
"Ayo Bu kita ke atas, biar ibu bisa beristirahat," ajak Zia.
"Kamu juga dek harus beristirahat, besok Kak Angga akan mendaftarkan kamu ke sekolah yang baru," ucap Angga.
Frans membantu mereka membawakan tas yang berisi pakaian. sesampainya di atas tampaklah pemandangan yang sangat indah, hamparan gedung kampus, area pertokoan dan juga kost-kostan dengan lalu lalang kendaraan disekitarnya.
Setelah mengantar mereka untuk beristirahat, Frans pun pamit kembali ke kantor karena masih ada pekerjaan yang harus dia selesaikan.
Mereka mengucapkan terimakasih kepada Frans sebelum dia pergi, berkat dirinyalah semua berjalan seperti yang direncanakan oleh Angga. Kemudian Angga berkata, "Inshaallah besok aku ngantor Frans jadi tolong ya, semua urusan hari ini kamu yang handle."
"Siap Bos, Aku akan tangani semuanya," jawab Frans sembari berlalu dari tempat itu.
Hari ini mereka beristirahat, esok perjalanan hidup di tempat ini akan di mulai. Zia akan mulai membuka usahanya begitu juga dengan Ibu. Besok Zia akan mencari orang yang mau bekerja membantunya, dia akan memawarkan pekerjaan itu lewat internet.
Sementara urusan mendaftar kuliah menunggu sampai Rania tiba, mereka akan bersama-sama mendaftar di kampus depan.
Fajar telah menyingsing, hari baru telah dimulai, dengan mengucap Basmalah dan Alhamdulillah, mereka membuka usaha loundry dan warung untuk hari ini. Hanya tinggal bimbingan belajar saja yang belum dibuka sembari menunggu mendapatkan tim pengajar yang akan membantu Zia di sana.
Angga juga telah beraktivitas kembali di perusahaan seperti biasa, sedangkan adik juga sudah di daftarkan di sekolah SD yang letaknya tidak jauh dari tempat tinggal mereka sekarang.
Sementara Rania, hari ini berangkat menyusul Zia. Zia dan ibu meminta agar Rania tinggal di lantai atas gedung yang akan di pakai sebagai tempat bimbingan belajar. Anggapun setuju, dia senang jika Zia mempunyai teman yang tinggal dekat dengannya, karena Angga sendiri akan sering ke luar kota untuk mengurus bisnis Papanya.
Rania dan Tuan Arya sudah berangkat dari Medan sejak pagi, pukul sepuluh di perkirakan pesawatnya akan sampai di bandara Soekarno Hatta. Anggapun telah meminta tolong Frans agar menjemput mereka di bandara.
Ibu dan Zia bersiap memasak untuk menyambut kedatangan Rania dan Papanya sekaligus untuk Angga yang rencananya akan pulang ikut makan siang bersama di rumah.
__ADS_1
Zia telah menyajikan aneka makanan, hanya tinggal menunggu kedatangan Angga, Frans, Rania dan Tuan Arya. Namun dia tidak menyangka jika Mama dan Aira juga turut hadir.
Mama dan Aira berkeliling mellihat ketiga tempat yang di sewa oleh Angga, sembari mencebikkan bibir keduanya berkata, "Wah enak ya kalian baru datang langsung mendapatkan tiga tempat plus usaha," ucap Mama sinis.
"Hooh, benar Ma! mumpung dapat suami kaya ya di manfaatin lah Ma?" ucap Aira yang tidak kalah pedas.
Ibu yang mendengar hal itu hanya menghela napas, beliau tidak menyangka jika perlakuan besannya akan seperti ini.
Sedangkan Zia tidak tinggal diam, lalu dia berkata, "Bukan memanfaatkan, justru kami ingin membantu beban tanggung jawab yang dipikul oleh suamiku, kami tidak ingin hanya menghabiskan justru kami ingin secepatnya menghasilkan dengan membuka secepatnya tiga usaha sekaligus," jawab Zia sembari meninggalkan mertua dan adik iparnya di sana.
Melihat putrinya berani membantah, Ibu lalu menimpali dengan berkata, "Kami juga nyewa kok disini dan Inshaallah jika usaha ini maju kami akan kembalikan uang sewa awal kepada Nak Angga jadi bisa Nak Angga gunakan untuk menjalankan bisnisnya yang lain," ucap Ibu.
Mama dan Aira akhirnya terdiam, mereka tidak menyangka jika akan mendapatkan perlawanan berupa bantahan.
Zia tidak menghiraukan mereka lagi, dia melayani beberapa orang yang menjadi pelanggan pertamanya, kebetulan loundry yang dibuka Zia adalah loundry koin maka Zia tidak terlalu repot. Paling akan repot jika pelanggan minta jasa seterika.
Ibu dan Zia sedang asyik melayani pelanggan yang sudah mulai banyak berdatangan hingga tidak memperhatikan jika Rania dan Papanya sudah sampai.
Rania menutup wajahnya dengan masker hingga membuat Ibu tidak tanda, lalu dia berpura-pura menjadi seorang pembeli yang ikut antrian.
Saat hendak membayar, Ibu baru sadar jika itu adalah Rania, mereka lalu berpelukan. Ibu sangat senang Rania sampai dengan selamat lalu beliau mempersilakan Tuan Arya dan Rania untuk masuk.
Zia yang mendengar suara sahabat langsung mendatangi mereka. Keduanya berpelukan lama seperti sudah setahun saja tidak berjumpa. Tuan Arya sangat senang melihat persahabatan putrinya, jadi beliau tidak akan khawatir menitipkan putrinya kepada Ibu dan Zia.
Anggapun sudah sampai dan menemui Zia, dia senang melihat usaha baru Zia dan Ibu mulai ramai pengunjung. Kemudian dia menemui Tuan Arya, Rania, Mama dan adiknya.
__ADS_1
Zia langsung ke dapur hendak menyajikan minuman untuk tamunya lalu dia mempersilakan mereka makan siang bersama. Merekapun makan siang bersama, walaupun sesekali mereka terganggu oleh pembeli yang datang.
Mama dan Aira merasa enggan untuk makan karena menurut mereka pasti masakan menantunya kurang enak, tapi melihat yang lain makan dengan lahap termasuk Angga membuat mereka menelan air liur.
Angga yang melihat kegengsian Mama dan adiknya segera mengambil dua buah piring dan mengisinya dengan nasi serta lauk, lalu menyerahkan kepada mereka.
Mama dan Aira akhirnya ikut makan bersama, keduanya tidak menyangka jika makanan tersebut sangat lezat rasanya, tapi mereka tetap gengsi untuk mengakuinya.
Selesai makan Angga ngobrol sejenak dengan para tamunya, lalu dia izin kembali ke kantor untuk karena masih banyak pekerjaan yang harus di selesaikannya.
Zia mengajak Rania ke atas untuk menyusun barang-barangnya di kamar, sementara Mama dan Aira ngobrol bersama Tuan Arya. Aira sedikit gimana gitu berhadapan dengan Tuan Arya, sebab Tuan Arya masih terlihat sangat muda dengan wajah tampannya yang keturunan Indo Jerman.
Tuan Arya memuji Angga karena telah berhasil meneruskan usaha Papanya dan memuji Zia yang telah ikut andil membuat Angga bisa berubah seperti itu.
Namun Mama dan Aira hanya mencebikkan bibir, mereka enggan mengakui bahwa perubahan dan keberhasilan Angga di perusahaan sekarang ini adalah berkat dorongan moril dari Zia.
Tuan Arya hanya tersenyum melihat reaksi kedua wanita di hadapannya ini, dia paham mereka berdua tidak menyukai kehadiran Zia di kehidupan putranya.
Zia dan Rania sudah turun ke bawah, lalu mereka menemui Tuan Arya dan Rania pun berkata, "Papa pulang besok sore saja ya, besok pagi temani kami dulu untuk mendaftar kuliah," pinta Rania.
"Iya sayang, papa akan mencari hotel dulu untuk menginap nanti malam. Sekarang Papa permisi dulu ya, mumpung lagi di Jakarta, Papa ingin menemui kolega bisnis yang ada di sini," ucap Tuan Arya.
Tuan Arya pun segera meninggalkan tempat itu setelah berpamitan kepada semuanya. Mama dan Aira juga ikut pamit mau pulang ke rumah.
Bersambung.......
__ADS_1
🌻 Jangan lupa tinggalkan jejak ya guys.....vote, like, coment dan rate bintang limanya Terimakasih 🙏😉