
Satu persatu jam pelajaran pun usai, kini tiba jam istirahat, murid-murid sebagian sudah keluar kelas berjalan ke arah kantin.
Zia, Rania, Angga dan beberapa teman lainnya masih berada di dalam kelas. Rania hari ini masih juga membawa bekal dari rumah, ia menyodorkan kotak bekalnya kepada Zia yang berisi potongan-potongan bolu kemojo oleh-oleh yang di bawa papanya kemaren saat kembali dari kantor cabang perusaannya yang ada di Pekan Baru.
"Ayo Zia makanlah", rasanya enak lho, aku sengaja membawanya lebih untuk kamu. Kemaren saat Papa telephone katanya sore akan berangkat pulang, aku sengaja meminta Papa agar membelinya. Aku sangat suka bolu ini dan adalagi khas daerah sana yang ku suka yaitu ikan sale baung atau ikan asap."
"Bolu apa nih namanya Rania?", tanya Zia sambil mencicipi sepotong bolu itu.
"Hemmm, ternyata memang enak ya, maklumlah aku hanya sering makan bolu buatan ibuku."
"Ini namanya bolu kemojo, bolu khas dari Pekan Baru", jawab Rania
"Pasti enak dech, bolu buatan ibu kamu ya Zia?"
"Iya sich Nia, bagiku semua yang dibuat dan dimasak oleh tangan ibuku adalah yang terenak."
"Kapan-kapan aku boleh ya berkunjung kerumah kamu untuk mencicipi masakan atau kue buatan Ibu kamu."
"Oh tentu saja boleh Nia, Ibuku pasti akan senang melihat teman-temanku mau berkunjung kerumah kami."
"Oh ya ikan asap itu enaknya kan digulai pakai cabe rawit dan terkadang ada yang mencampurnya dengan daun ubi kan?", tanya Zia.
"Benar tuh Zia, Bik Asih sering memasakkannya untukku. Itu adalah makanan kesukaan almarhumah mamaku kata bik Asih, kapan-kapan kamu juga harus main kerumahku ya, biar kita makan bareng, masakan bik Asih juga enak lho kamu pasti suka dech", ucap Rania.
"Insha Allah, ntar kalau ada waktu luang aku usahakan ya ikut kerumah kamu."
"Kalau bisa dalam minggu ini kamu main ke rumah aku dong, mumpung Papa aku dirumah, ntar aku kenalkan kamu dengan Papa ku. Kamu nanti pasti kaget dech lihat Papa ku, Papa ku sangat ganteng, wajahnya nurun kakek aku yang orang Jerman dan papaku terlihat lebih muda dari pada usianya."
"Kata orang-orang yang mengenal kami dan yang melihat saat kami jalan bareng papaku itu katanya lebih pantas jadi abangku. Ntar jangan-jangan malah kamu naksir sama papa ku haahaahaaa", canda Rania.
"Hehehehe, kamu ini ada ada saja, memangnya kamu mau jika aku yang jadi ibu sambung kamu", Zia pun membalas candaan Rania.
"Oh, beneran nih kamu mau? ntar biar kubilang sama papa ku biar segera melamar kamu jadi ibu aku. Ibu muda heeheehee, jika beneran kamu mau jadi ibu aku alangkah bahagianya, kita bisa bersama-sama terus kan, setiap hari. Pergi bersama, belajar bersama, makan bersama, main dan nonton bersama. Kita bisa bercanda terus seperti ini hanya tidur lah kita jangan bersama ntar kasihan dong papa aku sudah beristri tapi status tetap duda hahahaha", Rania pun tertawa.
"Sudah-sudah, bercandanya. Kamu nih kalau bercanda kelewatan dech, ntar nggak enak di dengar orang, bisa bisa aku dapat julukan baru", ucap Zia.
"Apaan tuh?", tanya Rania.
__ADS_1
"Sang Penggoda Om-Om", lanjut Zia.
" Hahahaha, iya juga ya."
"Sebenarnya banyak sih cewek-cewek cantik yang menggoda dan mengejar papaku, yang gadis ada, yang tante-tante juga banyak. Tapi papaku belum mau mencari istri untuk pengganti mamaku. Ada sih tante Salsa yang selalu dekat dengan Papa tapi aku tidak suka dengannya, aku tidak setuju jika dia jadi mamaku", ucap Rania lagi.
"Memangnya kenapa kok kamu tidak menyukainya?, kan ntar kamu tidak kesepian lagi dirumah jika papa kamu menikah dengan tante Salsa."
"Iya sih...tapi aku tidak suka aja, sepertinya ia tidak tulus mencintai papaku. Jangan-jangan ia hanya akan memanfaatkan papa ku saja."
"Kamu itu tidak boleh berprasangka buruk dulu lho Rania, siapa tau kamu yang salah menilai orang."
Keduanya terus bercerita dan bercanda dengan asyiknya, sementara dibangku sudut kelas seseorang terus memperhatikan mereka.
Angga ingin mendekati mereka tapi akhirnya niatnya pun diurungkannya, ia tidak mau mengganggu kedua sahabat yang lagi asik dengan celotehannya. Ada rasa sakit yang menusuk direlung hatinya saat ia mendengar candaan mereka.
"Rasa apa ini ?", monolognya dalam hati.
"Apa aku cemburu, kenapa hatiku terasa sakit sekali ketika mendengar Rania ingin menjodohkan Zia dengan papanya, walaupun itu hanya sekedar candaan saja."
Semenjak kejadian pagi tadi, Zia tidak berani melihat kearah Angga. Ia sangat malu, bagaimana nanti sikap Angga terhadapnya setelah ini.
Sepuluh menit sebelum jam pelajaran berakhir Bu Tati berkata," Setelah jam sekolah usai jangan ada yang keluar kelas dulu ya, ada yang akan kita bicarakan", ucap bu Tati.
Murid-murid pun saling bertanya sebenarnya apa yang akan disampaikan oleh Bu Tati.
Setelah proses belajar mengajar selesai, murid kelas 3 nggak ada yang berani beranjak dari bangkunya sesuai dengan instruksi Bu Tati sebelumnya.
Kemudian Bu Tati mulai bicara kembali," Saya mendapatkan laporan dari pihak sekolah, ada yang memecahkan pot bunga di lorong menuju kelas kita ini, jika pot itu pecah sendiri tidak akan mungkin tanah dan bunganya berserakan di lantai, pasti ada yang sengaja melakukannya. Jadi tolong siapa yang merasa melakukannya silahkan bicara, jadilah kalian pribadi yang bertanggung jawab, berani mengakui kesalahan yang telah kalian perbuat", ucap Bu Tati lagi.
Murid murid terdiam semuanya, mereka saling pandang dengan teman-teman disebelahnya masing-masing.
"Jika diantara kalian tidak ada yang mengaku, maka kalian semua tidak ada yang diperbolehkan pulang, kalian akan tetap disini sampai ada yang mengakui kesalahannya. Memang nilainya sepele, kalian semua pasti bisa menggantinya dengan uang saku kalian tapi rasa tanggung jawab itu yang lebih penting. Pengakuan kalian itu lebih berharga ketimbang uang. Hal ini kan yang selalu saya tanamkan kepada semua murid", ucap Bu Tati.
Murid-murid mulai heboh, masing-masing saling bertanya dengan teman-teman sekitar tempat duduk mereka.
" Siapa ya, siapa ya, siapa yang telah memecahkannya". Suara riuh dikelas pun semakin membuat Bu Tati meninggikan suaranya.
__ADS_1
"Ayo cepat, yang bersalah silahkan mengaku!"
Tiba tiba terdengar suara Lusy," Bu, pasti itu ulah Zia."
"Kenapa kamu menuduh Zia, apakah kamu punya bukti yang bisa membuktikan ucapan kamu Lusy", tanya Bu Tati.
Zia terkejut mendengar tuduhan itu. Wajahnya terlihat pucat, karena tadi pagi benar memang dia yang hampir terjatuh disana akibat tersandung pot bunga itu. Tapi seingatnya pot bunga itu tidak pecah, kenapa sekarang ada laporan pot itu pecah.
"Ibu boleh tanya sama teman-teman yang lain, tadi pagi Ziah yang terjatuh disana, Iya kan teman-teman", lanjut Lusy.
"Apa benar kamu Zia yang memecahkan Pot bunga?", dengan tidak yakin bu Tati bertanya kepada Zia, karena bu Tati sangat mengenal pribadi muridnya itu, Zia tidak mungkin berbohong.
"Maaf bu, memang tadi pagi saya terjatuh disana tapi pot tersebut tidak pecah, banyak kok bu teman-teman yang melihat", ucap Zia.
Zia tidak mau menyebutkan nama Angga yang telah menolongnya. Jika tidak ditolong Angga pasti pot itu pecah karena dia.
"Memang waktu dia tersandung pot, pot itu belum pecah tapi bisa aja kan bu setelah itu dia kembali lagi karena kesal dan malu, lalu dia menghancurkannya ketika teman-teman yang lain sudah tidak ada disana", lanjut Lusy.
Zia hanya bisa terdiam, dia pasti tidak akan menang beradu argumen dengan Lusy. Lusy sangat licik, dia pandai memutar balikkan fakta. Zia hanya pasrah menunggu hukuman apa yang bakal diterimanya. Angga yang sejak tadi diam sudah tidak sabar lagi mendengar perkataan Lusy yang semakin memojokkan Zia.
"Maaf Bu, saya tadi yang memecahkan pot bunga itu, Zia tidak bersalah", ucap Angga membela Zia.
Semua murid memandang ke arah Angga. Mereka merasa heran dan tidak yakin itu perbuatan Angga. Tapi akhirnya mereka berpikir, bisa jadi Angga melakukannya karena kesal terhadap Zia. Karena Zia yang terjatuh dalam pelukannya telah mempermalukan dia dihadapan semua orang yang tadi pagi ada disana.
" lKenapa kamu melakukan itu Angga?", tanya bu Tati.
"Karena saya sedang kesal bu, maafkan saya bu. Saya akan bertanggung jawab, apapun hukumannya akan saya terima bu", ucap Angga.
"Ya sudah kalau begitu, karena hari pun sudah terlalu siang, hukumam kamu kita tentukan besok saja. Besok pagi sebelum jam belajar dimulai kamu harus menghadap saya di kantor", perintah Bu Tati.
" Baik bu", jawab Angga.
Lusy sangat tidak senang melihat Angga membela Zia. Sudah susah payah dia berusaha agar Zia yang dihukum eh, malah Angga yang mengorbankan dirinya untuk menggantikan Zia.
Angga sengaja melakukan itu agar mereka secepatnya bisa pulang karena dia tahu, selepas pulang sekolah Zia masih harus pergi bekerja lagi ke loundry.
Jika tidak ada juga yang mengaku, mereka kan tidak akan diperbolehkan pulang. Nah bagaimana dengan pekerjaan Zia, dia pasti akan bolos kerja lagi dan jika sering tidak masuk atau telat masuk kerja bisa bisa di potong gajinya atau bahkan dipecat dari pekerjaannya. Sementara kan Zia masih sangat membutuhkan uang dari hasil kerja di loundry untuk membantu keuangan keluarganya.
__ADS_1
Angga juga tidak tega kalau harus Zia yang menerima hukuman dari kesalahan yang tidak pernah ia perbuat. Biarlah dia yang akan menanggung hukuman itu sembari perlahan akan menyelidiki siapa dalang dibalik kejadian ini. .