku, sudah kelamaan menunggu ya."
"Waalaikumsalam calon istriku, ayo silahkan masuk Bidadariku."
Angga pun membukakan pintu mobil untuk Zia dan segera ia memasangkan sabuk pengaman ke tubuh Zia.
"Siap, kita segera meluncur."
Mobil Angga pun keluar dari parkiran menuju jalan raya.
"Kita langsung pulang atau singgah makan dulu yang?"
"Langsung pulang aja ya, kan hari ini double kerjaan gantian dengan teman yang kemaren."
"Oke, lain kali jika sudah tidak sibuk baru kita cari tempat makan yang romantis ya, kita kan belum merayakan hari jadian kita."
"Siiiplah yang, terserah sayang saja."
Selama perjalanan angga pun menghidupkan musik dengan lagu lagu romantis, salah satunya yang dinyanyikan oleh Judika. Berjudul :
..." Sampai Akhir "...
Kasih kuberjanji
__ADS_1
Selalu menemani
Saat kau bersedih
Saat kau menangis
A...... 'kan ku jaga
A...... segenap rasa yang ada untukmu
Selama napasku masih berdesah
Dan jantungku terus memanggil indah namamu
Takkan pernah hati ini mendua
Sampai akhir hidup ini
Kasih kuberjanji
Selalu menemani
Saat ku bersedih
Saat kau menangis
A...... 'kan ku jaga
A....... percayalah
A....... satu cintaku untukmu
Selama napasku masih berdesah
Dan jantungku terus memanggil indah namamu
Tak kan pernah hati ini mendua
Sampai akhir hidup ini
Sampai akhir hidup ini
Angga bersama Zia terus berdendang mengikuti alunan musik, sesekali mereka saling pandang menimbulkan kesan suasana yang semakin romantis. Setelah lagu berakhir kemudian Angga melanjutkan pembicaraan mereka yang sempat tertunda, Angga berbicara dengan serius.
__ADS_1
"Sayang, sekitar 3 minggu lagi kita akan mengikuti ujian akhir kelulusan, setelah itu kita akan mempersiapkan diri untuk masuk ke perguruan tinggi. Sudah ada rencana mau mendaftar ke Universitas mana?."
Zia hanya terdiam, dia ingin masuk ke Universitas tapi bagaimana dengan biayanya. Mungkin nantinya program bea siswa bisa ia kejar tapi untuk biaya awal tentulah sangat besar darimana dia bisa mendapatkannya. Dengan berat hati dan sedih dia menjawab," Rasanya tidak mungkin aku bisa kuliah."
Tanpa Zia menjelaskan Anggapun faham akan maksud ucapan Zia.
"Begini lho yang, jauh-jauh hari aku telah fikirkan semuanya, setelah ujian berakhir mungkin kita tidak bisa sering jalan sama seperti ini."
Tiba tiba hati Zia sakit, ada ketakutan di hatinya. Mungkinkah Angga akan mulai menghindar darinya karena ia telah menyadari bahwa mereka tidak sepadan. Wajah Zia pun terlihat murung.
Sambil sesekali memandang wajah Zia dan menggenggam sebelah tangannya karena posisi Angga sambil menyetir, Angga merasakan ada kesedihan disana.
"Sayang, jangan salah faham dulu, jangan sedih,
aku tidak suka melihat calon istriku bersedih. Begini yang, sesuai nasihat kamu tempo hari, kita harus membahagia kan orang tua kita dan memikirkan masa depan kita", Sambil tersenyum menggoda, Angga meneruskan ucapannya.
"Calon suami kamu ini telah sepakat dengan papa mertua kamu untuk ikut terjun mengelola perusahaannya sepulang kuliah. Selesai ujian nanti aku berjanji akan langsung bekerja di kantor cabang perusahaan Papa di kota ini dan Papa akan izinkan aku kuliah di disini, jika aku mau terjun ke perusahaannya untuk mengembangkan serta memajukan Bisnisnya."
"Aku tidak mau yang, kuliah diluar negeri, aku memilih tetap disini karenamu, aku ingin selalu dekat dengan calon istriku ini. Aku akan mendapatkan gaji dari perusahaan setiap bulannya untuk tambahan uang saku dan dengan gaji itu nantinya aku berharap bisa membiayai semua kebutuhan kamu yang."
"Kamu harus kuliah, aku akan berjuang demi kamu, aku akan membantumu dengan hasil keringatku sendiri bukan dari harta orang tuaku, kita akan menabung agar bisa membuka usaha sendiri. Kamu bisa membuka loundry, membangun tempat kursus, atau bila perlu kita akan membangun sekolah untuk anak anak yang keluarganya kurang mampu. Dengan begitu jerih payah kita akan lebih berguna bagi orang lain."
Zia menitikkan air mata mendengar penuturan Angga, ia tidak menyangka Angga anak seorang pengusaha ternama harus bekerja keras demi dirinya.
"Kenapa Yang, kenapa menangis. Apa kamu tidak senang jika aku bekerja."
Zia menggeleng, " Aku senang yang, kamu bisa mandiri tapi aku tidak mau jika kamu berkorban terlalu banyak untukku. Apalah pemikiran orang nanti apalagi jika Papa Mama kamu tau, pasti semua akan mengira aku memanfaatkanmu yang."
"Tak perlu memikirkan apa kata orang, sekarang pikirkan masa depan kita. Aku dan kamu berjuang sekarang demi masa depan kita.Jadi konsekuensinya setelah aku sibuk bekerja dan kuliah, waktu untuk kita bisa bersama seperti ini pasti sangat terbatas. Paling setiap akhir pekan, baru kita bisa seperti ini lagi. Aku pasti akan sangat merindukanmu, izinkan aku VC kamu ya setiap kali aku rindu."
Zia pun mengangguk, mengiyakan permintaan Angga.
"Yang terpenting sekarang kita persiapkan diri dulu untuk mengikuti ujian akhir, baru kita pikirkan langkah selanjutnya. Ujian kini sudah semakin dekat, apa kamu masih terus bekerja diloundry dan mengajar les yang ?, tidak ingin fokus belajar dulu untuk menghadapi ujian."
"Rencananya minggu depan stop dulu, akupun sudah bicara dengan pemilik loundry dan juga kepada semua murid les. Mereka setuju, tetapi mereka tetap berharap aku kembali bekerja dan mengajar saat ujian telah selesai."
"Stop stop stop disini yang, kita sudah sampai. Terima kasih ya Sayang, aku kerja dulu ya, hati-hati ya yang, jangan balap balap lho ngendarai mobilnya, ntar telephone jika sudah sampai apartement ya yang."
Anggapun mengangguk.
"Assalamu'alaikum calon suamiku."
"Wa'alaikumsalam calon istriku."
__ADS_1
Mengucap salam ketika bertemu ataupun berpisah merupakan adab yang baik dalam islam. Antara manusia yang satu dengan yang lain saling mendo'akan agar yang pergi dan yang ditinggalkan sama-sama mendapat kebaikan, keberkahan dunia dan akhirat.
Setelah Zia melambaikan tangannya, Anggapun segera memutar balik mobilnya dan melaju kembali ke apartementnya.