
Kemarahan Angga atas kecurangan yang dilakukan para staf membuatnya tidak sabar untuk mengungkapkan semuanya, begitu sampai di hotel Angga dan Frans langsung membuka semua laporan keuangan, laporan dari pihak gudang dan juga laporan dari bagian pemasaran. Mereka menganalisa secara teliti dimana letak kecurangan yang terjadi ditambah dengan fakta di lapangan seperti yang tadi mereka temukan. Sementara hasil audit dari team audit baru akan mereka dapatkan esok hari.
Mereka terus bekerja hingga malam, Frans menelephone pihak hotel agar mengantarkan dua gelas kopi dan sebungkus roti ke kamar Angga. Selang beberapa waktu, kopi dan roti sudah tersedia di meja kamar.
"Bos, ayo di minum dulu kopinya biar tenang dulu kita, jika terlalu kita paksakan takutnya malah ada yang terlewat untuk di cek hingga hasil yang kita harap nihil."
"Iya Frans, rasanya urat leherku kaku semua dan kepala bagian belakang serasa panas."
"Sebentar bos saya akan meminta pihak hotel mengantarkan minyak urut, Insha Allah saya mempunyai kemampuan mengurut walaupun belum terlalu mahir. Kita terlalu lelah hari ini, pekerjaan yang seharusnya kita selesaikan untuk beberapa hari eh hampir selesai dalam satu hari. Saya salut dengan semangat bos."
"Ini juga berkat kamu kan Frans."
Pelayan hotel telah datang mengantarkan minyak urut yang dibutuhkan Frans lalu perlahan ia mengoleskan ke leher Angga dan memijatnya secara lembut.
"Wah ternyata kamu ahli juga Frans, aku nggak perlu cari orang lain lagi jika membutuhkan tukang urut."
"Asal bonus tahunanku di naikkan ya bos."
"Aman Frans."
Kemudian mereka melanjutkan pekerjaanannya sampai tengah malam, setelah selesai merekapun beristirahat karena besok masih ada yang harus diselesaikan.
Keesokan pagi Angga dan Frans berangkat ke perusahaan dengan membawa bukti-bukti, mereka yakin tim audit juga mendapatkan hasil yang sama. Hari ini juga mereka akan mengungkapkan semua kecurangan yang terjadi.
Ternyata setelah sampai di perusahaan semua karyawan sudah pada hadir, hanya manajer keuangan dan manajer gudang yang belum tampak batang hidungnya. Tim audit juga sudah tiba kemudian mereka masuk ke ruangan Angga untuk menyampaikan laporan atas pekerjaan yang mereka lakukan. Terdapat kesamaan hasil analisis mereka dengan dukungan bukti bukti dilapangan. Sudah pasti dalang dibalik kejadian ini adalah kedua manajer tadi.
Angga mencoba menelephone keduanya namun handphone mereka tidak aktif, kemudian ia meminta Frans untuk mencari tahu keberadaan mereka. Namun Frans juga tidak menemukan keduanya di dalam perusahaan, akhirnya Angga meminta bantuan pihak yang berwajib untuk mencari keberadaan kedua manajer tersebut.
Sambil menunggu hasil kerja dari pihak yang berwajib Angga mengajak Frans untuk menemui keluarga korban dan sesuai janjinya kemaren ia akan memberikan kekurangan dari uang santunan yang seharusnya mereka terima.
Mereka disambut baik oleh para keluarga korban, Angga mewakili Papanya meminta maaf kepada mereka dan seluruh karyawan yang telah dirugikan.
Angga meminta semua karyawan kembali bekerja untuk memulihkan kondisi perusahaan. Angga berjanji jika omzet perusahaan naik di akhir tahun ini, ia akan memberikan bonus tambahan kepada seluruh karyawan dan Angga sendiri maximal setiap tiga bulan sekali akan datang untuk mengontrol perusahaan papanya yang ada di sini.
Setelah menyelesaikan semuanya Angga dan Frans kembali ke perusahaan, ia akan membereskan manajemen perusahaan, ia akan mengganti staf-staf yang telah melakukan kecurangan.
Pihak kepolisian memberi kabar bahwa mereka telah menangkap kedua manajer yang melakukan kecurangan, Angga dan Frans segera ke kantor polisi dengan membawa bukti-bukti.
Saat Angga menemui keduanya di sel, mereka tidak mengakui semua perbuatannya, namun Angga tidak bodoh, bukti dan rekaman pembicaraan dengan keluarga korban juga sudah ada padanya hingga membuat keduanya tidak bisa mengelak lagi. Akhirnya mereka harus mendekam di penjara sambil menunggu persidangan, mereka juga harus membayar uang ganti rugi.
Keesokan hari Angga mengundang seluruh karyawan dan buruh tambang untuk hadir di perusahaan, disana dia menjelaskan semuanya dan kembali meminta maaf serta mengumumkan siapa-siapa yang akan naik jabatan menggantikan posisi manajer keuangan dan manajer gudang. Ia melalui bantuan Frans, sekretaris Papa nya dan beberapa orang yang mereka anggap loyal dengan perusahaan telah mengangkat pemimpin yang baru. Acara pengangkatan akan ia lakukan esok hari sebelum ia kembali ke Jakarta dengan mengundang semua karyawan dan buruhnya untuk hadir kembali.
Dengan kejadian ini Angga harus sering bolak-balik Jakarta-Papua sampai perusahaannya stabil kembali. Mereka kini bisa bernafas lega, masalah sudah selesai kemudian Angga menelephone Papanya mengabarkan semuanya. Papa dan mamanya merasa bangga atas apa yang telah Angga dan Frans lakukan. Kini Pak Wiguna yakin untuk menyerahkan semua bisnisnya di bawah kepemimpinan putranya. Angga juga mengabarkan akan kembali ke Jakarta besok dengan penerbangan sore hari.
__ADS_1
Setelah kembali ke hotel barulah Angga menelephone Zia, ia menceritakan tentang pekerjaannya yang sudah selesai di Papua dan ia juga memberitahu bahwa akan segera membicarakan hubungan mereka dengan kedua orang tua Angga. Angga ingin segera melamar Zia dan akan membawanya ke Jakarta setelah mereka menikah. Angga berharap Zia dan Ibu setuju, mengenai perkuliahan Angga akan segera mengaturnya. Mereka bisa meneruskan kuliah di Jakarta.
Sebelum memberikan keputusan Zia meminta waktu untuk membicarakan semuanya dulu kepada Ibunya. Ia akan memberikan keputusannya lusa setelah Angga sampai di Jakarta.
Acara selamatan atas pengangkatan manajer baru hari ini berjalan lancar, para karyawan dan buruh kasar senang memiliki pemimpin seperti Angga, mereka berjanji akan loyal terhadap perusahaan. Setelah mengucapkan selamat kepada manajer barunya Angga dan Frans permisi untuk kembali ke Jakarta.
Frans telah memesan tiket pesawat via telephone, mereka langsung menunju bandara. Mereka tidak lama menunggu, panggilan untuk para penumpang pesawat Garuda tujuan Jakarta pun sudah terdengar.
Pesawat telah tinggal landas, Angga merasa senang sebentar lagi ia bisa bertemu kekasihnya, di dalam pesawat ia selalu tersenyum hingga membuat Frans ingin selalu menggodanya.
"Nah begitu bos, selalu tersenyum membuat bos tambah ganteng dan yang pasti bisa tambah awet muda lho bos!"
"Kamu Frans bisa saja, Kamu harus cepat cari jodoh Frans biar tahu seperti apa yang kurasakan sekarang. Rasanya aku sudah tidak sabar ingin menemuinya Frans, rasa rindu ini bisa membuatku gila!"
"Jangan dong bos, jika bos jadi gila Non Zia nya ntar sama siapa?"
"Yang pasti bukan sama kamu kan Frans!", jawab Angga sambil tertawa."
"Cari mati aku bos jika mengganggu wanita bos."
Mereka terus mengobrol hingga rasa kantuk membuat keduanya tertidur. Cuaca juga sangat buruk hari ini hingga pesawat mereka telat sampai Jakarta.
Akhirnya mereka tiba di Jakarta, mobil perusahaan telah menjemput mereka di bandara, kemudian pak supir melajukan mobil ke kediaman Tuan Wiguna orang tua Angga.
"Bagaimana kabar Papa, Angga lihat papa sudah semakin sehat."
"Alhamdulillah nak, kata dokter tidak lama lagi papa insha Allah bisa jalan asal rajin terapi jadi tidak tergantung lagi dengan kursi roda."
"Serius itu pa!"
Pak Wiguna pun mengangguk kemudian Mama Angga meminta anaknya untuk istirahat dan Frans pun undur diri, dia akan kembali ke apartemen untuk beristirahat.
Malam hari mereka berkumpul di ruang keluarga, mereka ingin mendengar langsung dari mulut Angga tentang semua yang terjadi di Papua. Angga lalu menceritakan semuanya, setelah puas bercerita ia pun berniat membicarakan tentang hubungannya dengan Zia.
"Pa...Ma, ada hal serius yang ingin Angga bicarakan!"
"Apa itu Nak yang ingin kamu bicarakan kami siap mendengarkannya", jawab pak Wiguna.
"Begini Pa, Ma, selama ini Angga telah menjalin cinta dengan seorang gadis yang bernama Zia Ayunda putri, Angga ingin Papa dan Mama melamarnya untuk Angga. Angga ingin fokus di perusahaan yang pastinya Angga juga harus bolak balik Jakarta Papua, hal ini membuat kami tidak memiliki kesempatan untuk bisa bertemu. Angga ingin tenang berkarir Pa dan juga ingin selalu dekat dengan Zia."
"Gadis mana yang berhasil merebut hati anak Papa ini."
"Iya Nak ayo cepat bilang anak pengusaha mana yang berhasil membuat anak mama jatuh hati hingga ingin buru-buru menikah."
__ADS_1
"Iya Kak, siapa tahu Ara kenal kak dengan calon Kak Angga!"
"Dia dari kalangan biasa Ma bukan anak pengusaha, ayahnya sudah meninggal dan kini hanya tinggal Zia, ibu dan adiknya."
Rona wajah mama Angga seketika berubah mendengar penjelasan Angga.
"Apa sudah kamu fikirkan dengan matang Nak semuanya, apa kata orang nanti, putra tunggal dari keluarga Wiguna seorang pengusaha muda menikah dengan gadis biasa."
"Zia bukan gadis biasa Ma, dia gadis luar biasa yang telah membuat Angga mengerti akan tanggung jawab dalam keluarga. Angga banyak belajar darinya, tanggung jawab keluarga ia pikul sembari ia sekolah. Angga tidak malu ma dan Angga merasa bangga bisa mengenalnya. Kami bisa sama-sama kuliah disini setelah menikah".
Mama Angga terdiam, lalu pak Wiguna berkata, "Papa setuju saja dengan pilihanmu Nak, kamu pasti tahu mana yang terbaik untukmu dan untuk keluarga kita."
"Terimakasih Pa", ucap Angga.
"Bagaimana Ma, Ara, apa keputusan kalian", tanya Pak Wiguna.
"Ara terserah kakak saja, yang penting orang yang akan menjadi kakak ipar harus baik dan sayang kepada Kak Angga. Ara ingin melihat Kak Angga bahagia".
"Terimakasih Ara, insha Allah pilihan Kakak tidak salah, kak Zia sangat baik orangnya, kakak dan dia saling mencintai, kami ingin bersama bahagia."
"Bagaimana Ma, Angga ingin restu dari Mama".
"Ya sudahlah!, jika memang itu sudah pilihan kamu. Sebenarnya Mama ingin yang terbaik untukmu tapi karena dia sudah menjadi pilihanmu Mama tidak bisa memaksa lagi."
"Jangan gitu dong Ma, Mama harus ikhlas", lanjut pak Wiguna.
"Iya...iya Mama ikhlas kok, jadi kapan rencananya kamu akan melamarnya?"
"Angga masih menunggu keputusan dari Zia Ma, katanya hari ini dia akan memberikan keputusan mau tidaknya Zia jika Angga mempercepat pernikahan."
"Lho masih sok jual mahal pake mikir dulu, memangnya masih ada gadis yang berani menolak lamaran anak mama ini."
"Bukan begitu lho Ma, Zia kan ingin membicarakan dulu semuanya kepada ibunya karena Angga ingin setelah kami menikah Ibu dan Adiknya tinggal dengan kami di Jakarta ini."
"Apa tidak akan membebani rumah tangga kalian nantinya, biarkan saja ibu dan adiknya tetap tinggal di Medan."
Pak Wiguna menggelengkan kepalanya ia tahu sifat istrinya. Mama Angga masih melihat segala sesuatu dengan harta sebagai ukurannya.
"Angga tidak akan merasa terbeban Ma, rencananya Angga ingin membukakan usaha buat Zia, Zia selama ini kan sepulang sekolah selalu bekerja di sebuah loundry dan malam hari dia mengajar les privat anak-anak tetangganya yang bisa dibilang kurang mampu, jadi dengan kemampuan yang ada pada Zia, Angga ingin membukakan dia usaha loundry atau membangun sebuah sekolah khusus untuk anak-anak yang kurang mampu."
"Bagus sekali idemu nak, papa dukung kamu".
Mamanya juga akhirnya menyerah, mereka hanya tinggal menunggu keputusan Zia dan keluarganya barulah mereka berangkat ke Medan untuk mengajukan lamaran.
__ADS_1