
Rania kembali masuk ke ruangan," sudah selesai nih acara kangen-kangenannya?"
"Ah kamu bisa aja, Ibu tadi kemana ya Nia dan juga papa kamu?"
"Ibu tadi katanya mau keruangan dokter ingin menanyakan kapan kamu bisa pulang, sedangkan papaku ke kantin katanya haus ingin membeli minuman."
"Oh ya, Angga titip salam tadi buat kalian."
"Sudah kasi cium belum buat kamu? eh kenapa tuh wajah jadi merah gitu seperti kepiting rebus aja."
"Jadi gimana Zia, kamu sudah minta izin akan bekerja diperusahaan Papa ?"
"Sudah kok, Angga kasi izin asal aku penuhi tiga syarat darinya."
"Memangnya syarat apa yang diajukannya?"
Zia pun menceritakan semua syarat dari Angga kepada Rania. Rania yang mendengarnya pun tertawa.
"Uh dasar bucin, cemburuannya gede banget tuh anak. Takut dia, kamu nanti digebet pria lain makanya dia membatasi waktu senggang kamu dengan syarat itu supaya hanya bisa bicara dengan dia aja dan selalu ingat dia."
Zia pun mengangguk setuju dengan pemikiran Rania.
Sedang asyiik ngobrol ternyata Papa Rania dan ibu sudah berdiri di depan pintu ruangan. Papa Nia menanyakan kepada ibu kapan dokter mengizinkan Zia untuk pulang. Papa bersama Rania bermaksud ingin menjemput Zia saat nanti diizinkan pulang oleh dokter dan mereka langsung yang akan mengantar sampai rumah kontrakan keluarga Zia.
Ibu berterima kasih kepada Tuan Arya, ibu tidak ingin merepotkan mereka. Ibu dan Zia bisa pulang dengan taksi.
"Insha Allah besok Zia sudah boleh pulang, nanti tinggal rawat jalan saja. Seminggu sekali rumah sakit menganjurkan untuk melakukan check up ulang."
Ya sudah kalau begitu Bu, saya dan Rania permisi pulang dulu. Besok pagi kami akan kembali untuk menjemput ibu dan Zia.
__ADS_1
"Bu, Zia, aku pulang dulu ya. Nggak apa kan Bu malam ini ibu sendirian aja menjaga Zia."
"Nggak apa-apa lho nak, lagian kan kondisi Zia sudah mulai membaik."
"Kami permisi ya Bu, Zia, Assalamualaikum",
pamit keduanya.
Setelah keduanya pergi, Ibu menanyakan kabar Angga kepada Zia. Zia menceritakan kepada ibu tentang keadaan Papa Angga dan keberangkatan Angga sore ini ke Papua.
Ibu menghela nafas dalam dan berkata mudah-mudahan saja semuanya cepat selesai hingga nak Angga bisa kembali kesini.
"Iya Bu, itu keinginan kita semua dan mudah-mudahan juga kehendak Allah ya bu."
Dalam perjalanan pulang, Papa Rania juga menanyakan kepada putrinya tentang prihal Pak Wiguna yang terkena serangan jantung.
"Iya Pa, memang benar, kini perusahaannya yang ada di Papua juga sedang mengalami masalah."
"Jadi siapa yang menghandle semua urusan perusahaan nak?"
"Angga Pa, mau tidak mau semua tanggung jawab jatuh ke pundaknya. Pak Wiguna kini telah sadar tapi menurut dokter kemungkinan akan lumpuh separuh badan. Angga sore ini berangkat ke Papua untuk menyelesaikan masalah disana."
"Salut Papa dengan nak Angga, seorang pemuda pemberani, cerdas, tampan, baik dan nampaknya penyayang. Papa yakin dengan kemampuannya, dia pasti kedepannya bisa memajukan perusahaan papanya."
"Bagaimana dengan kamu nak?apa kamu siap jika terjadi sesuatu dengan Papa?"
"Papa jangan ngomong seperti itu, Papa dan perusahaan pasti akan baik-baik saja", jawab Rania dengan cemas.
"Papa harap kamu juga bisa mencari pasangan yang bisa bertanggung jawab atas dirimu, atas perusahaan dan juga diri Papa jika terjadi sesuatu dengan Papa. Carilah pemuda seperti nak Angga nak, Papa selalu minta sama Allah Putri Papa ini selalu diberi kebahagiaan. Karena itulah prioritas utama tujuan hidup Papa setelah mama kamu meninggal yaitu selalu melihatmu bahagia."
__ADS_1
"Insha Allah Pa, Nia akan mendapatkan jodoh dan menantu terbaik buat Papa dan Nia juga ingin melihat Papa bahagia. Kenapa Papa tidak mencari pengganti mama? Papa berhak bahagiakan, Nia tidak selamanya bisa mendampingi Papa. Ada masanya suatu saat nanti Nia pasti akan meninggalkan Papa, mengikuti kemanapun suami Nia akan membawa Nia pergi. Nia ingin Papa memiliki pendamping untuk bersama bahagia menikmati hari tua."
"Sudah kamu jangan fikirkan hal itu nak, yang terpenting sekarang fikirkan masa depan kamu. Soal Papa... nanti jika Papa sudah menemukan wanita sebaik mama kamu, pasti Papa akan segera menikahinya menjadikannya sebagai mama kamu."
Di dalam hatinya Rania berkata," Sebenarnya ada Pa wanita sebaik mama, tapi sayang dia sudah menjadi calon istri orang lain jika tidak aku pasti akan memintanya menikah dengan Papa karena aku yakin dia pasti bisa membuat Papa bahagia."
"Kok jadi melamun nih anak Papa? ayo kita turun, tuh kita sudah sampai rumah. Kemana Adik ya kok sepi? biasanya jam segini dia kan masih bermain dihalaman."
"Iya juga ya Pa, barangkali adik ketiduran karena kecapekan bermain."
Sementara di bandara Angga dan asisten Frans sudah masuk ke dalam pesawat garuda yang akan terbang menuju Papua. Perusahaan pertambangan milik Papa nya Angga terletak di kota Timika kabupaten Mimika. Waktu tempuh normal yang dibutuhkan untuk penerbangan Jakarta-Timika adalah sekitar 4 jam 45 menit.
Dalam waktu selama itu didalam pesawat digunakan oleh Angga dan asisten Frans untuk beristirahat yaitu tidur sejenak mengumpulkan tenaga agar begitu sampai bisa mengerjakan apa yang ingin mereka selidiki. Mereka tidak ingin membuang-buang waktu disana, mereka ingin segera menyelesaikan masalah dan segera kembali pulang ke Jakarta untuk mengurus Kantor pusat dan mengupayakan kesembuhan Tuan Wiguna.
Karena kerinduan akan kekasihnya, didalam tidurnya pun Angga bermimpi. Ia bermimpi menikah dengan Zia, kebahagiaan terpancar jelas disana saat Zia sudah mengandung buah hati mereka dan Angga sedang berjalan menggandeng tangan Zia yang sedang hamil besar.
Tapi tiba-tiba gandengan tangan mereka terlepas, Angga hanya menggenggam cincin pernikahan mereka yang lepas dari jari Zia sedangkan Zia beserta anak dikandungannya digandeng pergi oleh seorang pria yang wajahnya tidak terlihat jelas.
Angga berusaha mengejar dan berteriak memanggil-manggil nama Zia tapi Zia sepertinya tidak mendengar teriakannya dan terus berjalan meninggalkannya. Akhirnya ia terjatuh dan terduduk lemas ditempatnya sambil tetap meneriakkan nama Zia, "Zia jangan pergi, jangan tinggalkan aku, aku sayang kamu dan anak kita".
Teriakan dan suara isakan tangis pun terdengar ditelinga asisten Frans hingga ia terkejut dan terbangun dari tidurnya. Ia melihat bos nya berteriak memanggil nama Zia sambil menangis di dalam tidurnya, kemudian asisten Frans segera membangunkannya.
Angga pun yang belum mendapatkan kesadaran penuh terkejut dan memandang sekelilingnya mencari sosok Zia.
"Bos bos, nampaknya anda tadi bermimpi buruk, sampai berteriak-teriak memanggil nama Nona Zia sambil menangis."
Anggapun terpaku lemas memikirkan apa sebenarnya makna akan mimpinya. Apakah itu menandakan suatu firasat buruk atau hanya sebuah bunga tidur karena ia terlalu lelah dan terlalu merindukan kekasihnya.
Angga menceritakan mimpinya kepada Frans, kemudian Frans memberikan support kepada bos nya untuk tidak khawatir tentang mimpi itu. Dia bilang bahwa itu hanyalah bunga tidur, tak perlu difikirkan walaupun sesungguhnya didalam hati kecilnya ia tetap ragu. Karena selama ia bekerja dengan Angga walaupun masih sebentar dia hafal betul, filling atau firasat Angga seringkali benar.
__ADS_1