
Tuan Arya sudah sampai kembali di rumah Frans, dia sudah memantapkan hati ingin membina rumah tangga kembali setelah berpuluh tahun hidup menduda.
Selama ini dia bertahan hidup menduda bukan karena tidak ada wanita yang mendekat, tapi karena Tuan Arya selalu memikirkan kebahagian Rania yang tidak ingin beliau memilih sembarangan wanita untuk menggantikan posisi almarhumah Mamanya.
Setelah menyimpan perhiasan yang di belinya, beliau lalu memilih baju terbaik yang akan di kenakan nanti malam. Bagaimanapun matangnya kepribadian Tuan Arya tetap saja timbul sedikit perasaan nerves, takut akan adanya penolakan.
Sementara di Australia, Edward sedang mempersiapkan barang-barang yang akan di bawanya saat berangkat ke Indonesia, begitu pula dengan Mike dan Sonya.
Lusa mereka harus berangkat, Mike sudah memesan tiket keberangkatan, dia berharap kepulangan Edward ke Indonesia akan bisa mengembalikan ingatannya.
Mike sudah siap apapun resikonya nanti, bahkan jika harus kehilangan Edward yang pastinya akan kembali kepada keluarganya.
Edward yang sudah selesai membereskan barang, lalu menelepon teman-temannya, mengajak mereka bertemu sebelum dirinya pulang ke negara asal.
Kemudian dia pamit kepada Mike untuk bertemu sahabat-sahabatnya, Mike pun memberi izin asalkan Edward jangan pulang terlalu malam. Sonya juga melakukan hal sama seperti Edward, dia bersenang-senang dengan teman-temannya di sebuah cafe terkenal di sana.
Edward berpesan kepada para sahabatnya agar mereka datang ke Indonesia bila dirinya tidak sempat kembali dalam waktu yang lama. Karena menurut Mike kerjasama perusahaan yang telah mereka tandatangani membutuhkan waktu yang lumayan lama.
Wanita-wanita yang mengenal Edward merasa keberatan jika dia pergi, tapi mau bagaimana lagi mereka tidak bisa menahan Edward karena satupun tidak ada yang bisa memikat hati Edward. Edward menutup diri dari yang namanya cinta, dia menganggap wanita-wanita tersebut hanya sebagai teman saja.
Usai berpamitan, Edward pun kembali pulang, dia selalu ingat pesan Mike agar pulang tepat waktu. Itulah yang membuat Mike tambah menyayanginya karena sifat penurut Edward.
Sonya sendiri belum sampai rumah, lalu Edward menghubunginya agar segera kembali atau dia tidak akan mengajaknya ke Indonesia jika sampai Sonya pulang larut malam.
__ADS_1
Mendengar ancaman sang Kakak, Sonya pun mengambil tasnya dan berlari meninggalkan teman-temannya sembari melambaikan tangan.
Teriakan teman-temannya tidak Sonya pedulikan, ia hanya peduli dengan ucapan sang kakak. Melihat adiknya sudah tiba di rumah, Edward pun menahan senyumnya.
Mike senang sejak kehadiran Edward di rumahnya, Sonya berubah menjadi gadis penurut dan telah meninggalkan kebiasaan buruknya yaitu minum-minuman keras bersama teman-temannya.
Melihat putrinya datang ngos-ngosan, seperti habis maraton, Mike pun mengacungkan segelas air minum, Sonya menyambarnya dan menenggaknya habis. Mike dan Edward tertawa sementara Sonya mencebikkan bibirnya sembari berkata, "Kakak nggak asyik, main ancam hingga aku terbirit-birit pulang."
Edward hanya tersenyum sembari berlalu pergi ke kamarnya, begitu juga Mike, setelah mengacak rambut putrinya, dia pun masuk ke dalam kamar.
Sonya kesal, kedua orang yang dia sayangi begitu saja pergi meninggalkan dirinya di sana, lalu diapun ikut masuk ke kamarnya untuk beristirahat.
Di Indonesia, Tuan Arya sudah berpakaian sangat rapi, memakai minyak wangi aroma mint yang menambah kesegaran tubuhnya. Dia terlihat lebih tampan dan lebih muda dari usianya.
Rania yang melihat sang Papa malam ini tampil beda segera mendekat dan menggodanya, "Ih Papa seperti usia 30 tahunan saja, tidak ada yang akan menyangka jika Papa sudah berusia 42 tahun.
"Benar lho Pa, aku sampai pangling, jika orang melihat Papa berjalan sejajar denganku pasti mereka mengira kita sepantaran," ucap Frans.
Memang Tuan Arya terbilang awet muda, kehidupan yang mapan, anak yang baik dan teman-teman yang selalu support serta sering mengajak bercanda, berhasil membuatnya menjauh dari kata stress.
Wajahnya yang kebule bulean, hidung mancung, serta kulit yang putih bersih, semua mendukung penampilannya. Setiap gadis yang melihat beliau pasti akan memutar kepala hingga sampai kejauhan, tapi Tuan Arya tidak mempedulikan hal itu.
Ketiganya siap berangkat menuju rumah Zia. Zia beserta ibu juga sudah mempersiapkan hidangan makan malam sederhana untuk menyambut kedatangan Tuan Arya.
__ADS_1
Frans melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang hingga membutuhkan waktu 30 menit untuk sampai ke rumah Zia. Melihat kedatangan Zia, Tuan Arya serta Frans, jantung Zia berdegup kencang. Ada kegelisahan di sana, walau Zia sudah mendapatkan jawaban atas keputusan yang akan dia ambil.
Tuan Arya menatap Zia yang tertunduk, sementara ibu mempersilakan mereka masuk. Rania yang melihat kecanggungan sahabatnya, segera merangkulnya dan berbisik, "Jangan takut! Apapun keputusanmu kami akan menghargainya. Kamu berhak menerima maupun menolak Papa. Tanyakan hati kecilmu, apa yang terbaik untuk kalian."
Mendengar perkataan sahabatnya, hati Zia sedikit tenang, dia mulai mengangkat wajahnya, menatap Tuan Arya dan mempersilakan beliau duduk.
Kemudian Zia berjalan ke dapur membuatkan tamunya minum dan menyuguhkan cemilan ringan sebelum makan malam.
Semua duduk di ruang tamu, lalu tuan Arya mulai membuka suara, sebagai seorang pengusaha ternama beliau tidak canggung menghadapi banyaknya karyawan dan para kolega. Namun menghadapi Ibu dan Zia suaranya sedikit bergetar.
"Sebelumnya saya meminta maaf, mungkin kedatangan kami terlalu mendadak bagi Ibu dan juga Zia. Saya tidak pandai berbasa basi atau berkata romantis makanya saya akan langsung pada inti pembicaraan."
Sejenak Tuan Arya menghentikan ucapannya untuk mengatur napas, lalu beliau segera melanjutkan perkataannya, "Maksud kedatangan kami kesini adalah Saya ingin melamar Zia untuk menjadi pendamping hidup Saya, jika Zia dan ibu tidak keberatan. Saya sadar, jarak usia kami sangat jauh dan Zia seharusnya pantas menjadi putri Saya. Namun, Saya berharap Zia bisa menerima beginilah adanya Saya. Saya berjanji akan membahagiakan Zia dan juga Gara, hingga maut menjemput Saya."
Mendengar kesungguhan Tuan Arya, Ibu merasa terharu, lalu beliau menjawab, "Kalau saya setuju saja Tuan, sekarang terpulang kepada Zia, karena dia yang akan menjalaninya," ucap Ibu sembari menatap Zia.
Zia hanya tertunduk, dia masih bingung dengan perasaannya. Kemudian Tuan Arya berkata lagi, "Bagaimana Zia, Saya ingin mendengar keputusanmu. Apakah kamu bersedia untuk menjadi istri Saya?" tanya Tuan Arya.
Suasana hening, semua menunggu kata iya atau tidak dari mulut Zia. Sekitar sepuluh menit mereka menunggu namun Zia masih diam.
Lalu tuan Arya mengeluarkan sebuah kotak kecil berbentuk hati yang berisi seperangkat perhiasan yang nilainya sangat pantastik dan menyodorkannya kehadapan Zia sambil berkata, "Besok pagi, saya akan datang untuk mengajak Zia serta Gara ke suatu tempat, jika kamu besok memakai perhiasan ini berarti jawabannya adalah iya kamu setuju menikah dengan Saya tapi jika kamu tidak memakainya berarti kamu menolak. Saya beri kamu waktu malam ini untuk kembali berpikir," ucap Tuan Arya sembari mengatupkan kedua tangannya.
Ketika Tuan Arya selesai berkata, terdengarlah ucapan salam dari luar, ternyata Pak Wiguna beserta istrinya ikut datang sesuai undangan Ibu.
__ADS_1
Ibu ingin mendengar pendapat besannya tentang keputusan besar yang akan Zia ambil.
BERSAMBUNG........