Persahabatan Telah Mengubah Takdir

Persahabatan Telah Mengubah Takdir
Episode 43. Pernikahan Sederhana


__ADS_3

"Ayo Ma, Aira, nanti kita telat, ini sudah jam delapan lewat," ucap Angga mengingatkan Mama dan adiknya yang sedari tadi belum juga siap berdandan, seakan mereka yang akan menjadi pengantin.


"Iya Ma, kasihan kan Penghulunya jika beliau yang harus menunggu", ucap Pak Wiguna.


Angga terlihat sangat tampan menggunakan kemeja putih, jas berwarna cream, celana serta sepatu berwarna senada ditambah lagi memakai kopiah warna yang serupa.


Hari ini impian masa depannya akan di mulai dengan mengikrarkan janji setia sehidup semati dengan wanita yang sangat di cintainya.


Papanya sangat senang melihat Angga akan menjadi seorang pemimpin bukan hanya di perusahaan tapi juga di dalam rumah tangga.


Masalah gelar sarjana tidak pernah di permasalahkan olehnya, hal itu masih bisa diraih setelah keduanya berumah tangga.


Mama dan Aira telah selesai berdandan, Papa menggelengkan kepala melihat penampilan sang istri dan putrinya, mereka bak permaisuri dan putri kerajaan dan juga seperti toko mas berjalan, padahal pernikahan yang akan dilaksanakan hanya pernikahan sederhana saja tanpa di hadiri oleh orang-orang berkelas.


Angga juga merasa tidak enak hati dengan keluarga Zia, kenapa Mama dan adiknya seakan ingin pamer kekayaan di hadapan mereka.


Namun ia hanya seorang anak yang tidak ingin menyinggung perasaan mamanya yang pada dasarnya kurang setuju dengan pernikahannya.


Kemudian Papa berkata," Apa tidak bisa kalian kurangi itu perhiasan, kita hanya akan menghadiri pernikahan sederhana kenapa penampilan kalian seperti artis dan Ibu pejabat, tidak enak Ma dengan keluarga besan," ucap papa yang tidak bisa menahan rasa kesalnya.


"Ah Papa, masak di pernikahan anak sendiri kita harus berpenampilan gembel sih, biar saja dengan keluarga besan, kenapa mereka berani bersanding dengan keluarga kita jika tidak pandai menyesuaikan diri," ucap Mama Angga yang sangat tidak mengenakkan hati Angga.


"Ayo Pa kita berangkat," ucap Angga yang malas mendengar komentar Mamanya lagi.


Frans yang sedari tadi diam saja mengerti dengan kemauan bosnya, kemudian dia mendorong kursi roda Pak Wiguna ke arah mobil.


Sopir sudah menanti di sana, Angga, Frans dan pak Wiguna menggunakan mobil BMW milik perusahaannya yang di Medan sementara Mama dan Aira menggunakan mobil Frans dengan diantar oleh sopir kantor.


Mereka berangkat menuju rumah Zia, disana keluarga Zia sedang menanti kedatangan mereka.

__ADS_1


Rania beserta papanya sudah tiba dan ternyata Bella beserta Lusy juga sedang dalam perjalanan kerumah Zia.


Zia menggunakan kebaya bernuansa putih keemasan, warna yang dikenakannya ini begitu serasi dengan pakaian yang dikenakan oleh Angga.


Terlihat senyum kebahagiaan di wajahnya hingga membuat Rania pun ikut senang.


Rombongan keluarga Angga sudah tiba, Rania dan papanya menyambut kedatangan mereka sebagai wakil dari keluarga Zia. Pak Wiguna sangat senang bertemu dengan Tuan Arya papanya Rania, yang merupakan sahabatnya.


Sementara Mama dan Aira celingukan melihat setiap sudut rumah Zia, mereka sepertinya enggan untuk masuk. Hal itu terlihat oleh Rania, sehingga membuatnya ingin melakukan sesuatu hingga membuat mereka mau masuk ke dalam rumah.


Rania mendekati mereka, lalu ia berkata," Selamat pagi Tan, selamat pagi dik, ayo silahkan masuk, kalian sudah di tunggu lho, karena acara akan segera di mulai. Jangan duduk di luar Tan di sini tempatnya rawan, apalagi melihat Tante dan adik seperti ini, wah mengundang banget bagi mereka bisa-bisa pulang dari sini tidak satu gram emas pun bisa kalian bawa pulang," ucap Rania menakuti keduanya.


Trik Rania berhasil, keduanya merasa ketakutan lalu buru-buru masuk ke dalam rumah dimana acara akan segera di mulai.


Rania tersenyum dan ia menggelengkan kepala, ia berharap kesombongan mereka tidak akan menyakiti hati sahabatnya di kemudian hari.


Terlihat di sana turun dari dalam mobil dua orang gadis yang dengan angkuhnya berjalan menegakkan kepalanya memasuki pekarangan rumah.


Rania terkejut, ternyata mereka adalah teman sekolahnya yang selalu memusuhi Zia, kemudian Rania mendekati mereka dan menyapa, "Oh, ternyata kalian, ada apa gerangan kalian kemari? bukankah kami tidak mengundang kalian?", ucap Rania penuh curiga.


"Terserah kami dong, kami diundang kok oleh keluarga mempelai pria, jika kamu tidak percaya silakan bertanya kepada Mamanya Angga", ucap Bella.


Keduanya masuk ke dalam tanpa ada basa-basi lagi, mereka langsung mengambil posisi di sebelah Mama dan Aira yang terlihat senang dengan kedatangan keduanya.


Penghulu pernikahan sudah mulai membuka acara, saksi pernikahan di minta untuk mendekat, sementara untuk wali nikah Zia di wakil kan kepada wali hakim.


Angga sudah berhadapan dengan wali hakim Zia, lalu keduanya berjabat tangan siap untuk melafazkan ijab qobul.


Wali Hakim: Saudara Angga Wiguna bin Hadi Wiguna, Saya nikahkan dan saya kawinkan Anda dengan Zia Ayunda Putri binti Ramli yang walinya telah mewakilkan kepada saya untuk menikahkannya dengan Anda, dengan mas kawin seperangkat perhiasan dibayar tunai.

__ADS_1


Angga Wiguna: "Saya terima nikah dan kawinnya Zia Ayunda Putri binti Ramli dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.”


Dengan satu kali tarikan nafas, Angga berhasil melafazkannya, setelah itu Penghulu perkawinan langsung berucap, "Bagaimana para saksi, apakah sudah sah dan memenuhi ketentuan syari'at?"


Kedua saksi pun menjawab, "Sah", disusul ucapan sah oleh yang lainnya.


Semua yang hadir pun mengucap Alhamdulillah, acara ijab qobul pun ditutup dengan pembacaan do'a yang dibacakan oleh Pak Penghulu perkawinan.


Setelah selesai menandatangani surat menyurat, kedua mempelai segera sungkeman, Zia menyalim tangan Angga yang telah sah menjadi suaminya dan Anggapun mencium kening istrinya sembari berdoa. Setelah itu mereka sungkeman dengan orang tua kedua belah pihak.


Zia menangis terisak-isak saat mereka sungkeman kepada Ibu, dia teringat akan almarhum ayahnya yang tidak bisa menyaksikan pernikahannya. Angga memeluk sang istri dan mengusap air matanya, dia tahu kehidupan berat yang selama ini Zia jalani tanpa almarhum Ayahnya.


Kemudian mereka sungkeman kepada Papa dan Mama Angga, Pak Wiguna mendoakan anak dan menantunya agar selalu rukun dan bahagia sampai kematian yang memisahkan keduanya.


Sementara sang Mama hanya formalitas saja menerima uluran tangan dari Zia, begitu juga dengan Aira. Mereka tidak ikhlas putra tunggal Wiguna, pewaris kekayaan Wiguna hanya beristrikan seorang gadis biasa.


Angga yang melihat sikap Mama dan adiknya, menarik napas dalam, dia menyesalkan kenapa dalam kebahagiaannya hari ini masih melihat ketidaksukaan di wajah Mama dan adiknya.


Angga dan Zia kemudian menghampiri Rania dan Papanya, Zia memeluk sahabatnya sembari menangis, selama ini Rania sudah banyak menolong dirinya. Rania membalas pelukan itu dengan haru. Dia tetap bahagia walau kehilangan kesempatan untuk menjadikan Zia sebagai ibu sambungnya.


Rania juga mengucapkan selamat kepada Angga dan ia berpesan agar Angga memberikan kebahagiaan untuk Zia, karena menurutnya sudah waktunya Zia bahagia dan sudah cukup kepahitan hidup yang dialaminya.


Lalu Angga dan Zia menghampiri Tuan Arya untuk meminta doa restu, Tuan Arya pun mengucap selamat dan mendoakan agar kebahagian selalu menyertai rumah tangga mereka.


Sementara Bella dan Lusy mendekati Angga mereka hanya mengucapkan selamat kepada Angga tanpa menghiraukan Zia yang berada di sebelahnya.


Rania yang melihatnya marah kemudian ia menarik Angga dan Zia agar menjauh dari keduanya, lalu mereka mempersilakan semua yang hadir untuk menikmati hidangan yang telah tersedia.


🌻 Mohon dukungannya ya guys ....vote, like, comment dan rate bintang limanya 🙏😉

__ADS_1


__ADS_2