Persahabatan Telah Mengubah Takdir

Persahabatan Telah Mengubah Takdir
Episode 56. Permintaan Gara


__ADS_3

Rizky Anggara Wiguna, itulah nama yang di berikan Pak Wiguna untuk sang cucu dalam acara syukuran sederhana yang mereka lakukan 4 tahun yang lalu di rumah panti sesuai permintaan Zia.


Kini Gara (panggilan sayang untuk Rizky Anggara Wiguna) telah tumbuh menjadi seorang bocah yang bijak, cerdas, lincah dan pastinya membuat gemes siapapun yang mengenalnya.


"Hai Gara," sapa Frans yang baru saja tiba di rumah Zia.


"Papi..." teriak Gara sambil berlari ke dalam pelukan Frans.


Frans pun memeluk dan menggendong Gara, dia sangat rindu dengan bocah itu karena sebulan tidak bertemu. Frans di tugaskan oleh Pak Wiguna untuk mengurus kerjasama dengan perusahaan asing.


"Mami belum pulang Pi," ucap Gara, padahal Frans belum menanyakan tentang keberadaan Rania.


"Memangnya Mami pergi kemana?"


"Mami pergi beli mainan buat Gara!?"


"Gara minta beli mainan?"


"Nggak Pi, Gara cuma ingin ketemu Papa! Ayo Pi, ajak Gara dong ketemu Papa!"


Permintaan Gara membuat Frans bingung, tapi akhirnya dia menjawab, "Gara 'kan punya Papi jadi sama saja, suatu saat pasti Gara bakal ketemu Papa. Ayo sekarang kita beli permen, Gara mau kan?" ucap Frans untuk mengalihkan desakan Gara.


"Nggak Pi, Gara nggak mau permen? Gara cuma ingin ketemu Papa," desak Gara lagi sambil berusaha lepas dari pelukan Frans.


"Eh itu Mami pulang!" ucap Frans sambil tangannya menunjuk ke arah pintu.


"Mami pulang, Mami pulang," ucap Gara sambil berlari ke arah Rania.


"Hai...nih! hadiah buat anak Mami yang paling tampan," ucap Rania.


"Terimakasih Mami, Mami tidak perlu repot. Ayo Mi mumpung ada Papi anterin Gara dong ketemu Papa!?"


"Gara Sayang...sini Nak!" panggil Zia yang baru selesai melayani pelanggan loundrynya.


Gara pun berlari mendekat dan memeluk Mamanya, lalu dia menciumi Zia sambil berkata, "Ma, Gara cuma ingin bertemu Papa!? ucap Gara sambil mengatupkan kedua tangannya dan air mata sudah membayang di kelopak matanya.


Zia memeluk erat putranya, sebenarnya Zia sedih setiap kali Gara meminta bertemu Papanya. Zia berulang kali telah menjelaskan bahwa Sang Papa sudah pergi jauh ke Surga tapi Gara tetap saja memaksa ingin bertemu. Zia berusaha tegar walaupun hatinya menangis.


"Sayang... sekarang kamu main gih dengan Papi!" ucap Rania.


"Iya Sayang, ayo kita main kuda-kudaan, biar Papi jadi kudanya," ajak Frans sambil mengulurkan kedua tangannya.


Akhirnya Gara menurut dengan Frans, lalu keduanya bermain kuda-kudaan. Zia dan Rania memperhatikan keduanya bermain sambil berbincang.


"Zia...kasihan Gara, dia merindukan sosok Papa. Bagaimana saat nanti dia sudah bersekolah dan teman-temannya diantar jemput oleh Papanya masing-masing, pasti Gara akan lebih menuntut lagi," ucap Rania.

__ADS_1


"Iya, itu juga yang jadi beban pikiranku. Sekarang saja aku sudah mulai susah merayunya, jika aku ceritakan tentang kejadian yang menimpa Papanya sekarang rasanya aku belum siap melihat kesedihannya," ucap Zia.


"Bagaimana jika kamu menikah lagi, mungkin masalahnya bisa selesai Zia?" usul Rania.


"Aku tidak bisa melupakan Mas Angga Nia. Aku belum siap jika harus menikah lagi," jawab Zia.


"Tapi sampai kapan kamu akan seperti ini, sudah hampir 5 tahun Angga pergi, jika dia masih hidup pasti sudah kembali bersama kalian. Pikirkan kejiwaan Gara, kamu tidak boleh egois Zia! Dia butuh kasih sayang seorang Papa dan kamu juga masih muda, masih butuh pendamping," ucap Rania lagi.


"Entahlah Nia."


"Mama..."


Gara pun datang ke pelukan Mamanya.


"Eh...sudah selesai mainnya Nak?"


"Sudah Ma, kasihan kudanya lelah. Oh ya lupa!" ucap Gara sembari menepuk keningnya dan turun dari gendongan Zia.


Gara pun mengambil gelas lalu menuangkan air minum kedalamnya, setelah itu dia berikan kepada Frans.


"Minum dulu Papi, kudanya pasti haus," ucap Gara sembari tersenyum lucu.


"Terimakasih anak baik," ucap Frans.


"Ayo sekarang cuci kaki dan tangan, waktunya Gara harus bobok siang, Mama mau lanjut kerja," perintah Zia.


"Iya Ma, dada Papi, dada Mami...Gara bobok dulu ya?" ucap Gara sembari melambaikan tangannya dan pergi ke kamar mandi.


"Anakmu semakin lama makin menggemaskan Zia," ucap Rania.


"Iya, kadang aku kelabakan menjawab pertanyaan-pertanyaan darinya, mungkin kecerdasan Papanya menurun ke Gara."


"Non Zia juga cerdas kok. Jadi, Gara adalah perpaduan Non dan Bos yang sama-sama cerdas," timpal Frans.


"Frans...kan sudah aku bilang panggil Zia aja?"


"Susah sudah terbiasa panggil No," ucap Frans.


"Oh ya, bagaimana rencana pernikahan kalian?"


"Aman, semua sudah matang persiapannya, tinggal tunggu hari H aja," jawab Rania.


Ketika mereka asyik berbincang, terdengar ucapan salam ternyata Mama dan Pak Wiguna yang datang. Kemudian Zia mempersilakan kedua mertuanya untuk masuk dan bergabung bersama mereka.


"Lho Frans kamu sudah sampai?" tanya Pak Wiguna.

__ADS_1


"Iya Pak, tadi dari bandara langsung kesini, habisnya rindu dengan Gara," jawab Frans.


"Rindu Gara atau rindu Maminya?" canda Mama sambil tersenyum.


"Keduanya Bu," ucap Frans sembari tersenyum malu.


Semua tertawa dan Rania tersipu malu. Kemudian Mama menanyakan tentang persiapan pernikahan Frans dengan Rania yang akan di gelar di hotel yang tidak jauh dari rumah Zia sekitar dua minggu lagi, Rania pun menjawab bahwa semua sudah matang persiapannya.


"Jadi Papa kamu kapan terbang kemari Nak?" tanya Pak Wiguna kepada Rania.


"Inshaallah minggu depan Pak, saat ini Papa sedang berada di Singapura," jawab Rania.


"Papa kamu betah hidup sendiri bertahun-tahun ya Nak? Apa kamu tidak mengizinkan beliau untuk menikah lagi?" tanya Mama.


"Sebenarnya Rania udah meminta Papa Bu, agar segera mencari pendamping tapi kata Papa belum ada yang cocok dan menunggu Saya menikah dulu," jawab Rania lagi.


"Papa kamu masih terlihat sangat muda, tampan dan tentunya pengusaha sukses, sayang jika terus menjomblo. Pasti banyak cewek yang tergila-gila dengan ketampanan wajah bule papa kamu kan?"


"Iya Bu, tapi saya tidak suka dengan perempuan-perempuan yang mendekati Papa, semua keganjenan dan terlihat tidak tulus," ucap Rania.


"Pasti nanti ada wanita yang baik Nak, yang tulus menyayangi Papa kamu."


"Aamiin, mudah-mudahan ya Bu. Sebenarnya aku ada sih calon buat Papa, tapi aku belum berani mengatakannya kepada wanita itu dan juga Papa."


"Harus cepat kamu katakan Nak! jika wanita itu terbaik buat Papa kamu, nanti keburu di pinang orang."


"Iya Bu, nantilah setelah acara pernikahan kami selesai, aku akan mengatakan kepada wanita itu dan juga Papa."


"Ibu do'akan mudah-mudahan Papa kamu berjodoh dengan wanita itu."


"Amiin...terimakasih Bu."


"Sama-sama Nak."


Kemudian Mama menggenggam tangan Zia lalu berkata, "Kamu juga Nak, harus secepatnya menata hidupmu kembali. Kamu harus punya pendamping untuk membesarkan Gara. Bukan kita ingin melupakan Angga tapi hidup memang harus terus berjalan, masa depan kalian masih panjang."


"Yang dikatakan Mama benar Nak," ucap Pak Wiguna menimpali omongan istrinya.


Zia menunduk mendengar perkataan kedua mertuanya sembari meneteskan air mata dan berkata, "Tapi Pa, Ma, Zia belum bisa melupakan Mas Angga."


"Kami tahu, kamu sangat mencintai Angga dan kami sangat berterimakasih akan hal itu, tapi dia juga akan sedih di sana melihat kalian terutama melihat Gara yang mendambakan kasih sayang keluarga yang utuh."


BERSAMBUNG.....


🌻 Jangan lupa dukungannya ya guys.... favorit, vote, like, coment dan rate bintang limanya. Terimakasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2