Persahabatan Telah Mengubah Takdir

Persahabatan Telah Mengubah Takdir
Episode 66. Menghadiri undangan makan malam


__ADS_3

Frans sudah menunggu di rumah Zia saat Rania dan Zia pulang, Gara langsung berlari ke dalam pelukan Frans ketika turun dari mobil.


"Papi..." teriak Gara.


"Gara dari mana sayang?" tanya Frans.


"Dari rumah Eyang Pi."


"Papi juga ntar malam mau ke rumah Eyang, ada urusan pekerjaan."


"Oh ya Pi, Eyang sehat kok. Nih Gara punya permen di kasi Eyang putri, Papi mau?"


"Untuk Gara saja, Papi tidak suka permen, nanti sakit gigi."


"Ya sudah buat Gara saja, gigi Gara tidak sakit kok?"


"Gara...pergi main dengan Oom sana!" pinta Zia.


"Iya Ma, Gara mau kasi Oom permen ya..."


Gara pun berlari pergi ke kamar Oom-nya, sementara Zia, Rania dan Frans membahas tentang acara besok.


Frans mengatakan semua surat sudah siap dan penghulu perkawinan akan datang pada pukul 08.45 WIB sedangkan acara akad di mulai jam 09.00 WIB.


"Cateringnya bagaimana Frans? Jam berapa sampai?" tanya Rania.


"Aku minta jam 08.00 WIB hidangan sudah harus siap di sini," jawab Frans.


"Oke, semua sudah beres. Tinggal masalah MUA, kamu coba telephone Frans! Mereka pastinya tiba jam berapa?"


Frans pun menelephone MUA yang akan bertugas merias Zia dan Arya. Ternyata mereka akan datang besok selepas subuh.


"Oh ya Frans, kalian sibuk mengurusi pernikahan kami, bagaimana persiapan pernikahan kalian? jangan sampai terbengkalai gara-gara kami," ucap Zia.


"Aman Non, semua sudah selesai."


"Syukurlah jika begitu."


"Nia, nanti malam aku tidak bisa ke sini ya! Aku dan Pak Wiguna akan pergi makan malam dengan klien penting dari Australia, jadi besok pagi saja aku datang bersama fotografer."


"Ya, nggak apa-apa Frans, tapi kamu jangan kesiangan besok datangnya ya?"


"Siap Bos."


"Frans! Aku boleh minta tolong?" ucap Zia.

__ADS_1


"Dengan senang hati Non, apa yang bisa Saya bantu?"


Zia pun mengeluarkan sebuah amplop berisi uang lalu menyodorkan amplop tersebut kepada Frans, "Tolong kamu sedekahkan ke panti asuhan atas nama Mas Angga."


"Baiklah Non, nanti sekalian saya mau ke rumah Tuan Wiguna, Saya akan singgah ke panti asuhan terlebih dahulu."


"Terimakasih ya Frans, aku hanya ingin Allah memberikan tempat terbaik untuknya."


"Inshaallah Non, Bos Angga orang yang sangat baik, pasti Allah akan menempatkannya di tempat terbaik."


"Saya permisi dulu ya Non, takut terlambat tiba di rumah Pak Wiguna."


"Silahkan Frans."


Frans pun meninggalkan rumah Zia setelah berpamitan dengan Rania, dia akan ke panti asuhan untuk melaksanakan amanah dari Zia setelah itu baru menjemput Pak Wiguna.


Setelah menyerahkan uang yang diamanahkan Zia kepada Ibu panti, Frans pun melajukan mobilnya ke rumah Pak Wiguna. Pak Wiguna sudah bersiap saat Frans tiba, dia tidak mau mengecewakan Mike.


Merekapun berangkat, rencananya Frans dan Pak Wiguna akan sholat magrib di masjid terdekat dengan hotel tujuan mereka.


Sesuai prediksi Frans, tepat berkumandang suara adzan maghrib merekapun tiba di sana. Keduanya berwudhu dan bersiap dalam barisan sholat berjamaah. Setelah menjalankan kewajiban barulah keduanya meneruskan perjalanan.


Mike, Edward dan Sonya sudah berada di resto tempat mereka berjanji bertemu Frans, mereka hanya memesan minum saja sambil menunggu kedatangan Frans dan Pak Wiguna.


Frans dan Pak Wiguna pun sudah sampai di lobi hotel lalu mereka bergegas menuju resto yang di maksud oleh Mike.


"Hallo Tuan Mike?" sapa Frans.


"Frans! Ternyata kalian sudah sampai, mari silahkan duduk," ajak Mike sembari menjabat tangan Frans.


"Selamat malam Tuan Mike?" sapa Pak Wiguna sembari mengulurkan tangannya.


"Selamat malam juga Tuan Wiguna, senang sekali Anda bisa ikut, suatu kehormatan bagi kami atas kehadiran pemilik Wiguna corporation," sambut Mike sembari memeluk Pak Wiguna.


"Perkenalkan ini putri Saya namanya Sonya."


Sonya pun memperkenalkan diri, dia terkesima melihat ketampanan Frans hingga tidak melepaskan jabatan tangannya, tapi Mike langsung menyenggol lengan Sonya hingga dia tersadar dan tersenyum malu.


"Maaf Frans, putri Saya memang pengagum lelaki tampan," ucap Mike sembari tertawa.


Sonya hanya tersenyum mendengar perkataan Dady nya, dia sudah terbiasa dengan kelakar Mike.


"Tapi sayang putri Anda terlambat Tuan Mike, Frans beberapa hari lagi akan menikah," ucap Pak Wiguna.


"Aduh! Saya terlambat rupanya," ucap Sonya sambil tertawa.

__ADS_1


"Tapi jangan khawatir Nona, masih banyak pria tampan di sini," ucap Frans menimpali ucapan Sonya sambil tersenyum.


Sonya memang gampang akrab dengan siapa saja walau baru bertemu, dia langsung mengajak Frans mengobrol tentang tempat-tempat yang indah di Indonesia. Sementara Pak Wiguna asyik bicara bisnis dengan Mike.


Frans yang teringat dengan tujuan mereka datang lalu berkata, "Maaf Tuan Mike, kami kok tidak melihat putra Anda ya, apa dia tidak ikut hadir."


"Oh, Edward sedang ke toilet. Sebentar lagi pasti kembali."


"Itu Kakak!" tunjuk Sonya yang melihat Sang Kakak sedang berdiri di dekat pintu masuk resto. Edward sepertinya sedang berbicara dengan seseorang via telephone.


Frans dan Pak Wiguna mengalihkan pandangannya ke arah yang di tunjuk oleh Sonya. Mereka sangat terkejut melihat Edward, sampai Frans mengucek matanya.


Pak Wiguna pun hampir saja pingsan karena lemas, jantungnya seakan berhenti saat melihat Edward dari kejauhan. Untung saja Mike dengan sigap menahan tubuh Pak Wiguna lalu menahannya agar tubuh Beliau tidak luruh ke lantai.


"Kenapa Tuan, apa anda sakit?" tanya Mike.


Pak Wiguna belum bisa menjawab, dia hanya menunjuk Edward, sedangkan Frans masih terpaku di tempatnya.


"Tuan Frans!" tegur Sonya sembari menepuk pundak Frans.


Frans pun terkejut, lalu dia bertanya kepada Sonya, "Apakah itu Tuan Edward?"


Sonya pun mengangguk, "Itu Kak Edward, apa kalian sudah mengenal Kakak Saya?" tanya Sonya.


Frans tidak menjawab, dia memperhatikan Edward kembali untuk memastikan apakah yang di lihatnya memang benar Angga.


Dari wajah itu benar Angga, tapi dari penampilan berbeda, Angga tidak pernah mengenakan stelan kaos dan celana pendek. Dia selalu berpakaian casual dan tubuh Angga lebih berisi daripada Edward.


Edward yang sudah selesai menelephone pun datang mendekat, lalu dia berdiri mematung melihat dua orang yang ada di hadapannya.


Dia seperti tidak asing dengan wajah Frans dan Pak Wiguna, tapi siapa dan dimana pernah bertemu. Edward berusaha mengingat tapi kepalanya terasa sakit. Sonya yang melihat Sang Kakak memegangi kepalanya dan hendak terjatuh segera berdiri dan menolongnya.


"Kakak! Apakah kepala Kakak sakit lagi? Ayo duduk dulu Kak! Nanti Kakak jatuh," ucap Sonya sambil memapah tubuh Edward ke arah kursi yang ada di samping Dady-nya.


"Edward! Kamu sakit lagi Nak!" seru Mike sambil mendekati Edward dan membantu memijat kepalanya.


Frans yang sangat penasaran, mendekati Edward lalu memegang pundaknya dan berkata, "Bos Angga! Kamu Bos Angga 'kan?"


Edward mendongakkan kepalanya dan Mike pun spontan berhenti memijat karena mendengar ucapan Frans. Frans dan Angga pun saling pandang, lalu Angga menggelengkan kepala sambil meringis kesakitan.


Pak Wiguna berusaha bangkit lalu memeluk Edward, air matanya tumpah, pemimpin perusahaan yang di kenal tegas dan tegar kini menangis.


Mike dan Sonya hanya terpaku, dalam batin Mike berkata, 'Mungkin mereka orang-orang dari masa lalu Edward."


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


🌻 Jangan lupa tinggalkan jejak ya guys, favorit, like, coment dan rate bintang limanya. Terimakasih 🙏


__ADS_2