Persahabatan Telah Mengubah Takdir

Persahabatan Telah Mengubah Takdir
Bab 19. Cinta lebih berharga dari harta


__ADS_3

Sejak Angga, Rania dan adeknya pulang, Zia meminta ibunya untuk beristirahat. Ibu tertidur karena pengaruh obat dan karena kondisinya yang masih lemah.


Zia keluar menuju balkon, disini dia bisa melihat sekeliling lingkungan rumah sakit dan lalu lalang tim dokter, perawat-perawat dan keluarga pasien. Kemudian dia menghela nafas panjang dan menariknya lagi dalam dalam. Diulangnya beberapa kali sampai rasa sesak didadanya berkurang.


Serasa fikirannya buntu, bingung, darimana dia akan mendapatkan uang yang banyak untuk biaya pengobatan ibunya. Sementara uang kontrakan juga harus dibayar, biaya kebutuhan sehari hari juga harus dia fikirkan sendiri sejak ayahnya meninggal. Belum lagi biaya sekolah adiknya, biaya kelulusan dan biaya jika ia ingin masuk universitas.


Memang sih Angga janji untuk membantu biaya kuliahnya tapi kan tidak mungkin dia membebankan semuanya kepada Angga.


Selama mengurus ibu dirumah sakit dan akan menghadapi ujian akhir diapun sudah meliburkan murid muridnya dan meminta izin untuk sementara waktu tidak bekerja di loundry. Jelasnya sekarang dia total tidak punya penghasilan.


Uang yang tersisa tinggal uang santunan kematian Ayah dari teman, tetangga, dan rekan rekan seprofesi dengan Ayah. Semua bakalan habis untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.


Karena lelah berfikir dan tak kunjung dapat juga jalan keluar dari masalahnya akhirnya Zia tertidur disebuah kursi yang ada di balkon rumah sakit tersebut. Untuk beberapa lama ia tertidur disana, ia tidak menyadari ada sesosok pria tampan yang sedang duduk dihadapannya dan tak lepas memandang wajah lelahnya.


Pria itu tak lain adalah Angga, Angga wiguna kekasihnya kembali lagi ke rumah sakit karena saat akan pulang tadi ia lupa memberikan kartu ATM pribadinya agar bisa dipergunakan oleh Zia saat ia membutuhkannya. Sepanjang perjalanan pulang ia juga memikirkan hal yang sama seperti yang Zia pikirkan tadi.


Karena khawatir memikirkan kekasihnya Anggapun segera memilih memutar balik arah mobilnya kembali ke rumah sakit, ternyata setelah sampai dia tidak menemukan kekasihnya disana lagi. Kemudian ia mencarinya hingga ke balkon dan akhirnya menemukannya sedang tertidur.


Angga tidak tega membangunkan kekasihnya, ia melepaskan jaket yang dipakainya kemudian menyelimutkan ke tubuh kekasihnya karena angin cukup kencang bertiup di balkon rumah sakit Ini.


Untuk beberapa saat dia terus memperhatikan raut wajah lelah kekasihnya. Wajah ayu yang biasanya penuh semangat, ceria, yang mampu menyimpan cerita kepahitan hidupnya kini nampak lelah, pucat, dan banyak guratan kesedihan disana. Tak terasa air mata menetes disudut matanya.


Angga kini tak sanggup memandangnya lagi, ia takut Zia terbangun dan melihatnya menangis. Ia pun bermaksud berdiri ingin menjauh untuk menormalkan perasaannya kembali.


Ketika dia sudah membalikkan badan hendak melangkah pergi tiba-tiba sebuah tangan lembut menarik lengannya. Sejenak Angga terdiam dan buru buru mengusap sisa air matanya baru kemudian membalikkan badannya sembari berusaha tersenyum manis menatap kekasihnya.


"Kamu sudah lama yang berada disini?", tanya Zia.


"Kenapa tidak membangunkan aku yang, dan kenapa kamu kembali, apa ada barang yang tertinggal?"

__ADS_1


"Aku tak tega membangunkan kamu yang, kamu pasti sangat lelah hingga tertidur disini, benar ada yang tertinggal."


"Oh kalau gitu ayo kita cari di ruang rawat ibu, siapa tau masih ada barang itu disana."


Zia berdiri dan menarik lengan Angga bermaksud mengajaknya untuk kembali ke ruang rawat ibunya.


"Mau kemana yang? yang tertinggal tidak ada disana."


"Lalu dimana?", tatap heran Zia ke Angga. Angga kembali mengajaknya duduk dan menjawab,


"Tertinggal disini."


Zia pun memutarkan bola matanya kesana kesini berusaha mencari barang apa yang dimaksud Angga, ia tidak menemukan apapun kecuali jaket Angga yang sedang dipegangnya.


"Oooh, maksud sayang ini", sambil mengangkat jaket Angga. "Tapi kok jaketnya bisa ada disini, tadi kan aku kan tidak membawanya yang", dengan wajah polosnya ia terus menatap Angga.


Angga tersenyum geli melihat tingkah kekasihnya. Ia menggelengkan kepalanya sambil berkata, iya beneran tertinggalnya disini tapi bukan jaket ini. Zia pun menatap Angga heran dan semakin bingung.


" iiihhhhh, jangan dong yang, ntar jika hidung aku copot gimana? kan aku jadi jelek, ntar sayang nggak mau lagi sama aku dan cari gadis lain."


"Ssssstttt", Angga meletakkan jari telunjuknya ke mulut Zia agar dia tidak meneruskan ucapannya.


"Kamu jangan pernah ngomong begitu lagi ya", dengan serius Angga berkata.


"Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu, walaupun kamu nanti jelek, tua, aku tidak akan pernah meninggalkan kamu. Apapun yang terjadi denganmu aku akan tetap cinta dan sayang sama kamu yang."


Zia terharu dan meneteskan air mata, ia membalas genggaman erat tangan Angga dan berkata,


"Aku juga akan selalu menyayangi dan mencintai kamu selamanya yang. Aku wanita yang sangat beruntung bisa mendapatkan cinta yang begitu besar dari kamu."

__ADS_1


Keduanya saling pandang mengungkapkan rasa cinta mereka lewat tatapan mata yang semakin dalam merasuk kedalam hati mereka masing masing.


Mereka masih sama tau menjaga agar jangan sampai melewati batas yang agama tidak perbolehkan untuk dua orang yang bukan muhrim, walaupun sebenarnya pegangan tangan dan pandangan mata terhadap lawan jenis yang bukan muhrim itu juga hukumnya haram.


Zia memecahkan keheningan dengan ucapannya. "Oh ya yang, katanya tadi mau mencari barang yang tertinggal disini, ayo kita cari sekarang sebelum kita balik ke ruangan ibu."


"Benar kamu tidak tau apa milikku yang tertinggal disini?", Zia menggelengkan kepalanya.


"Hatiku, ya hatiku, yang tertinggal disini. Kamu telah mengambil hatiku. Saat aku jauh dari kamu aku selalu resah, gelisah dan rindu. Rasanya aku tak sabar ingin cepat menghalalkan kamu yang, agar bisa terus berada disisimu. Bersama kamu aku merasa tenang dan bahagia."


Ternyata apa yang dirasakan Angga sama dengan yang dirasakan Zia. Bila berada didekat Angga dia merasa aman, tenang dan bahagia hingga lupa dengan problema hidupnya.


Kemudian Angga mengeluarkan dompet dari saku celananya, ia mengambil kartu ATM dan menyerahkannya kepada Zia.


"Ambillah yang kartu ATM ini, pergunakanlah untuk keperluan kalian, PIN nya adalah tanggal lahir kamu. Ini adalah sisa uang saku yang aku tabung sejak aku memilih keluar dari rumah dan tinggal sendiri di apartment. Aku belajar berhemat sejak tinggal sendiri, apalagi sejak kenal kamu."


"Sebenarnya tabungan inilah yang suatu saat akan aku berikan ke kamu sebagai tambahan modal untuk kamu membuka usaha sendiri. Tapi saat ini kalian lebih membutuhkannya, masalah modal nanti kita pikirkan lagi cara mendapatkanya. Aku akan kerja keras untuk mengumpulkannya lagi nanti."


"Jumlahnya memang tidak banyak tapi insha Allah cukup untuk biaya rumah sakit Ibu dan kebutuhan kalian untuk beberapa bulan kedepan."


Zia tidak mampu berkata-kata hanya air mata yang mengalir deras jatuh membasahi pipinya, sambil menggenggam kartu ATM yang Angga berikan ia terus menangis.


Perasaan dan pemikiran Angga kini sepertinya sudah menyatu dengan alam fikiran Zia, Ia bisa merasakan kesusahan, kepedihan, beban hidup yang sangat berat yang dirasakan kekasihnya.


Setelah isak tangis Zia mereda, ia memberanikan diri ingin mengembalikan kartu ATM itu ke Angga. Ia malu harus terus menerima kebaikan Angga.


"Yang maaf ya, aku nggak bisa terima ini. Aku malu kamu terlalu baik sama aku, selama ini selalu kamu yang memberi sementara aku, belum ada yang bisa aku berikan untukmu yang."


"Kamu sudah memberiku lebih banyak, lebih berharga dari sekedar uang yang aku berikan. Kamu telah memberiku cinta, memberiku pelajaran hidup, membuka mataku bahwa harta tidak bisa menjamin kita bisa mendapatkan kebahagiaan sejati. Harta hanya sekedar bonus yang diberikan Allah, hanya cinta dan rasa syukur yang bisa membuat kita lebih dekat dengan Allah yang akan memberikan kebahagiaan dunia dan akhirat.

__ADS_1


Pergunakanlah uang itu yang, agar harta yang kupunya lebih berkah dan memberikan kebahagiaan untuk kita semua."


__ADS_2