
Mendengar handphonenya berdering Angga buru-buru melihat siapa yang melakukan panggilan, ia berharap itu dari Zia dan ternyata instingnya benar.
"Assalamu'alaikum Yang", sapa Angga terhadap Zia.
Zia pun disana menjawab salam dari Angga. Karena tidak sabar ingin mendengar apa keputusan Zia iapun langsung bicara ke inti pembicaraan.
"Bagaimana Yang?, apa keputusan kamu dan ibu?"
Zia yang melihat wajah Angga serius, ia pun tersenyum menggoda, lalu menjawab," Sepertinya Nggak mau dech yang."
"Angga yang mendengar jawaban tidak setuju dari Zia langsung muram wajahnya."
Melihat wajah kekasihnya muram, Zia langsung melanjutkan ucapannya,
"Eh, maksudnya nggak mau lama-lama lho Yang."
"Alhamdulillah..., kamu hampir buat detak jantung ku berhenti Yang. Jadi ibu juga setuju kan?"
"Iya Yang, tapi ibu bertanya apa nanti ibu dan adik tidak akan menjadi beban kita!"
"Kenapa ibu berfikir seperti itu, Ibu dan adik sudah seharusnya jadi tanggung jawab kita. Insha Allah nanti saya akan bukakan kamu usaha di Jakarta yang, jadi ibu bisa bantu kamu untuk mengelola nya."
"Terimakasih Yang, kamu selalu memikirkan kebahagiaan kami."
"Ibu dan adik keluargaku juga lho yang, Insha Allah keluargaku akan datang bulan depan sekalian menunggu perkembangan kesehatan Papa dan persiapan pengurusan surat-surat termasuk surat pindah sekolah adik. Kita akan melangsungkan aqad nikah saja di Medan mengenai resepsi ntar kita bicarakan dengan Mama Papa, mungkin mereka akan mengadakan resepsi pernikahan kita di Jakarta."
"Aku terserah kamu saja Yang."
"Baiklah Yang kita istirahat dulu ya besok kita ngobrol lagi, I love you Yang♥️♥️♥️ emmuah..."
" I love you to, jawab Zia 👄."
__ADS_1
Setelah menelephone Angga, Zia kemudian menelephone Rania sahabat karibnya, dia ingin membicarakan semuanya kepada Rania. Zia berharap Rania bisa ikut kuliah di Jakarta, jadi mereka bisa sama-sama terus.
Rania yang menerima panggilan dari Zia segera mengangkatnya,"Apa kabar Zia, bagaimana keadaan kalian disana, sudah kering total lukamu Zia."
"Alhamdulillah kami sehat Nia, oh ya Nia bisa nggak kita ketemuan soalnya ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu!"
"Hal apa itu Zia? begini saja biar enak kita ngobrol aku jemput kamu ya, sekalian kita jalan-jalan ke taman kota sambil nongkrong melihat anak-anak bermain dan minum es kelapa, sudah lama kan kita tidak jalan-jalan."
"Terserah kamu Nia, aku tunggu sambil bersiap ya!"
"Oke, aku pamitan dulu sama Papa ya, baru aku jemput kamu."
"Siiaap..."
Keduanya lalu bersiap, Rania sudah berpamitan dengan Papanya dan juga Bik Asih, dengan diantar oleh Mang Asep ia pun berangkat ke rumah Zia. Zia juga sudah berpamitan kepada ibu dan menanti kedatangan Nia diteras rumah. Setelah menunggu sekitar empat puluh lima menit, suara klakson mobil Zia pun terdengar, lalu Zia kedalam mengambil tas dan segera bergegas menemui Rania.
Mobil melaju ke taman kota, sesampainya disana mereka mencari tempat yang pas buat nongkrong sambil membicarakan tentang pernikahan Zia dan kelanjutan kuliahnya. Zia menjelaskan semuanya kepada Rania dan Rania tertawa gembira mendengar kabar ini.
Zia pun mengangguk, lalu berkata, " Jadi kamu mau kan ikut kuliah di Jakarta ?, aku ingin kita terus bersama lho Nia!"
"Aku mau banget Zia, tapi aku masih perlu meyakinkan Papa, soalnya kemaren dulu kan aku udah sepakat dengan papa untuk membantunya diperusahaan, mudah-mudahan saja papa akan mengizinkan."
Setelah puas ngobrol dan menikmati es kelapa muda mereka memutuskan untuk kembali. Rania mengantar Zia pulang, dan sebelum mobil Rania meninggalkan rumah Zia, Zia kembali mengingatkan, " Jangan lupa ya Nia bantu aku mengurus pernikahan kami, walau cuma aqad nikah saja disini!"
" Beres sobat, tenang...aku pasti akan menyiapkan yang terbaik untukmu!"
Rania meninggalkan rumah Zia lalu ia kembali ke rumahnya, ia sudah tidak sabar ingin secepatnya membicarakan hal ini kepada Pak Arya papanya.
Setibanya di rumah, Nia langsung mencari papanya yang sedang santai di taman belakang rumah mereka, sambil memberi makan ikan-ikan di kolam. Rania memeluk Papanya dari belakang, Pak Arya sudah tahu jika putrinya bermanja pasti ada yang ia mau minta kepada Pak Arya.
"Apa ini yang putri papa mau, kok peluk- peluk...pasti ada maunya."
__ADS_1
"Papa bisa aja, tapi papa janji ya mau kabulin permintaan Rania, please Papa."
"Tergantung" , jawab pak Arya singkat.
"Ih...papa nggak asyik, ayolah pa klu nggak kita duduk dulu, banyak yang ingin Rania ceritakan kepada Papa."
Kemudian Rania menarik tangan Papanya agar duduk di joglo kecil yang ada di sudut taman itu.
Rania segera menceritakan semuanya, dia kini sedang menunggu jawaban papanya yang masih terdiam, Pak Arya masih memikirkan semuanya, ia sebenarnya tidak ingin jauh dari putrinya karena cuma Nia lah yang ia punya saat ini, namun ia juga tidak ingin mengecewakan Rania.
"Ayolah Pa, kasi izin ya Rania kuliah di Jakarta, lagi pula kan disana bersama Zia, ada ibu dan juga adik, pokoknya papa jangan khawatir dech, Rania akan sering telephone Papa."
Akhirnya Pak Arya tidak tega menolak permintaan putri semata wayangnya, ia mengizinkan dengan syarat Rania harus mencari tempat kost yang nantinya dekat dengan rumah Zia.
Rania bersorak gembira, ia mengucapkan terimakasih kepada Papanya dengan nencium Pipinya lalu berlari ke dalam rumah ingin segera menelephone Zia sambil berbaring.
Rania segera memberikan kabar gembira ini kepada Zia, kedua sahabat itu pun sama-sama bahagia.
Sementara Angga di dalam kamarnya masih bekerja, ia menyelesaikan pekerjaannya lewat laptopnya. Angga besok pagi rencananya akan pergi ke kantor pusat perusahaan Papanya, yang ada di Jakarta ini, ia ingin para karyawan dan staf tahu walau pimpinan tertinggi mereka saat ini sedang sakit namun ada Satya yang akan mengendalikan perusahaan.
Pagi-pagi Frans sudah datang ke rumah keluarga Angga saat mereka sedang sarapan, kemudian Mamanya Angga meminta Frans untuk ikut sarapan. Setelah selesai mereka pun berangkat ke kantor sementara Mamanya Angga mengantar Pak Wiguna suaminya untuk kontrol dan terapi di rumah sakit.
Dalam perjalanan ke kantor Angga menceritakan tentang kapan dia akan melamar dan melaksanakan aqad nikah. Frans yang mendengar bos nya akan menikah ikutan senang, karena ia tahu Zia adalah penyemangat bagi bos nya itu. Kemudian Frans berkata, " Selamat ya bos, mudah-mudahan semuanya akan lancar sampai harinya tiba. Aku boleh ikut kan bos ke Medan, siapa tahu sekembali dari sana aku juga akan mendapatkan jodoh", ucap Frans sambil tertawa.
" Aamiin, aku doa kan kamu Frans agar cepat menyusul."
Mereka pun sudah tiba di perusahaan, Angga meminta sekretaris disana untuk segera mempersiapkan rapat, Angga ingin membicarakan agenda kerja mereka yang baru.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
🌷 Jangan lupa dukungannya ya Guys...Vote yang banyak, like, Comment dan rate bintang limanya agar author tetap semangat. Terimakasih 🙏🙏🙏
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻