Persahabatan Telah Mengubah Takdir

Persahabatan Telah Mengubah Takdir
Bab 26. Naas dalam merayakan kelulusan


__ADS_3

Sebelum mereka berangkat Angga mempunyai ide ingin mengajak adik Zia juga. Dia meminta izin kepada ibu ingin menjemputnya disekolah karena sebentar lagi memang sudah waktunya ia pulang.


"Bu, bolehkah saya mengajak adik untuk ikut dengan kita?, jika ibu mengizinkan, saya akan menjemputnya disekolah."


"Apa tidak merepotkan nak", jawab ibu.


"Tentu saja tidak bu, kasihan kan adik, sementara kita bersenang dan makan enak adik sendirian dirumah."


"Ibu serahkan ke nak Angga saja bila memang tidak merepotkan."


Tiba-tiba Rania berteriak,"Horeee, adik ikut."


Mereka semua tertawa.


"Pasti seru lho jika adik ikut, lagian sudah lama kan Rania tidak bertemu adik bu. Rania jadi rindu sama adik dan adikpun sudah lama tidak main kerumah Nia. Boleh ya bu jika nanti liburan sekolah adik menginap dirumah Rania?, Papa Nia juga pasti senang jika adik datang."


"Boleh saja nak, yang penting nanti adik tidak akan merepotkan kalian."


"Asyiiiik, sama sekali tidak pernah meropatkan bu, bahkan Bik Asih dan Mang Asep juga sayang sama adik."


"Baiklah bu, sementara saya menjemput adik, Ibu dan Zia ikut ke mobil kamu ya Nia. Kalian langsung aja kesana, aku tadi sudah telephone pihak cafe agar menyiapkan tempat untuk kita. Masalah menunya terserah pilihan kalian saja nanti."


"Oke, siap Pak Bos", jawab Rania sambil bersikap hormat kepada Angga.


"Siap Pak Direktur", goda Nia lagi.


"Dasar kamu, sudah buruan tuh berangkat, kasihan Ibu kelamaan disini pasti ibu lelah."


Ibu dan Zia hanya tersenyum melihat tingkah keduanya. Mereka akhirnya berangkat ke tujuannya masing-masing.


Mobil Rania sudah memasuki area cafe, cafe terlihat sangat ramai pengunjung. Mereka disambut oleh pelayan Cafe dengan ramah, kemudian Rania bertanya ke pelayan itu dimana tempat yang sudah dipesan oleh Tuan Angga Wiguna sebelumnya.


"Oh, tamu Tuan Angga Wiguna ya?"


Mereka mengangguk, ternyata pelayan tersebut kenal baik dengan Angga. Pelayan cafe langsung membawa mereka menuju ke ruangan VIP yang telah dipesan Angga.


Ruangan itu cukup besar dengan hiasan dinding seperti suasana di kampung jadi menimbulkan kesan asri dan adem.


"Kenapa kita harus makan ditempat semewah ini nak, pasti mahal biayanya."


"Nggak apa-apa lho bu, sekali-sekali boleh kan bu, kami ingin mentraktir ibu dan adik. Sekaligus merayakan kelulusan kami dan merayakan Angga yang kini telah diangkat menjadi pimpinan diperusahaan cabang Papa nya disini."


"Oh, Nak Angga sudah bekerja? jadi bagaimana dengan rencana kuliahnya?"

__ADS_1


"Dia akan kerja paruh waktu bu, karena dia pimpinanannya tidak masalah bu. Dia hanya tinggal atur karyawannya saja melalui telephone dan datang ke kantor jika ada keperluan yang harus dia sendiri yang tangani."


"Oh, syukurlah kalau begitu, jadi nak Angga masih tetap bisa fokus kuliah."


Saat mereka asyiik ngobrol pelayanpun mengulurkan daftar menu makanan dan minuman.


"Ayo bu silahkan dipilih mau sajian apa dan kamu juga Zia pilih dan pesanlah apa menu kesukaan kamu."


"Boleh tidak Nia, kita pesan makanannya nanti saja saat Angga sudah sampai?", tanya Zia.


"Oh tentu saja boleh Zia, jika begitu kita pesan minuman aja dulu ya, biar hilangin dahaga kita."


Setelah mencatat pesanan mereka bertiga pelayan pun pergi untuk menyiapkannya.


Sementara Angga sudah hampir sampai kesana dengan membawa adik Zia. Sepanjang perjalanan ada perasaan tidak nyaman yang ia rasakan, seperti ada firasat bakal terjadi sesuatu nantinya. Tapi ketika mobil sudah memasuki area parkir ia pun menepis perasaan tersebut.


Mereka berdua turun dan segera menuju tempat dimana Zia dan lainnya menunggu.


Ketika melihat Rania, adik segera berlari menghambur kepelukan Rania.


"Kakak, adik kangen lho."


"Kakak juga kangen sayang, kenapa adik nggak telephone kakak. Mang Asep kan bisa jemput biar adik nginap lagi dirumah kakak."


"Oke beres, Papa juga rindu adik lho."


"Iya kak, adik juga rindu Papa dan Bik Asih."


"Sudah, sudah dik sini dekat ibu. Kak Nia capek tuh, adik kan bukan anak kecil lagi masak duduk dipangkuan kak Nia gitu."


"Iya bu, maaf ya kak Nia."


"Nggak apa-apa kok dek, kak Nia seneng kok."


Pelayan segera menghampiri mereka lagi setelah melihat Angga telah datang.


"Tuan, ibu, Nona-Nona silahkan ini daftar menunya."


Mereka kemudian memesan kepiting saus padang, cumi bakar, udang goreng, kakap bakar dan kerang rebus. Untuk minumannya mereka pesan jus jeruk dan air mineral.


Setelah mencatat pesanan mereka, pelayanpun segera pergi untuk menyiapkan pesanan.


Karena makan bersama ibu, Angga hanya memutar lagu lagu nostalgia yang dinyanyikan oleh Broery marantika, Dewi Yull, D'marcis dan Ebiet G. Ade.

__ADS_1


Hidangan telah tersedia, mereka semua makan dengan lahap terutama adik Zia.


Selesai menikmati hidangan mereka pun keluar cafe bermaksud singgah ke Mall untuk mengajak adik bermain time zone.


Adik bermain dengan riangnya sampai puas. Rania selalu mendampingi adik disemua permainan. Mereka sangat gembira, sementara Angga, Zia dan Ibu hanya menyaksikan mereka dari kejauhan sambil ikutan tertawa melihat tingkah keduanya.


Tiba tiba Rania merasa sedikit sakit perutnya, ia berniat ke toilet. Ia pun memanggil Angga untuk sementara menemani adik bermain karena ia ingin ke toilet.


Zia pun ingin ke toilet. Keduanya berjalan mencari dimana letak toilet berada. Karena pengunjung begitu ramai mereka tidak sadar ada dua orang laki laki mengikuti mereka. Ketika dilorong menuju toilet kebetulan suasana agak sepi mereka menodongkan pisau kepada keduanya.


Mereka meminta Rania dan Zia agar menyerahkan hand phone dan meminta Rania agar membuka jam tangan yang dipakainya karena mereka tahu jam yang dipakai Rania lumayan mahal harganya.


Mereka bermaksud melawan tapi karena kedua laki laki itu mengarahkan pisau dileher mereka membuat keduanya ketakutan. Rania memberi kode agar Zia tidak usah melawan, biar saja mereka mengambil semuanya.


Angga merasa cemas, mengapa Zia dan Rania kok belum kembali juga dari toilet.


"Mereka kok belum kembali juga ya bu?"


"Iya ya nak, mungkin mereka keliling dulu untuk membeli sesuatu nak", jawab ibu.


Tapi perasaan Angga kembali tidak enak.


"Bu, Angga coba susul mereka ya soalnya sejak tadi perasaan Angga tidak enak, takut terjadi sesuatu terhadap mereka."


"Ya sudah nak, kamu susul mereka biar ibu yang temani adik bermain."


Angga pun segera pergi mencari mereka.


Ketika Angga hampir sampai ketempat Zia dan Rania, sang penodong mendengar langkah kaki mendekat sedikit panik. Mereka terburu-buru menggeledah tas Zia dan Rania berharap mendapatkan uang disana.


Ketika sampai Angga sangat terkejut melihat pemandangan dihadapannya. Angga bingung apa yang harus dia lakukan. Penodong-penodong itu terus mengancam jika mereka berteriak minta pertolongan mereka akan mencelakai Zia dan Rania.


Tiba tiba mereka mendengar beberapa langkah kaki mendekat, hal ini semakin membuat panik kedua penodong. Mereka bermaksud melarikan diri. Rania mencoba bergerak, meronta ketika yang menodongnya lengah, tapi tenaga perempuan tetap kalah dengan tenaga laki laki. Akhirnya karena panik sang penodong mengarahkan pisaunya kearah perut Rania, Zia yang melihat hal itu tidak bisa tinggal diam. Dia bermaksud menolong Rania, ia tidak perduli dengan keselamatannya sendiri, tapi naas akhirnya pisau menancap diperutnya.


Angga terkejut melihat kejadian itu, kejadiannya sangat cepat hingga ia tidak menduga Zia berani mengorbankan dirinya demi menolong Rania.


Angga berusaha menolong Zia, Rania pun berlari ke arah Zia sambil menangis. Kedua penodong tadi semakin panik dan mereka segera melarikan diri sebelum orang lain sampai ketempat itu. Sementara Zia dalam kondisi pingsan.


Darah segar mengucur deras dari perut Zia, pisau masih menancap disana. Angga berusaha menggendong Zia untuk membawanya ke rumah sakit, Dia menyuruh Rania agar mencari bantuan dan segera menemui ibu dan adik.


Dengan dibantu security mall Anggapun sampai ke tempat parkir, ia segera melajukan mobilnya dengan kencang menuju rumah sakit terdekat.


Rania, Ibu dan adik segera menyusul. Mang Asep mengemudikan mobilnya dengan kencang, ia ikutan panik karena memikirkan bagaimana kondisi Zia dan melihat ketiga penumpangnya tak juga berhenti menangis.

__ADS_1


__ADS_2