
Sepanjang perjalanan pulang dari rumah sakit Angga terus berfikir, apa langkah selanjutnya yang harus dia lakukan untuk secepatnya menghasilkan uang karena ia telah berjanji akan membantu Zia masuk universitas, sementara uang tabungannya sudah ia serahkan untuk kebutuhan keluarga Zia.
"Aku harus bisa, Zia harus kuliah, aku harus semangat demi Zia, demi masa depan kami", Ia terus bergumam untuk memberi semangat pada dirinya sendiri.
Tiba-tiba dia dapat ide, " yess aku harus mencobanya."
Angga mengambil hand phone dari sakunya dan mencari nomor Papa nya, kemudian ia pencet tombol memanggil. Suara nada dering terdengar ditelinganya kemudian terdengar suara Papa nya menjawab panggilan darinya.
"Hallo, ya nak ada apa kamu telephone Papa?"
"Assalamu'alaikum Pa."
"Wa'alaikumsalam", jawab Papanya.
"Begini Pa, bagaimana jika Angga percepat bergabung di perusahaan Papa."
"Kan kamu sebentar lagi ujian, kamu fokus aja dulu belajar. Jika kamu bergabung sekarang waktumu jadi terbatas untuk belajar, Papa tidak mau kamu nanti mendapatkan nilai yang jelek atau bahkan tidak lulus, utamakan dulu belajar kamu nak."
"Atau begini Pa, ada tidak pekerjaan yang bisa Angga kerjakan dari rumah saja jadi Angga bisa sambil belajar."
"Kenapa kamu mendesak ingin cepat kerja nak?
memangnya kamu butuh uang? Apa nggak cukup uang saku yang Papa transfer setiap bulan?"
"Cukup kok Pa, hanya Angga butuh untuk keperluan lain, Papa kan tau keperluan anak muda jaman sekarang, Angga akan buat acara pribadi bersama teman-teman setelah ujian selesai Pa."
"Ya sudah kalau begitu Papa transfer saja nanti, berapa yang kamu butuhkan?"
"Jangan Pa, Angga mau belajar mandiri dengan menghasilkan uang dari jerih payah Angga sendiri. Angga kan sudah dewasa Pa, sebentar lagi jadi seorang mahasiswa."
__ADS_1
"Dasar kamu keras kepala, kamu persis sekali dengan Papa saat Papa masih muda dulu Nak, dulu Papa juga begitu terhadap eyangmu. Kamu memang anak Papa, anak kebanggaan papa,
Begini saja, nanti asisten Papa akan mengirimkan laporan keuangan 3 tahun kebelakang cabang perusahaan kita yang ada di Kalimantan lewat email kamu. Papa mohon bantuan kamu untuk mempelajari apa terdapat kesalahan, kejanggalan, ataupun kecurangan dari bagian keuangan disana. Kenapa penghasilan tahun ini untuk perusahaan cabang kita disana mengalami penurunan yang drastis. Saat ini semua team audit lagi kerepotan untuk pemeriksaan ke cabang perusahaan kita yang lain. Apapun nanti hasil analisa kamu secepatnya kirim langsung ke Papa. Jika memang nantinya terdapat kesalahan maupun kecurangan, Papa akan kirim tim audit kesana secepatnya, bila perlu setelah ujian selesai kamu sendiri terjun kesana untuk memeriksanya. Dalam bisnis kita harus lebih jeli dan pandai membaca situasi nak, jika terdapat kecurangan kita harus cepat bertindak sebelum perusahaan mengalami kerugian yang besar. Kamu harus lebih banyak belajar, nanti Papa akan meminta tolong asisten Papa untuk membimbing kamu."
"Baik Pa, secepatnya Angga akan kerjakan, terimakasih Pa, sudah percaya dengan Angga,
Angga tutup telephone dulu ya Pa, karena Angga lagi nyetir nih, Assalamu'alaikum Pa."
"Wa'alaikumsalam Nak."
Papa Angga tersenyum disana, melihat banyak perubahan dalam diri putranya.
"Alhamdulillah satu masalah selesai tinggal melaksanakan pekerjaannya saja", gumam Angga.
Mobil Angga terus melaju menuju apartmentnya, ia ingin segera sampai dan beristirahat kemudian sore baru kembali lagi ke rumah sakit.
Dirumah sakit, Zia sedang bertemu dokter di ruangannya. Ada masalah serius yang ingin dokter bicarakan tentang kesehatan ibu.
"Begini ya dek, kamu harus kuat dan sabar, saat ini kesehatan Ibu masih kurang baik, ada penyumbatan di area jantungnya. Kita akan beri obat ini dulu, jika nanti belum ada reaksi juga kita harus segera melakukan operasi. Yang penting saat ini jaga emosi Ibumu, jangan sampai ada tekanan atau beban fikiran yang bisa membuatnya anfal lagi, kalau itu sampai terjadi bisa fatal akibatnya. Sekarang kita banyak berdo'a saja ya dek, mudah-mudahan kondisi ibu kamu bisa membaik. Kamu harus sabar Allah masih menguji kalian."
"Aamiin, terimakasih dok. Saya akan balik ke ruangan untuk melihat Ibu."
Buru-buru Zia keluar dari ruangan dokter karena sejak tadi dia sudah menahan air matanya agar tidak tumpah disana. Zia tidak langsung menuju ruang rawat Ibunya, Ia pergi ke toilet dan menangis disana sejadi jadinya untuk melepaskan beban dihatinya. Kenapa Cobaan ini begitu berat, dia baru kehilangan ayahnya apa dia juga harus kehilangan ibunya. Kenapa dunia ini serasa begitu kejam, cobaan demi cobaan berat datang silih berganti. Kini Zia harus bisa menyimpan dan menanggung semua masalah tanpa sedikitpun sang ibu boleh tau karena bisa fatal akibatnya.
Biasanya jika seorang anak ada masalah ia akan mengadu kepada sang ibu, karena ibu adalah sosok bijaksana yang bisa mengayomi anak anaknya. Tapi sekarang Zia tidak bisa membiarkan ibu tau tentang masalah apapun.
Setelah hatinya terasa lega dan tenang ia menghapus air matanya dan memberikan sedikit riasan diwajahnya agar sang ibu tidak melihat kalau dia baru saja menangis. kemudian ia berjalan menuju ruangan rawat ibunya. Ternyata ibunya sudah bangun dan berusaha ingin duduk.
Ketika melihat Zia datang ibunya tersenyum dan berkata,"Dari mana kamu Nak?"
__ADS_1
Dengan sedikit gugup Zia menjawab pertanyaan ibunya.
"Zia dari jalan-jalan keliling rumah sakit bu dan ngobrol dengan keluarga pasien diujung sana,
tadi ibu tertidur makanya Zia memilih jalan jalan, takut jika tetap disini Zia bisa ikutan mengantuk karena tidak ada temen ngobrol."
"Oh ya nak, kapan dokter mengizinkan ibu pulang?Ibu sudah merasa baikan kok, tidak sesak lagi, sebaiknya ibu rawat jalan saja ya, pastilah besar biayanya jika ibu harus terus dirawat disini,
darimana kamu akan mendapatkan uang yang banyak nak untuk biaya perobatan ibu."
"Ibu jangan khawatir tentang biaya yang penting kesembuhan Ibu, uang masih bisa dicari bu."
"Tapi darimana kamu dapat uangnya nak, sementara kamu tidak bekerja kan karena menjaga ibu disini dan penghasilan kamu selama ini sudah habis untuk biaya hidup kita."
"Alhamdulillah bu, Angga telah membantu kita."
Zia membuka tasnya dan mengeluarkan kartu ATM pemberian Angga dari dompetnya dan menunjukkan ke ibu agar ibu tidak khawatir.
"Angga telah menanggung semua biaya perobatan ibu dan menanggung biaya hidup kita untuk beberapa bulan kedepan sampai Zia bisa bekerja lagi, ini dia memberikan kartu ATM nya kepada Zia."
"Kamu tidak memintanya kan nak, atau menjanjikan sesuatu."
"Tidak bu, Angga ikhlas memberikannya kepada kita."
"Siapa nak Angga itu, kenapa dia begitu baik kepada kita. Apa orang tuanya tau dan tidak marah dia memberikan uangnya begitu banyak kepada kita."
"Angga kekasih Zia bu, dia perhatian dan baik selama ini kepada Zia. Ini uang tabungannya dari sisa uang saku yang telah diberikan orang tuanya. Angga anak seorang pengusaha ternama bu tapi ibu jangan khawatir, jika Zia nanti sudah bekerja lagi Zia akan menabung untuk mengembalikan uangnya. Anggap saja saat ini kita berhutang dengannya."
Ibu pun terdiam mendengar penuturan putrinya, ia tahu Zia tidak punya pilihan lain selain menerima bantuan dari Angga. Ibu menghela nafas dalam-dalam, ia kasihan terhadap Zia. Kenapa ia harus sakit sakitan hingga selalu menyusahkan putrinya.
__ADS_1
Melihat ibunya terdiam Zia segera melanjutkan omongannya, dia tidak mau ibu kefikiran tentang masalah ini.
"Bu, yang penting sekarang ibu harus sembuh jangan ibu memikirkan semua itu. Zia akan lakukan apapun demi kesembuhan dan kebahagiaan ibu dan adik. Zia sayang Ibu, Zia sayang kalian", sembari ia memeluk ibunya, merekapun saling berpelukan dan menangis haru.