
Jam besuk sudah habis, Angga meminta Rania dan ibu untuk pulang, supaya bisa beristirahat.
Malam ini Angga yang akan menjaga Zia, lagi pula mereka besok pagi baru bisa menjenguk Zia kembali.
"Bu, ibu pulang saja ya biar bisa beristirahat dan kamu Nia juga harus istirahat. Malam ini biar aku yang menjaga Zia, besok ibu dan kamu bisa kembali menjaganya sementara aku akan ke kantor, Rania bisa sekalian kan antar ibu pulang."
"Iya Ngga, biar aku yang antar ibu pulang, sebentar ya, biar kutelephone mang Asep dulu agar menjemput kami."
"Bu, adik biar aja ya menginap dirumah Nia, besok pagi biar Nia yang antar adik kesekolah sekalian jemput Ibu untuk kembali kesini."
"Iya Nia, terimakasih ya, Ibu nggak tau gimana jadinya jika tidak ada kalian berdua nak."
"Ibu tak usah sungkan kami kan juga sudah menganggap Ibu, Zia dan adik seperti keluarga kami sendiri."
"Oh ya nak, apa kamu tidak apa-apa menjaga Zia sendirian, kamu kan juga lelah nak, sementara besok masih harus bekerja."
"Nggak apa kok bu, Angga tidak lelah. Ibu yang harus beristirahat karena kan ibu baru sembuh, stamina ibu belum pulih."
"Baiklah nak, jika terjadi sesuatu dengan Zia tolong kabari ibu ya nak."
"Iya bu", jawab Angga lagi.
"Mari bu kita pulang, Mang Asep sudah menunggu di area parkir."
"Kami pulang dulu ya nak, Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam", jawab Angga.
"Mari Ngga aku pulang dulu ya", pamit Rania.
"Oke, hati hati ya Nia."
Rania dan ibu berjalan keluar dari rumah sakit menuju ke parkiran, mang Asep sudah menunggu mereka. Mang Asep kemudian menjalankan mobilnya menuju rumah Zia untuk mengantar Ibu, setelah mengantarkan ibu mereka segera kembali ke rumah.
Sesampainya mereka dirumah, adikpun dengan senang menyambut kepulangan Rania, tapi adik harus kembali belajar jadi dia tidak bisa bermain dengan Rania untuk malam ini.
Disana Papa Rania juga sedang menunggu kepulangannya. Ketika melihat putrinya masuk Pak Arya segera menanyakan kabar Zia.
__ADS_1
"Bagaimana sekarang kabarnya Zia nak, kamu kok pulang jadi siapa yang nemani Ibu menjaga Zia."
"Zia sudah sadar Pa, tapi masih diruang ICU paling lusa sudah bisa dipindahkan keruang perawatan. Dan untuk malam ini yang menjaga Zia adalah Angga besok gantian kami yang menjaganya Pa sementara besok Angga harus ke kantor. Angga bilang kami harus istirahat untuk menjaga stamina agar besok bisa kembali menjaga Zia. Apalagi Ibu, ibu kan baru sembuh ntar jika kelelahan takutnya ibu sakit lagi."
"Benar yang dibilang Angga, kalian yang menjaga harus tetap jaga kesehatan, jangan sampai ikutan sakit, jadi Angga sekarang sudah mengelola perusahaan Papanya ya nak?"
"Iya Pa, Dia akan kerja paruh waktu jika perkuliahan sudah dimulai. Semenjak Zia sakit dia ke kantor jika ada yang penting saja."
"Jadi kamu kapan akan mulai membantu Papa di kantor?"
"Oh ya Pa, sebenarnya waktu Zia datang kerumah tempo hari bertepatan dengan tante Laura datang ada yang ingin Rania omongin ke Papa."
"Apa yang mau kamu omongin sayang?"
"Nia mau kerja di kantor Papa tapi Nia juga mohon Papa mau memberikan Zia pekerjaan juga disana.
Kasihan Zia Pa, hasil kerjanya selama ini di loundry dan mengajar les hanya cukup untuk membiayai kebutuhan sehari hari mereka saja. Sementara Zia kan ingin kuliah, dia tidak mau membebani Angga terus. Zia ingin membiayai kuliahnya dengan hasil dari jerih payahnya sendiri. Jadi tolong ya Pa, beri Zia pekerjaan yang layak di kantor Papa. Dia itu anak yang cerdas pasti tidak akan mengecewakan Papa."
"Baiklah sayang, nanti jika dia telah sembuh tolong ajak ke kantor Papa ya. Papa akan fikirkan pekerjaan yang cocok untuknya. Papa salut sama Zia, jarang-jarang di zaman sekarang ini ada anak yang mampu mandiri bahkan sanggup memikul beban keluarganya. Lagian dia juga teman baik kamu, dia sudah berkorban banyak bahkan tak segan mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan kamu nak, jadi kita juga harus menolong dia dan keluarganya."
"Oh jadi kamu mau nih jika Tante Laura tinggal disini bersama kita?"
"Iiih, ogah dech. Siapa juga yang mau dekat dan satu rumah dengan tante centil seperti itu, yang sukanya menggoda laki laki termasuk Papa.
Lagian dia kan orang kaya Pa, kenapa maunya cari tempat tinggal yang gratisan, dia kan mampu untuk menyewa hotel ngapain musti tinggal dirumah kita."
"Jangan gitu dong sayang, tante Laura itu kan teman papa dan orangnya baik lho, kamu aja yang hanya lihat dia dari luarnya aja."
"Pokoknya Nia nggak suka lihat dia bersikaf cari cari perhatian dengan papa."
"Iya iya, Papa tau kok kamu tidak suka dengan tante Laura. Papa nggak mau anak Papa cemberut terus makanya perusahaan telah membooking kan hotel untuknya yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kantor papa."
"Ayo, tersenyum dong anak Papa, jelek anak papa jika cemberut terus."
Rania pun tersenyum, ia senang dengan keputusan papanya.
"Yang terakhir Pa, tadi sebelum Nia pulang ibu dan Zia titip salam buat Papa. Mereka sangat berterimakasih karena Papa telah mendonorkan darah buat Zia."
__ADS_1
"Sampaikan kembali salam Papa ya sayang, Insha Allah lusa jika pekerjaan Papa selesai Papa akan jenguk Zia dirumah sakit."
"Oke papa Sayang. Emmuah, Nia sayang Papa."
"Ya sudah sana mandi dan istirahat, kamu pasti capek kan, sekalian lihat adek sudah selesai atau belum belajarnya dan suruh beristirahat juga, besok kan dia masih ada jadwal ujian."
"Iya Pa, Nia ke kamar dulu ya Pa, Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam sayang."
Sementara dirumah sakit Angga duduk ngobrol bersama keluarga pasien yang sama-sama sanak keluarganya sedang dirawat di ruang ICU. Mereka memesan kopi agar mengurangi rasa kantuk.
Angga pun sesekali membuka hand phone untuk melihat email yang masuk. Kemudian ia menelphone asistennya agar mempersiapkan rapat besok pagi tentang pengerjaan proyek yang baru saja ia menangkan tendernya.
Rencananya ia akan keperusahaan jam 9 pagi setelah Rania dan ibu datang untuk menggantikannya menjaga Zia. Rapat Akan diadakan pada pukul 10.
Sekitar pukul 03.00 pagi Angga terkejut dan cemas melihat kedatangan seorang dokter yang langsung masuk keruang ICU. Dia berusaha mengintip dari kaca apa ada pasien yang kondisinya ngedrop hingga perawat harus memanggil dokter hingga datang dini hari. Tapi tetap saja ia tidak bisa melihat apa yang sedang terjadi disana.
Kemudian keluar seorang perawat memanggil, "Adakah keluarga Zia Ayunda Putri disini?", Angga pun segera mendekat dengan perasaan cemas.
"Saya suster, saya keluarganya."
Suster memberitahukan bahwa malam ini Zia terserang demam kemungkinan terjadi infeksi pada lukanya.
"Tolong ya Pak sekarang juga tebuskan resep obat ini di apotik 24 jam yang terletak di gedung sebelah, dokter membutuhkan obat ini secepatnya."
"Baik Sus, saya akan secepatnya kembali."
Angga setengah berlari menuju apotik, dia harus segera mendapatkan obat yang telah diresepkan, Angga tidak mau terlambat, dia tidak mau terjadi hal yang tidak diinginkan terhadap Zia.
Tak lama dia kembali dan menyerahkan obat itu kepada perawat tadi.
Dokter segera menyuntikkan obat tersebut ke Zia melalui selang infus, tak lama kemudian setelah reaksi obat bekerja Zia pun tertidur dan demamnya pun turun.
Perawat kembali memberitahukan kabar itu ke Angga dan Anggapun merasa lega, rasa cemasnya pun hilang. Karena terlalu lelah Anggapun sejenak tertidur di bangku tunggu dengan bersandar di dinding ruang ICU hingga terdengar suara Adzan subuh berkumandang.
Ia terbangun dan segera bergegas berjalan ke mesjid yang berada di lingkungan rumah sakit ini untuk menjalankan ibadah menyembah Rob nya.
__ADS_1