Persahabatan Telah Mengubah Takdir

Persahabatan Telah Mengubah Takdir
Episode 44. Balasan untuk setiap kebaikan


__ADS_3

Acara pernikahan Angga dengan Zia memang cukup sederhana, hanya di hadiri oleh keluarga, teman dekat juga beberapa orang tetangga. Namun hal itu tidak mengurangi rasa bahagia kedua mempelai.


Kini mereka telah sah, telah halal menjadi pasangan, Zia akan ikut kemanapun mantan kekasihnya ini akan membawa diri dan keluarganya tinggal.


Malam ini Angga membawa Zia ke hotel tempat dia menginap bersama keluarganya dan besok pagi akan kembali ke rumah Zia untuk menjemput Ibu serta Adik. Mereka akan terbang ke Jakarta dengan penerbangan siang hari.


Sementara Rania dan Papanya juga pamit pulang besok pagi Rania akan kembali ke rumah Zia untuk melepas kepergian sahabatnya. Rania akan menyusul ke Jakarta dalam beberapa hari ke depan. Saat ini Rania akan mempersiapkan terlebih dahulu semua kebutuhan yang di perlukan.


Rumah Zia masih ramai, tetangga membantu membereskan rumah, sementara Adik juga ikut membantu ibu membereskan pakaian dan mengepak barang yang di perlukan. Selebihnya mereka berikan kepada tetangga yang membutuhkan karena tidak mungkin mereka bawa ke dalam pesawat.


Para tetangga sebenarnya sedih melepas kepergian keluarga Zia, karena mereka bertetangga sudah cukup lama dan sudah saling mengenal dengan baik.


Setelah rumah tampak rapi dan bersih barulah para tetangga pamit pulang, mereka akan beristirahat, besok pagi semua berjanji akan datang untuk melepas kepergian keluarga Zia.


Ibu pun mengucapkan terimakasih, berkat mereka acara berjalan lancar, ibu tidak bisa memberikan balasan apapun kepada tetangga.


Namun malah mereka yang dengan senang hati memberikan sejumlah uang yang telah di kumpulkan bersama, dengan alasan untuk keperluan sekolah adik.


Bahkan Pak Lurah dan Bu Lurah memberikan bantuan secara pribadi yang nilainya cukup besar. Mereka senang selama ini Zia telah banyak menolong anak-anak warga yang membutuhkan pengajaran.


Begitu pula dengan ibu pemilik loundry, dia akan merasa kehilangan seorang karyawan yang sangat rajin, yang selalu mengerjakan pekerjaannya dengan rapi hingga pelanggan banyak yang puas dengan layanan mereka. Beliau juga memberikan sejumlah uang untuk penghargaan atas kerja keras Zia selama ini.


Setelah semua tetangga pulang, ibu mengumpulkan pemberian mereka, ternyata terkumpullah uang yang jumlahnya cukup banyak di tambah lagi dengan pemberian dari keluarga Rania.

__ADS_1


Ibu berencana akan menggunakan uang tersebut untuk tambahan modal usaha saat mereka nanti tiba di Jakarta. Beliau ingin membuka usaha sendiri mungkin warung kecil-kecilan, karena beliau tidak ingin menyusahkan anak dan menantunya apalagi keluarga besan.


Adik juga membuka celengannya yang jumlahnya lumayan banyak, selama ini dia sering di beri uang jajan oleh Rania dan warga karena mereka tahu adik seorang anak yatim. Ibu tidak menyangka jika uang-uang tersebut masih utuh dan tidak pernah digunakan jajan oleh adik.


Kemudian adik menyerahkan semua uangnya kepada sang ibu untuk tambahan bekal mereka pindah ke Jakarta.


Ibu mengelus kepala putranya sembari menangis, beliau tidak menyangka jika anak sekecil itu, sudah mampu berpikir tentang masa depan mereka.


Lalu ibu mengajak adik untuk tidur, karena hari sudah larut, besok mereka harus bangun pagi untuk melaksanakan kewajiban dan bersiap berangkat.


Pagi-pagi Angga dan Zia sudah sampai di rumah, mereka membawa sarapan untuk ibu dan adik, rencana mereka ingin membantu ibu bersiap eh ternyata semuanya sudah beres hanya tinggal berangkat saja.


Para tetangga sudah berkumpul, teman-teman sekolah adik dan beberapa orang guru juga datang untuk melepas kepindahan mereka. Seorang guru pria menyerahkan sebuah amplop yang berisi uang kepada Ibu, mereka berkata jika itu adalah pemberian dari semua murid yang berhasil mereka kumpulkan untuk keperluan sekolah adik nanti di sana.


Ibu tidak bisa berkata apapun, hanya tangis haru dan tangkupan kedua tangannya tanda terimakasih untuk semua perhatian, pemberian dan juga kasih sayang yang selama ini mereka berikan kepada adik.


Ibu, Zia dan Angga berjanji jika suatu saat mereka mempunyai kesempatan kembali ke Medan, Inshaallah akan datang berkunjung.


Mereka melepas kepergian keluarga Zia dengan tangis haru, sementara Rania hampir saja terlambat. Rania kemudian ikut mengantar mereka ke bandara bersama mang Asep.


Mama dan Aira terlihat cuek dengan keluarga Zia, dan Zia merasakan hal itu, tapi ia berusaha untuk tidak mempedulikannya, yang penting sekarang kasih sayang Angga sudah cukup untuk diri dan keluarganya.


Mengenai materi, Zia bertekad akan berusaha dengan kemampuannya mengembangkan usaha hingga tidak semakin di remehkan oleh keluarga Angga.

__ADS_1


Dia akan berjuang membiayai adik dan ibu dengan hasil jerih payahnya sendiri, tanpa menyusahkan sang suami.


Pesawat pun sudah tinggal landas, dan Rania juga sudah kembali ke rumahnya. Rania mulai membereskan barang-barang yang akan di bawanya.


Rombongan Angga sudah tiba di bandara Soekarno Hatta, mereka di jemput oleh supir kantor yang sebelumnya sudah di hubungi oleh asisten Frans. Hari ini mereka akan tinggal di rumah orang tua Angga dan besok baru pindah ke tempat yang baru.


Papa dan Angga mempersilakan mereka masuk, sementara Mama dan Aira langsung masuk ke dalam tanpa basa-basi terhadap besan dan juga menantunya.


Zia semakin risih, sebegitu tidak suka kah Mama dan Aira terhadap keluarganya. Rasanya Zia ingin segera pergi dari rumah itu. Belum sehari saja dia tinggal di rumah itu sudah tidak betah, dia asing dengan gaya hidup keluarga Angga.


Angga sebenarnya memperhatikan sikap Mama dan adiknya terhadap Zia, namun saat ini dia belum bisa berbuat apapun, dia hanya berjanji akan membuat mata Mama dan adiknya terbuka setelah mengenal siapa dan bagaimana sosok Zia sesungguhnya.


Bibi telah mempersiapkan kamar buat mereka, lalu Angga mempersilakan Ibu dan adik untuk beristirahat.


Sementara Pak Wiguna setelah tiba di kamar menceramahi sikap sang istri, beliau meminta agar Mama dan Aira menghargai keluarga Zia. Bagaimanapun mereka sekarang adalah bagian dari keluarga Wiguna.


Mama hanya mencebikkan bibir lalu masuk ke kamar mandi, berendam air hangat untuk merilekskan tubuhnya.


Pak Wiguna hanya menggelengkan kepala, lalu beliau berkata, "Suatu saat kesombonganmu pasti akan jatuh juga di hadapan menantuku, aku yakin itu, "ucap Pak Wiguna.


Angga yang sudah berada di dalam kamarnya, mulai menggoda sang istri, dia memeluk pinggang Zia, mencium sepuasnya lalu berkata, "Malam ini sudah boleh kan Yang, aku meminta hakku," ucap Angga di telinga Zia hingga membuat bulu kuduknya berdiri.


Zia yang mendengar permintaan suaminya hanya tersenyum, dia tahu Angga sudah tidak sabar, jiwa mudanya sudah meronta sejak tadi malam di kamar hotel saat mereka gagal melakukan malam pertama karena ulah sang Mama.

__ADS_1


Mama Angga tiba-tiba mengetuk pintu kamar mereka beralasan minta tolong di pijat kakinya oleh Angga, hingga akhirnya Zia ketiduran karena lelah dan terlalu lama menunggu Angga yang tidak kunjung kembali ke kamar mereka.


🌻 Jangan lupa tinggalkan jejak ya guys, vote like coment dan rate bintang limanya 🙏😉


__ADS_2