Persahabatan Telah Mengubah Takdir

Persahabatan Telah Mengubah Takdir
Episode 74. Ingatan Angga telah pulih


__ADS_3

Saat di persimpangan, tiba-tiba Angga merasakan kepalanya sangat sakit, mobil oleng karena dia tidak konsen mengemudi dan akhirnya mobil yang di kemudikan menabrak pohon karena menghindari bertabrakan dengan mobil lain.


Zia yang kaget saat mobil oleng, dia tidak sempat berkata apapun, Zia hanya memeluk Gara dengan kuat, berharap jika terjadi hal buruk, putranya bisa selamat.


Untung saja Angga mengemudikan mobil tersebut tidak terlampau kencang dan mereka juga memakai sabuk pengaman, hingga Zia dan Gara tidak terluka, hanya kepala Zia sedikit terbentur.


Zia menoleh kearah Angga, dia melihat Angga pingsan dengan memeluk stiur, pelipisnya mengeluarkan darah. Zia mencoba menyadarkan Angga dengan mengguncang-guncang lengannya, dia berusaha untuk tidak panik agar Gara tidak terkejut dan menangis.


Namun Angga tidak bergerak sedikitpun, Zia segera membuka pintu mobil agar udara masuk, lalu orang-orang pun mulai ramai berdatangan.


Zia minta tolong agar mereka membantu membawa Angga ke rumah sakit, sementara Gara yang masih bingung karena terbangun dari tidurnya, bertanya kepada sang Mama.


"Ma, Papa kenapa? kok ramai orang datang kesini?"


"Nggak apa-apa Nak, Papa sedang sakit," ucap Zia agar putranya tidak panik.


Warga pun membantu Zia membawa Angga ke rumah sakit, dalam perjalanan Zia menghubungi Frans dan Rania, menceritakan kejadian yang menimpa mereka dan meminta agar Frans menghubungi bengkel untuk mengurus mobil yang dia tinggalkan di tempat kejadian.


Frans segera menghubungi anak buahnya untuk mengurus semua, lalu dia dan Rania berangkat ke rumah sakit. Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Rania menghubungi keluarga Wiguna, Mike dan juga Sang Papa.


Mereka semua menuju ke rumah sakit, tapi sebelumnya Rania meminta sang Papa untuk menjemput Ibu karena tadi Rania dan Frans saat di kabari Zia sedang berada di perjalanan.


Angga sudah di bawa ke ruang UGD, dokter pun memeriksa lukanya. Syukur saja dokter mengatakan jika luka Angga tidak serius, hanya terbentur stiur, tapi yang dokter heran kenapa Angga belum juga siuman.


Zia menceritakan keadaan Angga yang sebenarnya bahwa Angga sedang hilang ingatan, lalu dokter memeriksa kembali kepala Angga dan dokter pun berkata, "Kita tunggu saja, mudah-mudahan tidak lama lagi Tuan Angga akan sadar. Jika beliau nanti sadar kita akan lakukan pemeriksaan kembali."


"Baik Dok", ucap Zia.


Sambil menunggu Angga sadar, dokter pun memeriksa pasien yang lain. Zia menunggu Angga dengan sabar, sambil menggenggam tangan suaminya Zia berdoa agar Allah segera menyadarkan Angga.


Frans dan Rania sudah tiba di rumah sakit, lalu mereka langsung menuju UGD untuk melihat kondisi Angga.


Zia yang melihat kedatangan sahabatnya pun langsung memeluk Rania, menumpahkan kekhawatiran di pelukan sahabatnya.


Gara bingung melihat sang Mama menangis lalu berkata, "Mama kenapa nangis, ada apa dengan Papa Mami?"


Sayang... sini ikut Mami, Papa sedang sakit jadi do'ain aja ya biar cepat sembuh.

__ADS_1


"Iya Mami."


Frans melihat tangan Angga mulai bergerak, lalu dia mendekat, "Bos! Anda sudah sadar?"


Zia yang mendengar perkataan Frans segera menoleh ke arah suaminya dan dia melihat Angga mulai mengerjapkan matanya. Saat dia membuka mata, Zia langsung memeluknya sambil menangis.


"Kenapa kamu menangis Sayang, Aku lagi di mana ini?"


"Frans? kamu kok di sini? Apa tugasmu sudah selesai?" tanya Angga yang masih bingung karena baru sadar dari pingsannya.


"Gara yang melihat Papanya sudah sadar pun berlari mendekat, dia ingin memeluk sang Papa, tapi Angga bingung memperhatikan Gara, "Kamu siapa?"


Semua yang hadir pun heran, kenapa Angga tidak mengenal Gara. "Sayang...itu Gara putra kita," ucap Zia sambil menggendong Gara.


"Putra kita? kamu sedang hamil kenapa putra kita sudah sebesar ini?"


"Alhamdulillah, jadi Mas sudah ingat?"


"Aku dan Frans kapan kembali dari Papua? bukankah masalah kami di sana belum selesai?"


Sejenak Angga terdiam, lalu dia berkata, "Iya Frans, aku masuk ke dalam, lalu gempa terjadi dan tambang itu runtuh, aku berlari, terus terjatuh, kepalaku terantuk batu, terus aku tidak ingat lagi Frans."


Saat Angga selesai bercerita, Mike dan keluarga Wiguna pun sampai, Angga bingung melihat Mike, "Tuan siapa?"


"Aku Mike, Dady kamu Nak!"


"Mike?"


Saat Angga melihat Papa, Mama serta Aira langsung dia tersenyum dan berkata, "Pa, Ma, hai Aira, kenapa semua berkumpul di sini?"


Frans yang melihat ingatan bosnya kacau segera memanggil dokter. Dokter kemudian memeriksa Angga lalu beliau berkata, "Alhamdulillah, ingatan Tuan Angga sudah kembali, dia hanya butuh istirahat untuk menormalkan pikirannya. Saat ini dia hanya bingung, sebentar lagi pasti kembali normal."


Semua yang hadir merasa senang, terutama Zia, lalu dia meminta Angga untuk beristirahat agar segera pulih. Angga yang mendapatkan suntikan obat dari dokter pun merasa mengantuk, lalu dia memejamkan matanya dan akhirnya tertidur.


Mereka menunggu di luar ruangan terkecuali Zia, dia tidak mau meninggalkan Angga sendirian di ruangan, sementara asyik bermain dengan Frans dan Rania di taman rumah sakit.


Sekitar dua jam Zia menunggu, Angga akhirnya terbangun, diapun tersenyum melihat sang istri masih setia menunggu.

__ADS_1


"Mas, udah bangun?"


"Kamu lelah ya jagain Mas? dimana yang lain Yang?"


"Mereka di luar Mas, sedang mengajak Gara bermain."


"Gara anak kita? Mas ingin gendong dia. Terimakasih Sayang sudah memberikan anak yang begitu tampan dan lucu," ucap Angga.


"Mas mengingat semua?"


Angga pun mengangguk lalu mencium kening Zia dan menarik ke dalam pelukannya.


Saat itu semua kembali ke dalam ruangan, Zia pun merasa malu. Gara berlari menghambur ke pelukan Angga, kini ketiganya berpelukan hingga membuat mereka yang ada di dalam ruangan itupun merasa terharu.


Kini ingatan Angga telah pulih, diapun mengingat Mike, Angga tersenyum kepada Mike lalu berkata, "Dad? Terimakasih, telah menolong dan mempertemukan Aku dengan mereka.


Mike pun mendekati Angga kemudian memeluknya, "Terimakasih Nak, kamu mengingatku."


"Dady...Sonya mana? Apa dia tidak ikut kesini?"


"Itu dia baru datang," tunjuk Aira.


Sonya dan Arya pun segera mendekati Angga, Sonya memeluk Angga, dia senang ternyata sang kakak sudah sadar.


Kebahagiaan rumah tangga Zia sudah kembali, kini mereka tinggal menunggu keputusan dokter kapan Angga boleh pulang, sebab besok adalah acara pernikahan Frans dan Rania, mereka berharap semua bisa hadir termasuk Angga.


Frans yang ingin bosnya hadir dalam acara pernikahannya pun tak sabar, secara diam-diam dia menyelinap pergi. Frans ingin bertemu dokter, dia ingin menanyakan tentang kondisi Angga dan kapan Angga boleh pulang.


Dokter menjelaskan bahwa Angga hanya butuh istirahat dan sudah di bolehkan pulang dengan syarat minggu depan harus datang kembali untuk kontrol.


Frans mengurus semua administrasi rumah sakit, serta menebus obat, setelah itu barulah dia kembali ke ruangan untuk memberitahu kabar baik ini kepada Angga dan keluarganya.


Melihat kedatangan Frans, Rania mendekat dan mencubit lengannya, sedari tadi rania mencari tapi Frans tidak terlihat. Frans tertawa melihat tingkah Rania, dia senang Rania mencemaskan dirinya.


Melihat kertas dan obat di tangan Frans, Rania pun meminta kertas tersebut lalu dia memberikan kepada Zia. Mereka semua merasa lega, Angga yang dulu telah kembali.


Satu persatu memeluk Angga, lalu mereka mengajak Angga pulang ke rumah. Hari ini Angga diminta oleh Zia untuk beristirahat saja di kamar karena besok pagi mereka akan menghadiri acara pernikahan Frans dan Rania.

__ADS_1


__ADS_2